Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Membuka luka lama


__ADS_3

"Dimana diantara kalian yang merupakan keluarga pasien?" Tanya suster disaat ibu odgj sudah masuk ruang persalinan.


"Dia kami temukan di jalanan suster, tidak ada saudara atau keluarga, saya yang akan membayar semua perawatan, jangan khawatir" ucap Kaivan dengan cepat.


"Tapi ibu itu harus operasi Caesar karena keadaan tidak memungkinkan untuk lahir normal, jadi kami membutuhkan ijin keluarga atau wali."


Ucapan suster membuat Kaivan frustasi, dia mendengar ibu itu kesakitan dari luar ruangan saja sudah tidak tega. Sekarang suster malah membuatnya makin kebingungan.


Padahal pikiran Kaivan sudah kemana-mana daritadi, dia memikirkan nasib banyinya, ibunya tidak mungkin bisa merawat dengan baik karena memiliki gangguan jiwa. Bagaimana bayi itu bisa mendapatkan ASI, bagaimana nanti bisa hidup layak atau tidak.


Bahkan Kaivan saja tidak memikirkan siapa ayah bayi itu saking paniknya.


"Saya yang akan menjadi wali dan menjaminnya, lakukan operasi segera," ucap seorang pria yang baru datang.


Kaivan menoleh pada pria itu, dia merasa cukup familiar dengannya, tapi siapa ya?


"Baik, kami akan segera melakukan tindakan operasi."


Suster pun kembali memasuki ruang bersalin.


Pria itu mendekati Kaivan, Jaden dan Dasha yang sedang menunggu dengan cemas.


"Kaivan masih mengingatku? Aku Dimas, teman ibumu."


Dimas?


Sekarang Kaivan sudah ingat, dia bukan pria baik-baik, karena dulu waktu Kaivan kecil, ibunya baru putus dari pacar entah keberapanya dan mendapat banyak hutang. Sherlyn mengajak Kaivan untuk menemui pria itu di Bandung kalau tidak salah, untuk meminta bantuan. Dimas mengatakan mau saja membayar semua hutang itu dan memberi uang lebih untuk bekal, tapi ada syaratnya.


Dulu Kaivan sih tidak paham, dia masih anak-anak juga. Tapi sekarang setelah ingat, dia jadi paham apa syarat yang diberikan Dimas.


Orang seperti Dimas, yang masih mau tidur dengan wanita cantik sebagai syarat memberi uang, padahal sudah ada anak dan istri, tentu saja Kaivan tidak bisa memberi cap baik untuknya.


Justru Kaivan jadi benci sekali jika ingat, dan jijik.


Oh iya, Dimas itu dokter, mungkin sudah pindah tugas di rumah sakit tersebut.


"Iya aku ingat, pak dokter." Jawab Kaivan singkat, dia tidak mau menatap wajah Dimas lagi, dia sangat muak hanya menatap wajahnya, bisa-bisa dia muntah disana.


"Kamu sudah besar ya, sangat tampan, ibumu juga cantik jadi menurutku kamu mirip dengannya, meski aku tidak tahu siapa ayahmu, itu bisa saja orang random kan? Sayang sekali ibumu dipenjara ya? Dia bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, jadi ketularan tidak baik juga. Apa yang melahirkan itu pacarmu? Sayang sekali kamu tidak bisa mengaku suaminya karena masih sangat muda, tidak masalah, ada aku yang bisa membantumu, kau bisa bekerja di rumahku, aku mungkin juga bisa menjualmu dengan harga mahal, kau tahu uang yang ku beri pada ibumu sudah sangat banyak?"


Bugh!

__ADS_1


Pria itu tersungkur di lantai dengan sudut bibir yang robek mengeluarkan sedikit darah.


Bukan Kaivan yang memukulnya, tapi Harlan. Kaivan sendiri terkejut karena Harlan entah datang darimana.


"Jangan mengatai putraku dengan mulut busukmu! Kau tidak malu dengan profesi mu itu? Orang bejat seperti mu bahkan tidak pantas mendekati putraku sedikitpun, kau menggunakan uang untuk mengendalikan orang lain lalu menghinanya? Sungguh, kau jauh lebih hina, memangnya berapa uang yang kau habiskan untuk Kaivan? Sepuluh juta? Seratus?"


Harlan yang marah itu melempari Dimas dengan beberapa gepok uang.


"Aku tidak terima ini, aku akan menuntutmu!" Teriak Dimas.


Jaden muncul menunjukkan rekaman vidio yang dia ambil sejak awal dia melihat pria itu. Harlan dan Jaden sendiri sudah tahu tentang Dimas adalah orang jahat yang dicurigai sebagai dalang dibalik penjualan gadis-gadis remaja atau lelaki, untuk dijual pada orang berduit. Beberapa dari remaja itu diculik, yang lainnya terpaksa karena uang.


"Kau pikir aku akan diam saja melihat mu merendahkan adikku, kami bisa menuntut balik kok, kami punya lebih banyak uang dan kekuasaan, kau bisa apa?" Ucap Jaden.


Mendengar itu, Dimas segera bangkit, tidak lupa membawa serta uang yang Harlan lemparkan, lalu kabur begitu saja.


"Dia benar-benar pengecut! Ku pikir dia tidak perlu diselidiki, tapi aku berubah pikiran," ucap Harlan.


