Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Membeli toko sayur dan buah


__ADS_3

Pada akhirnya Dania dan Vicky menurut saja, mereka tidak membicarakan tentang hubungan lagi. Tapi Dania tidak mau kalah, dia memeluk lengan Kaivan erat, sedangkan Rose memeluk lengan Kaivan yang lain.


Hanya Vicky yang masih normal, dia hanya terkekeh geli saat Dania dan Rose ribut. Kaivan sungguh menyesali semuanya, dia tidak suka situasi tersebut.


Akhirnya mereka sampai juga di toko yang dimaksud. Saat mereka datang, beberapa dari mereka sedang menangis, semacam acara perpisahan.


"Permisi!"


Mereka menoleh pada Kaivan dan yang lain.


"Ada apa ya? Apa kalian idol yang ingin meliput kami? Maaf, kami sedang tidak bisa diwawancarai" ucap pria tua yang sepertinya pemilik toko itu.


"Bukan, saya Kaivan, saya ingin membantu kalian, bisa kita bicara?"


"Oh tentu, saya pemilik toko ini, silahkan duduk disini."


Pemilik toko pun menceritakan masalahnya. Toko sayur dan buahnya sudah sangat terkenal dari jaman dulu, tapi pesaing yang baru buka tidak suka. Mereka melakukan segala cara untuk menjatuhkan toko tersebut, yaitu dengan membuat distributor yang biasanya menaikkan tarif. Awalnya baik-baik saja, tapi lama kelamaan pemilik toko jadi memiliki banyak hutang. Hutang di bank sampai menumpuk, jadilah keputusan tutup itu diambil.


"Saya sudah mengerti permasalahannya, katakan berapa hutang anda, dan berapa harga toko ini, saya akan membelinya" ucap Kaivan.


"Tapi, anak muda sepertimu tidak perlu sampai seperti ini membantu, apa ini semacam acara yutup? Tapi saya tidak melihat kamera" ucap pemilik toko, karena biasanya ada yutuber yang membantu orang susah, tapi tidak ada terlihat kamera dimanapun.


"Ini bukan acara yutup, saya serius pak. Untuk sayur dan buah, saya yang akan mengurusinya, sayur dan buah dari saya itu agak berbeda, rasa dan ukurannya melebihi sayur atau buah biasa, saya akan tetap membiarkan Anda dan karyawan sebelumnya bekerja disini, karena anda yang mengurusnya, jadi saya hanya meminta keuntungan 60% saja. Tapi, jika anda sudah tidak bisa mengurusi, toko ini milik saya, tidak bisa diwariskan pada anak anda, bagaimana?"


Pria tua itu menoleh pada istrinya dan para karyawan yang harusnya pergi hari ini, mereka semua mengangguk setuju.


"Pak, tidak ada orang baik yang seperti anak muda ini, kita tidak punya pilihan lain, atau bank akan menyita rumah kita juga" ucap istri pak tua itu.


"Mencari kerja sangat sulit sekarang, persaingannya juga ketat, jika saya tidak bekerja lagi, bagaimana dengan pengobatan ibu saya?" Keluh salah satu karyawan, dia sudah menangis sambil menyeka air matanya dengan tisu.


"Baiklah, saya terima tawaran anak muda ini."


"Nama saya Kaivan."


"Iya, nak Kaivan, mohon bantuannya, tapi nak Kaivan tidak akan mengeluarkan kita kan?"


Kaivan menggeleng, "alasan saya memilih toko ini dan bukan membeli toko baru adalah karena saya yakin kalian sudah profesional di bidang ini, kalian lebih paham dari saya."


Pembelian toko dan lainnya berjalan dengan sukses. Kaivan juga mengirimkan sample buah dan sayurnya, dikirimkan oleh sistem menggunakan pengiriman khusus.


Pak tua dan karyawan lain tidak percaya melihat buah dan sayur yang Kaivan kirimkan. Ukuran dan rasanya dua kali lipat dari yang biasa, bisa dibilang itu sayur premium. Kaivan juga membantu mencarikan distributor lain yang lebih bisa dipercaya, karena tidak mungkin mereka menjual sayur dan buah premium saja kan?


Sudah jam satu siang mereka pun pulang, Kaivan lega karena mereka semua berbahagia.


[Anda telah membantu banyak orang dari toko sayur dan buah!]

__ADS_1


[Hadiah anda telah tersedia di rekening sistem!]


Padahal Kaivan sendiri diuntungkan, tapi masih mendapatkan hadiah, yah, itu bagus sih.


"Kaivan, crepes!" Rose menagih janji Kaivan.


"Aku juga mau!" Sahut Dania.


"Ya udah, itu disana ada yang jual, kalian jalan duluan saja, ini uangnya," Kaivan memberikan uang 50 ribu won pada Rose dan Dania, lalu kedua gadis beda ras itu pun berlarian pergi ke tempat penjual crepes.


Kaivan ingin memberikan uang pada Vicky juga, tapi Vicky menolaknya.


"Gak usah, kan aku bukan pacarmu..."


