Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Tantangan bertanding


__ADS_3

Kaivan melihat mangkuk, piring dan gelas sudah pecah di lantai. Pelayan juga datang untuk membereskan kekacauan tersebut.


"Gimana ini, pasti kau harus ganti rugi banyak!" Ucap salah satu sepupu Seon, sepupu satunya membatu Seon untuk berdiri, sambil melirik Kaivan kesal.


Yang jaket merah menghampiri Kaivan sambil menyunggingkan senyuman menyebalkan.


"Kau tidak akan kabur karena tidak punya uang, kan?" Ucap si jaket merah sambil mendorong dada Kaivan dengan jari telunjuknya.


"Tentu saja tidak, katakan berapa kerugian yang harus ku ganti," ucap Kaivan pada pelayan.


"Saya akan menanyakan manager dulu," sahut pelayan.


Kemudian Kaivan mengeluarkan uang dua ratus ribu won, dia berikan pada pelanggan yang mejanya terbalik.


"Apa ini cukup untuk mengganti kerugian? Saya minta maaf karena terlalu mudah tersulut emosi."


"Ehem, kita ada tiga orang, jadi harusnya tiga ratus - haha, gitu dong! Santai aja, memang anak muda biasa begitu!"


Mereka tersenyum senang saat Kaivan menambahi seratus ribu won lagi, bahkan salah satu dari mereka menepuk bahu Kaivan. Ngomong-ngomong, ketiga pelanggan yang mejanya terbalik itu satu pria dan dua perempuan yang mungkin anak kuliahan juga.


Pelayan kembali lagi memberikan bon sekaligus berapa jumlah yang harus Kaivan bayar.


Kaivan tidak masalah dengan itu, dia juga merasa bersalah karena merusak meja dan beberapa perabotan.


"Semuanya lima ratus ribu won? Saya akan mentransfer saja, bisa?" Tanya Kaivan.


"Tentu saja bisa, terimakasih!"


Kejadian itu berlalu dengan bahagia karena meski manager telah menambahi biaya ganti rugi, Kaivan tetap bisa membayar.


Hanya saja Seon dan kedua sepupunya terlihat makin kesal.


"Kenapa kalian masih ada disini? Masih untung Kaivan gak nyuruh kalian ikut ganti rugi, semua orang disini juga tahu jika Kaivan bisa marah karena kalian," ucap Dasha.


"Biarin aja kak, mereka cuma suka gangguin orang, gak ada kerjaan emang" sahut Kaivan, dia kembali duduk dengan tenang.


"Kaivan Aku menantangmu untuk duel!" Ucap Seon, masih tidak kapok juga.


Kaivan menatap pemuda itu kesal, "duel apa lagi sih?"


Seon menyeringai senang, "akan ada pertandingan game, datang saja besok ke tempat ini, minimal satu tim tiga orang, jika tidak datang, maka kau pecundang!"


Seon memberikan selebaran brosur tentang pertandingan game, yang sebenarnya untuk senang-senang saja, tapi jika menang hadiahnya lumayan juga. Juara pertama mendapatkan uang tiga juta won, itu bukan uang yang sedikit.


Meski Kaivan tidak yakin bisa menang disana, tapi dia hanya menunjukkan wajah datar saja.


"Oke, aku akan datang..."


"Bagus, jika timku berada di peringkat tertinggi, kamu tinggalkan Dania."


Kaivan mengernyitkan keningnya, "kau masih belum menyerah juga? Padahal Dania aja udah ga mau sama kamu. Kalo kamu ngrasa ganteng, cari yang lain dong!"


"Kenapa? Kamu takut gak bisa ngalahin timku?" Seon dinasehati malah meremehkan Kaivan, iya, Kaivan sebenarnya tidak yakin bisa menang. Tapi meski dia kalah juga, Dania belum tentu mau dengan Seon.

__ADS_1


"Udahlah, Kaivan gak bakal kalah kok, sekarang kalian pergi, aku udah muak sama kalian!" Dasha mengusir mereka karena sudah tidak tahan lagi.


