
"Bedebah! Mau cari mati rupanya." Irwan keluar dari mobil. Menggeram dengan mengetatkan rahang serta jemari tangan. Tanpa diduga, tiga orang berbadan kekar keluar dari mobil itu seraya membawa tongkat bisbol. "Heh, siapa kalian!" seru Irwan yang tak kenal takut. Menatap nyalang secara bergantian pada tiga orang lelaki bermasker dan bertubuh besar.
"Banyak bacot lu." Bugh! Sebuah tinju melayang dari pria yang memegang tongkat bisbol. Memukul tepat mengenai rahang Irwan hinga Irwan terdorong dan tersungkur ke aspal. "Cepat pegang dia!" perintah pria itu pada dua orang lainnya. Tanpa memerlukan banyak waktu Irwan yang sudah terggeletak langsung diangakat paksa oleh dua kawanan penyerang itu. Memegang kuat lengan kiri dan kanan Irwan tanpa rasa kasihan.
"Hei! Apa mau kalian!" Irwan meronta mencoba lepas dari kuncian dua pria bermasker hitam.
Bugh! Kembali pukulan mendarat di tempat yang sama. Membuat darah segar mengalir dari ujung bibir sebelah kiri Irwan.
"Sebenarnya apa mau kalian!" Pertanyaan itu kembali terlontar dari irwan yang sudah kewalahan. Tubuh tegapnya tak sebanding dengan dua orang yang berperawakan besar dan berotot yang memegangnya dengan sangat kuat
"Sialan, apa sebenarnya mau kalian!" Irwan masih berang. Mendapat pukulan dua kali tak menyurutkan darah panas yang sudah terlanjur mengalir di nadinya. Darah dari sang ayah yang juga suka berperilaku kasar.
"Besar juga nyali lu. Ha-ha-ha ...." Terdengar tawa hambar dari pria yang ada di hadapannya. Pria yang memukulnya tanpa berkedip.
"*******! Sebenarnya siapa kalian? Apa mau kalian!" Irwan masih melotot. Tidak puas karena pertanyaannya tidak terjawab.
"Gak penting kita siapa. Yang jelas, lu harus lepasin Reka. Dia itu gak cinta ama elu. Reka itu udah ada yang punya, paham!" jelas pria itu. Menggulung kemeja hitamnya hingga siku, berjalan mendekati mobil Irwan dan prang! Kaca depan mobil Irwan pecah berderai, hancur berantakan berserakan di aspal. Kemudian tongkat bisbol itu kembali terayun kebagian atap mobil hingga penyok, kehilangan lekukannya. Kaca spion pun tak luput dari amukan pria itu. Dalam beberapa detik saja semuanya hancur. Remehan kaca berserakan.
"Jahanam! Lepasin gak! Irwan kembali meronta. Ia benar-benar murka. Mobil Lamborghini Aventador mahal koleksinya sudah kehilangan bentuk estetika. Hancur, penyok dan tak mungkin bisa kembali utuh seperti semula.
"Ini peringatan!" Nada suara itu kembali menyudutkan Irwan. Dan tak berapa lama sebuah saputangan mendarat di mulut Irwan. Irwan kembali melawan. Tapi apa daya, penglihatannya mulai berkurang, berkunang, buram dan tak lama kemudian gelap. Irwan tak bisa mempertahankan kesadaran dan akhirnya tergelatak tak sadarkan diri.
****
Di ruang VVIP rumah sakit.
Irwan merasakan tubuhnya seakan tertindih batu besar, terasa berat. Namun, dengan kesadaran seadanya ia coba mengerjapkan mata. Berusaha mengenali di mana ia kini.
__ADS_1
"Elo udah bangun?" tanya seorang wanita yang dirinya kenal bernama Clara.
Irwan mengerang pelan. Mengumpulkan tenaga untuk duduk. "Gue di rumah sakit, ya?" tanyanya. Memegang pipi seraya menggerakkan rahang yang terasa begitu ngilu.
"Gimana ceritanya bisa kaya gini, sih." Melati yang baru masuk langsung menimpali. Heran sekaligus cemas dengan apa yang menimpa Irwan.
"Entahlah, gue juga gak tau. Tiba-tiba mereka mukulin gue sampe bonyok begini," terang Irwan. Mencoba beringsut, beranjak dari kasur, akan tetapi dirinya yang masih oleng membuatnya kembali kehilangan keseimbangan dan tidak sengaja bertumpu pada tubuh Clara. "Jangan bangun dulu," larang Clara dengan wajah yang sudah merona. Degup jantungnya seakan berlomba. Mendapati Irwan berada dalam pelukannya.
"Mas Irwan!" seru Reka yang baru tiba.
