
Yah, tentu saja Dania memarahi Kaivan karena mengusir temannya, tapi Kaivan tidak mau mendengarkannya. Yang tiba-tiba datang dan mengganggu itu Hanna, Kaivan bahkan sudah baik sekali memberinya buah dan oleh-oleh. Meski Dania marahnya itu sebentar, tapi Kaivan makin tidak suka dengan Hanna.
Di sore hari Jihun dan Jisung datang ke apartemen Kaivan, untuk melihat keadaan Kaivan sekaligus mengajari Kaivan bermain game yang akan dipertandingkan.
Itu adalah game yang bisa sendirian atau berkelompok, mempertahankan wilayah, menyingkirkan pemain lain dan merebut wilayah dan peralatan pemain lain.
Saat Jisung menjelaskan, semuanya mudah, tapi sangat sulit ketika bermain sungguhan. Karena Kaivan pemula, lebih mudah bermain dengan tablet, karena tampilannya luas dan lagi Kaivan juga masih sakit, dia bisa pusing dengan mudah jika tampilan game kecil. Jadilah dia diam-diam mengubah ponselnya menjadi mode tablet.
"Kaivan payah sekali, pacarmu saja sudah bisa," ucap Jihun kesal saat mereka kalah mempertahankan wilayah mereka.
Yang bermain saat itu Jihun, Jisung, Kaivan dan Dania ikutan. Sementara Dasha hanya duduk dan menyemangati Kaivan saja.
"Dania itu sudah pernah main gituan, Kaivan kan baru aja diajari!" Bantah Dasha.
"Maaf kalau menghambat team" gumam Kaivan, sesungguhnya dia malas sekali main game, maunya rebahan saja. Tapi mau bagaimana lagi jika pertandingan besok adalah misi baginya. Jika bukan misi, sudah Kaivan serahkan pada orang lain untuk menggantikannya, kalau bisa membayar profesional.
"Gak masalah, Kai, kan ini untuk mengajarimu, aku akan dengan sabar mengajari sampai bisa. Kamu kan juga lagi sakit, gak perlu dipaksain, kita juga gak harus menang pertandingan, kan?" Sahut Jisung, memang hanya dia teman paling baik.
"Aku gak maksud marahin Kaivan kok, aku cuma bercanda aja, Dasha sensi banget sih, lagi datang bulan ya?" Kata Jihun asal.
"Kok tau?" Sahut Dasha, dia memang sedang datang bulan, sejak dua hari lalu.
"Lah, beneran? Kayaknya aku ada bakat jadi peramal."
"Ayo main lagi! Itu tadi seru banget!" Pinta Dania.
Mereka pun bermain kembali, kali ini Kaivan sudah banyak mengerti berkat permainan sebelumnya. Memang akhirnya mereka kalah lagi, tapi hasilnya lebih baik dari sebelumnya.
Selesai bermain, sudah waktunya makan malam, Kaivan yang dari pagi hanya bisa makan sedikit pun sudah kelaparan, tapi dia tidak mau memasak.
Akhirnya Jihun dan Dasha yang memasak, bukan masakan yang rumit sih, hanya ramyeon saja. Ramyeon adalah mie ala Korea, di Indonesia juga sudah banyak dijual, seperti Samyang.
Meski ramyeon tidak sehat, tapi itu lebih mudah dibuat oleh siapapun.
Sebenarnya Jihun tidak terlalu meyakinkan, apakah bisa memasak atau tidak, tapi berhubung Kaivan tidak bisa memasak karena sakit, apa boleh buat. Tidak mungkin juga meminta Jisung, bisa-bisa pancinya gosong jika Jisung yang membuat ramyeon.
Dania juga membantu memotong bahan-bahan seperti sayuran dan sosis yang akan dicampur disana.
"Kamu udah baikan, Kai?" Tanya Jisung, dia memeriksa kening Kaivan, yang masih hangat, tapi sudah lebih normal suhunya.
