Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Pertandingan game


__ADS_3

Berada di keramaian membuat Kaivan tidak nyaman, dia merasa ingin segera pulang, apalagi tidak ada yang dia kenal disana. Beda dengan yang lain, mereka segera bisa berbaur dengan orang lain. Apalagi Jihun, temannya dimana-mana, dia juga punya teman dari team lain yang merupakan gamer dari yutup.


Jika terus seperti itu, mana bisa Kaivan mempromosikan game nya? Dia tidak tahu dia benar-benar introvert. Kaivan terus diam sampai pertandingan dimulai, dia tidak peduli dengan Seon yang terus mengejeknya. Kaivan juga tidak paham kenapa bocah satu itu suka sekali mencari gara-gara dengan dia, apa untungnya bagi Seon coba?


Pertandingan dibagi menjadi dua, babak penyisihan dan babak final, jadi nanti ada jeda diantaranya. Kaivan tidak berpikir dia dan teamnya bisa lolos babak final, karena team lain sangat luar biasa. Tapi akhirnya dia dan teamnya bisa lolos meski ada di urutan paling bawah.


"Jangan sedih, kita bisa lolos babak final saja itu sudah luar biasa," ucap Wonbin, tumben sekali dia perhatian dengan Kaivan.


"Aku tidak sedih, aku hanya ingin segera pulang," sahut Kaivan.


"Katanya kau ingin mempromosikan game mu?" Tanya Jihun.


Kaivan menggeleng, "entahlah, aku tidak tahu apa aku bisa."


Sejak awal, berinteraksi dengan orang lain bukanlah keahlian Kaivan. Dia mendapatkan teman-teman seperti mereka saja karena keberuntungan, mereka juga kebanyakan datang sendiri pada Kaivan.


"Jangan khawatir, biar aku yang melakukannya!" Dohyun datang, menunjukkan jika dia sudah menyebarkan selebaran berisi promosi untuk game mereka. Kaivan lupa jika Dohyun dan Jisung juga berkontribusi disana, Kaivan selalu menganggap dia harus melakukan semuanya sendiri. Kenapa dia tidak meminta bantuan orang lain?


"Kapan kamu buat itu?" Tanya Jisung, dia juga baru tahu Dohyun membuat benda itu.


"Kemarin lah, aku dan kakakku yang buat! Dania dan kak Dasha udah nyebar juga, kalian juga sebarin ya!" Dohyun memberikan sebagian pada Jihun dan Wonbin, karena kedua manusia itu punya banyak teman di tempat itu. Beda dengan Kaivan dan Jisung yang pendiam, jadi bahkan Dohyun saja tidak mengharapkan apapun pada Kaivan dan Jisung.


"Aku gak dikasih?" Tanya Kaivan, meski dia tahu tidak bisa menyebarkannya, tapi tetap saja dia ingin berusaha juga.


"Baiklah, kalian berdua ambil lima saja, ayo kita pergi cari makanan, aku lapar!" Setelah memberi masing-masing lima lembar pada Kaivan dan Jisung, Dohyun menyeret mereka untuk pergi.


Di tempat itu banyak yang menjual makanan juga. Kebanyakan jajanan seperti corndog, Boba milk tea, tanghulu dan lainnya.


Kaivan sendiri membeli sate ayam, satenya besar-besar, tentu tidak ada bumbu kacangnya karena bukan sate dari Indonesia. Dania mendatanginya dan dia sudah membelikan hamburger besar, jadi Kaivan tidak bisa jajan lagi, hamburger itu membuatnya kenyang.


"Minum juga kamu, ini!" Hanna memberikan Kaivan entah apa di wadah minuman, Kaivan agak ragu dengan minuman itu, karena Hanna yang memberikannya.


Melihat Kaivan seperti tidak mau menerima minuman itu, Dania mengambilnya dari Hanna lalu memberikan pada Kaivan, "ini cuma Americano kok, jangan khawatir."


Justru Kaivan lebih khawatir jika itu Americano, karena pasti pahit sekali. Tapi karena dia gengsi, akhirnya dia minum juga minuman pahit itu.


"Ku pikir kamu kuat, tapi minum kopi aja gak bisa," ejek Hanna.


"Berisik deh! Lagian ngapain kamu ada disini?"

__ADS_1


"Aku aku pengen ikut aja kenapa sih? Tempat ini kan bukan milik nenek moyangmu!"


"Duh, kalian berdua jangan ribut dong." Dania capek juga melihat keduanya tidak bisa akur.


Akhirnya babak final dimulai, jadi Kaivan kembali lagi ke tempatnya semula. Dia menjadi lebih gugup dari sebelumnya, terutama karena itu menentukan apa Kaivan bisa memenangkannya atau tidak, yah, walaupun agak mustahil juga.


Namun, setelah pertandingan sebelumnya, Kaivan berpikir kemampuannya sudah lebih baik lagi, karena dia juga mempelajari bagaimana orang lain bermain, terutama pemain profesional itu.


Sebenarnya ada skill agar dia bisa bermain game apapun dengan baik, skill gamers namanya. Tapi Kaivan memilih tidak menggunakannya, karena itu akan menjadi curang. Pemain lainnya bermain dengan kemampuan yang mereka asah sejak lama, tidak adil jika Kaivan menang karena skill yang dia beli dengan harga sangat mahal.


