
Reka berjalan mengandeng lengan Irwan dengan mesra. Akan tetapi, sebenarnya ia hanya bertumpu pada tubuh tegap pria itu. Begitu gagah, dengan langkah pasti Irwan berjalan melewati teman-teman seangkatan dan para tamu undangan. Bahkan ada beberapa wanita yang tak berkedip ketika memandangnya. Mereka takjub melihat sosok yang begitu sempurna. Mempunyai rahang persegi, hidung mancung dan bibir yang seksi. "Benar-benar ciptaan Tuhan paling sempurna," celetuk salah satu wanita yang mereka lewati. Terdengar pula samar-samar beberapa orang mengomentari penampilan mereka yang seperti raja dan ratu. Membuat senyum Irwan mengembang, bangga.
"Berjalanlah yang anggun. Kau ingin membuatku malu," cerca Irwan lewat bisikannya. Irwan tak suka karena Reka selalu menundukkan kepala.
Mendengar perkataan yang bisa mengancam keselamatan jiwa dan raga, Reka pun menuruti permintaaan Irwan. Ia tau resikonya jika sampai membuat Irwan murka. Tenanglah Reka. Ini hanya reuni. Bukankah kamu juga sering menghadiri acara seperti ini, Reka membatin, mencoba menenangkan diri yang sedari tadi takut jika melakukan kesalahan.
Di depan pintu, mereka disambut oleh seorang pria muda yang berpakaian rapi. Menyerahkan sebuah buku besar untuk Irwan tanda tangani. Reka tidak memedulikan itu. Dirinya sibuk menata pikiran agar tenang. Santai saja. Reka menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan dari mulut. Berharap ritme jantung yang bertalu-talu kembali normal.
Mereka pun masuk ke dalam mansion. Mata Reka langsung membulat sempurna ketika melihat betapa megah rumah yang ia masuki. Belum lagi banyak orang yang berlalu lalang di dalam sana, membuat rasa gugup menyerang Reka seketika itu juga.
"Rileks, jaga ekspresimu. Apa kau ingin membuatku menjadi orang bodoh di depan semua teman seangkatanku." Irwan menggeram tanpa menoleh Reka. Ia sibuk menyunggingkan senyum kepada teman yang berpapasan dengannya.
Cih! Munafik! Reka memutar mata dengan malas. Begitu pandainya Irwan bersandiwara sampai-sampai orang lain senang dan tersenyum ramah ketika menyapanya.
Irwan masih melangkah, melambaikan tangan, menghampiri Chandra yang sedang berdiri bercengkrama dengan beberapa orang. "Gue tunggu di sana," ucap Irwan seraya menepuk pundak Chandra, si empunya rumah.
"Iya, bentar lagi gue nyusul," sahut Chandra.
Sambil menunggu, mereka pun duduk di sofa yang berada disudut ruangan. Reka memandang keramaian dengan tatapan tak biasa. Ada rasa kagum, was-was juga takut. Ia kagum akan disain ruangan mewah bak istana raja. Namun, ia juga merasa was-was, takut jika melakukan kesalahan di tengah ramainya orang.
Irwan tersenyum sinis ketika menyadari tatapan penuh kekhawatiran pada bola mata Reka, Dasar bodoh!
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya melerai lamunan Reka. Merebahkan punggung di sandaran sofa. Tak lupa juga ia lipat kaki jenjangnya. Begitu terlihat angkuh dan arogan tapi juga terlihat keren, berwibawa. "Tidak ada," jawab Reka sekenanya.
__ADS_1
"Aku yakin kau tidak pernah ke acara sebesar ini." Irwan manarik sebelah bibirnya. Meremehkan Reka yang duduk di hadapannya.
Reka palingkan wajahnya, memandang kearah pintu masuk. Melihat sikap sombong Irwan membuatnya muak, mencebik dalam diam, merutuk dalam hati dan mencekik dalam hayalan.
Mereka kembali membisu. Tak ada topik yang bisa dibahas karena mereka memang tidak sedekat itu. Bahkan yang ada hanyalah kebencian yang sudah tertanam kokoh dalam hati Reka untuk pria yang bernama Irwan.
Pikiran Reka menerawang jauh. Meskipun di kelilingi banyak orang, ia tetap merasa hampa, bahkan alunan musik jaz yang tenang tak mampu membuatnya nyaman. Ia embuskan napas perlahan. Aku tidak suka di sini. Wajah Reka mulai terlihat murung dan rasa bosan mulai menghampiri. Pandangannya fokus pada heels yang ia kenakan.
Tiba-tiba ada yang mendekat ke arahnya. Orang itu berdiri tepat dihadapan Reka. Reka tentu saja terkejut akan kehadiran kaki jenjang yang begitu dekat dengan kepala. Dengan perlahan Reka arahkan pandangan, mendongak, menengadah ke atas melihat siapa pemilik kaki itu.