"Kayaknya udah baikan," jawab Kaivan apa adanya, karena dia memang sudah merasa baikan, tapi tubuhnya masih agak aneh. Entahlah, dia merasa agak tidak biasa. Mungkin karena sudah lama tidak sakit, jadi rasanya aneh saja dia sakit sekarang.
"Besok pakailah pakaian yang hangat, jangan lupa pakai hotpack juga, pakai di perut, punggung dan lainnya, kamu udah punya kan?"
"Eum, nanti beli deh... Aku gak pernah pake gituan, soalnya kemarin musim dingin aku baik-baik saja."
Jisung berdecak kesal, "harus pake dong, aku yang udah lama disini aja masih pake, jangan remehin sesuatu meski itu sepele."
__ADS_1
"Iya iya..."
Klontang!
Kaivan refleks bangun dari tidur-tiduran di sofa saat mendengar suara nyaring dari arah dapur. Kaivan mulai khawatir jika keputusannya menyerahkan dapur tersayangnya pada Jihun adalah keputusan terbaik, takutnya barang-barang disana rusak karena Jihun terlalu kuat.
"Biar aku yang periksa, kamu disini aja ya?" Jisung yang pergi untuk melihat keadaan, tapi dia dengan cepat kembali.
"Kenapa?" Tanya Kaivan.
"Jangan khawatir, mereka hanya menjatuhkan panci."
"Pancinya baik-baik aja kan?"
"Kau lebih khawatir dengan pancimu?"
"Panci ku mahal kak harganya! Ratusan ribu won!"
"Lagian kamu ngapain beli panci aja semahal itu?"
Kaivan diam saja, karena tidak mungkin dia mengatakan jika panci dan wajan anti lengket di dapurnya adalah hadiah dari sistem sebelum musim dingin. Satu set harganya sekitar dua juta won lebih, pokoknya jika dibagi, kira-kira satu item ada ratusan ribu won lah. Kaivan juga heran kenapa sangat mahal, tapi karena desainnya juga bagus, dia suka.
***
Akhirnya hari pertandingan tiba juga, semalam setelah makan ramyeon atau mie pedas Korea, Kaivan dan yang lain kembali bermain game.
Hasilnya sekarang Kaivan sudah banyak perkembangan, meski tidak sebaik pemain profesional, tapi sudah lumayan. Berkat Kaivan cepat belajar juga, jadi hanya butuh sehari untuk menguasai permainan dan setiap trick yang diajarkan Jisung dan Jihun.
"Kamu baru sembuh, kenapa udah olahraga aja?" Tanya Jisung, dia menghampiri Kaivan yang sedang olahraga di taman apartemen.
Jisung menginap di apartemen Kaivan, sedangkan Jihun, Dasha dan Dania pulang. Karena Jisung tidak menemukan Kaivan saat bangun, jadi dia mencari Kaivan, ternyata bocahnya sudah olahraga dengan pakaian training yang tebal.
"Kalo aku gak olahraga, aku bisa rugi kak," sahut Kaivan, kini dia duduk di bangku taman karena kelelahan. Padahal hanya tidak olahraga sehari, rasanya Kaivan sudah tidak olahraga satu bulan saja.
"Kok bisa gitu?"
"Bisa lah, kak Jisung mau sarapan apa hari ini?"
"Apa ya? Aku belum lapar, aku bisa makan apa aja terserah kamu."
"Ayo kita masak aja, kali ini masakan yang sehat!"
Jisung menurut saja dengan tuan rumah, meski dia tidak tahu Kaivan mau memasak apa.
Sampai dapur, Kaivan mengeluarkan terong, dan beberapa sayuran hijau.
"Kamu mau buat apa?" Tanya Jisung bingung, maklum saja, dia tidak paham masak memasak.
__ADS_1
"Lalapan dan sambal kacang, kak Jisung cuciin sayurnya ya?"
