
"Kamu tidak terluka, 'kan?" tanya Andra. Ia memutar tubuh Reka untuk mematahkan kekhawatirannya
"Tidak apa-apa, Bang," jawab Reka singkat, melepaskan tangan Andra dari pundaknya.
"Kamu tinggal di Semarang? Terus sama siapa ke sini?" Andra edarkan pandangannya mencari sosok yang datang bersama Reka.
Reka mengangguk pelan, menggenggam kuat tas tangan yang ia pegang. Situasi macam apa ini? Kenapa aku harus bertemu dengannya di saat aku bersama Mas Irwan? Reka membatin penuh dengan perasaan was-was.
"Hey! Ada apa ini? Kanapa kau sentuh tubuh istriku?" tanya Irwan yang muncul dari arah belakang. Ia jelas terlihat berang. Nampak dari caranya menarik lengan Reka dengan paksa. Menuntunnya menjauh dari Andra.
"Jangan dekat-dekat orang asing," bisik Irwan meggeram. Reka langsung menjadi pasi, mendadak kaku juga kelu. Kengerian menjalar diseluruh tubuh tatkala mengingat Irwan menyiksanya hanya gara-gara tak sengaja bersentuhan dengan laki-laki lain.
"Mas, dia temanku," jelas Reka pelan. Ia raih tangan Irwan yang sudah mengepal erat. Tidak ingin Andra menjadi sasaran kemarahan dari suaminya yang sedang terbakar cemburu.
"Maafkan saya. Saya tidak sengaja," terang Andra kikuk, mengurut tengkuknya yang tidak sakit. Ia paham kalau sekarang sedang dicurigai oleh suami Reka.
Situasi berubah drastis. Canggung luar biasa, atmosfernya menjadi aneh tatkala Irwan memandang Andra dengan tatapan menghujam. Menghina dalam sinar matanya.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini, Reka," ucap Andra menetralisir keadaan. Menyadari akan adanya sinyal tidak senang dari Irwan.
"I-iya, Bang." Reka gugup bukan kepalang. Memikirkan apa yang ada di pikiran Irwan yang berdiri didekatnya.
"Kalian sudah saling kenal?" sela Irwan yang tidak tau hubungan mereka.
"Oh iya, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Andra. Adik saya dan adiknya bersahabat," jawab Andra sopan. Melebarkan senyum juga mengulurkan tangan hendak bersalaman pada Irwan.
Tunggu dulu, Andra. Maksudnya orang yang Reka ceritakan tadi? Batin Irwan. Ia jabat tangan itu dengan membendung rasa kesalnya. Ternyata dia si brengsek yang disukai Reka.
"Saya Irwan. Suaminya Reka," sahut Irwan dengan menekankan kata 'suami'. Kode keras agar Andra tidak macam-macam pada istrinya.
"Saya minta maaf, waktu itu tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian," ucap Andra sembari melirik sekilas Reka yang berada di belakang punggung Irwan.
"Tidak mengapa. Hadir atau tidaknya kamu tidak mempengaruhi pernikahan kami," sahut Irwan ketus. Tak segan memperlihatkan ketidaksukaannya pada laki-laki yang mengisi hati Reka. Ia pandang intens sosok Andra dari kaki hingga kepala. Tatapannya jelas sedang mengintimidasi Andra.
Andra lagi-lagi tersenyum hambar merespon ucapan tajam dari Irwan. Sebenarnya apa masalah orang ini. Baru ketemu aja udah nge-gas. Andra lirik sekilas wajah angkuh Irwan dan kembali menatap Reka.
__ADS_1
"Apa kamu sudah dengar berita tentang kehamilan Riri?" tanya Andra mengalihkan pembicaraan.
"Iya, sudah. Kemaren bapak sama ibuk datang berkunjung dan menceritakan tentang Riri yang sudah mengandung," jawab Reka sekenanya.
Andra manggut-manggut. Terukir senyum getir di parasnya yang tampan.
Tiba-tiba muncullah seorang wanita dari arah belakang dan menggandeng lengan Andra. Menatap penuh tanya pada Reka juga Irwan. "An, siapa mereka?" tanya wanita itu. Ia perhatikan kembali Reka dengan seksama. Sekian detik berikutnya, matanya membelalak lebar dengan mulut sedikit menganga. "Ya Tuhan, kamu Reka, 'kan?" terkanya seraya memeluk sebentar tubuh kurus Reka. Mendekapnya dengan hangat dan penuh rasa syukur.
Reka tercengang, mencoba mengumpulkan ingatan. "K-kak Ria ...."
"Iya, aku Ria. Sudah hampir sepuluh tahun kita tidak bertemu. Sekarang kamu sudah tampak dewasa dan cantik. Aku pangling lho," terang wanita yang bernama Ria. Matanya berbinar cerah dengan senyum yang mengembang tulus.