Kaivan dan teamnya cukup kompak, mereka bekerjasama dengan baik, beda dengan team Seon yang berisik sekali, mereka tidak mau bekerjasama dan ingin lebih unggul dari yang lainnya. Hasilnya merekapun tersingkir oleh team yang jauh lebih kuat.


Kaivan bisa mendengar suara umpatan dari team Seon, tapi dia tidak mau tahu dengan mereka, dia fokus sendiri dengan gamenya.


Tanpa terasa mereka bermain hingga tersisa tiga team. Team Kaivan kalah lebih cepat, jadi bisa dipastikan mereka juara tiga.


Kaivan agak cemas, apakah dia berhasil? Memang sistem memintanya memenangkan pertandingan, tapi juara tiga juga menang kan?


Beda dengan teman satu teamnya yang bersorak gembira, Kaivan sendiri yang cemas. Hingga sampai pertandingan selesai dan hadiah dibagikan, tidak ada pengumuman dari sistem jika dia berhasil.


Bagaimana ini?


Kaivan tidak mau dihukum, apalagi menyerahkan banyak uang untuk denda.


"Saya sangat senang berada disini dan belajar banyak, berkat teman-teman yang bekerjasama dengan baik, kami pun memenangkan pertandingan ini. Sebenarnya kami tidak menyangka bisa memenangkan posisi ketiga - oh iya, aku dan teman-teman juga membuat game," Kaivan menunjukkan selebaran yang dia kantongi di saku, "ini game yang santai, bahkan pemula seperti ku bisa memainkannya, yah, hanya begitu saja, terimakasih!"


Kaivan buru-buru menjauhkan diri dari mic, entah kenapa dia merasa malu sekali. Tapi penonton bertepuk tangan, namun itu membuatnya jadi semakin malu dan ingin segera pergi.


[Selamat! Anda berhasil mengerjakan misi!]


[Hadiah bisa dilihat di rekening sistem.]


Ternyata berhasil juga, padahal Kaivan sudah pesimis.


Setelah turun dari panggung, banyak orang datang untuk mengerumuni Kaivan, mereka menanyakan tentang game yang Kaivan maksud, membuat Kaivan jadi pusing seketika, karena menjadi dikerumuni seperti itu.


"Maaf ya, jika ingin tanya pada dia saja, Kaivan tidak enak badan!" Jihun segera menarik Kaivan lepas dari sana, lalu membiarkan kerumunan itu menanyai Jisung dan Wonbin, padahal Wonbin tidak tahu apa-apa. Mereka hanya menyebarkan selebaran yang tersisa dan ikut kabur.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Jihun setelah mereka sudah ada di dalam mobil, perjalanan pulang.

__ADS_1


Jihun membawa mobil tapi cuma muat empat orang, jadinya yang ada disana ada Jihun, Kaivan, Dohyun dan Junghyun. Yang lainnya naik mobil milik Wonbin yang lebih besar.


"Aku baik-baik saja, hanya tidak nyaman saja." Jawab Kaivan.


"Kamu kan baru sembuh, jadi nanti istirahat saja ya? Untuk makan bisa pesan." Ucap Junghyun.


Kaivan hanya mengangguk setuju, dia juga berencana untuk berdiam diri di dalam apartemen, lebih hangat dan nyaman disana.


Setelah pertandingan, Kaivan tidak bertemu Seon lagi, entahlah, mungkin dia pulang duluan. Pasti dia malu, karena dikalahkan oleh amatiran seperti Kaivan. Kaivan tidak terlalu peduli dengan dia sebenarnya, kalau saja dia tidak mencari gara-gara.


Sampai apartemen, Junghyun yang memesankan makanan, Kaivan tidak tahu dia memesan apa, tapi yang pasti dia yang mentraktir. Tentu Kaivan tidak akan menolak apapun asal ditraktir dan gratis.


"Orang-orang yang mengunjungi dan mendownload game kita bertambah!" Ucap Dohyun, dia sudah memantau aplikasi sedari tadi di mobil.


Kaivan mendekatinya, lalu duduk di sebelahnya, "beneran? Syukurlah kalau begitu."


"Ada sekitar seribu orang, itu sudah cukup banyak!" Dohyun benar-benar sangat senang, melebihi Kaivan.


Ngomong-ngomong game baru, itu masih sulit, jadi Kaivan malas memainkannya, tapi harus main untuk naik level.


"Wah, Kaivan masuk artikel!" Seruan Jihun membuat mereka buru-buru mendekatinya.


Kaivan membelalakkan matanya melihat artikel yang Jihun maksud.


Artikel itu memberitakan jika Kaivan, yang memenangkan juara ketiga di pertandingan, juga membuat game, adalah pelaku kekerasan disekolah.


"Artikel sampah macam apa ini?" Gumam Dohyun.


Kaivan jadi penasaran, apa Seon tidak kelihatan lagi di pertandingan adalah karena artikel ini?


"Meski Kaivan kuat, dia lebih terlihat seperti korban kekerasan," sahut Jihun.


"Terimakasih karena sudah jujur" ucap Kaivan sinis.


"Kita laporin aja sih, pamanmu kan polisi, Kai" sahut Junghyun.


"Oh iya, ada paman polisi..." Kaivan pun segera menghubungi Hanbin untuk memberitahu dia perihal artikel aneh tersebut. Hanbin bilang dia akan menyelidikinya.


Semoga tidak terjadi hal buruk.

__ADS_1


.


.


__ADS_2