Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Nasi Jagung


__ADS_3

Kayden dan Kayla datang ke apartemen Kaivan, mereka membawakan berbagai makanan. Ada cookies, brownies, anggur shine muscat, ada persik, ada pisang juga.


"Kami kemari karena merasa bersalah sudah merepotkan mu, kamu sampai diculik temanku juga - maksudku, sekarang bukan temanku lagi. Ini juga salahku karena tidak perhatian dengan adikku," ucap Kayden, saat Kaivan sudah menyuguhkan minuman hangat untuk mereka. Berhubung yang ada hanya coklat, jadi Kaivan menyediakan coklat panas.


"Ini juga salahku karena tidak bercerita pada kakak, kak Taemin bilang kak Kayden sedang ada banyak masalah, jadi aku tidak berani cerita. Aku juga salah karena langsung meminta bantuan orang yang baru kutemui. Memang Kaivan baik, tapi dia jadi kena imbasnya" sahut Kayla.


"Aku tidak masalah, minum dulu, biar hangat, pasti dingin sekali diluar, ini juga masih pagi," Kaivan memulai untuk meminum coklat panasnya, dia menambahkan marshmallow bentuk beruang di atas coklat, dia pikir itu lucu dan membuat tenang siapapun yang melihatnya.


Kayla terlihat senang dengan coklat panasnya, begitupun dengan Kayden. Menurut Kaivan, meski dia baru bertemu mereka, kakak beradik ini sangat baik. Masalahnya mereka terlalu baik dan positif thinking, jadi mudah dibodohi oleh orang jahat. Padahal keduanya memiliki visual yang menawan.


"Aku sangat kuat, sebenarnya aku pura-pura lemah agar bisa ditangkap, dengan begitu ada alasan untuk menjebloskan mereka ke penjara, karena aku tahu preman-preman itu sudah meresahkan masyarakat. Mereka juga buronan, pamanku adalah polisi, dia juga wali ku saat ini," ucap Kaivan.


"Kami sangat merepotkan mu, sekarang biar aku saja yang menghadapi agensinya Kayla," sahut Kayden, tapi Kaivan menggeleng, "jangan, jika kamu sendirian, takutnya mereka playing victim, apalagi mereka begitu karena suruhan si Taemin itu, artinya dia masih punya kuasa. Aku akan pergi dengan pamanku yang polisi itu siang ini, setelah dari kantor polisi untuk memberikan keterangan. Aku tahu kamu merasa bersalah, tapi ku mohon untuk tidak gegabah, kamu masih memiliki karir untuk dijaga, bukan?"


"Tapi biarkan aku ikut, ya?" Pinta Kayden.


Kaivan menoleh pada Kayla, gadis itu mengangguk pelan.


"Baiklah, nanti siang kita bertemu disana, ingat untuk tidak bertindak dulu. Kita itu lemah, jadi harus ada orang dewasanya" kata Kaivan.


Untungnya Kayden bukan orang yang keras kepala. Kayden dan Kayla pun pulang setelah Kaivan memberi mereka apel besar yang Kaivan keluarkan dari gamenya.


Setelah itu Kaivan merebahkan diri di sofa, dia merasa capek padahal dia hanya mengobrol, seakan energinya terserap habis. Memang Kaivan tidak bisa banyak bicara, sudah seperti itu dari kecil, makanya dia lebih suka langsung bertindak dari pada banyak bicara.


"Sepertinya ada yang ku lupakan, apa ya?" Semakin dia berpikir, semakin dia merasakan kantuk. Kaivan pun tertidur di sofa.


Bugh!


"Hei, bangun!"


Kaivan membuka matanya perlahan, ada Dohyun di depannya, membawa bantal sofa. Dia hanya menguap lalu bangun, ada Hanbin juga disana, sedang menata sarapan mereka, atau bisa dibilang brunch. Karena waktunya itu antara sarapan dan makan siang, Kaivan sepertinya ketiduran lagi terlalu lama. Maklum saja semalam dia terbangun jam satu dini hari, bukannya kembali tidur, dia malah main game.


