Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Kisah Irwan.


__ADS_3

Sungguh demi Tuhan, Reka ingin sekali membenamkan wajah ke dasar lautan. Tenggelam membawa rasa malu yang Irwan ciptakan. Bisa-bisanya pria itu mencuri cium di depan orang ramai. Ah dasar! Lelaki binal! Kurang ajar! Reka terus saja melangkah, menahan kulit wajah yang berdenyut, kembang kempis seraya mengelap bibir yang masih basah. Menjauh dari ruang makan, menghindari mata para pelayan yang tak bisa ia artikan.


Tibalah Reka di gazebo taman belakang. Menyentuh pipi yang masih menghangat, menahan tabuhan dada yang makin menjadi ketika teringat perlakuan tak senonoh dari Irwan. Sungguh menyebalkan! Lelaki brengsek! Menetes setitik air dari pelupuk matanya. Perasaan kesal, benci dan marah, menggumpal jadi satu. Dongkol? Pasti, lagi-lagi Irwan melecehkan dirinya.


"Nyonya," panggil seseorang dari arah belakang.


Reka menoleh ke arah suara dan mendapati Sumi, orang yang ia hormati sama seperti ibu datang menghampiri. Duduk bersebelahan dan memeluk hangat dirinya. "Aku benci dia, Bik." Tangis Reka pecah, meluruh dengan deras, menandakan sakit yang teramat sangat mendera perasaan.


Sumi mengeratkan dekapan, membelai rambut tergerai Reka dengan perlahan. Mencoba mendamaikan kemelut yang mendera sang nyonya. "Aku sungguh membencinya. Bagaimana bisa dia ... dia ...." Isakan Reka makin menjadi, tak mampu lagi menyelesaikan lisan yang sudah setengah jalan.


Sedangkan Sumi tetap terdiam, dengan sabar memeluk, menunggu Reka berhenti menangis. Setelah isakan sudah tidak terdengar lagi, Sumi lepaskan rangkulannya. Menatap teduh mata Reka yang sembab. "Ndok, berdamailah dengan keadaan," ucap Sumi pelan. Menghapus jejak air mata di pipi tirus Reka.


"Tapi dia itu jahat, Bik. Aku sudah berusaha memaafkan dan menerima kenyataan. Tapi dia ... dia tetap saja seperti itu. Dia mengulangi kesalahan yang sama."


Sumi tersenyum ramah dan menggenggam tangan kanan Reka dengan erat. Mengalihkan pandangan ke arah langit pagi yang cerah. kemudian kembali menatap Reka yang juga melihatnya. "Mau dengar cerita Bibik, tidak?"


Reka membisu. Ia lap jejak air mata yang masih tersisa. Manata hati agar berhenti menangis.


"Irwan itu sebenarnya tidak jahat. Hanya saja goresan luka masa kecilnya begitu besar," ucap Sumi, menghela napas panjang. Matanya kembali memandang langit, tapi pikiran melayang ke masa lalu.


"Apakah kamu tau, kalau ibunya mengalami depresi berat sebelum akhirnya melompat dari atap gedung?" tanya Sumi, menolah Reka yang mengangguk perlahan.


"Kamu tau alasan kenapa ibunya sampai depresi?" tanya Sumi lagi yang direspon gelengan kepala dari Reka.

__ADS_1


Kembali, Sumi menghirup napas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat. Nampak raut kesedihan yang mendalam di air mukanya yang sudah menua.


"Dulu, keluarga mereka sangat harmonis. Tuan besar sangat mencintai nyonya dan juga Irwan. Saking cintanya, tuan kadang bertindak di luar nalar. Nyonya terus saja dipantau dari kejauhan. Tuan sampai menyewa jasa detektiv swasta hanya untuk mengikuti keseharian nyonya. Nyonya tidak diperbolehkan bergaul dengan orang lain. Dan jikalau nyonya tak sengaja bertemu dengan laki-laki asing, tuan besar langsung mengamuk. Tak segan membentak bahkan mencambuk nyonya. Irwan yang masih berumur lima tahun pun tak luput dari kekesalannya. Kadang dikurung sampai dua hari tanpa diberi makan." Sumi terhenti. Bongkahan air terjun bebas dari matanya yang keriput. Seolah menyiratkan kesedihan yang tiada tara atas kemalangan yang menimpa mendiang nyonya-nya itu.


Pantas saja nafsu makannya besar. Ternyata ada cerita di baliknya. Reka membatin dan terselip rasa iba pada masa kecil Irwan yang keras.


