Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Bertemu Jaden Harlan


__ADS_3

Akhirnya berangkat juga ke Indonesia, yang lain sangat bersemangat dan kelihatan sangat menantikan hari itu. Berbeda dengan Kaivan yang hanya diam, tiba-tiba dia merasa tidak ingin pergi, tapi sudah terlanjur. Dia begitu gelisah tapi tak ingin memperlihatkannya di depan yang lain, bahkan ia tidak berani memikirkan apapun agar Rose tidak tahu.


Bahkan saat Wonbin mengatakan agar menjaga adiknya dengan baik dan tidak macam-macam, Wonbin malah heran melihat ekspresi Kaivan yang tidak biasa.


Sepanjang perjalanan dia hanya melamun, bahkan di pesawat dia tidak bicara sama sekali, dia diam, tidak makan atau minum juga.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Dohyun, dia sudah khawatir sejak berangkat karena ekspresi Kaivan jadi aneh.


"Aku baik, jangan khawatirkan aku, aku akan tidur sebentar."


Dohyun hanya diam melihat Kaivan menutup mata, kemudian dia berbalik melihat pada Rose di belakangnya. Rose duduk dengan Vicky, dan mereka berdua asyik membicarakan entah apa. Jadi, Dohyun menyerah dan kembali duduk dengan tenang.


Waktu berjalan dengan cepat, akhirnya mereka sampai di Indonesia.


Kaivan pikir dia akan dijemput oleh pamannya Jisung saja, karena Jisung bilang pamannya memiliki mobil Van besar, pamannya juga semangat sekali karena Jisung ingin liburan di sana, Jisung sudah menghubunginya dan mengatakan untuk menjemputnya setelah sampai di bandara.


Akan tetapi, Kaivan melihat sosok putra pertama Harlan bersama dengan pamannya Jisung menunggu dia dan teman-temannya datang.


Namanya Jaden, dia terlihat tidak senang, sama seperti ingatan Kaivan terakhir kali tentang dia. Sebenarnya Jaden punya wajah manis seperti lelaki baik dan ramah, tapi entah mengapa dia selalu terlihat jutek dimata Kaivan.


Pamannya Jisung terlihat senang sekali bertemu keponakannya, yang terlihat tegang mungkin hanya Kaivan dan Jaden saja.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Kaivan, pada Jaden yang ada tepat di depannya.


"Kau berharap kami diam saja saat kau tiba-tiba seperti menghindari kami? Padahal ayah sudah mengerahkan banyak hal untukmu!"


"Aku bisa mengembalikan semua uang yang dikeluarkan -"


"Ini bukan tentang uang! Lagipula kami sudah mengadopsi mu secara resmi, anggap saja kamu adikku, mungkin kau tidak menyukaiku, tapi aku pikir itu tidak masalah memiliki seorang adik."


Jaden terlihat tidak mau menatap Kaivan, mungkin dia hanya canggung saja. Selama ini Jaden menjadi satu-satunya anak Harlan, dia bahkan mungkin tidak tahu jika Kaivan adalah adiknys dari ayah yang sama dengannya.


Bahkan, jika Jaden tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dia akan membenci Kaivan, sama seperti Harlan membenci ibu Kaivan. Karena bagaimanapun juga, ibu Jaden meninggal karena ibunya Kaivan.


Justru Kaivan menghindar agar mereka tidak ada masalah. Tapi Kaivan sadar jika Harlan dan Jaden tidak mengetahui apapun disini.


"Maaf, kak Jaden, aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. Mungkin kamu dan Om Harlan tidak masalah aku diadopsi keluarga kalian, tapi takut yang lain tidak setuju, aku juga tidak ingin menghindari kalian."


Jaden menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan Kaivan, "jadi karena itu kamu membeli villa - atau kamu menyewanya? Jika membeli dapat uang darimana sebanyak itu?"


Kaivan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, dia hanya bingung mencari alasan. Tidak mungkin dia mengatakan jika dia mendapat banyak uang hanya dari rebahan dan main game, kan terdengar sangat mustahil.


Kemudian Kaivan menyeret Vicky dengan paksa, "selain membeli banyak saham, aku juga ada bisnis dengan Vicky, bisnis make up dan skin care sedang sangat bagus, jadi aku ada sedikit uang lebih, tenang saja, masih ada sisanya!"

__ADS_1


Vicky yang bingung karena Kaivan dan Jaden bicara bahasa Indonesia pun hanya tersenyum saja.


"Ah, begitu, aku sudah dengar juga. Baiklah, kita bicara lagi nanti, lebih baik kalian segera ke villa, tapi kamu ikut aku," ucap Jaden.


Kaivan tidak ada pilihan lain selain mengiyakan saja. Jadilah mereka berpencar, Kaivan bersama dengan Jaden, sementara yang lainnya ikut mobil pamannya Jisung. Jisung bilang pamannya mengajak makan di restoran Padang, karena paman Jisung ada bisnis restoran Padang yang cukup terkenal meski baru dirintis.


"Kami akan membawakan nasi Padang untukmu nanti!" Ucap Rose, sebelum naik mobil pamannya Jisung.


Kaivan hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Koper milik Kaivan juga ikut mobil Van itu, jadi Kaivan hanya membawa tas ransel barunya, hadiah dari sistem yang harganya sekitar 30 jutaan rupiah itu.


