
"Dia siapa, kak?"
Disaat Kaivan sudah capek sehabis olahraga dan bahkan dia membantu ibu-ibu tua menghabiskan jualan. Ibu-ibu itu menjual rebung dan tidak ada yang membeli.
Jika kalian penasaran apakah diberi hadiah oleh sistem? Jawabnya maka tidak.
Tidak masalah juga, Kaivan ikhlas dan hitung-hitung nostalgia makan rebung seperti di kampung dulu.
Saat Kaivan dan Rose sudah sampai di apartemen, ternyata Mini sudah bangun. Gadis kecil itu menunggu mereka di ruang tamu sambil main gadget.
Ketika Kaivan masuk, Mini turun dari sofa dan berkacak pinggang, lalu menunjuk Rose.
"Aku pacarnya Kaivan, kenapa?" Sahut Rose dengan percaya dirinya.
"Kak Kaivan itu punyaku!"
"Punyaku tahu, kamu kan cuma adiknya!"
Kaivan segera melerai, jangan sampai dua bocil itu berantem di apartemennya.
"Kalian jangan ribut, aku milik bersama deh!" Ucap Kaivan asal-asalan.
"Gak bisa, kak Kaivan punya Mini aja!"
"Heh bocil, kamu tuh adeknya! Dari pabrik yang sama, gak bisa kayak gini! Dia punyaku, titik!" Balas Rose, Kaivan heran karena Rose mudah tersulut emosi, padahal Mini cuma anak kecil.
"Rose, anak kecil itu biasa kayak gini, jangan ikutan kayak bocil dong..." Bisik Kaivan.
"Ugh..."
"Kak, nanti Mini tanyain mama deh ya, apa bener papanya Mini itu papa."
Kaivan makin bingung dan keheranan mendengar ucapan Mini.
"Gak mungkin cil, mama mu cinta mati sama papamu, jangan mengada-ada." Sahut Rose.
Mini pun cemberut, kemudian memeluk Kaivan erat, sambil memandang Rose penuh permusuhan.
Jika Rose sudah bicara begitu, sudah pasti Mini anak kandung Harlan. Rose lebih tahu bahkan dari Harlan sendiri.
Kaivan memberikan bungkusan berisi rebung pada Rose, lalu menggendong Mini yang sudah ingin menangis itu.
"Udah Rose, gak apa-apa. Aku juga sering lihat adek perempuan suka banget sama papa atau kakak laki-lakinya, tapi saat udah besar nanti, malah berubah benci banget. Biarin aja lah," ucap Kaivan.
__ADS_1
Mendengar itu, Mini makin gencar untuk bermanja-manja. Rose tahu ucapan Kaivan ada benarnya, karena kenyataannya memang begitu. Biasanya cinta pertama anak kalau bukan ayahnya, bisa jadi kakaknya. Apalagi Mini juga baru bertemu dengan Kaivan, nanti jika sudah terbiasa pasti berbeda lagi.
"Ya udahlah, kamu mau masak gimana ini rebungnya?" Tanya Rose.
Mereka sudah sampai di dapur, Rise meletakkan rebung ke atas meja. Kaivan juga meletakkan Mini ke kursi.
"Kakak mau masak dulu ya? Aku gak tahu, enaknya apa ya? Dulu di tempatku rebung dimasak dengan santan."
"Kayaknya enak tuh!"
"Tapi agak pedes, dibuat jadi gulai, pake ayam juga. Mini mau kan?"
Gadis kecil itu hanya mengangguk dengan semangat, "apapun yang kakak masak pasti enak!"
Kaivan tersenyum lalu mengusap rambut Mini dengan gemas, "baiklah, akan ku buat gulai ayam rebung, akan ku buat gak terlalu pedas agar semuanya bisa makan."
Rose membantu Kaivan memotong bahan, sedangkan Mini hanya menunggu sambil duduk cantik dan memakan buah apel.
Setelah masakan selesai, Rose yang baru makan beberapa jam lalu pun jadi lapar lagi. Karena masakan Kaivan antara tampilan dan aromanya sangat menggiurkan. Tidak berhenti sampai sana, Kaivan juga membuat ayam goreng bawang putih sebagai tambahan.
***
Berhubung Kaivan tidak sekolah, jadi hari itu dia habiskan bersama keluarganya. Mereka pergi ke semua tempat yang ingin Mini kunjungi saja. Seperti Namsan tower, istana gyeongbokgung, istana changdeokgung, kemudian ke Hanok village dan mancari makan disana. Di sekitar Hanok village ada berbagai tempat makan, seperti restoran masakan Jepang, restoran masakan Thailand, dan lainnya.
