Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Masa lalu Irwan bagian 2


__ADS_3

Chandra kembali menyeruput minumannya. Diamnya Chandra secara tak langsung membenarkan apa yang Reka katakan.


Reka kepalkan tangan. Amarah dan sedih melebur jadi satu. Terpuruk dalam nestapa yang tak ada habisnya. Jiwanya terkoyak akibat penghinaan yang Irwan torehkan. Luka yang sampai kapanpun tak akan pernah terlupakan. Bagaimana bisa dia menanggung kemalangan akibat rasa frustasi Irwan karena perempuan lain?


"Dasar lelaki bejat," desis Reka. Matanya mulai berair, namun sebisa mungkin ia tahan air itu hingga tertumpu pada ujung mata yang sudah terlihat memerah.


"Dia terus saja melakukan itu setiap tahun. Dia akan mencari j a l a n g dan melampiaskan hasrat juga kemarahan. Dia bahkan tak akan segan memukul perempuan yang jadi pasangan kencannya. Dan tentu saja dengan bayaran yang terbilang fantastis hanya untuk sekedar bercinta, jadi para perempuan itu tak ada yang protes atau menuntutnya," jelas Chandra lagi. Matanya masih menatap ke arah depan. Namun, tampak jelas kalau pikirannya juga sedang berkecamuk. Memikirkan kenyataan yang dia ucapkan pasti akan melukai hati perempuan tak bersalah yang kini telah menjadi istri sahabatnya.


Reka menarik napas begitu dalam. Dadanya seakan terhimpit dan terasa sesak luar biasa. Walaupun terhina dan dunianya hancur, ia tetap harus mencari tau kenapa Irwan tak mau melepaskan dirinya.


"Lalu kenapa dia mencariku? Harusnya mengabaikanku saja sama seperti dia melupakan para perempuan yang pernah menjadi pemuas nafsunya?" Suara Reka terdengar lirih. Gadis malang itu menundukkan kepala, menyeka bulir air yang mulai berjatuhan. Ia tertunduk diam, agar tak ada yang menyadari kalau dirinya sedang menangis di tengah keramaian pesta.


"Lelaki itu bahkan mengancam dengan melibatkan keluargaku. Aku benar-benar tak menyukainya," imbuh Reka lagi dengan suara yang terdengar samar.


Kini Chandra yang mengembuskan napas berat. Ia pandang sekilas Reka yang tertunduk, mencengkram gaun indahnya dengan sangat kuat.


"Entahlah ... kalau soal itu aku juga tidak tau. Namun, setelah malam itu, dia terus saja mencarimu dan tidak pernah lagi merayakan ulang tahun perpisahannya," terang Chandra.


Reka masih membisu. Menata hati menunduk dalam diam.


"Tapi percayalah padaku. Irwan itu sebenarnya berhati lembut. Hanya saja, luka dan pengalaman hidup membuat hati dan perilakunya menjadi keras," tandas Chandra, mencoba membela Irwan.


Reka tak menanggapi. Hatinya benar-benar hancur. Semakin mengenal Irwan semakin ia terluka amat dalam. Ia pun meninggalkan Chandra. Berjalan hampir setengah berlari, berlomba dengan emosi yang semakin menjadi.


Tidak berapa lama masuklah Irwan.


"Heh, ke mana dia?" tanya Irwan seraya merebahkan diri duduk kembali ke sofa yang berwarna merah menyala. Menyandarkan punggung, mengedarkan pandangan, mencari perempuan yang ia tanyakan keberadaannya barusan.


"Kayaknya ke toilet," jawab Chandra seadanya.


Irwan pun tak bertanya lebih lanjut. Ia memilih mengeluarkan handphone dari saku celana.

__ADS_1


"Minum?" tawar Chandra seraya mengangkat gelas whisky miliknya.


"Enggak deh, gue nyetir," tolak Irwan. Sedangkan matanya masih menatap ponsel yang dipegang.


Chandra menghela napas dan meletakkan gelas kembali ke atas meja.


"Apa gak bisa lo lepasin dia. Kasian ...." Perkataan ambigu Chandra sontak saja membuat Irwan berhenti men-scroll layar ponsel. Alisnya terangkat dan melengkung, bertanda Irwan memerlukan penjelasan lebih lanjut dari perkataan Chandra.


"Maksud lo?" tanya Irwan yang memang tak paham arah pertanyaan itu.


"Lo gak kasian gitu ama bini lo itu?" jelas Chandra. Kini ia tatap tubuh gelisah teman baiknya.


"Gak bisa, gue gak bakal ngelepasin dia," terang Irwan tanpa ekspresi.


"Kalo gue lepasin tu perempuan. Hidup sama karir gue bakalan hancur. Semenjak kejadian itu, pikiran gue selalu ke dia. Gue gak bisa tidur nyenyak dan gak bisa konsentrasi. Entah perasaan apa itu, tapi yang jelas sungguh sangat mengganggu," tandas Irwan lagi. Matanya mulai melotot dan rahang mulai mengatup kuat. Ego dan harga diri tak membolehkannya untuk melepaskan Reka.


