
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua tamu undangan sudah pulang dan hanya menyisakan para pegawai hotel yang sibuk berlalu-lalang. Membereskan sisa-sisa makanan juga dekorasi.
"Kamu ke kamar duluan aja, ya. Mas mau ke kantor bentar," ucap Irwan. Membelai rambut Reka yang masih tersanggul indah.
Reka mengangguk pelan. "Emb, Mas hati-hati," ucapnya. Membalik diri meninggalkan Irwan yang masih berada di dalam lift.
Akhirnya, dengan langkah gontai dan heels di tangan, Reka menyusuri lorong hotel sendirian. Dirinya begitu letih dan ingin cepat sampai kamar untuk beristirahat. Tubuhnya terasa remuk karena menopang gaun yang tidaklah ringan. Sementara kaki terasa terik setelah berdiri berjam-jam. Sungguh hari yang panjang serta sangat melelahkan untuknya.
Tibalah Reka di depan kamar yang bernomor 3013. Dengan cardlock di tangan, ia bisa membuka kamar yang tertutup rapat. Tapi aneh, setelah pintu terbuka, nertanya tak dapat menangkap cahaya apapun. "Kok gelap?" Reka meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu.
Klek!
Lampu menyala bersamaan dengan mata Reka yang membeliak. Bukannya cahaya terang yang menyinari penglihatan, melainkan cahaya kecil dari lampu warna-warni yang disusun membentuk kata 'Thank You' di dinding.
Terkejut, Reka menganga tatkala melihat sudut kamar penuh dengan bunga diselimuti cahaya remang. Membuat kamar luas itu menjadi terlihat romantis. Ya, walaupun ini kamar pengantin, tapi tetap saja Reka merasa takjub. Kelopak mawar merah bertaburan, menjadi karpet istimewa untuk menyambutnya. Belum lagi banyak balon yang menutup langit-langit kamar. Tak ketinggalan pula buket bunga berbagai macam warna menghiasi setiap sudut ruangan itu. Benar-benar indah.
"Gimana, Sayang? Kamu suka?" ucap Irwan. Memeluk tubuh Reka dari belakang. Mengalungkan lengan di perut ramping wanitanya itu
Reka memutar tubuh dengan tangan menutup mulut. Manatap Irwan yang sudah berdiri di belakangnya. "Mas, kamu ...." Reka menitikkan air mata sebelum sempat menyelesaikan kata. Dirinya terharu mendapat perlakuan romantis dari Irwan. Pria kaku yang kejam. Namun aneh, Reka begitu mencintainya.
Irwan tersenyum. Merangkul tubuh Reka dengan sebelah tangan ke dalam dekapannya. "I love you, Reka." Berbisik penuh cinta. Irwan cium pucuk kepala Reka dan makin mengeratkan pelukan. Tak ingin Reka pergi dari sisi juga hatinya.
Sementara Reka, bahagia dalam tangisnya. Euforia kembali terasa menyelimuti hati. "I love you too, Mas."
Tanpa bertanya, Irwan gendong Reka bergaya bridal style. Menatap lekat mata bening itu seraya menginjak kelopak bunga yang tertata rapi di atas lantai.
"Terima kasih udah bersedia jadi istri Mas lagi," ucapnya penuh ketulusan. Merebahkan tubuh Reka dengan perlahan lalu mengecup lama dahi Reka. Menyisakan senyar-senyar aneh dan membangkitkan libido yang telah lama berhibernasi.
__ADS_1
Reka mengerjap, sebab lisan tak mampu menggambarkan bagaimana rasa bahagianya saat ini.
Melepaskan kecupan lalu menatap lekat mata Reka. "Mas ingin kamu, Sayang."
Irwan mulai mendakatkan wajah. Hendak menggapai bibir Reka. Dirinya begitu merindukan benda kenyal berwarna merah yang sudah berbulan-bulan ini hanya bisa ia lu*at dalam hayalan. "I miss you," ucap Irwan lagi. Napasnya memburu, hangat, menerpa wajah Reka yang masih berbalut make up. Namun, tanpa Irwan duga, Reka menahan bibirnya dengan telapak tangan.
Mengerjap heran Irwan berucap, "Kenapa?"
"Sebentar, Mas." Mendorong dada Irwan agar angkat dari tubuhnya.
