
"Aku sudah mengerti situasinya, tapi apa harus kamu yang menolong dia - maksudku, apa dia benar-benar sebatang kara disini? Dia kan masih dibawah umur, mana mungkin orangtuanya tega membiarkan dia hidup sendiri di kota lain?" Ucap Vicky, saat itu dia dan Kaivan berada di dapur.
Vicky sengaja menyeret Kaivan kesana hanya untuk bicara berdua saja. Kelihatannya Vicky tidak menyukai Anesha, ucapan Vicky juga ada benarnya. Tapi tidak mungkin Kaivan berkata jika dia melakukannya karena misi dari sistem, kan? Yah, meski sebagian kecil Kaivan menolong karena dia merasa iba juga.
"Dia itu dipercaya tinggal disini dengan manager dan sahabatnya, orang yang menjebak dia itu. Tapi dia terlalu percaya dengan sahabatnya, mungkin orangtuanya juga begitu, lalu managernya mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sahabatnya, tapi dia malah tidak percaya dan membela sahabatnya itu. Ini tidak lama kok, mungkin besok atau lusa orangtuanya datang. Tenang saja."
Vicky merasa sedikit tenang karena ucapan Kaivan, tapi tetap saja dia cemburu, dia berusaha menghilangkan perasaan itu tapi susah sekali.
Kaivan menarik Vicky ke dalam pelukannya, dia mengusap kepala belakang Vicky dengan lembut.
"Pengacara keluarga Harlan pasti bisa membantu dengan cepat juga, jika masalah cepat selesai, dia juga tidak akan ada disini. Aku tidak memintamu untuk menyukai Anesha, tapi ku mohon untuk tidak terlihat memusuhinya, ya?"
Vicky tidak menjawab, dia hanya menoleh pada ruang tengah yang terlihat dari dapur. Disana sudah ada pengacara keluarga Harlan yang datang setelah dihubungi oleh Jaden. Meski Kaivan yang mendapat misi, tapi Kaivan tidak perlu menghandle semuanya, dia bisa menyerahkan pada yang lebih mengerti, Jaden dan pengacara misalnya.
Lalu teman-teman Kaivan yang kepo juga masih ada di ruang tengah, mungkin mereka sangat senang karena bisa melihat artis secara langsung, padahal sebelumnya mereka melihat di televisi. Meski mereka tidak mengerti bahasa yang digunakan.
Rose datang mendekat, dia berdecak malas melihat Vicky memeluk Kaivan erat, enak sekali keduanya bermesraan di sana sedangkan Rose harus menenangkan artis sinetron itu.
"Kalian ngapain berdua disini? Vicky masih kesel aja? Kaivan gak suka sama cewek itu kok, jangan khawatir," ucap Rose.
"Aku tahu, tapi tetep aja aku cemburu!"
Rose memutar bola matanya malas, Vicky sangat berlebihan.
Akhirnya Rose menarik gadis itu menjauh dari Kaivan, "kita lebih baik nemenin dia ke kamar aja, ayo!"
"Hah? Masa dia tidur di kamar kita sih? Kan ada kamar lain!"
"Kita harus menghiburnya...."
"Aku gak mau!"
Kaivan yang lelah dengan keduanya pun mendekat, "udahlah Rose, Vicky gak bisa dipaksa juga, kamu pasti gak suka kalo aku maksain kamu nglakuin yang kamu benci kan? Vicky benar juga, pasti Anesha butuh sendiri."
__ADS_1
Rose melepaskan lengan Vicky, "ya udah, aku anterin dia ke kamar lain aja ya? Kamu Vicky tidur aja sana!"
"Berikan dia baju hangat juga, Rose" ucap Kaivan.
"Oke!"
Rose mengecup bibir Kaivan sebelum pergi, membuat Vicky menggeram kesal.
Rose pun mengajak Anesha ke kamar yang baru, kamar tamu yang sudah dibersihkan pengurus villa.
Sementara yang lain masih di ruang tengah untuk menonton film. Jaden keluar untuk mengantarkan pengacara, karena pria itu datang menggunakan taxi saking terburu-burunya.
"Pasti sakit ya dikhianati sahabat sendiri," celetuk Jihun.
"Emang kamu pernah ngrasain? Kamu kelihatan kayak yang sering nyakitin temen deh" sahut Junghyun, yang sedang nyemil pizza.
Kaivan membeli dua loyang pizza, satu loyang sudah habis tinggal satu lagi dan mereka tidak bisa berhenti mengunyah seolah tidak ada kenyangnya. Hanya Kaivan dan Vicky saja yang diam sudah tidak kuat makan lagi.
"Aku masih inget temen-temen kak Jihun disekolah semuanya takut dengan kakak, bahkan nama kak Jihun disebut aja, mereka sudah kabur," ledek Dohyun.
"Mana ada!"
Disaat mereka ribut, Kaivan mengeluarkan ponselnya karena merasa ada chat masuk. Dan benar saja, ada chat dari Kayla. Gadis itu sedang liburan dengan kakaknya, Kayden, di Amerika.