Melihat pemandangan tak mengenakkan itu membuatnya ingin marah. Apa ini. Apa aku cemburu? Reka manarik napas panjang, mengontrol emosi yang tak pernah ia bayangkan. Ia dekati Irwan dan duduk ditepi ranjang. "Mas, kamu kenapa bisa kayak gini?" Suara Reka terdengar bergetar. Ia pegang rahang tegas Irwan dan mengusapnya lembut.
"Kamu kenapa bisa ke sini? Siapa yang ngasih tau?" Irwan mengabaiakan pertanyaan Reka dan bertanya dengan mata mereka yang sudah bersitatap, penuh kehangatan. Membuat Clara memalingkan wajah, tidak suka. Pandangan mata Irwan kepadanya dan Reka sungguh sangat berbeda.
"Gue yang nelfon dia," sela Melati.
"Iya, bisa." Melati menjawab apa adanya. "Administrasi nanti biar gue yang urus," lanjut Melati.
****
Di kamar.
Reka mengelap dengan perlahan wajah memar Irwan dengan air hangat. Membersihkan sisa-sisa darah yang masih melekat. "Kenapa, Mas?" tanyanya heran. Merasa ada yang aneh dengan tatapan itu. Pandangan tanpa ekspresi yang membuatnya bertanya-tanya. Apakah ada yang salah?
"Sayang, apa kamu pernah pacaran?" tanya Irwan datar.
"Gak pernah, aku cuma menyukai bang Aan. Dan gak pernah sekalipun berniat pacaran dengan orang lain." tegas Reka. Menyipitkan mata karena harapanya tidak pernah tercapai karena Irwan.
__ADS_1
Namun Irwan mengabaikan pandangan sinis itu. Ingin mengorek lebih dalam masa lalu wanitanya "Masa iya gak pernah pacaran?" Irwan memaksakan senyuman. "Tapi kalo yang nembak kamu, ada gak?"
"Maksudnya apaan sih. Kamu curiga sama aku, gitu?" Reka mulai cemberut dan menghempaskan sapu yang ia pegang ke dalam baskom, membalik badan membelakangi Irwan.
"Tinggal dijawab aja. Gak usah pake marah-marah," ujar Irwan dengan nada datar. Meletakkan baskom penuh air hangat ke atas nakas dan mulai merapatkan dirinya pada tubuh Reka. Memeluk erat dari belakang.
"Gak ada," jawab Reka cepat.
"Pikirin dulu, hmm ...." Irwan meletakkan dagunya ke pundak Reka. Menghirup dalam aroma mawar dari rambut Reka yang tergerai.
Reka terdiam sesaat, mengikuti permintaan Irwan untuk mengingat. "Gak ada, kalo waktu sekolah dulu ada. Namanya Dito, siswa jurusan IPS." Reka berkata seraya memutar tubuh. Menangkup kedua belah pipi Irwan dan menatap mata itu dengan lekat. "Sebenarnya ada apa?"
Irwan menggeleng dengan cepat. Mendapati ada kejujuran dalam manik mata Reka membuatnya mengusir jauh rasa curiga itu. Ya, Reka sekarang milikku. Siapapun gak berhak mengambil wanita ini. Irwan membatin penuh keyakinan dan seketika itu juga teringat kembali saran Chandra. Baiklah, ada baiknya aku bikin dia hamil. Biar dia tidak bisa lari dariku. Irwan menyeringai, menatap mata Reka yang sedari tadi melihatnya. Dan tanpa diundang, libido telah menguasai Irwan. Irwan daratkan wajahnya. Mengesap dengan cepat bibir Reka seraya membuka kancing kemejanya. Bermain pada daging tak bertulang yang sudah menjadi candu untuknya. Memperdalam pagutan dengan menekan belakang leher Reka. Memasukkan, melilitkan, menyalurkan hasrat yang sudah tak terbendung.
"Mas, jangan sekarang. Kamu masih sakit," tolak Reka setelah tabrakan halus itu selesai. Mendorong pelan dada Irwan dan berdiri dari sisi ranjang.
"Mau ke mana?" Irwan tarik cepat pergelangan tangan Reka. Reka berputar dan terduduk tepat di pangkuan Irwan. "Yang sakit kan rahang, bukannya Thomas." Irwan berucap seraya tersenyum miring, membuat Reka mengernyitkan kening, bingung.
"Thomas?" ulang Reka.
"Iya, Thomas." Irwan meraih tangan Reka dan menuntunnya menuju antara dua pahanya. Dan benar saja ada yang berdiri tegak di dalam sana.
"Ih, Mas ini ...." Wajah Reka mendadak merah. Dengan cepat ia tarik tangannya dan memegang kedua belah pipi yang sudah menghangat.
"Ayolah ... emb," bujuknya. "Kita bikin dek bayi," lanjutnya kemudian.
"Mas Irwan!"
__ADS_1