
Suara gemericik air samar-samar masuk ke dalam indra mendengaran. Membuat Reka pelan-pelan tersadar dari alam mimpi. Ia mencoba menangkap kembali suara itu meski mata masih terpejam. Dahi Reka mengkerut, makin lama bunyian yang samar itu semakin terdengar jelas. Astaga! Reka membuka paksa matanya, duduk dan memandang tajam ke arah kamar mandi.
S-siapa y-yang ada d-di dalam sana?
Reka Memeluk selimut tebal seraya menggenggamnya erat. Ia lirik sekilas jam berbentuk minion di atas nakas. Siapa yang mandi di jam sepuluh malam di dalam kamarnya? Pertanyaan itu terus saja berputar-putar hingga suara gemericik air itu tak terdengar lagi. Dan tentu saja berimbas pada aliran darah yang ikutan terhenti, Reka pasi seketika. Ia sipitkan mata melihat arah pintu bathroom disertai dengan suara degup jantung. Dup dup, dup dup.
Ceklek.
Pintu terbuka, membuat Reka terkinjat tiba-tiba. "M-mas Irwan."
Reka sungguh terperangah melihat suaminya bisa masuk kedalam kamar padahal pintu sudah ia kunci dengan rapat.
"K-kapan masuknya? K-kenapa bisa?" Reka mendadak gagap. Apalagi setelah menyadari Irwan hanya menggunakan handuk yang melingkar di bagian pinggangnya. Di saat wanita lain mungkin setengah gila ketika melihat keindahan perut Irwan yang kotak-kotak. Reka malah sebaliknya. Ia gemetaran, ketakutan luar biasa merajai pikiran.
"M-mas kapan masuk?" Reka mengulangi pertanyaannya. Sedangkan Irwan yang menyadari kepanikan Reka hanya menipiskan bibir. Ia menggosok-gosok rambutnya yang dengan handuk kecil. Berkaca di depan cermin meja rias tanpa rasa bersalah.
"Tentu saja dengan kunci cadangan. Kenapa, kamu takut? Bukankah semalam kita juga tidur bersama," ucapnya tanpa ekspresi. Ia amati gelagat gelisah Reka dari pantulan cermin.
"T-tapi semalam 'kan situasinya berbeda," kilah Reka, ia urut jemarinya dan menundukkan pandangan.
"Ckck, apanya yang berbeda. Bukankah kita suami istri yang memang sewajarnya tidur sekamar? Lagipula aku suka tidur di sini," terang Irwan seraya membalik badan. Ia dekati Reka yang duduk di pinggir ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan tangan membentang di kasur.
Reka beringsut, menggeser pantatnya menjauhi Irwan. "B-baiklah, kalau gitu biar aku pindah ke kamar lain." Reka berdiri namun dengan cepat Irwan menarik tangannya. Reka jelas tak mampu menyeimbangkan tubuh dan akhirnya suara tubrukan pun tak terelakkan, Reka terbaring tepat di atas dada bidang Irwan. Lagi dan lagi, irama jantung Reka menggila dengan sempurna. Matanya terkunci oleh manik netra Irwan yang pekat. Reka khilaf sesaat. Terhipnotis akan ketampanan paras yang jika dilihat dari jarak dekat makin mempesona. Reka alihkan pandangan, mengontrol perasaan setelah mendapat sinyal aneh.
"Maaf," ucap Reka seraya mengangkat tubuh. Tapi, Irwan kembali menarik Reka kedalam dekapan. Kini ia arahkan telinga Reka ke dadanya yang bidang. "Coba dengarkan." Reka mengikuti instruksi itu tanpa melawan. "Tidakkah detak jantung kita seirama," ucap Irwan pelan, membuat Reka mengangkat kepalanya. Menatap penuh heran wajah angkuh Irwan. Apa maksud perkataannya? Reka kembali berusaha menjauh dari tubuh Irwan. Akan tetapi gagal. Reka terlentang dengan posisi Irwan berada di sebelahnya, mengunci pergerakan Reka dengan lengan kanan sedangkan lengan kiri menopang kepalanya.
