
Irwan mengejar langkah kaki Reka. Belum sempat Reka membuka pintu, Irwan telah lebih dulu menarik tubuhnya. Menggendong paksa Reka seakan sedang membawa sekarung beras. Reka meronta, mememukul punggung kekekar Irwan yang telah kalap mata.
"Lepasin!"
Namun Irwan seolah menulikan indra pendengaran. Ia buang dengan kasar tubuh Reka di atas kasur big size miliknya.
"Kau tidak akan pernah bisa pergi dari sini, Reka. Ini rumahmu! Ini rumah kita! Selangkah saja kamu keluar dari sini, aku pastikan kau tak akan pernah bertemu dengan keluargamu lagi!" ancam Irwan yang masih setia dengan tatapan seorang pembunuh. Irwan berjalan ke sudut ruangan dan mengeluarkan stik golf yang ada dalam sebuah guci tinggi berwarna biru, mengayunkan tongkat besi itu secara membabi buta.
Praang!
Semua barang yang ada di meja rias tergeletak tak berbentuk di lantai
Reka meringkuk. Menutup telinga serta menahan degup jantung yang kian bertalu. Dadanya berdebar cepat. Bulir air tak henti membasahi pipi. Baru kali ini dia melihat iblis menjelma menjadi manusia.
Tidak berapa lama sebuah meja besar yang terbuat dari kaca terbelah menjadi dua.
Seolah belum puas menumpahkan kekesalan, kembali ia ayunkan tongkat besi itu menghantam TV besar 65 inchi seharga puluhan juta. Irwan benar-benar berang. Dipukulnya elektronik mahal itu berkali-kali hingga menjadi pecahan kecil.
Dengan derap langkah yang buru-buru, di dekatinya Reka yang meringkuk di kasur. Reka gemetar luar biasa, rasa takutnya pada Irwan menjadi berkali-kali lipat.
"Jika kau berani kabur, itulah yang akan keluargamu terima." Irwan lemparkan stik golf kesembarang arah.
"Ingat itu baik-baik!" teriaknya kemudian.
Irwan pun pergi meninggalkan kamar yang telah hancur lebur. Pecahan kaca berserakan di mana-mana. Air serta remehan perabot berceceran memenuhi lantai.
Bamb!
Suara keras dari hempasan pintu menjadi akhir pertengkaran hebat setelah ijab qabul mereka. Irwan pergi dengan membawa letupan emosi yang belum mereda.
Tidak berapa lama masuklah empat orang pelayan ke dalam kamar. Mereka miris melihat Reka yang sedang menangis. Namun, apalah daya, mereka hanyalah pesuruh yang harus patuh akan perintah Irwan. Mereka membersihkan segalanya tanpa bersuara. Hanya ada tangisan pilu yang keluar dari bibir sang nyonya.
Tengah malam.
Pintu kamar terbuka, membuat Reka tersadar dan membuka mata. Samar-samar terdengar derap kaki terseret, melangkah mendekat. Tercium juga bau alkohol basi menyeruak masuk ke dalam hidung. Reka mematung, memejamkan mata, mematikan dirinya. Irwankah itu?
__ADS_1
Ya, dia adalah Irwan. Dengan langkah sedikit sempoyongan dan kotak P3K di tangan, di dekatinya Reka yang sudah terpejam. Diamatinya dengan seksama tubuh dan wajah Reka dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Irwan mengembuskan napas dengan perlahan. "Maafkan aku, Reka," lirihnya, mengoleskan salap dengan perlahan di pergelangan tangan Reka yang memar. Irwan kembali menatap wajah pucat Reka. Menyibak anak rambut yang menutup wajah cantik istrinya. Irwan tersenyum tipis, mengecup perlahan bibir wanita yang ia siksa batin dan fisiknya.
Setelah tak merasakan kehadiran Irwan, Reka pun membuka mata. Ia pegang dadanya yang kembali bergemuruh. Gadis itu gemetar, mengira Irwan akan kembali menyerangnya. Dia mabuk.
Pagi hari.
Reka berdiri di dekat jendela. Membiarkan panas sang surya menerpa kulit. Hari yang cerah disambut Reka dengan mata yang sayu.
Tok tok tok.
Suara ketukan berasal dari balik pintu.
"Masuk," jawab Reka seadanya.
Masuklah seorang gadis muda dengan seragam hitam membalut tubuh.
"Ini sarapannya, Nyonya," kata si gadis dengan menyunggingkan senyuman. Ia letakkan mampan yang berisi segelas susu hangat dan sandwich di meja yang sudah berganti bentuk dan ukuran.
