Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Keluarga dari Filipina


__ADS_3

[Game Misi khusus datang!]


[Membeli dagangan dari kios warna biru dan berikan 200.000 won pada mereka]


[Hadiahnya adalah tambahan saldo rekening bank sebanyak 500.000 won]


[Hukumannya adalah memotong saldo rekening bank sebanyak 30%]


Itu adalah hukuman yang mengerikan, saldo Kaivan saat ini di rekening bank sudah mencapai 15 juta won. Meski poin sistemnya masih sangat banyak, jauh melebihi saldo bank, tapi tetap saja Kaivan tidak rela uangnya dikurangi oleh sistem.


Di tepi pantai seperti itu memang banyak orang jualan, tapi mereka jualan agak jauh dari pantai. Disana ada yang menjual ice cream, makanan serba seafood, buah-buahan, dan lainnya. Bahkan ada pula yang menjual seafood yang mentah dan segar.


Kaivan melihat keadaan sekitar dulu, Yerin, Kayden, Kayla, Kevin dan Rose sudah mulai bermain di pantai duluan. Mereka curang sekali.


"Kaivan! Sini!" Kayla melambaikan tangannya untuk mengajak Kaivan bergabung, tapi Kaivan menggeleng pelan.


"Aku mau beli minuman, kalian mau dibeliin juga?"


Mereka pun menyebut apa yang mereka inginkan. Kebetulan ada yang jualan jus buah juga disana, jadi Kaivan akan mampir kesana.


Sebelum membeli jus buah, Kaivan mencari dulu kios biru yang dimaksud. Untungnya hanya ada satu kios biru, Kaivan segera menghampiri kios itu.


Ternyata jualan mereka tidak banyak, mereka menjual kerajinan tangan dengan kerang. Namun yang membuat Kaivan heran adalah, mereka bukan orang Korea. Mendengar dari bahasa mereka saat mengobrol dengan satu sama lain, mereka pasti dari Filipina.


Saat Kaivan masih bersama sindikat penculikan dan penjualan organ ilegal, ada beberapa orang Filipina juga. Jadi Kaivan sudah hafal dengan bahasa mereka, dia juga mengetahui beberapa kosakata dalam bahasa mereka, karena beberapa kata mirip dengan bahasa Indonesia.


"Halo, saya ingin melihat-lihat dulu boleh?" Tanya Kaivan.


Mereka menyambut Kaivan dengan hangat.


"Silahkan! Kamu sangat tampan, asalnya dari mana?" Tanya ibu-ibu penjual.


Di kios itu ada seorang ibu, dan dua anak muda yang sepertinya sudah kuliah. Dua anak muda itu laki-laki dan perempuan. Seperti orang Asia tenggara lainnya, mereka berkulit kecoklatan, hampir sama lah dengan orang Indonesia.


Tapi Kaivan yakin ibu itu bertanya dari mana asal Kaivan bukan karena Kaivan terlihat seperti orang Indonesia. Itu miris sekali sih.


"Saya dari Indonesia, Bu."


"Oh ya? Kamu gak kelihatan kayak orang Indo?" Ucap si pemuda, Kaivan agak kaget dia bisa bahasa Indonesia.


"Kami bisa bahasa Indonesia karena kebetulan ayahnya anak-anak ini keturunan Indonesia juga, tapi kami dari Filipina," ujar si ibu, kali ini menggunakan bahasa Indonesia.


Kaivan lega bisa berbahasa Indonesia.


"Mungkin karena ayahku itu blasteran gitu, tapi ibuku orang Indonesia asli kok," jawab Kaivan.


Karena sudah akrab, si ibu mengajak Kaivan duduk dan memberikan ube halaya. Kaivan tidak pernah melihatnya sebelum ini, yang pasti itu makanan dari ubi ungu, mungkin semacam gethuk, entahlah. Tapi itu enak, Kaivan senang mendapatkan ube halaya itu.


Mereka mengobrol cukup akrab, dari sana Kaivan jadi tahu jika keluarga itu terpaksa tinggal di Korea karena suami si ibu, atau ayah mereka meninggal. Jadinya anak lelaki mendapatkan kerja di Korea, sedangkan yang perempuan dan ibunya mencoba untuk berjualan.

__ADS_1


Akan tetapi, mereka tidak betah di Korea, karena semuanya sulit. Setelah si anak lelaki sudah mendapatkan pekerjaan di Filipina dan ada rumah juga disana, mereka terhalang oleh biaya untuk pulang.


Dari sana Kaivan paham kenapa sistem meminta Kaivan membantu mereka dengan memberikan 200.000 won, pasti untuk menambah ongkos pulang.


Kaivan sih tidak adu nasib dengan menceritakan masalahnya, dia hanya bercerita jika dia sekolah di Korea dibiayai ayahnya, Kaivan juga memiliki bisnis di Korea, itu saja.


"Saya akan membeli semua dagangan kalian, semuanya cantik, aku suka," ucap Kaivan.


"Kamu yakin, nak?" Tanya si ibu.


"Saya yakin, Bu, berapa semuanya, tolong dibungkus ya," ucap Kaivan yakin.