"Itu... Aku -"


"Gak perlu merasa bersalah, aku ngerti kalo kamu gak suka sama aku."


"Bukannya gitu Vic, waktu itu aku belum siap jawab aja, aku masih ragu."


"Lalu sekarang?"


Kaivan hanya diam, kemudian Vicky menariknya untuk duduk di taman terdekat, sambil menunggu yang lain selesai membeli crepes.


"Aku suka kamu membeli toko untuk membantu mereka, apa memang Rose yang membantumu?" Tanya Vicky.


Vicky mengembuskan napas panjang, lalu menoleh menatap Kaivan, "dia cantik sekali, berapa umurnya?"


"Sama denganku, dia masih remaja, tapi sekolah di rumah."


Vicky mengangguk mengerti, "gitu ya? Anu - boleh aku memintanya untuk jadi modelku?"


"Apa?"


"Dia cantik banget, tubuhnya juga bagus, kami ada produk make up baru, Rose itu cocok dengan konsep kerajaan, make up baru juga konsepnya kerajaan. Dia mau gak ya? Kamu kan pacarnya, aku ingin meminta ijin mu juga" ucap Vicky. Kaivan tahu Vicky cemburu saat Kaivan bilah Rose dan Dania itu kekasihnya. Tapi Vicky tetap menjadi gadis dewasa seperti biasanya, dia tetap tenang dan anggun. Itulah yang Kaivan suka dari gadis itu.


"Kalau aku sih setuju banget, aku tahu kamu akan memperlakukan dia dengan baik. Tapi, kita harus minta persetujuan dia."


"Iya, tentu saja."


Tidak lama kemudian Rose dan Dania kembali lagi, mereka juga membelikan crepes untuk Kaivan dan Vicky juga, bahkan ada uang kembaliannya, tapi kembaliannya mereka simpan sendiri.


Vicky mengatakan keinginannya untuk menjadikan Rose model.


"Gak mau! Kalo aku sibuk gak bisa sama Kaivan lagi!"

__ADS_1


Mendengar itu Dania melirik pada Rose, "padahal kalo kamu mau kan bisa meningkatkan penjualan, katanya selalu bantuin Kaivan, kalo penjualan meningkat, yang untung siapa? Kan Kaivan juga."


Rose menggeram kesal mendengar ucapan Dania, dia kesal karena Dania benar juga.


"Ya udah aku pikirin lagi, tapi kalo aku jadi model, Kaivan akan senang?" Tanya Rose sambil menatap Kaivan.


Kaivan tersenyum kecil lalu berkata, "yang penting itu perasaan mu, kalau aku sih senang saja, tapi kalau kamu tidak suka ya aku juga gak bakal suka."


"Kaivan!"


Rose pun memeluk Kaivan karena terharu, membuat dua gadis lain kesal sekali melihatnya, terutama Vicky yang masih bukan siapa-siapa. Sementara Dania bisa ikutan memeluk Kaivan.


Siang itu mereka lanjut jalan-jalan di sekitar sungai Han, karena tempat itu yang paling dekat. Rose, Vicky dan Dania sudah mulai akrab, mereka sibuk selfie di tempat-tempat bagus.


Kaivan sendiri hanya duduk di tempat teduh, sambil bermain game baru untuk meningkatkan level. Kali ini adalah game zombie slayer, itu game melenyapkan para zombie. Seperti biasa, level awal sih mudah sekali, ada 100 level. Kali ini naik satu level ke level lain mendapatkan 2000 poin, lebih banyak dari game sebelumnya.


Kaivan asyik dengan game nya sampai dia mendengar suara isakan tangis.


Siapa yang sore-sore begini menangis di tempat seperti itu. Karena Kaivan mudah penasaran, dia ingin tahu siapa yang menangis.


Ternyata ada seorang gadis yang menangis di tepi sungai Han, melihat keadaan gadis itu, Kaivan takut dia akan menyeburkan diri ke sungai, tapi dia malas mengurusi urusan orang.


Tapi akhirnya Kaivan kalah dengan hati nuraninya, dia pun menghampiri gadis tersebut.


Gadis itu menoleh pada Kaivan, dia sangat cantik, terlihat seperti gabungan dua ras antara Korea dan Amerika, mirip Dania lah. Dia memiliki hidung mancung dan kulit putih yang bagus, rambutnya yang kecoklatan juga indah sekali.


Kenapa gadis secantik itu malah menangis disana.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Kaivan, kemudian Kaivan memberi gadis itu permen penyemangat rasa jahe.


Gadis itu diam sambil memakan permennya, setelah merasa baikan, dia mulai menoleh pada Kaivan lagi.


"Aku baik sekarang, makasih permennya."


"Aku ada banyak, ini buat kamu semua," Kaivan memberikan lima permen penyemangat pada gadis itu.


"Makasih ya, aku Kayla, kamu?"


"Kaivan."


"Nama kita hampir mirip."


"Benar."


Perasaan canggung itu muncul lagi, Kaivan ingin kabur saja rasanya, tapi tidak tega dengan Kayla, takutnya dia menyebut ke sungai, karena kebanyakan orang depresi kan begitu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2