"Ini, makanlah!" Menyodorkan piring kecil berisi salad buah.
Reka yang sempat terlonjak halus langsung cepat menerimanya. Bukan karena lapar, namun karena tidak ingin membuat pria arogan itu mengamuk karena ditolak. Ya, pemilik kaki jenjang itu adalah Irwan, suami sekaligus penjahat dalam hidupnya.
"Tunggulah di sini, aku ada urusan," ucap Irwan tanpa ekspresi. Ia pun pergi berlalu melintasi para tamu yang ada.
Reka melemah dan menghempaskan napas, sedikit tenang dan terukirlah senyum lega di bibir tipisnya . Akan tetapi, tidak lama kemudian datanglah sosok pria yang Reka kenal. Dirinya yang baru saja rehat sejenak dari senam jantung yang Irwan berikan kini harus melakukannya lagi. Orang itu adalah Chandra. Pria yang Reka cap sebagai komplotan Irwan.
Pria itu duduk bersebelahan dengannya. Dengan senyum lebar ia lambaikan tangan ke beberapa kenalan yang juga melambaikan tangan untuknya. "Bagaimana rumahku?" tanyanya tanpa menoleh Reka yang mulai terlihat risih. Reka bungkam, malas menyahuti pertanyaan Chandra.
"Kenapa diam? Apa kau tidak nyaman dengan keramaian ini?" tanya Chandra lagi namun masih tak direspon Reka sama sekali.
"Ngomong-ngomong, ke mana Irwan?" Chandra mengedarkan pandangan ke sekitar. Namun tetap tak mendapati sosok yang ia cari.
__ADS_1
"Keluar," jawab Reka sekenanya.
Chandra tersenyum kikuk, menyeruput minuman yang ada ditangan. Berwarna seperti teh namun aromanya jelas menandakan kalau itu bukan teh, melainkan whisky. "Sorry, soal tempo hari," ucapnya setelah meletakkan gelasnya.
Reka masih terdiam, tak ingin mendengar pernyataan maaf atau apapun dari orang yang telah menzaliminya. Cih! Maaf? Gampang banget minta maaf. Reka membatin menahan geram, saking geramnya, dress yang menutupi lutut hampir koyak, karena buku jarinya sendiri.
Chandra menarik napas panjang. "Dua tahun lalu aku sudah mencegah Irwan untuk menghentikan kegiatan abnormal tahunannya. Tapi dia sama sekali tidak peduli dan sialnya kamulah yang menjadi target," terang Chandra yang sama sekali tak dimengerti oleh Reka.
Reka sipitkan matanya. Bertanda bahwa ia perlu penjelasan lebih lanjut dari ucapan Chandra barusan. "Apa maksudnya?" tanya Reka yang darahnya sudah mendesir mengingat kisah pilunya. Ia tatap betul-betul wajah Chandra yang juga tergores raut penyesalan di sana.
Candra meneguk kembali minumannya. Matanya menatap jauh kedepan. "Sekitar empat belas tahun yang lalu, Irwan pernah mencintai seorang perempuan yang berasal dari Jakarta. Mereka bertemu saat masih kuliah di Inggris. Singkat cerita, Irwan tulus menyukai wanita itu dan mereka berpacaran selama empat tahun. Namun, tidak untuk si perempuan. Dia hanya memanfaatkan Irwan karena tau Irwan adalah anak tunggal seorang pengusaha. Irwan yang tidak tau perihal sandiwara pacarnya, memilih dengan segenap hati untuk mempercayai dan bahkan berniat melamar." Perkataan Chandra terputus karena ada seorang tamu melambaikan tangan padanya.
"Terus," cecar Reka yang tak senang cerita tantang masa lalu Irwan terputus. Ia masih ingin mendengarkan penjelasan Chandra, meskipun hati terasa panas dan darah juga sudah mulai mendidih.
"Jadi semuanya terbongkar saat Irwan memergoki calon istrinya itu berhubungan badan dengan pria lain," lanjut Chandra lagi.
"Jadi semenjak itu, Irwan tidak pernah mempercayai yang namanya cinta ataupun perempuan. Menurutnya semua perempuan itu j a l a n g," terang Chandra kemudian.
"Dan waktu malam dia memperkosamu itu adalah tanggal dia memergoki pacarnya."
Degh!
Jantung Reka seakan berhenti berdetak. Mendengar cerita di balik deritanya membuat Reka murka, amarah jelas mendominasi pikiran. Ia kepalkan tangan dengan kuat hingga telapak tangan itu memucat sempurna.
__ADS_1
"Jadi, dia melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya padaku! Begitu!"