Setelah kontroversi dengan Taemin, nama Kayla dan Kayden jadi perbincangan dimana-mana. Jadi agensi Kayden pun memberi cuti untuknya, lalu Kayla sudah keluar dari agensi lama. Agensi lama Kayla terancam memiliki reputasi buruk juga.
Kaivan senang jika kakak beradik itu terlihat bersenang-senang di Amerika sana, tempat ayah mereka tinggal.
"Gak cukup bawa cewek lain ke rumah, kamu juga chattingan sama cewek lain lagi..." Kaivan merinding mendengar suara Vicky yang tepat di depan telinganya. Perlahan dia menoleh, dan benar saja, Vicky menatapnya tajam.
"Hehe, aku cuma temenan sama dia kok."
"Aku tahu, aku pun gak nglarang, tapi ku rasa kamu kurang peka dengan perasaanku dan Rose."
__ADS_1
Kaivan pun terdiam dan menyimpan ponselnya di saku kembali. Kaivan pikir Vicky benar, dia kurang peka, mungkin karena itu juga Rose sering ngambek dan marah-marah tidak jelas. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah kali pertama Kaivan berhubungan baik dengan orang. Pertama berkencan, pertama memiliki teman, jadi tidak mungkin Kaivan langsung peka dan mengerti segalanya, bukan?
"Maaf deh, dia cuma ngabarin kalau dia akan memberikan oleh-oleh, gitu aja kok."
Vicky menghela nafas panjang, "baiklah, aku tidak akan cerewet lagi, aku percaya denganmu."
Satu setengah jam kemudian, Rose menghela nafas lega karena Anesha akhirnya tenang juga. Rose tentu iba dengan gadis itu, dia mau menangkan dan menemani Anesha karena tidak mau Kaivan yang melakukannya. Masih Rose ingat saat Anesha baru sampai villa, gadis itu takut dengan siapapun dan menempel seperti permen karet dengan Kaivan, itu juga alasan Vicky tidak menyukainya. Tapi kan Anesha juga belum tahu jika Vicky dan Rose itu kekasih Kaivan, jadi jelas dia tidak peka. Lagian orang yang sedang terguncang mana ada yang peduli hal seperti itu.
Anesha memang sangat memprihatinkan, orangtuanya sangat sibuk, dia memiliki teman baik dari SMP bernama Dista yang begitu licik dan manipulatif sampai keluarga Anesha saja sudah menganggap gadis itu anak sendiri. Jadi mereka mempercayakan Anesha pada Dista.
Yang membuat Anesha yakin mau berkarir di dunia hiburan juga Dista, karena dengan begitu Dista pikir dia bisa bersekolah dan tinggal di Jakarta dengan gratis, semua biaya juga dari orangtua Anesha. Orangtua Dista? Dia anak broken home, orangtuanya sudah menikah lagi dan punya keluarga sendiri-sendiri.
Rose mengerti betapa sedih dan terguncangnya perasaan Anesha.
Rose keluar kamar tamu, dia sudah melihat ruang tengah yang kosong, tapi kotak pizza dan sisa keributan masih ada disana. Kemudian Rose membersihkan ruangan itu dengan sihirnya, agar tidak membebani pak Pardi juga.
Setelah itu tentu saja dia pergi ke kamar Kaivan. Tapi senyuman Rose luntur ketika melihat Vicky tidur diatas ranjang Kaivan, sementara Kaivan sendiri duduk meringkuk diatas sofa sambil memeluk boneka sapi jumbo pemberian Dasha. Lama-lama Rose juga tidak suka dengan boneka itu, karena boneka itu menggantikan Rose untuk memeluk Kaivan. Tapi mau bagaimana lagi, boneka itu jauh lebih empuk darinya.
"Kai? Kenapa kamu duduk disini, dan kenapa Vicky ada disi - kau baik-baik saja?" Rose segera mendekati Kaivan, menyingkirkan boneka sapi jahanam itu dan beralih memeluk Kaivan erat.
Rose seperti itu karena melihat ekspresi Kaivan agak berbeda. Pikiran Kaivan kosong, Rose tidak bisa membaca pikiran bocah itu.
"Rose, tadi Vicky mendapat telepon dari ibunya. Ibunya Vicky terdengar sangat menyayangi Vicky, aku... Aku sangat iri. Kenapa aku tidak memiliki ibu yang lembut dan perhatian seperti itu ya? Apa aku memiliki banyak kesalahan?"
"Astaga apa yang kau katakan! Itu bukan kesalahan mu, kamu terlahir dari keluarga seperti apa dan bagaimana, itu bukan salahmu! Sama seperti kamu terlahir sebagai manusia dan aku sebagai peri, kita tidak memiliki kuasa atas itu."
Kaivan pun terdiam, Rose tahu Kaivan sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, dia hanya bisa memeluk dan menenangkannya. Sampai kemudian pertanyaan Kaivan selanjutnya membuat Rose kebingungan.
"Rose, apa kamu memiliki orangtua?"
.
.
__ADS_1