
Pagi-pagi buta Kaivan harus terbangun karena tepukan pipi dari Rose yang lebih terasa seperti tamparan. Peri itu tidak merasa bersalah meski Kaivan telah menatapnya dengan tatapan jengkel.
"Bangun! Keluarga mu akan kemari lho!"
"Aku gak punya keluarga!"
"Mau gak mau, Harlan itu keluargamu!"
Karena malas berdebat lebih lanjut, akhirnya Kaivan menyerah dan bangun juga. Dia menguap lalu merenggangkan ototnya, baru kemudian diam dan menatap pada Rose. Peri itu masih mengenakan piyama, tubuhnya menyusut menjadi anak kecil, mungkin menghemat energi lagi.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Kaivan.
Rose berdecak malas, lalu mengulang ucapannya, "keluarga mu akan kemari! Harlan, Jaden, dan lainnya."
"Ngapain?"
Rose menggedikkan bahunya, "mana aku tahu! Pokoknya siap-siap aja sana, aku kabur ke dunia peri aja, gak mungkin aku nemuin mereka, kan?"
"Jadi kau membiarkanku menghadapi mereka sendiri? Terus maksudmu lainnya tadi siapa?"
Bukannya menjawab, Rose sudah kabur duluan. Kaivan mengacak rambutnya frustasi, dia belum siap menghadapi siapapun, bahkan meski itu Harlan an Jaden sekalipun. Lagian ngapain mereka menemui Kaivan segala sih?
Karena masih terlalu pagi, Kaivan memilih untuk mencuci muka sebentar, baru kemudian olahraga seperti biasa agar tubuhnya bugar.
Selesai olahraga dan mendapatkan tambahan 500 poin sistem, Kaivan memilih rebahan di ruang tengah sambil mengutak-atik ponsel pintarnya.
Tidak ada Harlan atau Jaden memberi kabar jika mereka akan datang, tuh. Bahkan tidak ada juga berita keluarga Harlan pergi ke Korea sama sekali. Apa mereka datang diam-diam?
Entahlah, lebih baik Kaivan mengurusi kebun digital saja. Melihat sayuran yang segar di layar ponsel, Kaivan jadi memikirkan, enaknya masak apa ya pagi ini? Tiba-tiba dia merasa lapar. Mungkin efek karena semalam hanya makan dua burger saja, lalu beberapa sendok bibimbab yang Yuna bawa.
Malamnya Kaivan mengeluh lapar, tapi Rose melarangnya makan karena sudah cuci muka dan sikat gigi. Alhasil sekarang sudah lapar pagi-pagi begini, masih jam lima lebih beberapa menit.
Mumpung masih banyak waktu, Kaivan berinisiatif membuat tahu isi, lalu tempe mendoan. Bodo amat dengan kolesterol, yang penting enak. Untuk sayur, Kaivan membuat sup daging, mumpung ada sisa daging sapi di lemari pendingin. Meski namanya sup daging sapi, Kaivan memasukkan lebih banyak sayuran ke dalamnya.
Dia sampai lupa jika Harlan dan rombongan akan datang, sampai masakan selesai dan dia sudah bersiap mandi, baru terdengar suara bel.
Kaivan yang sudah melepas kancing piyamanya buru-buru mengancingkan kembali sambil berjalan tergesa untuk membukakan pintu.
Meski sudah tahu mereka akan datang, Kaivan tetap terkejut.
"Kejutan! Kamu kangen aku gak?" Tanya Jaden.
"Yah, lumayan kangen, kalian ngapain kesini?" Ucap Kaivan, sambil mempersilahkan mereka masuk.
Ada Alvon Harlan atau ayahnya Kaivan, ada Jaden, ada pula gadis yang sepertinya itu anak Harlan dengan istri yang sekarang. Kaivan pikir dan lainnya maksud Rose itu termasuk istrinya Harlan juga, ternyata tidak ada.
__ADS_1
Harlan mengacak rambut Kaivan sambil tersenyum, "kamu baru bangun atau baru masak?" Tanya Harlan, setelah melihat penampilan berantakan Kaivan dan bau masakan.
Bagaimana tidak berantakan jika beberapa kancing salah masuk lubang, Kaivan jadi malu dibuatnya.
"Aku habis masak, ini mau mandi, tapi kalian datang, jadi aku buru-buru pake baju lagi," jawab Kaivan, kemudian pandangannya tertuju pada si gadis cantik yang terus menerus menatapnya dengan tatapan aneh.
"Anu... Kamu -"
Gadis berumur 10 tahunan itu tiba-tiba memeluk Kaivan, tangannya hanya sampai perut Kaivan sih, masih kecil sekali dia, tapi sudah termasuk tinggi untuk seumurannya.
"Aku Jasmine, panggil saja Mini!" Ujar gadis itu.
"Dia adik kita, aku udah pernah cerita kan? Dia pengen banget ketemu kamu," sahut Jaden, dia dan Harlan sudah duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu.
"Kalian bisa istirahat di kamar tamu, itu ada disana, atau jika lapar, kita bisa sarapan dulu."
Akhirnya mereka pun sarapan dengan masakan buatan Kaivan.
