
Warning!
Anak di bawah umur harap menyingkir.
****
Tengah malam.
Sepasang mata Irwan enggan untuk terpejam, menatap plafon dengan pandangan kosong. Perasaan rindu pada sang ibu kembali menelusup, membuat bola matanya bergerak liar dan terjaga hampir tiga jam lamanya. Semoga mami tenang di sana. Irwan membatin disela helaan napas. Kemudian kembali menutup mata mencoba untuk terlelap. Tapi percuma saja, netranya seolah ingin melihat keindahan daripada ratapan.
Dengan perlahan Irwan memutar tubuh. Menghadap wanitanya yang sudah lama terpejam.
Bagaimana bisa kamu tidur nyenyak begini? Harusnya kamu bertanggung jawab lebih dulu. Irwan bermonolog dalam hati, sedikit merajuk karena Reka sudah tertidur saat dirinya masuk ke dalam kamar.
Namun tak lama, kekesalan itu berubah menjadi senyuman. Dengan perlahan ia sibak anak rambut yang menutupi paras cantik dan bersih istrinya.
Kamu sangat mempesona, batinnya memuji. Kemudian diusap dengan pelan pipi kenyal itu.
"Kamu seperti hadiah serta hidayah di hidupku, Reka. Aku bersyukur memilikimu, walaupun cara kita bertemu jauh dari kata baik. Tapi aku janji, aku akan selalu menjagamu. Aku akan bertanggung jawab padamu dan kita akan menua bersama." Irwan tersenyum getir. Digerakkan kembali jemari tangan ke arah bibir Reka yang ranum dan seketika itu juga senyar hasrat mulai mencuat.
"Ah ... kenapa sulit sekali menyentuh hatimu?" lirihnya lagi sembari mengembuskan napas dengan pelan agar Reka tidak terganggu.
Irwan dekatkan tubuhnya. Mendekap Reka yang sudah berada dalam dunia mimpi. "Kamu begitu pintar menyiksaku. Bisa-bisanya kamu tenang begini setelah membuatku ge-er ."
Irwan kembali bergumam pelan, mengingat insiden lima detik itu membuatnya menipiskan bibir.
Setelah sekian detik memeluk, aroma mawar yang lembut dari rambut Reka menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Irwan. Sialnya wewangian itu semakin membangkitkan keinginan mencumbu menjadi berkali lipat.
Astaga, tenanglah ... sekarang bukan waktunya, batin Irwan, mencoba menenangkan Thomas yang sudah jumpalitan di dalam celana.
Tidak berapa lama, Reka pun bergerak pelan. Merasa ada benda berat yang menindih tubuh, tindihan yang memberikan sensasi hangat dan juga nyaman.
"Eugh ...." Reka tersenyum dalam lenguhannya, tapi beberapa saat kemudian senyum itu hilang dan berganti menjadi kerutan di kening. Ia perlahan membuka mata dan refleks mendorong dada Irwan dengan tenaganya yang tak seberapa.
__ADS_1
"Mas Irwan ngapain!" hardiknya dengan suara serak. Reka betulkan posisinya, duduk memeluk selimut dengan erat, seakan kain tebal itu adalah nyawanya.
Irwan yang melihat ekspresi terkejut Reka menjadi tersenyum, tak lama kemudian menjadi gelak tawa yang menggema memenuhi tiap sudut kamar mereka. Jahat memang, wajah cemas Reka selalu sukses menggelitik dirinya untuk tertawa.
"Hey, tenanglah." Irwan mencoba menetralkan perasaan lucu yang masih menggerogoti. "Melihatmu begini membuatku seakan memiliki sindrom deja vu saja," sambungnya kemudian. Tawa renyah Irwan pun kembali terdengar.
"Ish, apaan sih!" Reka menggerutu, mengalihkan pandangan dengan wajah cemberut. Ditertawakan seperti itu membuatnya tersipu. Marah pergi, malu pun menghampiri. Tak dipungkiri, pesona dari wajah Irwan begitu kuat. Memberikan senyar aneh di hati Reka.
"Sana, jauh-jauh tidurnya." Reka memasang muka galak. Kembali membaringkan tubuh dan membalut diri dengan selimut.
Apa ini, apa ada masalah dengan mataku? Kenapa wajahnya sekarang menjadi begitu tampan? Terus kenapa aku jadi salah tingkah begini. Ya Tuhan, apa aku sudah mulai menyukainya?
"Hey, mau ngapain?" tanya Irwan yang sudah bisa menghentikan tawa. Ia dekati lagi Reka yang sudah berbaring dengan posisi memunggunginya.
"Mau tidur." Reka menjawab singkat, kemudian memejamkan mata dengan kuat. Malas meladeni Irwan yang suka se-enaknya sendiri.