Si anak gadis membungkus semua jualan mereka. Ada gelang, kalung, gantungan kunci dan pajangan. Semuanya dibungkus di kardus agar muat.


"Semuanya 135 ribu won."


Kaivan memberikan mereka 500 ribu won.


"Maaf nak, ini kebanyakan!" Si ibu berusaha mengembalikan uang itu, tapi Kaivan jelas menolaknya.


"Makanan penutup tadi enak sekali, anggap saja itu bayaran dari makanan tersebut dan keramahan kalian, semoga saya bisa berkunjung ke negara kalian dan kita bertemu lagi, terimakasih semuanya!"


Mereka sangat terharu dengan kebaikan Kaivan, bahkan si ibu memeluk Kaivan erat sebelum Kaivan pergi.


"Terimakasih nak, semoga kamu selalu diberkati."


Untungnya Kaivan tidak pelupa, dia masih mengingat semua pesanan mereka, jika lupa bisa gawat.


"Kaivan lama banget sih!" Keluh Rose.


Kaivan memang membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, mereka sudah capek bermain di pantai, jadi sekarang sudah duduk saja menikmati pantai.


Padahal disana dingin sekali, tapi mereka masih betah di pantai sampai sepuluh menit kemudian.


"Kayla ayo kesana!" Kevin menarik lengan Kayla untuk melihat burung yang singgah di pantai.


Kaivan hanya diam sambil menyedot jusnya, memperhatikan kedua sejoli itu, yang masih tertawa bahagia seakan tidak punya capek.


"Ngapain kamu ngliatin adikku sampe segitunya?" Tanya Kayden.


Yang duduk bersama Kaivan hanya Kayden, sedangkan Rose dan Yerin sudah pergi belanja entah apa.


"Siapa yang nglihatin Kayla?" Kaivan membuah mukanya ke arah lain.


"Gak usah ngeles, kelihatan banget kok!"


Kaivan berdecak malas, tapi dia tidak menjawab.


"Kalo suka adekku gak masalah sih, tapi aku gak yakin, kamu banyak pacarnya gitu."

__ADS_1


Kaivan menoleh pada Kayden yang menatapnya dengan jahil, "apaan sih! Aku akan berusaha membahagiakan mereka semua kok!"


Kayden pun tertawa kencang, "hahahaha! Jadi kamu beneran suka adekku?"


"Enggak!"


Kaivan berdecih, malas sekali dia dengan Kayden.


"Kamu ini gak jujur banget ya Kai..."


"Hmmm."


"Tadi kamu lama banget ngapain sih? Kayaknya tempat jus gak rame kok."


Kaivan menghela nafas panjang, "aku ada urusan lah, kamu gak perlu tahu."


"Bantuin orang lagi?"


Kaivan kembali menoleh pada Kayden, "kok tahu?"


"Sudah ku duga, dirimu gak bisa ngliat orang lain susah dikit, pasti langsung bantuin, sama Kayla dulu gitu kan? Padahal kamu kenal Kayla aja enggak."


Kaivan hanya bisa diam karena Kayden benar. Dia tidak tegaan. Padahal disuruh sistem memberi 200.000 won, malah Kaivan berikan lebih. Habisnya, belum tentu mereka akan cepat dapat uang jika sudah sampai Filipina, kan? Kaivan tahu rasanya tidak ada uang dan terlunta-lunta.


Setelah itu Kaivan menceritakan yang sebenarnya pada Kayden.


"Yah, kamu baik banget, tapi mungkin jika aku dalam posisimu, aku akan membantu. Kamu membuatku ingin membantu orang tanpa pamrih, akhir-akhir ini juga banyak masalah di agensiku dan aku berusaha membantu mereka sebisaku, ternyata membantu orang tidak seburuk itu."


"Kabar grup mu bagaimana? Kalian kan ditinggal satu member."


Kayden menghela nafas berat, "iya, kami jadi ada lima orang sekarang. Tapi yang namanya sensasi, baik atau buruk pasti akan mendapatkan perhatian besar. Berkat kejadian heboh itu, grup kami mulai lebih terkenal sekarang. Itulah kenapa aku saat ini bisa liburan, meski sebentar lagi sibuk lagi, aku harus pergi juga ke luar negeri. Kamu dan Rose bisa jagain adikku gak? Aku takut meninggalkan dia sendiri disini."


Kaivan menepuk bahu Kayden, "jangan khawatir, akan ku jaga adikmu baik-baik."


"Oh iya, Kai, aku akan memasukkan Kayla ke sekolahmu, dia harus sekolah lagi, mungkin kalian satu kelas, siapa tahu."


"Jangan khawatir Kayden, semua akan baik-baik saja."


Kayla dan Kevin kembali pada mereka, Kayla bercerita dengan heboh jika tadi ada seekor burung putih yang hinggap di lengannya.


Kayden menoleh pada Kaivan yang mendengarkan cerita Kayla sambil tersenyum.


Dia mulai curiga Kaivan sungguhan suka adiknya.


'Ah, gak mungkin lah, aku mikir apa sih?' Pikir Kayden dalam hati.


.


.

__ADS_1


__ADS_2