
Irwan menahan degup jantungnya yang menggila. Setelah melihat pesan itu, hatinya diselimuti aura kegelapan yang siap menelan siapa saja. Beberapa foto kebersamaan Reka dan Eldi mampu mengubah perasaan seorang Irwan. Ia yang tadinya ingin bertemu karena masakan, kini berubah haluan menjadi begitu ingin memberi Reka pelajaran.
"Sialan!" Irwan kepalkan tangan, geram. Berkali-kali memukul setir mobilnya dengan kuat. "Dasar tidak tau diri! Diberi kebebasan malah begini," ucap Irwan, mengetatkan rahang. Ia lemparkan ponselnya dengan kasar seolah memawakili perasaannya yang juga sudah gusar.
****
Perkataan Irwan tadi pagi masih terngiang jelas di telinga Reka. 'Aku mengawasimu!' Teringat juga tatapan menghujam Irwan yang begitu tajam membuat Reka mendadak menahan napas, cemas. Ia edarkan pandangan melihat kesekeliling. Aku gak lagi diikutin, 'kan? Ya Allah, semoga saja tidak. Reka bermonolog dalam hati. Menenangkan perasaan yang menjadi tidak karuan setelah bertemu Eldi.
Mempercepat langkah menuju parkiran mall yang diikuti Nara dari belakang. Di sana mereka telah ditunggu oleh pak supir yang ia kenal bernama Marno. Pria tua yang sudah lama bekerja kepada suaminya.
"Pak , cepetan kita pulang," pinta Reka dengan wajah yang sudah terlihat memucat seperti mayat.
"Iya, Nyonya."
"Sebenarnya ada apa, Nyonya?" Bingung, Nara benar-benar walanghati melihat gelagat Reka yang begitu ketakutan.
Tersenyum getir kemudian menggeleng pelan. "Gak apa-apa."
Resah, perasaan takut itu semakin menjadi ketika mengetahui ada mobil sedan hitam yang membuntuti mereka semenjak keluar dari mall. Ya ampun, aku benar-benar dibuntuti.
Tibalah mereka di mansion.
Reka berjinjit masuk melewati pintu rumah yang lumayan tinggi. Mengendap-endap dengan kedua belah mata yang tak henti memperhatikan sekeliling. Alhamdulillah, dia belum pulang. Reka membatin dengan perasaan lega karena tak melihat sosok Irwan di sana. Ia hanya melihat dua orang pelayan yang sibuk mengelap dan membersihkan ruang tamu.
Dengan langkah panjang cenderung tergesa-gesa, Reka berjalan menuju kamar. Ia tutup pintu dengan menahan dentuman jantung yang semakin bertabuh. Reka harap-harap cemas, akankah Irwan menyiksanya lagi karena bercengkrama dengan pria lain? Tangannya juga gemetar, berkali-kali ia tekan bibir bawahnya. Kengerian kembali menjalar hingga ke tulang. Mangingat bagaimana beringasnya sosok Irwan bila sedang marah.
"Ya Allah, lindungi aku."
Dengan menahan hawa kengerian, Reka ambil air wudu untuk menunaikan tugasnya, salat ashar. Reka tadahkan tangannya. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Maminta pengampunan juga perlindungan. Hatinya yang kacau ia curahkan kepada Sang Pencipta. Berserah pada Sang Khaliq pemilik semua makhluk.
__ADS_1
Reka buka mukena dan melipatnya dengan rapi seraya meletakkannya di atas nakas. Tiba-tiba ada keributan dari arah luar. Suara Irwan dengan jelas terdengar menggelegar memanggil namanya. "Reka! Di mana kamu!".
Astaga, dia tiba. Bagaimana ini?
Dengan cepat Reka melangkahkan kaki hendak mengunci pintu. Tapi sayang, Irwan yang sudah kesetanan membuka pintu, membantingnya dengan kuat. Irwan benar-benar terlihat menakutkan. Matanya merah padam menatap nyalang pada Reka yang berdiri di samping ranjang.
Dengan kaki lebar ia melangkah cepat, menghampiri Reka. "Dasar perempuan bingal! Sudah aku katakan jangan pernah membuatku marah!" hardik Irwan, mecengkran kuat kedua belah pipi Reka.
Reka menggeleng, menatap nanar mata Irwan yang sudah melotot tajam padanya. Sikap posesif Irwan mencuat. Membuatnya kembali menyerang Reka dengan agresif.
"Bukankah kamu sudah tau kalau aku tidak suka dilawan! Kau sepertinya harus diberi pelajaran tambahan, biar otakmu ingat apa resikonya bila menentang keinginanku!" ucap Irwan lagi. Napasnya terdengar kasar. Menahan gejolak api yang semakin besar. Ia hempaskan wajah Reka hingga Reka terbanting di atas ranjang besarnya.