Mereka pun pergi karena terpaksa, pelanggan lain sudah menatap mereka tidak suka juga.


"Haah, mereka itu maksa banget sih, capek!" Keluh Dasha.


"Apa kamu tahu kenapa Seon ngotot banget sama Dania?" Tanya Kaivan.


Dasha menggedikkan bahunya, "gak tahu ya, tapi dulu dia baik banget lho, meski sepupunya emang udah nyebelin. Bisa jadi dia pura-pura baik, pokoknya dia effort banget dapetin adekku, aku aja ga nyangka dia bisa selingkuh."


Yah, Kaivan tidak akan mengatakan pada Dasha jika adiknya sengaja menjebak Seon. Tapi jika Seon memang benar sayang dengan Dania, dia tidak akan mungkin terjebak.


"Ngomong-ngomong, kamu bisa main game? Biasanya game yang dibuat pertandingan itu semacam game tembak-tembakan gitu, aku gak paham juga sih, pokoknya butuh skill yang bagus" ucap Dasha lagi.


"Jangan khawatir, pasti ada cara untuk bisa menang. Lagian meski kalah, Dania juga gak bakal mau balikan"


"Kalau misalnya mau, kamu gimana?"


Pertanyaan itu membuat Kaivan diam seribu bahasa, karena kemungkinannya masih ada, meski kecil sekali.


Apakah Kaivan serakah jika dia ingin Dania tetap disisinya?


Melihat ekspresi Kaivan berubah murung, Dasha buru-buru menambahkan, "gak usah dipikirin, masih ada aku kok!"


Kaivan tersenyum kecil, lalu menyesap minuman barunya, cappucino latte.


Setelah pulang dari cafe, Kaivan dan Dasha kembali ke apartemen. Kaivan sudah tidak tahan berada di luar karena sangat dingin. Sudah tidak ada salju sih, tapi tetap saja udaranya dingin hingga Kaivan merasa bisa membeku kapan saja.


Kaivan langsung memberitahu teman-temannya di grupchat tentang tantangan Seon. Di dalam grupchat hanya ada teman laki-laki. Seperti Dohyun, Junghyun, Jihun, Jisung, Wonbin, Kayden, Jake, dan Jaden. Grup itu dibuat oleh Dohyun, Kaivan awalnya berpikir itu tidak penting, tapi ternyata penting untuk sekarang.


Setelah semua selesai, Kayden muncul di grupchat, mengatakan jika ingin ikut. Tentu saja Jihun melarangnya, tidak mungkin ada idol ikutan pertandingan rakyat jelata, bisa-bisa ada banyak media dan itu makin merepotkan.


Kayden pun ngambek, dia menyesal menjadi idol.


Kaivan bingung harus bagaimana memberi reaksi, jadinya dia hanya mengirim stiker kucing saja biar cepat.


Kemudian ada telfon dari Dania, Kaivan sudah senang sekali. Tapi kesenangan itu segera lenyap saat Dania hanya bercerita tentang temannya, Hanna, dengan ceria.


Kaivan tahu Hanna itu perempuan dan dia hanya teman baik Dania. Tapi jujur saja, Kaivan cemburu. Dania bercerita tentang Hanna seakan-akan Hanna itu sudah berkontribusi besar dalam hidupnya.


Menyebalkan sekali.


"Kenapa kamu cemberut gitu? Temenmu gak ada yang mau ikut tanding?" Tanya Dasha, dia baru saja dari dapur, membawa coklat panas buatannya, dia juga membuatkan Kaivan.


"Makasih, tapi bukan itu, barusan Dania telfon, dia hanya membahas Hanna."


Dasha terkekeh dengan hebohnya, "kamu gak mungkin cemburu hanya karena itu, kan?"


Kaivan berdecak kesal, lalu menyesap coklat panasnya.


[Misi baru terpicu!]


Tumben ada misi padahal Kaivan di rumah saja.