"Ck, kenapa tidur? Kamu itu ada salah, jadi harus dihukum." Irwan berucap dengan nada tinggi, seolah dia adalah tirani yang sedang menghukum pengkhianat.
Tak terima, Reka kembali duduk, menatap serius Irwan yang telah menuduhnya.
Irwan memicingkan matanya. "O ... sudah berani kamu, ya. Berani membantah suami. Hukumanmu pasti tambah berat, Reka!" Irwan mengetatkan rahang.
"Apa! Apa hukumannya?" Reka menatap penuh keberanian.
"Ini." Irwan langsung memajukan wajahnya. Menabrakkan bibir mereka, meraih bibir yang sedari tadi memanggilnya. Bibir yang membuatnya tak bisa fokus pada apapun semenjak insidan di taman tepi jalan. Bibir yang membuatnya berkali-kali menelan ludah. Bibir yang membuatnya kecanduan.
Merasa tak ada perlawanan, Irwan pun melepaskan pagutan. Memberikan jarak dengan napas yang sudah memburu.
"Hey, kenapa kamu menjadi kaku begini? Bukankannya tadi sore begitu lihai," ucap Irwan sembari tersenyum miring. Memandang heran Reka yang menutup mata dan bibirnya dengan kuat.
"Apaan sih, itu 'kan situasinya darurat," jawab Reka setelah membuka mata. Mendorong kuat tubuh Irwan agar menjauhinya.
"O ... jadi kamu PHP-in aku, begitu!" Irwan berkata dengan suara ketus. Menyipitkan mata, menatap tak suka pada Reka yang sudah mempermainkan perasaannya.
__ADS_1
"T-tidak, b-bukan begitu maksudku ...." Reka menghela napas panjang.
"Lalu apa! Apa mempermainkan aku membuatmu senang! Ayo cepat, jelasin!" cecar irwan. Matanya mulai melotot, berkabut kekesalan.
"A-aku ... aku sudah memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua padamu, Mas," lirihnya dengan menundukkan pandangan. Meremas-remas jemarinya dengan kuat.
Mendengar perkataan jujur itu membuat Irwan serasa ditumbuhi sayap. Senyum pun merekah sempurna di bibirnya yang tebal. Ia rengkuh tubuh Reka yang tertunduk. Mengusap pelan rambut itu. "Terima kasih banyak," ucap Irwan. Beberapa detik kemudian ia lepaskan pelukan, mengangkat dagu Reka dengan jari telunjuknya.
"Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan hanya akan setia sama kamu." Seulas senyum terbentuk di bibir Irwan.
"Kita akan memulainya dari awal. Kamu siap?"
Reka mengernyitkan dahi, tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya. "Maksudnya?"
"Aku tau, malam itu begitu membekas di sini dan sini." Irwan menunjuk kening kemudian di tengah dada Reka sedikit ke kiri.
"Jadi, aku akan menghapusnya, mengganti kenangan buruk menjadi kenangan indah di sana," imbuhnya lagi.
"Kamu siap, 'kan?" Mata mereka masih bersitatap. Penuh arti di dalam manik coklat Irwan yang tak bisa Reka jelaskan dengan lisan.
"B-baiklah," jawab Reka, tersipu malu. Wajah sudah merona, membayangkan apa yang akan terjadi beberapa detik lagi.
Tanpa pemberitahuan, naluri keduanya pun memimpin. Dengan pasti mereka mengikis jarak. Mengesampingkan rasa malu juga gengsi. Yang ada hanya keinginan untuk saling memiliki. Menuruti gejolak yang sudah membara. Hingga suara cecapan pun tak terelakkan, memberikan bukti bahwa mereka siap memulai segalanya.
Irwan yang merasa Reka juga membalas permainannya menjadi bersemangat. Tak ada paksaan dan tak ada ancaman. Keduanya saling menikmati, saling menginginkan satu sama lain.
"Terima kasih." Irwan berucap dengan suara lirih. Tersenyum tipis, membuat Reka terhipnotis olehnya.
Malam makin larut, tapi tak menghalangi mereka untuk berbaur. Ingin cepat menikmati dan memberi kebahagiaan.
"Aku mulai, ya." Irwan langsung memasang kuda-kuda. Bersiap memberi dan menerima. Ya, walaupun bukan malam pertama, tapi mereka sama-sama ingin pergi ke puncak surga.
Tiba-tiba Reka mendorong dada Irwan. Matanya mengisyaratkan kegelisahan. Takut, kenangan itu kembali melintas jelas di ingatan.
__ADS_1
"Tenanglah, ini tidak akan sesakit dulu." Irwan berucap dengan melayangkan senyum hangat.