
"Jadi ini sekolahmu?"
Jaden menatap pada sekeliling sekolah Kaivan. Jaden dan Kaivan berangkat naik taxi, sebenarnya bisa saja berangkat jalan kaki, tapi membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 40 menitan. Kaivan sih, lebih sering berangkat jalan kaki, sekalian olahraga.
Tapi karena kali ini bersama Jaden dan waktunya mepet jika jalan kaki, makanya naik taxi.
Kaivan berangkat sendiri saja biasanya menjadi perhatian banyak orang. Dan kini setelah bersama Jaden, rasanya di setiap penjuru, orang-orang hanya menatap pada mereka. Membuat Kaivan tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi. Pasti mereka sangat penasaran dengan Jaden, apalagi Jaden sangat tampan. Itulah kekurangannya memiliki saudara tampan, itu belum lagi jika Harlan dan Mini ikutan datang, pasti orang-orang langsung heboh.
Harlan dan Mini tinggal di apartemen karena mereka kelelahan, menurut Harlan, Hanbin akan datang menemuinya nanti. Kaivan pikir, mereka pasti akan membicarakan sesuatu tentang sindikat, berhubung Harlan ada ikut campur juga dengan masalah itu.
"Kakak mau masuk? Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum bel masuk, aku akan meminta ijin pada penjaga sekolah," ucap Kaivan.
"Boleh, aku ingin tahu bagaimana di dalamnya."
Kaivan pun meminta ijin pada penjaga, dan penjaga itu kagum melihat sosok Jaden. Walaupun tidak mirip, menurut penjaga, Kaivan dan Jaden pantas menjadi saudara, entah apa maksudnya.
Kaivan mengajak Jaden keliling sekolah, mereka juga tidak sengaja melihat Seon sedang main sepakbola dengan teman-temannya.
"Ini kakakmu?" Tanya Seon.
Kaivan tidak memedulikan dia dan terus saja mengajak Jaden berkeliling.
"Hei, aku bicara denganmu!" Protes Seon.
"Kai, temenmu tuh," bisik Jaden yang jadi tidak enak pada Seon.
"Bukan temenku kok kak, jangan khawatir, kita lanjut ke kantin, ya?"
Jaden menoleh pada Seon yang masih berdiri menatap pada mereka dengan raut penasaran, "baiklah."
"Apa kau setiap hari seperti ini juga, Kai?" Tanya Jaden, sepertinya dia mulai risih karena banyak orang memperhatikan mereka. Bukan hanya memperhatikan, jika cuma melihat sih tidak masalah.
Tapi mereka berdua sudah seperti idol yang difoto dan direkam terang-terangan. Bagaimana Jaden tidak risih?
"Kadang kayak gini kak, misalnya kalo aku nglakuin sesuatu, main basket misalnya, atau piket. Kemarin aku piket bagian bersihin papan tulis juga direkam segala, aku bingung, tapi karena udah biasa ya aku cuek aja sih, asal gak ganggu."
"Kau ini terkenal banget ya? Emang apa yang kamu lakuin?" Tanya Jaden.
Kaivan memberikan susu pisang yang dia beli untuknya dan untuk Jaden.
"Aku mulai terkenal kayaknya karena aku banyak beli saham itu."
"Kamu awal beli saham itu dapat duit darimana?"
Kaivan menoleh pada Jaden bingung, "memangnya papa gak bilang kalo dia ngasih aku rekening dan uang?"
"Oh, hebat juga ya kamu bisa langsung ngambil peruntungan dengan membeli saham."
__ADS_1
"Anggep aja aku beruntung."
Jaden mengangguk setuju, "katanya orang yang sangat menderita itu keinginan dia cepat terkabul, mungkin kamu sukses begini sudah takdirnya, setelah bertahun-tahun menderita, iya kan?"
Ucapan Jaden benar juga, mungkin Kaivan mendapatkan sistem karena dia telah menderita selama ini. Lalu dengan Kaivan sekarang sukses, dia bisa membatu orang lain agar tidak menderita lagi.
Setelah mengajak Jaden berkeliling, Kaivan bertemu dengan kepala sekolah dan beberapa guru. Lebih tepatnya mereka yang menghampiri Kaivan dan Jaden setelah tahu jika Jaden datang berkunjung. Bahkan kepala sekolah memberikan oleh-oleh kue khas Korea yang Kaivan saja baru tahu ada kue itu.
Jaden pun pulang setelah tepat tiga puluh menit dia ada di sekolah itu, dia kembali ke apartemen naik taxi. Kaivan yang memesankan taxinya.
"Kakakmu perhatian juga ya, Kai," gumam Dohyun, bocah itu menemani Kaivan mengantar Jaden pulang.
"Tapi aku merasa aneh," sahut Kaivan.
"Kenapa emang? Kakakku juga kayak gitu, aku juga pernah risih sih, soalnya kak Junghyun tuh - apa ya? Dia kadang overprotektif gitu. Tapi sekarang aku malah bersyukur karena dia seperti itu, aku merasa sungguhan punya kakak."
Kaivan menghela nafas panjang, "yah, masalahnya, aku baru kali ini ngrasain punya kakak, aku mungkin masih canggung aja. Tapi kamu bener, aku bersyukur dia perhatian sekali. Aku gak bisa bayangin kakakku semacam kak Jihun, bisa diajak berantem tiap hari."
