
"Sini kamu!" titah Irwan selanjutnya.
Reka yang tak tau pasti kenapa Irwan memanggilnya, tentu saja mendekat dengan pertanyaan memenuhi otak.
Kenapa ini? Ada apa lagi? Apa dia akan menyerangku?
Reka melangkah perlahan dan berdiri di sebelah Irwan.
"Kenapa, Mas?" tanyanya dengan menahan perasaan gugup yang menjalar di seluruh tubuh. Bagaimana tidak? Mengingat sifat Irwan yang sama sekali tak bisa di prediksi, membuatnya selalu berhati-hati.
Tanpa diduga Irwan tarik tubuh Reka. Reka tercekat. Dengan cepat ia sudah duduk tepat dipangkuan Irwan.
Ada apa ini? Ibuk ... Eka takut.
Reka bahkan tak berani menoleh ke arah kiri, melihat wajah Irwan. Yang ia lakukan hanya mematung, menahan napas juga degupan jantung yang seolah meledak-ledak di dalam sana. Pandangannya fokus ke depan dengan mata yang terbuka lebar.
"Sakit?"
Suara datar Irwan kembali menyadarkan keterkejutan Reka. Reka yang tak tau arah pertanyaan itu langsung menggeleng cepat. Sakit atau tidak ia ingin segera angkat dari pangkuan Irwan.
"Jangan bohong kamu," ucap Irwan. Kini suaranya terdengar normal. Menandakan aura kejamnya sudah sirna. Dengan perlahan Irwan ambil kotak P3K yang ada di bawah kursi istirahatnya. Ia obati bekas gigitannya di leher Reka. Reka sesekali menggeliat halus saat Irwan menghembus, menekan luka dengan cottom bads yang sudah diberi betadin.
"Sudah," imbuh Irwan lagi setelah merekatkan hansaplas di leher jenjang Reka.
Reka langsung berdiri. Menahan tabuhan di dada yang semakin menjadi. Ia sipitkan matanya pada Irwan yang sedang mengunyah kue buatannya.
Terbuat dari apakah makhluk ini?
"Kenapa menatapku begitu? Kau ingin memakanku?" tanyanya tanpa menoleh Reka.
"Ah ... tidak. Kalau begitu saya permisi," jawab Reka terbata-bata. Reka membalik tubuh, berjalan hendak meninggalkan Irwan.
Sebenarnya ada berapa mata pria itu, menyebalkan! Gerutu Reka menggeram, heran.
"Tunggu."
Lagi, Reka berjengit, langkah terhenti dengan kata singkat yang Irwan ucapkan. Reka putar tubuhnya, menatap punggung tegap Irwan.
"Malam ini ikut aku. Kita pergi kesuatu tempat," ujar Irwan seperlunya.
Walaupun banyak pertanyaan di kepala. Reka tetap memilih bungkam. Ia kembali melanjutkan langkah, meninggalkan Irwan yang masih setia bersantai di balkon mansion.
****
Melati, Clara dan beberapa teman sejawat mereka keluar dari sebuah restoran.
__ADS_1
"Kalian balik lagi, kan?" tanya Melati pada salah satu temannya yang bertugas di ruang UGD.
"Ya iyalah. Mana bisa ditinggal. Apalagi tadi ada beberapa pasien masuk karena kecelakaan. Jadi gak bisa lama-lama ninggalin rumah sakit," terang salah satu dari mereka yang bernama Sita.
"Eh btw, terima kasih ya traktirannya, Ra. Kalau gitu, kita-kita pamit dulu," imbuh Sita lagi dan hanya direspon senyuman ramah dari Clara.
"Ayo, gue anter pulang," tawar Melati seraya berjalan menuju parkiran.
"Eh Mel, gue boleh nanya gak?" ucap Clara yang terlihat gelisah memandang Melati yang sedang fokus menyetir.
"Apaan?" tanya Melati balik, tanpa menoleh.
"Lo udah lama ya kenal sama Irwan?"
Melati yang mendengar pertanyaan dadakan tentang Irwan hanya mendelik heran pada Clara.
"Udah dari kecil, kita bertiga udah bersahabat dari orok," jawab Melati sekenanya.
"Bertiga?" Clara mengernyitkan dahi.
"Iya, ada satu lagi sohib kita. Namanya Chandra. Kenapa?" tanya Melati balik yang lagi-lagi tanpa menoleh karena menatap jalanan yang lumayan padat.
"Ah enggak. Aku mau tanya aja. Si Irwan udah merit?"
Kini Melati menatap sekilas wajah Clara yang terlihat tersipu malu padanya. Ia sekarang paham arah pertanyaan Clara.
Clara terdiam. Malu untuk mengakui perasaan yang jelas sudah Melati ketahui.
"Mundur aja deh lo. Dia udah nikah. Mungkin baru sebulanan deh," terang Melati.
Wajah Clara berubah. Tadinya yang merona kini menjadi terlihat merana. Ia genggam ujung dress selutut yang ia kenakan. Seolah mewakili hatinya yang sudah patah sebelum bertunas panjang.