Sumi terdiam sejenak. Menata hati agar bisa melanjutkan cerita. "Sikap cemburu tuan yang berlebihan membuat nyonya memutuskan untuk bercerai. Ia lari dari rumah ini, berniat menjemput Irwan yang masih di sekolah. Tapi malang, nyonya kecelakaan, menabrak dua pejalan kaki hingga meninggal. Dari situlah awal mula penyakit mental nyonya muncul, lama-kelamaan makin tak terkendali hingga akhirnya tuan memasukkan nyonya ke rumah sakit jiwa," tandas Sumi dengan lirih. Ia tarik napas panjang dan mengusap air matanya sendiri. Ia tatap Reka yang jelas terkejut akan cerita kelam keluarga Irwan.


"Jadi Reka, Bibik mohon, terimalah perasaannya. Dia memang kasar dan terlihat dingin. Tapi sebenarnya dia anak baik yang malang. Dia bertingkah angkuh, untuk membentengi dirinya agar tidak tertindas lagi," ujar Sumi yang makin mengeratkan genggamannya.


"Tapi aku tidak mencintainya, Bik." Reka melepaskan tangan Sumi dan mengalihkan pandangan ke depan.


Sumi tersenyum sekilas dan ikut memandang kumpulan awan berwarna putih. "Cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya, Ndok. Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa."


Reka membisu, ucapaan Sumi sama persis dengan yang di ucapkan ibunya.


****


"Ini betul rumahnya?" tanya Irwan seraya mendongak, melihat pagar tinggi yang menutupi sebuah rumah megah bercat putih.


"Iya, Mas. Riri memberikan alamat itu," jawab Reka yang tak kalah takjub akan besarnya rumah Rianti. Ini adalah rumah ke tiga terbesar yang ia lihat setelah menikah.


Irwan membunyikan klakson beberapa kali dan muncullah sorang laki-laki paruh baya. Tanpa banyak tanya dia pun membuka pagar karena tau Reka adalah kakak dari majikannya.

__ADS_1


"Kak Eka!" seru seorang gadis muda bertubuh kecil cenderung pendek, melangkah cepat menghampirinya yang baru keluar dari mobil.


"Riri jangan lari-lari, kasian debai dalam perut kamu." Reka memperingati adiknya yang kini tengah mengandung dua bulan.


"Iya deh iya ...." Rianti tersenyum lebar, tak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena sang kakak datang berkunjung untuk pertama kalinya. Ia peluk tubuh kurus Reka dengan sangat erat.


"Oh, iya, suami kamu mana?" tanya Reka seraya melepaskan pelukan. Ia ambil bingkisan dari dalam mobil dan menyerahkannya pada seorang asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh Rianti.


"Mas Ardi lagi di taman belakang," jawab Rianti. Kemudian melirik tubuh pria tegap yang berdiri tak jauh darinya.


"Ini suami Kakak?" tanya Rianti seraya melangkah, mengitari tubuh Irwan, memperhatikanya dari kaki hingga kepala. Kemudian menggeleng tak percaya. "Ternyata nasib kita sama, Kak," celetuk Rianti yang tentu saja membuat bingung Reka juga Irwan. "Kita sama-sama menikahi pria tua," tandasnya asal, disusul gelak tawa yang membuat ekspresi Irwan menjadi masam dalam sekejap.


"Hust! Jangan gitu. Gak baik." Reka menasehati Rianti dengan perasaan was-was. Melihat sekilas ekspresi Irwan yang sudah mendung, berkabut tebal. Kalau diteruskan mungkin akan timbul petir juga badai. "Dia itu abang ipar kamu." Kembali Reka memperingati Rianti. Adiknya yang masih berada pada usia belia akan tetapi sudah berkeluarga, tak ayal tingkah lakunya pun masih seperti remaja kebanyakan. Suka asal bicara.


"Hehehe ... iya deh. Sapa suruh nikah enggak bilang-bilang," celetuk Rianti yang masih menyimpan dendam, karena tidak diberi tau tentang pernikahan mereka.


Mendadak Reka terdiam. Mengingat pernikahan yang sengaja ia buat sesederhana mungkin.


"Ya udah, yuk. Kita masuk ke dalam." Rianti menggandeng lengan kakaknya, menuntunnya masuk ke dalam rumah.


****


Holla gaes. Saya kembali. Moga aja gak jenuh. Hehehe ....

__ADS_1


Oh, iya. Kalau ada yang mau tau cerita Rianti, bisa dikepoin di profil saya. Di sana ada ceritanya Rianti yang berjudul Duren sawit.


Terima kasih telah sedia menunggu. Jangan lupa like, komen dan vote-nya. heheh


__ADS_2