"Kaivan kau baik-baik saja?" Tanya Dasha, setelah sadar Kaivan hanya diam membeku.


Kaivan selama ini sudah susah payah berusaha menekan traumanya agar tidak semakin parah. Tapi Dimas datang dan membuka luka lama.


Dia tau ibunya bukan orang baik, tapi Kaivan jadi ingat, jika ibunya mau melakukan apapun demi mereka bisa makan dan mendapatkan tempat tinggal yang layak.


Kaivan juga ingat tubuh ibunya biru-biru dan banyak lebam karena pria jahat itu.


Jaden menjelaskan apa yang terjadi pada Dasha dengan bahasa Inggris, karena Dasha tidak mengerti bahasa Indonesia, dia hanya mengerti sedikit saja, jadi gadis itu bingung.


Setelah paham, Dasha memeluk Kaivan yang diam bagaikan patung dengan wajah pucat pasi.


"Semua baik-baik saja, Kai. Jangan mengingat ucapan pria itu lagi, tatap aku!"


Kaivan baru sadar saat Dasha meraih wajahnya dengan telapak tangan lentiknya. Wajah cantik itu tersenyum padanya, membuat perasaan Kaivan menghangat.


"Jangan ingat ucapan pria itu, lupakanlah."


Kaivan tersenyum kecil, "aku juga inginnya begitu, tapi dia membuka luka lama bagiku, aku ingin melupakannya tapi sulit sekali. Sekuat apapun aku membangun tembok mentalku, tetap saja tidak bisa menjadi kuat, tetap roboh setelah tertimpa trauma masa lalu. Aku tidak sekuat itu..."


"Tidak apa, kamu manusia biasa, pasti memiliki kekurangan. Jika kamu tidak bisa menghadapinya, aku sebagai ayahmu bisa menghadapinya, dia hanya kecil bagiku," ucap Harlan.


"Tapi bagaimana dengan istri dan anaknya?" Tanya Kaivan, dia tahu maksud Harlan adalah menghancurkan pria itu.

__ADS_1


"Aku janji mereka akan baik-baik saja, lagipula mereka juga korban. Sama seperti mu yang merupakan korban dari orangtua yang kurang baik, aku tidak mengecap diriku baik, aku tau aku orangtua yang buruk bagimu, tapi paling tidak, aku bisa sedikit membantumu, boleh kan?" Tanya Harlan.


Baru kali itu, Kaivan mendengar orangtuanya menanyainya sebelum bertindak, padahal Harlan bisa saja langsung melakukannya tanpa ijin Kaivan. Tapi, Kaivan senang karena Harlan memikirkan pendapatnya.


"Boleh, lakukan saja."


Setelah satu jam lebih menunggu persalinan. Kabar buruk kembali datang, ibu odgj tidak bisa terselamatkan, namun bayinya lahir dengan selamat.


Kaivan langsung duduk dengan lemas. Setelah perjuangan yang keras dan sakit, ibu itu tidak selamat. Perasaan Kaivan serasa dicabik-cabik padahal ibu itu tidak dia kenal sama sekali.


Dasha sudah menangis sambil memeluk Kaivan, air matanya yang hangat mengalir di bahu Kaivan.


Dokter yang membantu persalinan memohon maaf karena tidak berhasil menyelamatkan ibu itu.


"Aku mengenal seorang ibu yang kehilangan anaknya saat melahirkan, bagaimana jika bayi itu ku coba untuk berikan padanya?" Usul Harlan.


Tentu mereka setuju dengan usulan itu, jadi Harlan memanggil wanita kenalan dia ke rumah sakit. Wanita itu senang sekali karena bisa merawat bayi itu, tapi sedih juga karena ibu si bayi sudah tiada.


"Ngomong-ngomong, kenapa papa tahu kita ada di rumah sakit?" Tanya Kaivan, setelah dia sudah merasa lebih baik.


Mereka sudah dalam perjalanan kembali ke villa, hari juga sudah semakin sore.


Dasha yang capek karena banyak menangis, sekarang ketiduran di pangkuan Kaivan.


"Aku yang memanggilnya, karena aku tahu kita pasti tidak dipercaya sebagai wali ibu itu. Aku yang sudah umur segini saja tidak dipercaya, apalagi kamu. Jadi, ku pikir papa bisa membantu, mumpung papa ada di negara ini, besok dia sudah pergi ke Jerman."


"Oh begitu."


"Kau istirahat saja setelah ini, Kai, kau banyak berpikir dan - yah, pokoknya kalau ada apa-apa, serahkan padaku saja."


Kaivan hanya mengangguk karena setuju dengan ucapan Jaden.


Bertemu dengan Dimas, membuat mental Kaivan jadi goyah. Dia merasa lelah padahal hanya duduk saja, mungkin banyak pikiran yang membuatnya sangat lelah.


Misi khusus sudah berhasil, meski ibunya meninggal. Mungkin itu karena kematian juga bukan kuasa Kaivan, jadi tetap berhasil.


Bayi juga sudah mendapatkan ibu dan ibu itu bisa memberinya asi. Karena rahim ibu itu harus diangkat, jadi ibu baru itu senang memiliki anak.


Semuanya sudah bahagia, bukan?


Yah, tapi Kaivan malah mendapat beban pikiran.

__ADS_1


.


.


__ADS_2