
Memang Kaivan mulai mencoba untuk menerima Harlan sebagai ayahnya, tapi bukan berarti Kaivan siap untuk menerima keluarga Harlan yang lainnya. Terutama neneknya, atau ibu dari Harlan. Karena neneknya telah membuangnya dan meminta ibunya pergi jauh-jauh meski tahu Kaivan adalah cucunya.
Tadi saat Harlan menelfon, dia mengatakan jika nenek ingin Kaivan datang dan menyapanya sebelum kembali ke Korea.
Buat apa coba?
Dulu saja nenek menghentikan untuk mengirim uang pada ibu Kaivan sejak Kaivan sudah menginjak umur dua tahun. Mereka memutus kontak begitu saja. Karena itu juga ibunya jadi menemui Dimas untuk meminta uang, tapi saat Kaivan sekitar umur lima atau enam tahunan. Ibunya jadi terjerat banyak hutang.
Kaivan tidak kekurangan gizi saja sudah untung. Dia beruntung karena tetangga sekitar sangat baik dan membantu ibunya untuk memberi Kaivan makan. Katanya dulu Kaivan sangat lucu, jadi tetangga banyak yang gemas. Jadinya ibu Kaivan selalu dibantu oleh mereka.
Nenek tidak pernah benar-benar membantunya apalagi peduli padanya. Untuk apa mau bertemu? Memangnya Kaivan mau menemuinya?
Jangan-jangan dia mau bertemu hanya karena Kaivan sudah bisa mencari uang sendiri.
Setelah menerima telfon itu, pikiran Kaivan ribut sekali, dia uring-uringan tidak jelas sampai teman-temannya heran dibuatnya.
Kini Kaivan dan teman-temannya sudah ada di pusat belanja terbesar di Jakarta. Mereka mencari oleh-oleh yang akan dibawa ke Korea.
Kaivan tentu tidak bisa melewatkan kesempatan itu, dia belanja banyak hal yang kira-kira tidak akan bisa dia dapat di Korea. Misalnya mie instan kesukaannya, terasi udang, gula merah dan lainnya. Rencananya Kaivan ingin membuat rujak di Korea, karena kadang dia ingin rujak tapi bahan bumbunya yang tidak ada, beli di toko sistem mahalnya minta ampun.
Kaivan tidak perlu takut dihadang oleh beacukai dan sebagainya, karena dia akan menyimpan semua itu di rekening sistem saja, agar kualitasnya tetap bagus sampai kapanpun.
Meski Kaivan sudah berpikir jika dia banyak belanja, namun ternyata dia lebih cepat selesai dari yang lainnya. Alhasil, Kaivan menunggu mereka sambil jajan ice cream mangga di salah satu toko minuman yang cukup viral di internet.
"Kenapa kamu gak mau ketemu nenek?" Tanya Jaden, dia baru selesai membeli minuman dari toko yang sama dengan toko yang menjual ice cream yang Kaivan makan.
"Kak, kamu gak punya temen lain apa? Kamu selalu ada di dekat kita, apa kamu kesepian?"
Jaden berdecak malas lalu duduk di samping Kaivan. Mereka duduk di tempat duduk yang di sediakan di setiap pojokan mall. Agar pengunjung yang lelah bisa istirahat.
"Kau ini ditanyai, malah nanya balik, ngeselin banget deh! Jawab dulu pertanyaan ku!"
Kaivan mendumel kesal, tapi akhirnya menjawab juga. "Nenek itu jahat, dia mengusir ibuku saat terbukti aku adalah anak papa. Jadi, papa bahkan gak tahu tentang hasil tes itu, papa mungkin sedang depresi waktu itu."
"Hmm, aku pun gak suka sama nenek, semenjak adik perempuan lahir, semuanya berubah. Dia sering mengatakan hal-hal buruk padaku."
"Berarti saat itu umurmu sekitar 10 atau 11 tahunan ya?"
Jaden menjawab dengan anggukan kepala saja, lalu dia menyesap minumannya.
Terjadi keheningan diantara mereka hingga beberapa menit kemudian Jaden menyeletuk.
__ADS_1
"Mama tiri juga membenciku, dia selalu melihatku seakan aku ini gangguan, tapi dia baik padaku saat ada papa. Oh iya, kamu gak ada nenek dari pihak ibumu? Kalau nenek pihak ibuku baik sekali, masih ada kakek juga, aku sangat menyayangi mereka."
Kaivan menghela nafas berat, "yah, aku tidak beruntung. Ibuku bisa berhubungan dengan Harlan juga karena Harlan lah yang membuat keluarga ibuku bangkrut. Jadi awalnya ibu mau balas dendam. Ayahnya ibu atau kakek langsung meninggal setahun setelah bangkrut, kemudian nenek dari ibu menyusul setelah mendengar ibuku hamil anak Harlan. Seingatku dulu begitu. Aku masih ada satu-satunya kerabat ibu, yaitu bibinya ibu, aku memanggilnya nenek Mirna. Nenek Mirna berkata jika nenek ku meninggal saat mendengar ibuku hamil, jadi pasti karena nenek tahu aku anak Harlan. Karena pasti keluarga ibu membenci Harlan, kan?"
Jaden mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Kaivan, "kenapa begitu rumit sih? Udah kayak sinetron aja."
Kaivan terkekeh pelan, "aku sendiri juga heran."
"Lalu, nenek Mirna dimana?"
