Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Kencan.


__ADS_3

"Kesempatan? Hah, tidak!" Menghapus jejak air mata. Tidak, tak hanya air mata. Ia ingin melenyapkan sumbernya. Ya , Irwanlah titik deritanya. Beberapa hari lalu mungkin Reka masih berharap kembali pada Irwan. Menginginkan perubahan sikap dan berharap kedewasaan Irwan. Namun semuanya hanya hayalan. Irwan tetap saja pemaksa dan egois.


Reka menyerah akan cinta. Rasa yang selalu berakhir dengan kecewa. Pertama Andra dan sekarang Irwan. Kenapa Reka tak begitu beruntung dalam percintaan? Entahlah, lagi-lagi semua hanya jadi rahasia Tuhan. Dan karena itulah ia menyerah. Tenaganya sudah terkuras habis hanya untuk menenangkan diri. Bertekad, Reka memutuskan mengesampingkan kata cinta itu sendiri. Karena ia sudah lelah, bertahan dengan takdir Tuhan bukanlah perkara mudah. Belajar berdamai dengan kenyataan, tapi kenyataan dapat melumpuhkan asa dengan perlahan. Simalakama, bertahan sakit, pergi lebih sakit.


Mengejar. Irwan peluk tubuh kurus wanitanya dari belakang. "Jangan pergi." Pelan, ada jejak keputusasaan dalam nada suara itu. Suara yang menggetarkan hati Reka. Goyah? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


Reka meronta. Ingin lepas dari pelukan juga genggaman Irwan. "Lepasin!"


"Gak mau."


"Kamu gila." Reka masih berusaha melepaskan diri dari eratnya pelukan Irwan. Apalagi beberapa pengguna jalan menatap aneh pada mereka. 'Tak pantas,' mungkin itulah arti tatapan orang lain pada mereka.


"Mas, panggil aku 'Mas'. Aku masih suamimu." Memeluk makin posesif. Mencium dalam cengkuk leher Reka. Irwan tersenyum, dapat kembali menghirup aroma tubuh yang berbulan-bulan ini menjadi semangatnya.


Menggeram, Reka kewalahan. "Kamu bukan dokter, Irwan. Kamu ini pasien. Kita bukan lagi suami istri. Lepasin gak. Aku malu."


Tersenyum miring. Irwan balik tubuh Reka hingga menghadapnya. Mengunci bola mata Reka yang berkabut kekesalan. "Makanya jangan kabur. Ayo, masuk." Irwan menuntunnya kembali ke dalam mobil. Dan Reka mau tak mau harus patuh. Daripada dipandang jelek oleh orang lain. Ya Tuhan, kenapa hidupku dipenuhi buah simalakama?


Di pantai. Mereka berakhir ada di pantai. Reka yang tidak membawa ponsel dan hanya ada uang alakadarnya di saku celana terpaksa pasrah ketika Irwan membawanya. Diculik, itu sepertinya kata yang pas untuk situasinya sekarang


Reka terpejam. Membiarkan wajah diterpa angin, menghirup aroma laut serta membiarkan suara deru ombak merasuk ke indra pendengaran. Tenang? Ya, sedikit mengobati rasa dongkol akibat Irwan.


"Lagi ngapain?"

__ADS_1


Irwan datang dengan sekantong cemilan juga minuman. Makanan ringan untuk menemani kencan mereka yang terlambat. Irwan tersenyum lega, Reka tak kabur saat ia tinggal berbelanja. Diletakkan barang bawaannya dan duduk bersebelahan dengan Reka di pondok pinggir pantai.


Reka yang tersentak kaget otomatis membuka mata. Menautkan alis ketika melihat barang yang dibeli Irwan. "Banyak banget, siapa yang mau makan ini semua."


Irwan menipiskan bibir. "Kita."


Mencebik, Reka alihkan pandangannya. Melihat gulungan air yang begitu ganas menerpa bibir pantai. Memperhatikan buih pecah terkena pasir.


Hening, keduanya bungkam. Hanya suara ombak yang menengahi kebisuan mereka. Karena seperti biasa, mereka selalu mengutamakan isi kepala masing-masing hingga tak terasa lima belas menit pun telah berlalu. Dan ketika Reka membuka mata, jajanan sudah hampir habis dimakan Irwan.


"Laper?" tanya Reka, heran. Nafsu makan Irwan memang besar namun sedikit berbeda kali ini. Irwan seperti tidak makan berhari-hari.


Tersenyum dengan mulut penuh makanan. Irwan hanya dapat mengangguk pelan. Meraih botol air mineral dan membukanya. Mendorong sisa roti isi dengan air yang masih belum terkunyah sempurna. "Iya. Belum makan dari kemarin."


