
Kaivan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak marah dihadapan nenek Mirna. Namun, entah mengapa rasanya susah. Dia paham jika nenek Mirna, sebagai seorang ibu, pasti ingin anaknya menolong jika anaknya bisa.
Tapi masalah Kaivan dan ibunya tidak sesederhana itu juga.
Setelah mencoba menenangkan dirinya, Kaivan mulai tersenyum kecil dan menjelaskan.
"Nek, aku bukannya tidak mau membebaskan ibu, tapi jika nenek tahu kenapa ibu bisa dipenjara, nenek akan mengerti dengan keputusanku. Itu tidak mudah, karena kejahatan ibu tidak sepele."
Setelahnya, Kaivan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana perlakuan ibunya, bagaimana ibunya dan pacarnya itu menculik bayi dan menjualnya. Lalu Kaivan juga menjelaskan bagaimana ibunya menjual dia pada sindikat penculikan dan penjualan organ ilegal.
Nenek Mirna tentu saja shock mendengar itu, sampai dia sempat pingsan. Jadi, Kaivan menggendongnya dan membiarkan dia istirahat di kamar tamu.
"Nenekmu baik-baik saja?" Tanya Jaden, dia dari tadi hanya diam dan mendengarkan cerita Kaivan. Jaden jadi tahu lebih banyak tentang Kaivan, ternyata hidup adik dari satu ayahnya itu sangat sulit.
Kaivan yang bisa menjadi seperti sekarang itu sangat hebat. Kaivan yang tidak terlihat dendam dan seperti sudah bisa menerima apa yang terjadi juga hebat. Meski Jaden juga tahu, pasti prosesnya tidak mudah. Kaivan juga melewati banyak hal selama proses berlangsung.
Jaden ingin menyemangati Kaivan, tapi dia bingung harus bagaimana. Coba saja Kaivan itu adik perempuan, Jaden bisa memeluknya dan membisikkan kata manis. Sayang sekali adiknya itu laki-laki.
"Iya, dia pasti baik-baik saja. Kak Jaden bisa jemput temen-temen gak? Kita ninggalin mereka di mall."
"Oh iya, aku lupa, ya udah aku pergi dulu. Kamu gak perlu mikirin ucapan nenek itu, jika kamu sebagai anak harus selalu membatu ibumu. Kau tahu, bukan hanya anak yang bisa durhaka, tapi orangtua juga. Kamu adalah korban disini dan apa yang kamu lakukan sudah sangat baik."
Kaivan tersenyum kecil, "makasih kak."
"Ya udah, aku pergi dulu!"
Seperginya Jaden, Kaivan merenung di balkon, ditemani berbagai macam anggur yang dia tanam di royal farm. Ada anggur ungu bulat dan lonjong, ada pula anggur hijau bulat dan lonjong, besarnya juga ada yang kecil-kecil, ada yang besar sekali.
Makan anggur sambil merenung memang yang terbaik.
Kaivan sebenarnya tidak tahu harus bagaimana dengan ibunya, dia ingin ibunya tetap dipenjara dan memenuhi hukuman dia. Hanya 15 tahun saja kok.
Tapi bagaimana dengan pendapat orang lain yang mengenal mereka? Terutama jika mereka tahu Kaivan sudah banyak uangnya. Pasti mereka berpikir, kenapa Kaivan tidak menggunakan hartanya untuk membebaskan ibunya? Kenapa dia durhaka sekali.
Memang mudah bagi mereka yang tidak mengalami sendiri. Kaivan saja bisa berbaikan dengan ibunya, meski belum memaafkan sepenuhnya, itu sudah sangat luar biasa. Karena sebenarnya dia sangat benci dengan ibunya yang seperti itu.
Tapi Kaivan melakukannya karena bagaimanapun juga, itu ibunya.
Setelah beberapa saat Kaivan menghabiskan satu mangkuk besar penuh anggur, akhirnya dia memutuskan untuk melihat keadaan nenek Mirna lagi.
__ADS_1
Nenek Mirna sudah siuman, dia duduk ditepi ranjang dan tersenyum tipis pada Kaivan.
"Kemarilah nak, maafkan nenek yang sudah tidak peka pada perasaan mu. Nenek tidak tahu jika separah itu, maafkan nenek. Memang kamu bagaimanapun juga anaknya, tapi tidak bisa dipungkiri dia juga salah. Memang kejahatan harus dihukum, kamu sudah benar kok. Nenek tidak punya televisi, jadi tidak tahu apa yang terjadi, nenek cuma diberi kabar ibumu dipenjara saja."
Kaivan duduk di sebelah nenek, lalu nenek memeluknya erat.
"Maafkan nenek ya nak!"
"Tidak apa nek, Kaivan paham nenek tidak tahu apa yang terjadi, karena ibu juga selalu baik di depan nenek. Tapi Kaivan membiarkan ibu disana agar ibu bisa berubah. Mungkin memang benar manusia itu sulit sekali berubah, tapi aku tetap mengharapkannya, karena dia ibuku."