"Tapi paling tidak bersikap baiklah padanya," ujar Chandra, merebahkan punggungnya ke sandaran sofa.


****


Reka meringkuk di atas klosed duduk. Ia peluk lututnya serta menutup mulut agar tak ada yang mendengar suara isakannya. Bulir air terus saja mengalir mengingat betapa kejam Irwan memperlakukannya demi dendam masa lalu yang bahkan ia tidak tau. Gadis malang yang menerima nasib buruk atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Reka terpuruk dalam belenggu duka nestapa, hati dan harga diri terkoyak. Masa depannya hancur berkeping-keping bagai debu yang tertiup angin.


Lumayan lama Reka di sana. Menata hati juga menenangkan pikiran. Ingin pergi dan lari itu pasti tidak akan mungkin. Ia sendiri yang memilih menikah dengan Irwan. Jadi suka tak suka, benci atau cinta, ia tetap harus menerima Irwan sebagai suaminya.


Setelah tenang Reka pun keluar dan berjalan menuju tempat duduknya semula. Melewati orang-orang yang seperti tak peduli akan kehadiran dirinya, apalagi luka yang ia derita. Pikiran Reka terbang ke dunia antah berantah. Ia hanya berjalan mengikuti ke mana arah kaki melangkah.


"Awaass!"


Suara lantang seorang bocah kecil membuyarkan lamunan Reka. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sebuah bola basket menghantam kuat kepala Reka. Ia kehilangan keseimbangan, pandangan berputar dan pelipisnya berdenyut bukan kepalang.


Dup dup, dup dup.

__ADS_1


Jantung Reka bergemuruh, berdentam-dentum seakan ada petir yang bersahutan di dalam sana. Matanya membulat lebar seolah bisa melompat keluar. Ia melihat dengan jelas seorang pria memeluk pinggangnya. Reka tercekat, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Pria berdarah campuran Indonesia dan Arab. Bertubuh tinggi, kulit sawo matang dengan alis mata tebal, mata tajam dan hidung mancung serta rahang yang kokoh. Sumpah, jantung Reka benar-benar menggila. Apalagi terasa nyata betapa kuatnya otot si pria yang begitu tanggap menangkap tubuhnya sebelum menyentuh dinginnya lantai.


"Maafkan anak saya," ujar si pria.


Dengan wajah merona dan jantung yang tak karuan Reka dorong dada bidang pria itu. Ia langsung menjauh dan menundukkan pandangan.


"Aji ... sini, minta maaf," titah si pria kepada sang anak.


"Maafin Aji ya, Tande. Aji gak sengaja," ucap Aji seraya memegang tangan Reka. Mata polos nan beningnya manatap Reka dengan tatapan penuh penyesalan.


Melihat bocah menggemaskan itu membuat Reka teringat dengan adik bungsunya. Ia pun berjongkok agar bisa sejajar dangan Aji.


"Iya, gak apa-apa. Tante enggak marah, kok. Tapi lain kali jangan diulangi, ya. Kalo mau main di halaman, jangan ditengah keramaian," ucap Reka seraya mencubit pelan pipi gembul Aji. Dan terukirlah sedikit senyum di bibir tipisnya.


Tanpa mereka sadari ternyata Irwan dan Chandra mengawasi gelagat keduanya. Melihat pria lain memeluk sang istri membuatnya naik spaning. Tatapan matanya penuh api, dengan mudah membakar hangus apapun yang menghalangi. Ia raih gelas whisky Chandra dan meneguknya hingga tandas.


"Malam ini gue nginep sini," ucap Irwan penuh dengan penekanan. Ia pun beranjak dari kursi dan berjalan ke arah Reka.


Chandra terlihat panik. Ia tau pasti apa yang akan Irwan lakukan.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Irwan seraya berjalan mendekati ketiganya.


Reka terhenyak, sontak saja berdiri. Melihat Irwan membuatnya gugup seketika. Takut? jelas Reka merasakan itu. Bahkan dress mahal yang ia kenakan tak mampu menangkal perasaan horor itu. Reka terus saja mencengkram kuat gaun mahalnya hingga terlihat kusut, bahkan hampir koyak.


"Hai Eldi, apa kabar?" ucap Irwan seraya memasang senyum ramah kepada adik kelas semasa sekolah dulu. Ia ulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Eldi.


"Irwan." Eldi tercenung sesaat, lalu kembali ke akal sehatnya. Menjabat cepat tangan Irwan yang sudah terulur.


"Dia bini lo?" tanya Eldi balik dengan senyuman yang terlihat kikuk. Pasalnya ia sempat terpesona dengan kecantikan wajah Reka.


"Iya, kita baru nikah dua hari yang lalu," jelas Irwan dengan menekankan kata 'menikah,' yang tentu saja membuat air muka Eldi berubah drastis, malu, sebab sempat menatap Reka dengan tatapan minat.

__ADS_1


"Kalo gitu kalian lanjutin aja acaranya. Kami mau istirahat dulu," imbuh Irwan lagi seraya merangkul pundak Reka. Ia tuntun tubuh Reka untuk menaiki tangga menuju lantai dua mansion Chandra.


__ADS_2