Irwan geserkan tubuh, mendekat, dan tanpa malu merebahkan kepalanya di paha Reka. Menghadap perut. "Aku mau istirahat sebentar di sini."


Reka mematung. Rasa gugup mendadak datang. Serasa menjadi ABG lagi. Degup jantung mulai menggila dan pipi sudah menegang tatkala memperhatikan paras tampan Irwan. Apa ini? Kenapa aku jadi salting begini? Reka ingin menolak. Tapi pria itu sudah terlebih dahulu terpejam.


Reka perhatikan dengan seksama. Wajah yang setahunan ini wara-wiri di mata. Entah itu marah atau senyuman. Yang jelas membuatnya merasakan rindu.


Kenapa jadi begini. Kamu yang udah membuangku, tapi kenapa kamu yang jadi mengerikan begini. Menarik napas panjang. Reka belai pelipis Irwan yang masih menyisakan bekas luka di sana. Menyentuhnya dengan perlahan. Gak, aku harus kuat. Jangan tertipu rayunya. Manusia ini bahkan pernah berjanji akan bersikap baik. Tapi apa? Dia malah tidak mempercayaiku.


Reka membuang muka. Menarik tangannya dari wajah tirus Irwan.

__ADS_1


"Kenapa gak dilanjutin?" Irwan membuka mata. Menatap Reka yang memasang ekspresi terkejut. "Apa kamu masih marah?" lanjutnya.


Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu. Reka mendengkus, memalingkan pandangan kembali ke arah pantai. "Gak. Karna ini memang yang terbaik. Aku memang marah. Tapi kita harus ambil sisi positifnya. Mungkin kita gak berjodoh," ucap Reka datar.


Irwan betulkan posisinya. Ikut memandang arah di mana mata Reka terarah. "Maaf ... aku sadar, akulah yang bersalah. Dan kamu berhak membenciku, Reka. Tapi, plis jangan menjauh." Irwan mengiba. Menyisakan senar ketidaknyamanan di hati Reka.


"Kenapa begitu? Bukankah kamu yang menyuruhku pergi." Reka berkata dengan sedikit emosi. Dari awal sudah berniat tenang tapi tetap saja pikiran dan perasaan lagi-lagi tidak sejalan.


Menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat. "Aku memang bodoh. Siska menipuku. Dialah yang mengatur pengeroyokanku dan fotomu. Dia yang membuat cerita seolah kamu selingkuh." Irwan menjelaskan. Ia raih tangan Reka dan meletakkannya di dada. "Terasa, 'kan. Aku benar-benar sudah jatuh cinta sama kamu." Irwan melebarkan senyum. "Beri aku kesempatan lagi, ya.


Sumpah demi apapun, Reka terlena. Serasa ada sesuatu yang tak kasat mata menggelitik hati. Membuat pipi menegang. Belum lagi ritme jantung lebih cepat dari biasanya. Ia melambung saat Irwan mengatakan cinta. Itu membuktikan bahwa perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Tak menyangka Irwan yang dari awal menolak keras cinta malah mengatakan cinta padanya terlebih dahulu. Tapi ada satu pemandangan yang membuat air muka Reka kembali muram. Cincin yang tersemat di jari Irwan bukanlah cincin pernikahan mereka.


"Pembohong, minggir!" Reka tepis tangannya dan mendorong dada Irwan hingga pria berkaos polos itu terjungkal ke belakang.


"Argh!" Erangan kecil keluar dari mulut Irwan. Ia juga kesulitan mengatur posisinya. Seperti pesakitan yang sekarat, Reka tak tega melihatnya. "K-kenapa? Ada apa dengan punggungmu, Mas?" Merasa bersalah, Reka tenarik tangan Irwan, membantunya duduk.


Irwan tak menjawab, dan Reka yang penasaran langsung menyibak kain yang menutupi punggung mantan suaminya.


"Ya Allah, Mas. K-kenapa bisa begini?" Berkaca-kaca. Reka berkata dengan bibir bergetar. Pedih dan sedih melihat punggung Irwan yang memar, merah dengan bentuk memanjang. "Kamu dicambuk?"


Menurunkan baju, Irwan mengukir seulas senyuman berjejak ketidakberdayaan. "Papi, ini karna aku berusaha menolak pertunangan yang dia atur," jelas Irwan.


"Astaghfirullah ...."

__ADS_1


"Aku sudah bertunangan dengan Clara, Reka." Irwan mengembuskan napas berat, meraih tangan Reka dan menggenggamnya dengan hangat. "Tapi, jangan tinggalin aku, ya, plis ...."


__ADS_2