"Kamu anak yang baik, andai saja anakku sendiri bisa sebaik kamu ya?"
Kaivan melepaskan pelukannya dengan nenek, lalu mengusap airmata nenek dengan tisu yang tersedia diatas nakas.
"Anak nenek mungkin juga sedang sulit, bisa jadi dia saja susah, makanya tidak bisa membantu nenek."
"Iya, nenek tahu... Tapi ini salah nenek karena nenek tidak becus menjaganya. Nenek tidak mendidiknya dengan baik hingga dia bisa seperti itu, atau mungkin juga salahku karena memilih suami yang kurang baik."
Kaivan menggeleng pelan, "tidak, bukan salah nenek juga. Berhenti menyalahkan diri sendiri, biarkan saja yang lalu, kini kita harus maju dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kaivan akan membiarkan nenek tinggal disini, daripada ditempat yang tidak jelas."
"Tapi Kaivan..."
"Ku mohon, ya nek, biarkan aku membalas kebaikan nenek. Tapi ingat, hanya nenek yang ku ijinkan tinggal disini, bukan anak nenek. Mereka boleh datang, tapi tidak boleh seenaknya sendiri."
Kaivan tersenyum lebar mendengarnya, "terimakasih nek."
Bukannya Kaivan pelit pada pamannya, atau anaknya nenek Mirna. Tapi bagaimana ya? Kaivan tidak bisa percaya pada orang asing. Pamannya juga tidak pernah mendatangi dia, tidak pernah kepo, ketemu saja juga tidak pernah. Tapi Kaivan takut hanya karena masih ada hubungan kerabat, lalu dia memanfaatkan Kaivan nanti. Anggaplah Kaivan hanya jaga-jaga.
Tidak terasa Kaivan dan teman-temannya harus kembali ke Korea. Beberapa hari lagi sudah masuk sekolah.
Kaivan yang berniat pergi ke Indonesia untuk liburan, tapi nyatanya malah menyelesaikan masalah.
Mereka berpamitan pada Jaden, pamannya Jisung, nenek Mirna, pak Pardi, dan lainnya. Jake harus kembali ke Australia, sedangkan Harlan sudah mendahului untuk pergi ke Jerman. Harlan bilang akan mampir ke Korea nanti jika ada waktu.
Sampai Korea udara masih saja dingin, beda dengan Indonesia yang hangat. Rasanya nyaman kembali ke apartemen dan menikmati penghangat ruangan.
Akan tetapi, ada yang berubah.
Iya, berubah.
__ADS_1
Dania yang tadinya merengek karena tidak ikut kakaknya menemui Kaivan di Indonesia, kini malah tidak terlalu peduli dengan Kaivan.
Dia mendapatkan teman baru!
Kaivan yang sudah sampai di apartemennya, menghubungi Dania. Kaivan pikir Dania akan senang, tapi ternyata dia sedang hangout dengan teman barunya itu.
Jadinya hanya ada Dasha di apartemen Kaivan. Dasha mendatangi Kaivan keesokan harinya, di pagi hari, hanya untuk mengantarkan sup daging sapi hangat buatan ibunya Dasha.
Kaivan senang sih, tapi dia jadi murung karena Dania pergi dengan temannya lagi.
"Tidak perlu murung, temannya itu perempuan kok. Namanya Hanna, dia dari Australia juga, tapi masih keturunan Korea. Kali ini Hanna akan tinggal disini dan sekolah disini, Dania dan Hanna itu sangat lengket, mereka semacam bestie, gitulah." Ucap Dasha.
"Hmm, gitu ya." Kaivan yang sedang makan sup daging sapi sambil cemberut hanya bisa bergumam. Namun, kelakuan Kaivan itu malah membuat Dasha gemas.
Gadis itu memotret Kaivan dengan smartphonenya, lalu diam-diam mengunggahnya di media sosial. Kaivan baru tahu semenit kemudian saat dia memeriksa notifikasi ponselnya, ada Dasha yang menandainya dalam postingan.
Itu foto Kaivan makan dari samping, captionnya 'si tampan ini sedang kesal' begitu.
Kaivan langsung menoleh pada Dasha yang terkekeh bahagia.
"Kamu memotretku diam-diam?"
"Hahaha, gak diam-diam kok, ada flash dan suara kamera tapi kamu gak sadar!"
Dasha benar juga, karena setiap smartphone di Korea ada suaranya, untuk menghindari difoto orang asing diam-diam.
"Daripada kamu nglamun terus, lebih baik kita melakukan sesuatu yang bermanfaat!"
Kaivan mengernyitkan dahinya, "misalnya?"
"Berkencan denganku!"
"Sejak kapan berkencan jadi bermanfaat?"
Dasha tersenyum lebar, "sejak hari ini! Aku akan kembali ke rumah untuk siap-siap dan kamu harus sudah siap juga saat aku kembali satu jam lagi."
Kaivan menghela nafas pasrah, "baiklah, aku ikut aja."
Saat itu Kaivan tidak tahu, jika dirinya akan dibawa ke tempat yang lebih dewasa.
__ADS_1
.
.