"Oh, okay - ini nyuci pake sabun cuci gak?"
Kaivan mengernyitkan dahinya bingung, "ngapain pake sabun segala? Cuma pake air aja."
"Oke oke!"
Memasak bersama Jisung seperti memasak bersama balita, Kaivan harus mengajari tiap detail yang harusnya mudah. Tapi Kaivan maklum saja sih, tidak semua orang paham memasak seperti dia kan. Lagipula Jisung pandai tentang teknologi, program komputer, coding apalah itu yang Kaivan tidak paham. Jadi, tiap orang pasti ada kelebihan sendiri, tidak boleh merendahkan kekurangan orang.
"Akhirnya kalian datang juga! Jisung kenapa tuh?" Tanya Jihun.
Saat itu Kaivan dan Jisung baru sampai di tempat pertandingan. Tempatnya ada di gedung yang cukup besar, sepertinya penyelenggara memiliki budget besar untuk event itu. Yang datang juga banyak sekali, ada bazar yang menjual komik, game, merchandise dan lainnya.
Yang datang adalah Jihun, Wonbin, Junghyun, Dohyun, Kaivan dan Jisung. Tidak lama kemudian Dasha dan Dania pun datang, bersama Hanna.
Kaivan pura-pura tidak melihat Hanna meski gadis itu sudah tersenyum dan melambai padanya. Dohyun yang kasihan melihat gadis itu dicueki oleh Kaivan pun menyapa dia dan bertanya siapa dia.
Kemudian Jihun melihat wajah Jisung yang agak berbeda jadi dia bertanya, kenapa si Jisung.
"Aku baik-baik aja, cuma habis makan makanan pedas aja, tapi enak sih," jawab Jisung, Kaivan hanya terkekeh saja, padahal Kaivan penyebab Jisung seperti itu.
"Emangnya apa yang kalian makan? Kaivan masakin racun?" Tanya Wonbin.
"Enak aja! Aku cuma bikin sambal aja kok!" Bantah Kaivan.
Tiba-tiba mereka terdiam, Kaivan yang bingung pun menoleh pada arah yang dilihat oleh yang lainnya.
Terlihat Seon dan teman-temannya datang mendekat "ku pikir kamu takut dan tidak jadi datang, ternyata kau datang juga ya?" Ucap Seon.
"Mereka terlihat seperti pecundang, pasti mudah sekali mengalahkan mereka!" Ucap salah satu yang bersama Seon.
Jisung mendekati Kaivan dan berbisik, "yang barusan ngomong itu juara dua pertandingan untuk satu orang tahun kemarin, dia cukup terkenal, dia juga gamers di yutup."
Ternyata Seon membawa profesional bersamanya.
"Kenapa? Kalian takut melihat team kami yang kuat? Hahaha, siap-siap kalah aja kalian!" Ucap Seon lagi dengan ekspresi tengilnya.
Jihun sudah ingin maju dan menghempaskan mereka ke neraka, tapi Kaivan jelas menghentikannya. Tidak boleh ada kekerasan di tempat itu, atau nanti mereka akan didiskualifikasi.
"Kita tidak takut, justru kamu yang datang dan memprovokasi, kamu ingin memancing emosi kita dan membuat kita menghajar kalian dengan begitu kita didiskualifikasi, begitu kan? Bukankah kalian yang takut?" Ucap Kaivan.
"Kamu gak tahu siapa team ku ya? Mereka orang yang sudah profesional!" Bantah Seon.
"Lalu? Bukankah pertandingan belum mulai, dan benar, aku gak tahu tuh siapa mereka, kayaknya kurang terkenal."
Seon sudah ingin maju dan menghajar Kaivan, tapi salah satu temannya membawa dia pergi, "kita pergi aja, kalo mau baku hatam nanti setelah selesai bertanding!"
__ADS_1
.
.