Setelah makan, bukannya meminta pergi ke tempat yang normal-normal saja, Mini malah memaksa pergi ke Unity entertainment untuk bertemu boygrup favoritnya.
"Ada gila-gilanya nih bocil! Dirimu pikir mereka gak sibuk, apa? Jadwal mereka pasti padet lah. Meski kita punya banyak uang, tapi kita juga harus hargai privasi idol!" Jaden mengomeli Mini seperti biasa.
Karena hanya Kaivan yang kalem, maka Mini mengadunya pada Kaivan, bukan ayahnya. Karena Harlan itu galak sekali, hanya baik disaat tertentu saja.
"Kakak!" Rengek Mini pada Kaivan.
"Jangan digendong, Kai, kita harus tegas sama anak kecil satu ini, biar gak manja terus."
Kaivan jadi serba salah, dia tidak tega dengan Mini, tapi juga tahu Jaden itu benar. Mini terlalu dimanja ibu dan neneknya. Hal itu tidak bagus juga bagi perkembangan karakter dia nanti.
Iya kalau keluarganya masih ada sampai dia dewasa, jika nanti tidak ada keluarga, dan dia kesulitan, dia tidak akan bisa berbuat apapun.
"Mini dengerin kakakmu ya, gak semua permintaan kamu bisa terpenuhi, kita Coex aquarium aja gimana?" Tawar Harlan.
Mini malah menangis keras setelahnya.
"Siapa sih yang punya ide bawa bocil satu ini? Aturan ada mamanya, biar kita gak repot gini," keluh Jaden.
__ADS_1
"Papa yang punya ide, kenapa?" Sahut Harlan.
"Kaivan, kamu kan kenal Kevin." Bisik Rose, peri itu ikut mereka tapi dalam bentuk peri kecil.
"Oh iya, aku kenal seseorang yang ada di unity entertainment, mau ku telfon dulu?" Tanya Kaivan.
Pada akhirnya dia menelfon Kevin, menanyakan nama boygrup yang Mini maksud.
Ternyata boygrup itu grupnya Kevin sendiri. Kebetulan Kevin dan teman-temannya ada di gedung agensi dan sedang latihan, tidak ada jadwal apapun.
Kaivan dan keluarganya pun berangkat ke tempat Kevin, tidak lupa membeli pastry untuk bawaan. Tidak enak jika menemui orang tapi tidak membawa apapun. Mini sendiri yang memilih semua pastry untuk Kevin dan grupnya. Karena Kaivan tergoda, dia ikutan beli untuk dirinya sendiri, yaitu berbagai donat dengan toping berbeda, croissant, dan brownies mini.
Tapi pada akhirnya, kue Kaivan dicomot juga oleh yang lain. Tahu begitu Kaivan beli lebih banyak, agar dia puas.
Saat Kaivan kesal karena donat terakhirnya diembat oleh ayahnya, tiba-tiba mendarat kecupan kecil di pipinya.
Jelas bukan Jaden atau Rose yang duduk diatas kepala Jaden, memang Rose tidak sopan, tapi Jaden juga tidak tahu apa-apa, jadi amanlah.
Tentu saja yang mengecup pipi Kaivan itu Mini.
"Ada apa?" Tanya Kaivan.
Mini mengecup pipi Kaivan yang lainnya, "Mini sayang kak Kaivan! Mini mau tinggal sama kakak aja disini!"
Jaden yang mendengar itu tertawa, "kau yakin, cil? Aku juga akan tinggal disini tuh."
"Kok kak Jaden ikutan sih?"
"Aku duluan tahu!"
Kaivan lelah sekali mendengar Mini berdebat dengan Rose atau Jaden, tapi disaat bersamaan dia juga gemas melihatnya.
"Kak Kaivan pilih tinggal sama Mini atau kak Jaden?" Tanya Mini dengan serius, beda dengan Jaden yang terkekeh senang karena berhasil membuat adiknya kesal.
"Aku pilih ... Sendiri aja."
"Kok gitu? Sendirian itu gak enak lho, pasti kesepian! Kalo Mini sendiri saat mama, papa dan kak Jaden sibuk, Mini kesepian!"
Mendengar itu, Jaden berhenti tertawa. Ternyata Mini juga bisa merasakan hal itu. Harlan yang juga mendengar itu pun merasa bersalah.
"Kau benar, pasti kesepian." Ucap Kaivan. Dia tahu betul bagaimana rasanya kesepian itu, sampai sudah mati rasa dengan rasa kesepian.
Yang Kaivan rasakan hanya dia tidak mau ditinggalkan lagi.
__ADS_1
Tanpa sadar, Kaivan masih kesepian.