Jaden sendiri membawa mobil Ferarri entah jenis apa warna merah. Mobil itu memiliki warna mencolok tapi entah kenapa cocok sekali dengan Jaden. Kaivan jadi ingat mobilnya sendiri dari hadiah sistem, Rolls-Royce, itu memiliki warna yang tidak mencolok, Kaivan tidak berpikir warna mencolok cocok untuknya.


Jaden mengajak Kaivan entah kemana, dia hanya mengemudi tanpa mengatakan apapun. Sampai Kaivan sendiri yang memecah keheningan itu.


"Sebenarnya kamu ingin bicara apa denganku?" Tanya Kaivan.


"Tidak, itu... Aku tidak tahu apa boleh mengatakan hal ini padamu, tapi - ku pikir kau berhak tahu."


Entah mengapa Kaivan jadi tegang mendengarnya, "katakan saja apa itu."


"Ayahku mencari tahu ayah kandungmu, dia pikir ayah kandung mu adalah mantan suami ibumu, yang cerai saat aku masih di kandungan ibuku, kata ayahku, ibumu hamil kamu saat aku sudah mau lahir."


Kaivan bingung harus menanggapi bagaimana, "sebenarnya aku sama sekali tidak ingin tahu siapa ayahku, karena itu percuma saja. Kemana dia saat aku butuh? Kemana dia saat aku menderita? Jika sekarang dia ingin mengakuiku itu sudah terlambat."


Entahlah, apakah Harlan itu terlalu baik, terlalu ikut campur, atau bagaimana, yang pasti Kaivan tidak butuh semua itu.


"Kau tahu aku dari kecil tidak diperhatikan, bukan? Saat ada orang yang memperhatikan ku seperti ini, aku merasa aneh, ku mohon jangan tersinggung."


"Yah, aku bisa mengerti itu. Apa kau ingin bertemu ayah?"


"Om Harlan? Ku rasa tidak, maaf."


"Kalau ibumu? Dia ada disini, maksudku dipenjara di sekitar sini."


Kaivan terdiam selama beberapa saat, sampai kemudian menolaknya.


"Tidak, aku tidak ingin bertemu dia, sama sekali."


"Ah, gitu ya? Kalau begitu, mau makan dulu?"


"Baiklah, aku tidak nafsu makan dari tadi pagi, jadi sekarang lapar."


"Ada beberapa restoran bagus, aku tahu kau tidak pernah ke Jakarta kan? Apa yang ingin kau makan?"

__ADS_1


Kaivan berpikir sejenak, yang benar-benar ingin dia makan itu... "Lalapan? Aku rindu dengan sambal ala Indonesia yang pedas, dengan lalapan sayur segar juga."


"Kalau begitu, ada tempat yang bagus tapi jauh, tidak masalah?"


Kaivan hanya mengangguk, dia tidak masalah asal dapat makanan yang dia inginkan.


Tapi, Kaivan tidak menyangka jika tempat jauh yang dimaksud Jaden itu sampai puncak Bogor. Kaivan bahkan sempat ketiduran di mobil karena kursinya juga nyaman, tahu tahu sampai di puncak saja.


Untungnya pakaian Kaivan masih pakaian tebal yang hangat.


"Ku rasa ini terlalu jauh, kak," protes Kaivan, Jaden hanya terkekeh lalu mengajak Kaivan masuk.


Restoran itu mengusung tema pedesaan, jadi tempatnya sangat tradisional, ada gubuk-gubuk dari bambu yang memiliki pemandangan yang indah. Meski begitu, tempatnya terasa hangat dan begitu familiar.


Mengingatkan Kaivan pada persawahan yang sering dia kunjungi saat kecil, Kaivan suka makan cilok di gubuk sawah, agar tidak ada yang menggangunya.


"Tempat ini salah satu bisnis baru keluargaku, kebetulan aku belum kesini, makanan disini juga sering dikunjungi food vlogger, dan penilaian mereka bagus-bagus, jadi tempat ini bisa dikatakan cukup viral" ucap Jaden.


Pantas saja cukup ramai tempat itu, jika Jaden bukan pemilik, pasti sudah tidak dapat tempat.


Jaden dan Kaivan disediakan tempat strategis yang sepi dan pemandangannya paling bagus.


Menu yang dijual juga ada berbagai macam, bahkan varian sambalnya juga macam-macam. Karena kalap dan kelaparan, Kaivan memesan berbagai menu, dengan dua varian sambal berbeda.


"Tahu begini kita ajak yang lain juga harusnya" komentar Kaivan.


"Eh? Kau yakin mereka akan tahan dengan pedasnya? Aku yang orang Indonesia saja kadang masih tidak tahan, sambal disini lebih pedas dari yang lain."


"Kau benar, mereka tidak bisa tahan."


Saat makanan datang, Kaivan semangat sekali, sampai Jaden heran sendiri dibuatnya. Antara Kaivan yang baru dia temui di bandara dengan yang sekarang perbedaan moodnya jauh sekali.


"Sepertinya kau sangat rindu masakan Indonesia ya?" Tanya Jaden.


"Tentu saja, makanan disana enak, tapi tidak bisa dibandingkan dengan disini, aku sebenarnya tidak ingin kemari sama sekali, tapi aku juga rindu dengan negara ini, suasananya, makanannya..."


"Sepertinya kau hanya merindukan makanan."


"Apa kelihatan banget?"


"Banget!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2