"K-kalian kembali bersama?" tanya Reka terbata, dirinya mulai dikuasai rasa penasaran. Setaunya Ria dan Andra sudah lama putus hubungan.
"Iya, kami memulainya lagi. Dan rencananya kami akan menikah akhir tahun ini," ucap Ria, senyuman masih setia menghiasi parasnya yang rupawan.
Reka terdiam, menata pikiran agar tak terlihat jelas kalau saat ini hatinya sedang terkoyak. Ya, bang Andra memang cocok bersanding dengan kak Ria. Reka merasa rendah diri, melihat Ria yang begitu cantik dan juga berkharisma dengan kemeja batik dan rok selutut yang ia kenakan. Terlihat cocok bila bersanding dengan Andra yang berprofesi sebagai dosen.
"Mending kita ngobrol sambil duduk," ajak Ria dengan ramah. Menggenggam tangan Reka untuk mengikuti langkahnya. Tapi Reka melepaskan tangan lembut Ria dengan pelan.
"Maaf Kak Ria, Bang. Kami sudah selesai makan. Aku merasa tak enak badan dan ingin segera pulang," tolak Reka. "Mungkin lain kali saja kita ngobrolnya," imbuh Reka lagi dengan tidak mengurangi rasa sopannya. Ia lontarkan senyum pada kedua orang itu secara bergantian.
"Ayo, Mas." Reka gandeng lengan Irwan. Irwan mengerjap heran, tak percaya Reka menyentuhnya terlebih dahulu. Beberapa detik kemudian barulah dia sadar kalau Reka memerlukan seseorang yang bisa menjadi tameng untuknya.
"Kalau begitu kami permisi," pamit irwan sambil mengeratkan gandengan tangan Reka. Ujung bibirnya sedikit terangkat. Kesempatan dalam kesempitan. Batinnya bahagia.
Setelah merasa cukup jauh, Reka tarik tangannya. Tapi Irwan dengan cepat melingkarkan tangan Reka kembali ke lengannya. "Kalau bersandiwara jangan nanggung," ucap Irwan meremehkan.
"Iya." Reka mendengus kesal sambil mengikuti langkah lebar Irwan.
Di perjalanan pulang.
"Mas, bisa cari masjid terdekat," pinta Reka dengan perasaan gundah. Ia resah karena belum menunaikan tugasnya sebagai umat.
"Kenapa? Kamu kebelet?" tanya Irwan.
__ADS_1
"Bukan. Aku belum salat. Waktu magrib hampir habis," terang Reka seraya menengok kanan kiri jalanan dengan pandangan gelisah.
Irwan pun mengikuti keinginan Reka. Menepi dan menunggunya di parkiran masjid. Ia hisap sebatang rokok. Memperhatikan dengan seksama Reka yang sedang khusyuk berdoa.
"Kamu memang berbeda Reka. Beda dari kebanyakan gadis yang aku kenal," gumam Irwan seraya membuang puntung rokoknya ke tanah. Menginjaknya dengan kuat tanpa mengalihkan pandangan matanya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
****
Tibalah mereka di mansion.
"Cepat mandi dan buang baju itu!" perintah Irwan ketika membukakan pintu mobil untuk Reka.
"Iya." Reka menjawab singkat, melangkahkan kaki menuju rumah. Dirinya sudah benar-benar lelah. Berpura-pura bahagia di depan orang yang disayang memerlukan tenaga lebih.
"Terus pintu kamar jangan dikunci. Malam ini aku akan tidur bersamamu," ucap Irwan sedikit berteriak. Reka yang sudah melangkah agak jauh langsung menghentikan kakinya. Memutar tubuh, menatap Irwan yang sedang mengemudikan mobilnya kembali, masuk ke dalam garasi.
"Apa maksudnya itu. Biasanya dia tidur sendiri. Kenapa malam ini ingin tidur bersamaku?" Reka bermonolog dan tiba-tiba ingatan tentang malam itu kembali terlintas.
"Tidak ... tidak. Tidak mungkin dia menyerangku lagi, 'kan. Dia sudah berjanji akan berlaku baik padaku," gumamnya menenangkan hati sendiri.
Tapi selain berjanji tidak akan menyerangku, dia juga mengatakan akan menjadi suami yang baik.
Reka menggigit ujung kuku ibu jarinya.
Apa dia akan meminta hak-nya sebagai suami malam ini?
Reka langsung gemetar. Dengan cepat masuk kedalam kerumah. Melangkahkan kaki lebar menuju kamar, mengunci pintu rapat-rapat. Baiklah, dengan begini dia tidak akan bisa masuk. Reka membatin dengan embusan napas lega.
****
Jeng jeng jeng.
Kira-kira Irwan mau apa ya?
__ADS_1
Hehehe ....
Yukh jangan pelit-pelit. like komen dan Vote-nya ya gaes.