"Aku pikir akan dimasakkan makanan Korea, kenapa jadi tahu isi dan sayur sop begini?" Tanya Mini, dia terlihat kecewa, tapi Kaivan sih bodo amat.
"Kita aja dateng gak ngasih kabar, terserah kakakmu mau masak apa dong," sahut Harlan, mendengar itu gadis kecil itu pun bungkam. Tapi setelah makan satu suapan, dia mulai menyukainya. Rasanya bahkan jauh lebih enak dari masakan pembantu di rumahnya, padahal masakannya sederhana sekali.
"Ini beneran kakak yang masak? Bukan pembantu?" Tanya Mini.
Sebagai anak dari istri sah dan bungsu, gadis itu jelas dimanja di rumah. Apalagi oleh mama dan neneknya, dia sudah seperti putri Raja.
Selesai makan, Harlan bilang dia yang akan mencuci piring bersama Mini, gadis itu ingin menolak tapi dia tidak bisa membantah ayahnya. Harlan memang tidak pernah memanjakan anaknya, ya pernah sekali-kali, tapi lebih sering mendidik dengan tegas.
Itulah kenapa Mini tidak suka pergi dengan ayahnya, tapi dia kepalang penasaran dengan Kaivan, dia juga ingin liburan ke Korea Selatan, jadi apa boleh buat.
Sementara itu Jaden dan Kaivan pergi ke kamar Kaivan. Jaden langsung rebahan di ranjang yang sudah dingin itu, sangat sejuk dan nyaman, membuat segala rasa penat keluar semua, ingin tidur rasanya.
"Kenapa kalian tiba-tiba kemari? Kak Jaden gak kuliah apa?" Tanya Kaivan, dia kembali membuka kancingnya, harus mandi karena rasanya sudah lengket karena keringat.
"Aku cuti kuliah, Kai, aku akan membantu papa dulu, baru balik kuliah. Aku juga bosan dengan lingkungan kampus yang toxic itu, gak tahu kenapa, mungkin aku salah pilih universitas kali ya? Atau lingkaran pertemanan ku aja yang toxic, entahlah."
"Kenapa gak pindah aja disini?"
Mendengar itu Jaden membuka matanya, "pindah kuliah disini? Boleh juga, aku bisa nemenin kamu dan jadi wali mu disini, meski aku tahu ada banyak orang yang menjagamu, aku tetap khawatir denganmu, Kai. Mungkin sudah insting sebagai kakak."
"Kalau begitu pindah aja kesini, aku senang jika kakak pindah kemari."
Jaden tersenyum lalu kembali menutup matanya yang terasa berat, "akan ku pikirkan lagi nanti, mandilah."
Brak!
__ADS_1
Mini masuk ke kamar Kaivan, lalu dia melongo melihat Kaivan sudah bertelanjang dada.
"Mini, kamu gak boleh masuk, kamu kan cewek!" Protes Jaden yang tidurnya terganggu.
Tapi gadis kecil itu tidak peduli protesan Jaden, dia tetap masuk dan menghampiri Kaivan yang bingung harus bagaimana. Ingin mengusir Mini tapi dia baru kenal, rasanya asing dan canggung.
"Kak gendong!" Pinta Mini dengan manjanya.
Kaivan yang masih canggung itu pun menggendong Mini, meski dia tidak enak hati, karena tubuhnya kan bau keringat.
Jaden berdecak malas melihat adik perempuannya itu senang sekali digendong Kaivan. Umurnya saja yang 10 tahun, kelakuannya lebih tepat jika dibilang umur lima tahun.
"Kak Kaivan udah ganteng, badannya bagus juga! Otot lengan kakak juga bagus! Kakak putih pucet banget ya? Ini kakak emang gini atau lagi sakit, sih?"
"Kulitku emang gini," jawab Kaivan singkat.
"Gitu ya? Kayak kak Jaden dong ya? Mayat hidup."
"Hei!" Teriak Jaden tidak terima, mulut adik perempuannya itu memang jahat sekali, asal ceplos, mirip mamanya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Mini tidak peduli dengan Jaden, dia memeluk leher Kaivan dengan erat.
"Aku suka kak Kaivan! Nanti kakak nikah sama Mini aja ya? Hehehe!"
"Mana bisa hey! Kita semua itu dari ayah yang sama, gak boleh nikah!" Teriak Jaden lagi, sampai Harlan datang karena terganggu.
"Kalian masih pagi berisik aja - astaga Mini, biarkan kakakmu mandi, dia harus sekolah!" Harlan pun datang dan mengambil alih Mini yang nakal itu.
Kaivan pun lega Mini dan Harlan pergi.
"Dia emang manja banget, soalnya biasa dimanjain mamanya sama nenek, jadi gitu deh." Ucap Jaden, dia kembali rebahan dengan nyaman.
"Tapi kenapa dia ikut segala?"
"Dia yang maksa, katanya mau ketemu kamu."
Kaivan dulu pernah punya adik perempuan, meski tidak lama juga, karena keburu dijual oleh ibunya dan pacar ibunya. Adik perempuan memang manja, jadi Kaivan maklum saja.
"Cepet mandi, Kai! Nanti aku anterin, pengen tahu sekolahmu."
"Oh, oke!"
.
.
__ADS_1