Kaivan mengedikkan bahunya, "entah, dia sudah tidak datang lagi sejak aku masuk SMP. Nenek Mirna bukan orang berada, malah kami sama-sama miskin, jadi ya gitu lah."
Kemudian Jaden berdiri dari duduknya, lalu menarik lengan Kaivan.
"Ayo kita keluar mall, di luar ada banyak orang jual jajanan."
Kaivan tentu mau saja diajak begitu. Mumpung Dohyun ada bersama Jisung yang sudah mengetahui seluk-beluk mall Jakarta. Dasha juga bersama Jake yang sudah paham bagaimana Jakarta itu, jadi tidak perlu diawasi.
Namun, Kaivan memberi pesan pada mereka jika dia dan Jaden keluar mall untuk jajan, agar mereka tidak memutari mall hanya untuk mencari dia.
Ada banyak jajanan di luar, hingga Kaivan bingung ingin mencoba yang mana.
"Sama kalo gitu, kita beli yuk!"
Kue pancong, menurut Kaivan itu sama dengan kue pukis, karena cetakannya persis. Tapi ternyata berbeda. Ada banyak rasa yang bisa dipilih, jadi Jaden meminta untuk diberi semua rasa agar bisa mencicipi semuanya.
Tentu saja jika keluar dengan Jaden, Kaivan tidak perlu mengeluarkan uang. Dia cukup senang keluar dengan Jaden seperti itu, Jaden kakak yang baik dan pengertian. Asal tidak sedang jahil saja.
Karena ada banyak jajanan, jadi mereka juga mencoba banyak hal. Sampai-sampai mereka tiba di depan gerobak dorong milik ibu-ibu tua yang menjual tahu gejrot.
Kaivan diam menatapi ibu penjual, dia merasa kenal dengan ibu-ibu tersebut, tapi dia lupa siapa.
"Ini tahu gejrotnya, semuanya dua puluh ribu ya."
Jaden memberikan uang lima puluh ribu pada ibu tersebut.
"Ini bu, kembaliannya ibu ambil aja."
"Tidak nak, itu terlalu banyak, saya beri kembaliannya - astaga!"
Baru saja ibu itu mengangkat dompetnya untuk memberi kembalian pada Jaden, tapi seorang pencopet dengan cepat menyambar dompet tersebut.
__ADS_1
"Kalian disini aja, biar aku yang mengejarnya!" Ujar Kaivan, setelah memberikan tas plastik berisi semua jajan yang belum dia dan Jaden habiskan, dia beri pada Jaden dan dengan cepat mengejar pencopet.
Karena kekuatan Kaivan sudah sering diupgrade, jadi tentu saja pencopet kalah dari segi kecepatan dan kekuatan. Tidak butuh waktu lama bagi Kaivan untuk membekuknya. Ternyata pencopet itu sudah mencopet beberapa dompet orang, dan satpam mall sedang mengejarnya.
"Terimakasih sudah membantu ya anak muda," ucap satpam.
"Iya pak, sama-sama!"
Kaivan hanya membawa dompet ibu penjual tahu gejrot saja, jadi pencopet dibawa oleh satpam.
Setelah Kaivan kembali, ibu penjual mendatangi Kaivan. Ibu itu terlihat sangat terharu menatap Kaivan.
"Ya ampun, kamu Kaivan anaknya Sherlyn kan?"
"Iya, anda tahu darimana ya?"
"Astaga nak, ini aku! Nenek Mirna! Kamu sudah besar ya nak.... Syukurlah kamu baik-baik saja!"
Kaivan hanya diam saat nenek Mirna memeluknya dan menangis haru.
Akhirnya, Kaivan membawa nenek Mirna ke villanya.
Nenek Mirna bercerita jika dia tidak bisa menemui Kaivan dan ibunya lagi karena sudah tidak punya uang. Nenek diceraikan suaminya dan hidup dalam kesusahan, hingga bertahun-tahun kemudian nenek bisa jualan tahu gejrot dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Anak nenek Mirna sendiri sudah berkeluarga dan dia juga orang yang pas-pasan, tidak bisa memberi uang pada nenek Mirna lagi.
"Kaivan senang bertemu dengan nenek, bagaimana jika nenek tinggal disini saja? Kaivan akan menghidupi nenek. Selama ini nenek sudah banyak membantu ku dan ibuku, bukan?"
Kaivan masih ingat nenek Mirna sampai menjual perhiasannya untuk membantu Kaivan dan ibunya. Yah, meski dulu ibunya Kaivan malah menggunakan uang itu untuk foya-foya dan bukannya sebagai biaya pendidikan Kaivan. Ibunya Kaivan berpikir Kaivan sudah dapat beasiswa, tidak perlu uang itu lagi.
Jika ingat itu entah Kaivan harus kasihan pada dirinya atau marah pada ibunya.
"Tidak perlu Kai, nenek gak mau nyusahin kamu! Mending kamu gunakan uangmu untuk membebaskan ibumu! Kasihan Sherlyn!"
"Maaf nek, Kaivan tidak bisa."
"Kenapa? Dia ibumu, Kai! Kamu harus membebaskan dia, meski dia bukan ibu yang baik, tapi dia sudah merelakan banyak hal untukmu!"
Sungguh, Kaivan ingin marah mendengar ucapan nenek Mirna. Tapi di satu sisi, dia mengerti kenapa nenek Mirna berpikir seperti itu.
.
.
__ADS_1