__ADS_1


[Memenangkan pertandingan game! Dan promosikan game milikmu disana.]


[Hadiah akan dikirim random, hukumannya adalah sesuatu yang menyakitkan]


Kaivan diam karena shock, jika dia harus mempromosikan gamenya, apakah dia harus mengaku jika game itu miliknya juga?


[Tidak perlu juga, itu terserah padamu, gunakan otakmu.]


Kaivan mengernyit tidak suka, sudah pasti ada peri lain yang mengendalikan sistemnya, bukan robot. Tapi Kaivan tidak bisa membalas, ada Dasha, nanti dia dikira gila.


"Kai?"


"Hmm? Ada apa?" Kaivan dengan cepat menoleh pada Dasha.


"Tidak, aku hanya penasaran... Kamu masih trauma dengan kontak fisik - maksudku, aku pernah membuatmu membuka trauma saat aku mabuk dulu, aku malah menggodamu dan - yah... Apa kamu masih seperti itu?"


Kaivan tersenyum kecil lalu menggeleng, "ku rasa aku sudah merasa lebih baik, kamu tidak perlu merasa bersalah, aku bahkan sudah melupakannya, tidak apa kok."


"Sungguh?"


Kaivan mengangguk, "iya, jangan khawatir."


"Kalau begitu, aku sudah bisa menggodamu lagi?"


"Eh? Maksudnya gimana?"


Dasha meletakkan gelas yang dia pegang, lalu mendekati Kaivan, dia mendekatkan wajahnya pada Kaivan. Terus mendekat sampai bibir merah itu berada tepat di depan telinga Kaivan, lalu dia berbisik dengan suara menggoda.


"Seperti ini..."


Kaivan tentu saja gugup juga, dia menelan ludahnya karena terlalu gugup.


Lalu Dasha bergerak lagi, kini wajahnya berada tepat beberapa centi di depan wajah Kaivan.


Dilihat dari dekat, makin terlihat jika wajah Dasha itu mulus seperti porselen. Bibir merah merekah itu bergerak perlahan, namun Kaivan tidak bisa menangkap apa yang gadis itu katakan, karena otaknya sudah penuh dengan berbagai pikiran aneh.


Hal yang Kaivan bisa pahami selanjutnya hanya Dasha yang mencium bibirnya.


Kaivan tidak tahu apa itu hal yang benar untuk dilakukan atau tidak, namun dia menikmatinya. Pinggang yang ramping itu, Kaivan ingin meraihnya dan membuatnya semakin dekat pada tubuhnya, merengkuhnya dan tidak membiarkan dia pergi jauh.


Aroma wangi parfum mahal yang sangat cocok dengan kepribadian Dasha juga tercium, memberikan gairah yang aneh dan baru kali itu Kaivan rasakan.


Memang rasanya Kaivan hanya berpikiran aneh jika bersama Dasha. Dia memiliki perasaan berbeda dengan tiap gadis. Dengan Rose, Kaivan merasa nyaman dan aman. Dengan Dania dia merasa bahagia dan penuh kesenangan. Sementara Vicky, dia merasakan perasaan damai dan Kaivan merasa dia bisa mempercayakan apapun pada gadis itu.


Sedangkan Dasha itu beda sendiri. Entah karena dia lebih dewasa, atau karena dia sering menggoda Kaivan, makanya Kaivan terpancing. Yang pasti ada gejolak aneh dalam hatinya, perasaan asing yang membuatnya ingin tetap tinggal bersamanya, tapi juga ingin kabur dalam waktu bersamaan.


Dulu Kaivan juga senang saja menemani Dasha minum di malam hari, wajah Dasha yang memerah membuatnya merasa itu lucu dan gemas.


Ciuman itu masih berlangsung dalam waktu lama, Kaivan tidak tahu bagaimana untuk berhenti, tapi dia tahu harus berhenti.


Rasanya udara semakin panas hingga Kaivan merasa dia tidak membutuhkan pemanas ruangan. Meski begitu, mereka tetap menempel dan tidak ingin terpisah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2