Irwan menurut, walaupun di kepala penuh dengan tanda tanya. "Cari apaan?" Irwan mengurut tengkuk yang tidak nyeri. Memandang Reka yang membuka laci dan terlihat sibuk mencari sesuatu.
"Mas liat tasku gak?"
"Tas?" ulang Irwan, memasukkan tangan ke bawah kolong ranjang dan menarik sesuatu dari sana. "Ini bukan?"
"Yang, kamu ngapain? Masak harus dividiokan segala," ucap Irwan, mengulum senyuman. Berpikir Reka akan mengabadikan adegan ranjang mereka.
"Stt, diam." Reka berjalan mendekati Irwan seraya menyerahkan amplop coklat. "Aku mau mandi dulu. Mas baca ini, ya." Berucap dengan senyum ambigu. Membuat Irwan makin tak tenang. Ia raih amplop itu dan membukanya.
Sepuluh menit berselang.
Reka keluar dari kamar mandi dengan rambut tersimpul haduk kecil dan bathrobe biru menyelimuti tubuh.
"Gimana, Mas?" tanya Reka. Menatap wajah bingung Irwan dengan senyum terkembang. Menyandarkan diri di dinding seraya melipat lengan di dada. "Setuju gak? Kalo engak, ya ... gak pa-pa. Aku bisa pulang sendiri, kok." Berucap tanpa beban dan penuh ancaman dalam setiap katanya.
Irwan menggaruk pelipis yang tidak gatal. Memandang wajah Reka yang tak seperti biasanya. Ada aura kelicikan dalam tatapan mata teduh istrinya itu. Kenapa kamu berubah jadi menakutkan begini? Batin Irwan. Mengembuskan napas kasar dan mengusap wajah dengan sebelah tangan. "Baiklah," ucapnya singkat. "Tapi apa perlu direkam juga?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Reka menganggguk mantap. "Emb, sebagai bukti nyata. Biar aku gak dikira memanipulasi bukti."
Lagi, Irwan merasa Reka bukanlah Reka yang selama ini ia kenal. Reka polos yang berhati mulia. Tapi, kembali lagi pada kodrat dan fitrahnya. Tak ada manusia yang sempurna.
"Ya, udah. Kita mulai sekarang."
Senyum ambigu Reka merekah sempurna. Ia tekan tombol on dan mulai merekam Irwan yang memegang selembar kertas.
"Baiklah. Saya Irwan Syahputra dengan ini berjanji dan menyetujui peraturan yang dibuat oleh istri saya sendiri."
Irwan pun dengan pasti menyebutkan pasal-pasal yang Reka tuliskan. Dirinya tidak boleh berselingkuh, main tangan, dan berkata kasar--mengumpat maupun mengejek. Dan jika Irwan terbukti berselingkuh dan main tangan pada Reka maupun anak-anak mereka kelak, dirinya akan setuju bercerai dan memberikan semua harta dan aset yang ia punya. Khusus untuk masalah mengumpat, dirinya akan mendapat sanksi cukur rambut--botak. Dan jika Irwan menolak, maka hukumannya kembali ke poin pertama. Bercerai dan berakhir miskin.
"Cut."
Tersenyum, Reka menekan tombol save lalu bertepuk tangan. Menghampiri Irwan yang sudah bermuka masam. "Suami yang baik," ujarnya seraya menyentuh dagu Irwan, gemas.
Berdengkus, Irwan menatap lekat mata Reka. "Apa begitu susahnya percaya sama Mas. Sampe-sampe harus bikin surat perjanjian segala."
"Untuk jaga-jaga." Reka tersenyum kuda.
Tapi Irwan bergeming. Ia acuhkan Reka dan mengalihkan pandangan. Bukan marah karena harta. Hanya saja ia menyadari ternyata Reka belum memaafkan kesalahannya. Ia beranjak dari ranjanf dan berjalan ke arah jendela. Melihat kebawah, memperhatikan lampu kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.
"Mas Irwan." Reka memanggil dengan nada manja. Berharap bisa menenangkan suaminya yang sedang merajuk. Tapi lagi-lagi Irwan tak menyahut. Hingga akhirnya Reka nekat melakukan gerakan yang lebih menguji kesabaran Irwan.
****
Udah dulu, yah. Besok lagi up nya. Kalian, pliss kencengin vote-nya. Hehehe.
__ADS_1