"Minum teh dulu?" Dohyun memberikan minuman hangat pada Kaivan. Setelah diminum, rupanya itu bukan teh biasa, bisa dibilang teh herbal? Kaivan tidak yakin, rasanya aneh, tapi karena hangat, dia habiskan saja.


"Kenapa kamu ada disini?"


Dohyun mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kaivan, "aku sudah disini dari satu jam yang lalu, dan kau baru bertanya? Aku akan menemanimu seharian ini, kakakku pergi liburan dengan temannya, aku gak mau sendirian."


"Kamu gak punya teman selain aku?" Tanya Kaivan.


Dohyun kembali memukul Kaivan dengan bantal sofa, "aku ada teman lain, yang gak punya teman lain itu kan dirimu!"

__ADS_1


"Hehe."


"Rose itu siapa? Kau mengigaukan namanya tadi" sahut Hanbin, dia dan Dohyun kemudian terkekeh, mengejek pada Kaivan.


Kaivan hanya berdecak kesal dan siap makan bersama mereka. Kaivan cukup terkejut melihat apa yang disajikan disana.


"Nasi jagung?"


"Oh, kami mendapatkan ini dari tetangga baru Dohyun, tetangganya menikah dengan orang Indonesia lho, istrinya baik sekali dan memberikan bungkusan ini pada kami, apalagi saat kami mengatakan jika kamu dari Indonesia juga," ucap Hanbin, dia mengatakan dengan nada pelan, padahal Dohyun ada di dapur untuk mengambil minuman, tapi dia bisa mendengarnya.


"Kaivan dari Indonesia?" Tanya Dohyun.


Kaivan pikir sekarang sudah baik-baik saja, karena Kaivan sudah diberikan identitas baru.


Kaivan sudah menjadi anak adopsi Harlan, Kaivan sebenarnya tidak mau, dia ingin menolak, tapi identitasnya keburu jadi. Dia benci sekali karena Harlan tidak mempertimbangkan pendapatnya.


Entahlah, setelah tahu Harlan itu ayahnya, Kaivan jadi sensitif dengan pria itu. Harusnya dia tidak tahu saja, itu lebih baik.


"Iya, aku yatim piatu, lalu diadopsi oleh orang kaya, lalu aku disini bersama paman polisi, karena aku ingin sekolah disini," jawab Kaivan.


"Hebat banget kamu mau sekolah jauh-jauh, syukurlah kamu memilih sekolah disini."


Kaivan memandangi nasi jagung yang diberi tetangganya Dohyun. Wanita Indonesia itu hebat juga ya, dapat pria Korea yang kaya raya. Karena jika tinggal di perumahan sekitar rumah Dohyun, sudah dipastikan orang kaya. Di dalam bungkusan nasi jagung, ada tahu bumbu merah, ada bakwan jagung, ada sambal terasi dan terong yang dikukus, dan ada juga ikan asin.


"Dia di sekolah juga cepat sekali mempelajari sesuatu" sahut Dohyun.


"Kalian bisa makan ini?" Tanya Kaivan.


Dohyun menatapi makanannya sendiri, "aku suka mencoba makanan baru, apa ini pedas? Setahuku sambal itu pedas."


"Kalau aku tidak perlu dikhawatirkan, aku sudah pernah makan nasi dengan ikan asin saja, atau dengan kecap saja." Ucap Hanbin, dia pernah merasakan hidup susah dan tidak memiliki apapun, hasilnya dia bisa makan apapun asalkan bukan kotoran atau racun.


"Kalau tidak bisa pedas, berikan sambalnya padaku saja ya?" Tawar Kaivan, Dohyun memberikan setengah sambalnya pada Kaivan.


Kaivan tidak menyangka dia akan makan masakan Indonesia yang dimasak wanita Indonesia, entah kenapa rasanya random saja.