Reka tentu saja panik. Tubuhnya mendadak kaku, apalagi Irwan sudah membuka satu persatu kancing kemejanya.
Dengan keberanian yang tersisa Reka berlutut di depan Irwan. Ia gosok-gosokkan telapak tangannya. Barharap Irwan tidak melakukan hal yang keji seperti dua tahun lalu. Ia bahkan rela hidup seolah mati. Demi menghindari kejadian itu. Reka tak rela disetubuhi oleh Irwan, walapun sudah sah menjadi suaminya.
"Ampuni aku. Itu hanya sebuah kebetulan. Aku tidak tau kalau dia juga ada di sana," ucap Reka dengan bibir yang bergetar.
Irwan menyeringai. Wajah iblis melekat kuat di senyuman itu. Melihat ketakutan Reka semakin menambah kebahagiaannya. Rasa benci dan birahi menyatu, membuat Irwan tidak menghiraukan air mata yang sudah mengaliri pipi Reka. Irwan hisap leher jenjang Reka dengan rakus. Sedangkan tagan satunya sudah mengepal dibagian atas terindah tubuh Reka. Reka mengerang, menolak tubuh Irwan. Akan tetapi, Irwan tak bergerak. Ia malah mendorong Reka hingga Reka terlentang begitu mudahnya. Dengan cepat Irwan mengungkung dan kembali menyerang Reka. Bermain dengan kasar bahkan menggigit gemas cengkuk mulus gadis itu.
"Tolong jangan ...."
Reka kembali merintih. Meminta belas kasih seorang Irwan. Irwan hentikan kegiatannya. Ia pandangi wajah kacau Reka seraya membuka sabuk celananya. Seringaian masih terlihat jelas membuat Reka tau apa arah pikiran Irwan.
"Aku sungguh tidak melakukan kesalahan. Kami hanya berpapasan. Kau harus percaya padaku," terang Reka. Matanya masih berkaca. Tak sanggup membayangkan kegilaan apa yang akan Irwan lancarkan selanjutnya.
"Bagaimaan aku bisa mempercayai perempuan-perempuan seperti kalian!" Geram, Irwan mengunci mata berkabut ketakutan itu dengan tatapan penuh kebencian. Bayangan masa lalu selalu melekat. Bahkan wanita baik seperti Reka ia anggap sama seperti Siska.
"Aku tidak sama seperti mantan kekasihmu, Irwan. Aku wanita terhormat. Orang tuaku selalu mengajarkan yang baik-baik padaku." Masih memelas. "Tidakkah kau bertanya pada orang suruhanmu? Apakah itu kebetulan atau kesengajaan," terang Reka mencoba menyadarkan Irwan yang seperti kehilangan akal.
__ADS_1
Sesaat Irwan terdiam, tanpa sadar membenarkan perkataan Reka dalam hatinya.
"Tolong jangan seperti ini. Percayalah padaku. Aku tidak pernah berniat kabur ataupun selingkuh."
Irwan mengusap wajahnya yang gusar. Ia beranjak dari kasur dan mengambil kemeja yang tergeletak. "Bangunlah. Aku lapar." perintahnya tanpa menoleh.
Tiga puluh menit berselang.
Dengan langkah hati-hati Reka menaiki anak tangga. Berjalan perlahan membawa nampan yang berisi puding oreo dan juga brownies dengan taburan kacang almond di atasnya.
Cih! Rasanya percuma aku membuatkan kudapan yang manis tapi perilakunya selalu jahat padaku.
Tibalah Reka di balkon rumah. Tempat Irwan biasa bersantai mengistirahatkan tubuhnya.
Dia kenapa? Kalau ingin tidur, kenapa tidak ke kamar saja?
Batin Reka kembali menggerutu melihat Irwan dengan tenang memejamkan mata di kursi santai yang terbuat dari rotan. Tubuh panjangnya terbaring indah dengan lengan menutup mata.
Bagaiama bisa dia sesantai ini setelah membuat aku begitu ketakutan? Dasar psikopath sialan!
Lagi-lagi Reka hanya bisa mengumpat dalam diam. Walaupun kebenciannya sudah menjalar ke ubun-ubun, tetap saja ketika menatap mata Irwan nyalinya kembali menciut.
"M-mas, ini cemilannya," ucap Reka terbata-bata. Dengan hati-hati Reka keluarkan isi nampan ke atas meja.
Namun, Irwan masih bergerak. Lengan masih setia menutup matanya.
Apa dia beneran tidur? Ya sudahlah, aku turun saja, batin Reka. Ia pun membalik tubuh, melangkah lumayan jauh meninggalkan Irwan.
"Tunggu!"
__ADS_1
Suara berat Irwan menghentikan langkahnya. Reka mematung. Mendengar suara Irwan membuat jantung Reka seperti melemah. Ia putar tubuhnya dan sudah melihat Irwan duduk, memunggungi dirinya.