Reka mendekati wanita muda itu, duduk di kursi tunggal yang ada di sana. Menikmati sarapan alakadarnya sekedar menenangkan perut yang dari kemarin belum makan maupun minum. Ia kelaparan, tapi rasa takut menekan rasa lapar hingga membuatnya tak berani keluar dari kamar.
"Nara, Nyonya." Si gadis menundukkan kepalanya, segan.
"Sudah lama kerja di sini?" tanya Reka lagi setelah meneguk susu hangat.
"Baru hari ini, Nyonya," jawab Nara sekenanya.
Reka hanya mengangguk pelan sedangkan mulut masih dipenuhi dengan roti isi sayuran dengan irisan keju dan juga daging. Ia aneh dengan rasa itu, akan tetapi, suka maupun tidak dia tetap harus menelannya. Rasa lapar begitu menggerogoti tubuh Reka.
"Jangan panggil Nyonya. Kakak saja," pinta Reka, meletakkan gelas susu yang sudah kosong. Ditatapnya kembali tubuh gadis yang berperawakan kurus, kecil tapi cantik. Rambut panjangnya ia kucir ke belakang. Benar-benar bersahaja. Reka tersenyum tipis disela pandangannya.
Nara yang ditatap se-intens itu jadi salah tingkah sendiri. Takut kalau sudah melakukan kesalahan fatal pada sang majikan.
"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa. Nanti saya dikira kurang ajar, bisa-bisa saya dipecat," jawab Nara dengan suara yang terdengar bergetar.
"Dari mana kamu tau bakalan dipecat?" Reka mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Bukankah kamu baru bekerja hari ini?"
"Iya, Nyonya, saya memang baru satu hari kerja di sini. Cuma ibu saya dulunya juga pelayan di sini. Katanya pak Irwan itu orangnya tegas, tak mentolerir kesalahan. Yang bersalah langsung mendapat hukuman tanpa sempat memberi penjelasan maupun membela diri," jelas Nara.
Reka hanya ber 'oh' tanpa mengeluarkan suara. Ia percaya dengan apa yang dikatakan Nara. Mengingat bagaiman kejam Irwan memperlakukan dirinya, istrinya sendiri.
"Jadi kamu menggantikan ibumu?" tanya Reka lagi dan direspon anggukan pelan dari Nara.
"Ya sudah, panggil Nyonya jika ada orang lain. Kalau berdua gini panggil Kakak saja, ya?" pinta Reka lagi dan dibalas anggukan ragu-ragu dari Nara.
"Di mana Irwan?"
"Pak Irwan sudah berangkat, K-kak," sahut Nara gugup. Ada rasa aneh setelah menyebut sang majikan dengan sebutan 'kakak.'
Lagi-lagi Reka ber 'oh' tanpa mengeluarkan suara. Terukir senyum lega di wajahnya. Alhamdulillah ... untuk sekarang aku aman.
"Kamu tau jadwal dia pulang dan pergi bekerja?" tanya Reka lagi.
"Berangkat dari rumah biasanya jam tujuh pagi dan pulang sekitar jam tiga sore," terang Nara lagi. Ia rapikan meja dan menata piring serta gelas kosong kembali ke dalam nampan.
"Kalau gitu saya pamit," ucap Nara seraya tersenyum.
Reka pandangi punggung Nara. Terbesit rasa syukur dan nyaman di dalam neraka yang Irwan ciptakan. Paling tidak aku punya teman bicara, pikirnya.
Reka beranjak dari sofa menuju kasur. Mengistirahatkan batin, fikiran serta tubuhnya yang tersiksa. Ia tatap langit-langit kamar. Meratapi nasib buruk yang selalu menimpa. Dalam sekejap, bulir air kembali muncul di ujung mata gadis malang itu. Ia ambil ponsel dan melihat album kebersamaan dirinya dan keluarga. Kesedihan makin menjadi, mata yang awalnya hanya berkaca-kaca kini langsung banjir seketika. "Eka Rindu ibuk ..." lirih Reka disela tangisnya. Hatinya sakit bak di iris sembilu. Ingin ia menjerit menumpahkan rasa pedih yang bersemayam nyaman dalam dirinya.
Sore hari.
Reka terbaring menutup tubuhnya dengan selimut. Wajahnya kembali pasi, seolah tak mendapat aliran darah. Jemarinya kaku dan jantungnya dag dig dug tak karuan. Reka tau Irwan sebentar lagi pulang.
Kreet!
Bahkan suara pintu mampu membuat Reka menahan napas. Ia seakan diintai malaikat maut. Hawa horor langsung menyelimuti ruang kamar.
Derap langkah semakin dekat, Reka makin menutup mata dengan erat. Meringkuk di bawah selimut yang tebal. Dup dup, dup dup.Ya Allah lindungi hambaMu.
__ADS_1
*****