"Cantik?"
Clara masih penasaran siapa sosok wanita yang berhasil memiliki pria sempurna seperti Irwan.
"Hmm ... kalo menurut gue sih cantik. Gue pernah liat sekilas waktu di acara reuni. Kalau tingginya, kurang lebih kayak elo gini lah. Kulit juga putih bersih. Cuma agak pucet aja. Agak kurus juga. Gak kaya elo, semok dan bahenol. Bodi aja kayak gitar Spanyol," terang Melati seraya mengulum senyuman. Berharap pujiannya dapat menghibur Clara yang lagi patah hati.
"Tapi gue juga penasaran. Kenapa Irwan bisa nikahin dia ya. Setau gue, Irwan itu udah lama gak pernah deket sama perempuan. Semenjak dikhianatin pacarnya yang bernama Siska, dia gak pernah lagi mau kenal yang namanya cinta. Lumayan lama loh dia nge-jomblonya, kurang lebih sepuluh tahunan deh. Gue aja kaget pas denger dia mau nikah sama cewek Jogja itu. Padahal belum lama loh mereka kenal. Ee tau-tau udah merit aja," tandas Melati panjang lebar.
Clara menghela napas panjang.
"Anak orang kaya?" tanya Clara lagi. Mendengar penjelasan Melati membuat rasa penasarannya timbul dan ingin mengorek lebih jauh lagi sosok istrinya Irwan.
"Gue denger dari Chandra, keluarga bininya itu orang sederhana. Ayahnya seorang guru di Jogja sana. Dia juga awalnya mengajar, cuma sekarang udah enggak deh kayaknya.
__ADS_1
Clara kembali terdiam. Menahan perasaan tak suka yang mendadak muncul tanpa sebab. Apalagi setelah mendengar cerita Melati membuatnya mendesah pelan. Andai aku ketemu dia duluan.
****
Di dalam mobil Irwan terliahat kebingungan. Berkali-kali ia menyentuh layar ponselnya. Wajahnya terlihat gusar. Dan mata beberapa kali melihat ke sekeliling.
Sedangkan Reka juga tak kalah cemas. Sudah hampir dua jam mereka berkendara. Akan tetapi, tak kunjung tiba di tempat tujuan. Reka melirik gelisah pada sosok pria yang ada di sebelahnya. Ingin bertanya tapi rasa takut mengalahkan rasa penasaran. Membuat Reka tetap diam, manahan perasaan yang bercampur aduk.
Di mana ini? jangan-jangan kesasar.
Batin Reka berkecamuk. Melihat sekeliling yang sepi, tak ada pemukiman, terlebih lagi minim penerangan membuatnya bergidik ngeri, menghayal yang bukan-bukan.
"Tananglah, tidak akan terjadi apa-apa pada kita," ucap Irwan yang baru bicara setelah dua jam bungkam tak bersuara.
Apaan ... nyuruh orang tenang tapi wajahnya kelihatan lebih panik daripada aku.
Malam makin larut. Reka lirik jam gantung yang ada di kaca mobil.
Ya Allah, udah jam sepuluh malam tapi belum nyampe rumah. Aku beneran ngantuk banget.
"Kalo ngantuk, tidur aja," terang Irwan yang beberapa kali memergoki Reka menguap.
Nih orang bener-bener, berapa sih mata yang dia punya. Aku nguap ngumpet aja dia tau.
Batin Reka merungut, menggidikkan bahu. Kerena kantuk yang teramat sangat Reka pun memiringkan tubuh, mencari posisi tidur yang nyaman.
Sedangkan Irwan masih saja mengendarai mobil Sport Daihatsu Copen miliknya dengan perasaan tak menentu menjalari pikiran. Malam kian larut, gerimis mulai turun, tak berapa lama menjadi bulir air yang besar berjatuhan menerpa jalanan.
"Ah, sial banget sih!"
Irwan mendengkus kesal, sedangkan google maps yang ia lihat belum juga menuntunnya ke rumah Romi. Tiba-tiba sebuah motor dari arah berlawanan melaju ke arahnya. Irwan melindungi mata dengan lengan, tak mampu melihat lampu yang menyilaukan pandangan. Namun, bukannya berada tetap pada jalurnya, pengendara itu malah masuk ke jalur Irwan. Irwan panik, Irwan menginjak pedal rem, mobil berdecit nyaring. Dengan cepat ia banting stir mobil ke arah kiri. Mobil yang tak bisa menoleransi pergerakan mendadak Irwan langsung kehilangan arah, hingga akhirnya terguling, memasuki area persawahan.
****
Nah loh ....
Kenapa lagi itu?
Matikah Irwan?
Hidupkah mereka?
Ataukah mati?
Hayu dukung author dengan like komen dan vote. hanya dengan satu klik dari jmpol kalian sudah membahagiakan author.
__ADS_1
Dukunglah Author receh ini. Heheh