
Khusus 18+
Yang di bawah umur. Menepi!
****
Reka beranjak dari kasur, menghampiri Irwan yang membelakanginya.
"Maaas ... jangan ngambek, dong."
Bergeming, Irwan tak merespon. Hanya jakun saja yang bergerak naik turun. Menelan saliva dan menahan libido yang semakin meninggi akibat suara sensual Reka.
"Mas, ayo dong. Katanya lagi pingin ...." Reka tersenyum miring.
Sungguh, Irwan pandai menahan diri, padahal si Thomas sudah menegang bagai kayu, keras.
Merasa tak mendapat respon baik dari Irwan, Reka pun cemberut dan bersedekap dada.
"Ya udah, deh. Aku mau langsung tidur aja," ucap Reka. Dia memutar tumit hendak melangkah.
Namun, tiba-tiba tubuh tertahan karena Irwan sudah memeluknya dari belakang. "Dasar nakal. Kamu mau ke mana?"
Irwan menenggelamkan wajah di ceruk leher Reka. Menghirup dan meniup tengkuk mulus itu. Reka terkekeh dan menggeliat menahan geli.
"Mas, udah."
Reka tergelak nyaring karena Irwan terus saja menciumi lehernya. Sementara tangan begitu cekatan menggelitik.
"Kamu nakal, sih. Jadi sekarang kamu dihukum."
Terdengar otoriter. Ucapan yang berimbas pada air muka Reka. Dulu mungkin akan pucat setelah mendengar kata itu. Tapi berbeda dengan sekarang. Wajah Reka memerah bagai tomat. Paham apa maksud dari kata 'hukuman' itu.
__ADS_1
"Dari mana kamu belajar hal nakal begitu, hmm." Irwan menjawel hidung Reka. Gemas akan tingkah istrinya itu.
Tersipu malu, Reka berucap, "Entahlah, Mas. Sepertinya karena kelamaan menjanda."
Irwan tertawa lepas, mendengar ucapan dan melihat ekspresi Reka membuatnya semakin bahagia. Malam ini ia benar-benar merubah pandangannya pada Reka. Ternyata selain kalem, istrinya itu memiliki sisi licik dan juga liar.
"Tapi gak masalah, Mas menyukainya, Sayang." Irwan menuntun Reka dan membaringkan perlahan di atas kasur yang sudah dipenuhi oleh kelopak bunga. "Mas benar-benar merindukanmu, Sayang. Mas gak bakalan bisa jauh dari kamu. Rasanya kayak kecekek, tapi gak bisa mati."
Terbahak, Reka tak mampu menahan tawa. Bisa-bisanya ada kata 'tercekek" di ujung gombalan. "Ada-ada aja kamu, Mas."
Malam panas pun dimulai. Keduanya menikmati permainan yang sangat keduanya gemari.
Setelah selesai dengan kegiatan memberi dan menerima itu, Irwan roboh di atas Reka.. Tersenyum tulus dan menyibak anak rambut yang menutupi mata terpejam istrinya itu.
"I love you, Reka."
"Love you too, Mas."
****
Kehidupan Reka dan Irwan sama seperti rumah tangga orang kebanyakan. Adu argumen dan marah-marahan menjadi bumbu penyedap dalam keluarga kecil itu. Dan untungnya Irwan tidak sekasar dulu. Membuat Reka bertahan untuk membina keluarga kecil yang sudah dianugerahi titipan Tuhan yang paling berharga, Vero Ardian Irka. Dan segala kekesalan serta amarah Reka akan berakhir ketika keduanya bergulat di atas ranjang. Masalah kelar, kenikmatan menjalar (he-he-he).
"Dasar brengsek, beraninya dia menggelapkan uang perusahaan." Irwan menggeram. Menggenggam ponselnya dengan kuat. Ia murka ketika mendapat kabar salah satu manager perusahaan melakukan korupsi uang gaji karyawan magang.
"Awas kamu, bedebah seperti kamu harusnya di penjara," lanjutnya. Menghempaskan benda pipih itu ke atas meja kerja dan mengusap kepala yang hanya di tumbuhi rambut sepanjang dua sentimeter.
Dan tanpa diduga, mata Irwan menangkap tubuh anak kecil yang sedang berdiri di ambang pintu kamar. Sosok yang menatap dirinya dengan ekspresi bingung. Sosok yang membuat raut muka Irwan pucat seketika itu juga.
"Vero, sini, Nak. Peluk Ayah," ucap Irwan. Merayu dengan mengembangkan senyuman. Beranjak dari kursi dan membuka tangan. Berharap anaknya akan berlari menghampirinya. Tapi sayang, bukannya berlari ke arahnya, Vero malah menjauh dan menghampiri Reka yang tengah sibuk menata makanan di atas meja.
"Ah, sial!" Irwan meninju angin. Berlari mengikuti Vero menuju ruang makan.
__ADS_1
Menarik celemek, Vero mendongakkan kepala, menatap wajah Reka yang sedang membawa mangkuk berisi sop ayam. "Bunda Bunda, belengsek itu apa?" tanyanya dengan mata berbinar.
Terkejut, mata Reka membulat lebar. Mendengar pertanyaan sang anak membuatnya melayangkan tatapan tajam pada Irwan yang sudah mematung tak jauh darinya. "Vero tau dari mana kata itu?" tanya Reka lembut. Meletakkan sop ayam di atas meja dan mulai berjongkok. Mensejajarkan diri dengan anaknya yang baru berusia lima tahun.
"Tau dali Ayah. Ayah biyang belengsek."
Jeder!
Serara di sambar petir. Tatapan elang Reka membuat Irwan menahan napas. Ia hampiri Reka yang sudah di mode pembunuh. Memegang tangan Reka yang mengepal. "Sayang, plis maafin. Tadi itu keceplosan," lirih irwan, mengiba.
Reka menatap anaknya yang masih terlihat kebingungan. "Vero main sama kak Nara dulu, ya. Nanti Bunda nyusul," ucap Reka, mengukir senyuman di wajahnya yang sudah terlihat masam.
"Iya, Bunda."
Selepas kepergian Vero dan Nara, kini Reka kembali menyipitkan mata. Memandang Irwan seakan mampu menelannya hidup-hidup. "Belum kapok juga rupanya," ucap Reka, geram.
"Gak, Sayang. Itu keceplosan. Sumpah, plis jangan dibotakin lagi. Mas malu. Masak iya ada CEO yang kepalanya mirip mantan pesulap." Irwan mengiba, menangkupkan kedua belah tangan di dekat dada. Berharap Reka luluh dan memaafkannya. Mungkin hanya dia yang dalam setahun, tapi botak sudah enam kali.
"Pliss, ya ...." Menekuk lutut. Irwan makin terlihat menyedihkan.
Tapi sayang, Reka sudah berjalan mundur dengan menekuk buku jari. Menginstruksikan pada Irwan untuk mengikuti langkahnya menuju halaman belakang. "Ayo, Mas. Cepetan."
Irwan menarik napas panjang kemudian menelan saliva dengan susah payah.
"Tidaaak!"
.
.
.
__ADS_1
.
TAMAT.