Dohyun terkekeh mendengarnya, "kamu bisa aja, tapi dia itu perhatian juga. Tapi gak mau kelihatan perhatian gitu, ngerti gak sih? Semacam tsundere lah."
"Hei!"
Sampai kelas, Kaivan dan Dohyun sudah dihadang Seon.
"Ada apa?" Tanya Dohyun.
Dohyun menoleh pada Kaivan, hanya ingin tahu ekspresi Kaivan saja. Tapi Kaivan hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Kalo kamu update berita, harusnya tahu kalo aku punya orangtua adopsi, itu kakak angkatku, anggap aja gitu."
"Oh."
Setelahnya Seon tidak mengatakan apapun lagi, Kaivan sampai takjub bocah itu bisa tenang juga.
Berhubung saat itu sudah dekat hari valentine, beberapa gadis sibuk membicarakan tentang itu. Tidak terkecuali Dania dan Kayla, mereka berdua masih membicarakan hal itu saat makan di kantin bersama Vicky.
Sementara itu, Kaivan hanya memikirkan keluarganya di Apartemen, apa mereka baik-baik saja? Apa mereka istirahat dengan baik?
Entah mengapa, tapi Kaivan juga tidak menyangka jika dia memedulikan keluarganya juga.
"Kaivan suka coklat apa?" Tanya Vicky tiba-tiba, Kaivan yang baru sadar dari pikirannya pun bingung.
"Coklat? Bukannya coklat itu ya... Coklat?"
Mereka tertawa, entah karena Kaivan yang lucu atau karena Kaivan tersesat dalam obrolan itu.
"Kai, tadi tuh mereka ngobrolin coklat yang ada di toko coklat kebanyakan, sekarang udah ada banyak jenisnya. Lagian jenis coklat juga banyak, kamu gak tahu?" Sahut Dohyun.
__ADS_1
Kaivan hanya menggeleng, dia tidak pernah memikirkan jenis coklat sebelumnya. Yang dia tahu ya hanya coklat, seperti orang yang hanya tahu pisang saja, padahal jenisnya banyak sekali.
"Syukurlah Kaivan ada sesuatu yang tidak dia ketahui, kalau gini kan kamu kelihatan normal!" Ucap Kayla.
Kaivan tersenyum kecut, memangnya jika dia tau banyak hal jadi gak normal, gitu?
"Benar, akhirnya dia punya kekurangan juga," ucap Seon - eh?
"Ngapain kamu disini?" Tanya Kaivan kesal, tiba-tiba saja Seon sudah duduk di sampingnya, mana dia ikut menghabiskan tteokboki pedas yang Kaivan beli juga. Tapi karena Kaivan sudah kekenyangan, dia biarkan Seon ikut makan juga.
"Lah, udah dari tadi tahu, sejak mereka ngobrolin coklat - Dania bakal ngasih aku, kan?" Tanya Seon, sambil tersenyum genit pada Dania, Kaivan pun menginjak kakinya karena jengkel. Seon kesakitan tapi dia tahan karena gengsi, masa di depan cewek-cewek dia terlihat lemah? Kan gak lucu.
"Iya bakal aku kasih kok, soalnya rencananya mau ngasih anak satu kelas," jawab Dania, yang membuat Seon kecewa padahal tadi sudah senang saat Dania bilang 'iya'.
"Sekarang jelasin yang coklat tadi dong, coklat apaan!" Tuntut Kaivan, masih penasaran dengan coklat, dia bahkan sudah lupa jika valentine akan datang. Mana pernah Kaivan memikirkan hal konyol seperti valentine, white day dan lainnya.
"Sekarang kan coklat udah ada banyak jenisnya, ada coklat biasa itu, ada dark chocolate, itu yang coklatnya lebih pekat dan agak pahit, ada juga coklat susu yang lebih manis, biasanya juga lebih lembek. Terus ada juga coklat putih, sekarang juga ada coklat rasa buah-buahan, ada coklat macha juga, kamu suka yang gimana?" Ucap Vicky panjang lebar.
"Kayaknya aku suka semuanya, aku gak pernah pilih-pilih makanan kok, tapi kayanya lebih seru coklat yang agak unik, yang belum ku coba lah kalau bisa."
Para gadis mengangguk-angguk dan mencatat ucapan Kaivan dalam hati, karena siapa lagi yang mereka buatkan coklat jika bukan Kaivan.
"Aku bakal dapat coklat gak ya..." Keluh Dohyun.
Kaivan menoleh padanya heran, "dapat coklat? Kan bisa beli sendiri."
"Kamu ngerti valentine gak sih Kai?" Sahut Dohyun kesal, ternyata Kaivan masih belum mengerti kenapa mereka membahas coklat segala.
"Oh! Yang hari kasih sayang itu? Kok kalian percaya gituan sih? Itu sama aja kayak hari biasa kan?"
"Kamu gak asyik ya? Namanya juga hari khusus, buat seru-seruan aja!"
"Ya udah, kamu mau coklat apa nanti Aku beliin deh!"
"Beneran, Kai? Aku minta coklat yang mahalan dikit ya?"
"Boleh kok."
Para gadis bengong mendengar percakapan Kaivan dan Dohyun, mereka yang akan effort membuatkan coklat untuk Kaivan, yang akan dibelikan coklat mahal malah Dohyun.
"Buat aku juga ya?" Sahut Seon.
"Hah? Gak ada!" Timpal Kaivan kesal, Seon sangat mengganggu pemandangan, ingin mengusir tapi Kaivan malas.
.
.
__ADS_1