Selesai makan mereka pergi ke kantor polisi. Memberi keterangan tidak semudah itu. Taemin tentu membayar pengacara terbaiknya dan memojokkan Kaivan, bahkan menuduh Kaivan menyebarkan vidio yang sedang trending di yutup. Meski itu benar, Kaivan kesal sekali. Tentu Kaivan berbohong dan berdalih, saat itu dia sedang dipukuli, bagaimana bisa merekam semua itu, jadi Kaivan mengatakan salah satu anak buah Taemin yang merekamnya.


Akting Kaivan yang bagus membuat polisi puas, karena memang polisi sudah geram dengan kelakukan mereka, harus segera ditangkap. Kali ini uang mereka tidak akan bisa menolong.


Lega sekali setelah memberikan keterangan. Setelahnya Kaivan masih harus pergi ke agensi dan membereskan masalah Kayla. Dia pergi bersama Dohyun dan Hanbin, kemudian bertemu Kayden dan Kayla.

__ADS_1


Hanbin mengatakan jika Kaivan dan Dohyun tidak perlu ikutan, mereka lebih baik menunggu di luar saja. Jadilah mereka pergi ke cafe dekat sana.


"Kau itu bagaimana bisa kenal Kayla sih? Dia cukup terkenal karena sangat cantik, adiknya Kayden juga, aku terkejut saat dia tidak masuk line up debut, karena itu mustahil sekali." Ucap Dohyun.


"Kok kamu tahu?"


"Kayden itu seniorku di akademi dance, dia ikut akademi karena dance nya kurang, kak Junghyun dan kak Jihun kenal dia juga, Kayden itu kuat di vokal dan sebenarnya dia masuk agensinya karena mau jadi produser musik. Dia masih kelas tiga SMA sih, bentar lagi lulus."


"Wah, hebat juga ya? Tipe pekerja keras."


Mendengar itu Kaivan jadi tertarik, karena tidak banyak anak muda yang bekerja begitu keras. Terutama karena Kaivan dari Indonesia, jadi dia cukup mendapat culture shock. Teman-teman seusia Kaivan di tempatnya berasal kebanyakan malah manja dan tidak suka bekerja keras, disuruh belajar sedikit saja, ngomelnya bisa seharian, dimarahi orangtua, malah mereka lebih galak.


"Kau sendiri gak mau jadi idol? Tunggu, kakakmu itu ikut akademi dance juga? Sepupumu juga?" Tanya Kaivan.


"Iya, mereka ikut akademi dance karena dulu ingin jadi idol, gak tahu kenapa sekarang berubah lagi. Aku gak mau jadi idol, enaknya jadi apa ya Kai?"


"Kenapa malah nanya aku? Oh! Terimakasih...."


Pesanan mereka datang, diantar oleh pelayan cantik.


Mereka memesan makanan yang best seller di cafe itu karena tidak tahu mau pesan apa. Nasi jagung masih membuat mereka kekenyangan.


"Ayo kita buat bisnis saja," ucap Dohyun.


"Aku udah buat bisnis lho, sama Vicky, sama toko buah dan sayur juga..."


"Itu kan bisnis yang udah ada terus kamu bantu, maksudku itu membuat bisnis sendiri, membangun yang baru gitu lho."


"Mau jual popcorn aja gak?"


Dohyun menatap Kaivan kesal.


"Aku serius nih!" Tambah Kaivan karena Dohyun tidak percaya dengannya. Padahal popcorn dari game itu enak sekali, terutama yang rasa buah-buahan.


"Kalau begitu kita perlu bekerjasama dengan bioskop, masalahnya kita buat popcorn sendiri? Harus agak beda biar bisa bersaing" ucap Dohyun, syukurlah dia menanggapi dengan serius kali ini.


"Kau pernah makan popcorn rasa buah gak?"


"Hah? Semua popcorn sama aja, meski rasa buah, itu hanya akan sedikit manis, rasa buahnya tidak akan terlalu kuat."


Kaivan tersenyum puas, "aku bisa buktikan kita bisa mendapat popcorn rasa buah, nanti kita buat popcorn rasa apel, okay?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2