"Kenapa menghindar?" bisiknya yang terdengar sesual.
__ADS_1
Reka gigit bibir bawahnya, gugup bukan kepalang. "A-aku aku ...."
"Stt ... aku paham. Aku tidak akan meminta hak-ku sebelum kamu siap," ucap Irwan yang masih setia memandang wajah istrinya yang memucat. Lebih tepatnya mata Irwan terfokus pada bibir Reka yang hampir tak berwarna.
"B-benarkah?" tanya Reka dengan mata sesekali berkedip. Ia hembuskan napas lega dengan perlahan dan tersungging senyum tipis, membat Irwan makin menginginkan daging tak bertulang itu.
"Emb." Irwan mengangguk pelan dengan memandang tepat hanya pada satu titik.
"Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan tugasmu, tapi bolehkan aku mencicipinya?" tanya Irwan ambigu.
Reka masih mengerjap. Tak berapa lama pupilnya melebar, tau maksud ucapan itu. Belum sempat Reka melisankan penolakan, Irwan telah terlebih dahulu menuruti hasratnya. Meraih bibir yang dari kemarin ingin dinikmatinya. Mengesapnya dengan perlahan agar Reka tak ketakutan. Merasa tak ada penolakan, Irwan jauhkan wajah. Menatap Reka yang berkabut kecemasan.
"Aku akan bertanya sekali lagi. Bolehkah aku menciummu?"
Reka ingin menolak tapi kepala terlebih dahulu mengangguk. Gila, aku pasti tidak waras. Kenapa aku setuju? Reka berniat menggeleng, namun kalah cepat dari Irwan. Bibir mereka saling bertabrakan. Irwan memejamkan mata, menikmati benda kenyal yang ia inginkan. Irwan hesap dengan penuh kelembutan. Bermain aman agar Reka tidak kembali shock.
Cukup lama Irwan bermain di sana. Dan setelah selesai, ia sunggingkan senyum mengembang yang tak pernah Reka lihat sebelumnya.
"Terima kasih karena tidak menolakku." Irwan lap bibir Reka dengan ibu jari kemudian menjatuhkan diri. Membenamkan kepala di ceruk leher jenjang Reka dan memeluk pinggang wanitanya dengan ketat, begitu posessif. Sementara Reka, diam mematung. Matanya saja yang mengedip berkali-kali.
"Apakah kamu masih mencintai pria kurus itu?" tanya Irwan tanpa melepaskan pelukan.
"Siapa?" Reka bertanya balik tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada langit-langit kamar, menenangkan diri.
"Andra," jawab Irwan singkat.
Reka yang tadinya tegang mendadak lemas seketika. Teringat akan pertemuan dengan Andra. Ia tarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak perlu ditanyakan. Karena aku tidak ada niatan menjadi pelakor," tegas Reka dengan disusul helaan napas yang terdengar berat.
Irwan tersenyum, merasa menang tanpa harus berperang.
"Apa yang kau sukai darinya. Badannya saja seperti keranjang sampah begitu," cerca Irwan dengan posisi yang sama. Ia hirup dalam-dalam aroma tubuh dan rambut Reka. Begitu harum, membuatnya betah berlama-lama.
"Bagusan aku ke mana-mana," imbuhnya lagi.
Reka berdecak, mendelik kesal pada Irwan yang terpejam.
"Tapi aku menyukai semua yang ada padanya."
Seketika itu juga Irwan membuka mata. Menjauhkan wajah dan menatap tajam pada Reka. "Apa menariknya dia?" Pertanyaan itu jelas sedang mendeskriditkan Reka.
"Menurutku dia pria paling tampan. Aku selalu jatuh cinta padanya setiap kali melihat dia menggunakan baju koko dengan kopiah di kepala dan sajadah di pundak." Reka menjelaskan secara terperinci dengan mata yang berbinar. Ia bahkan sengaja tak melihat ekspresi Irwan yang seperti tersiram cuka. Sungguh, baru kali ini hati Itwan terasa diremas-remas.
Ternyata aku memang telah kalah bahkan sebelum bertanding.
Irwan lepaskan dekapannya. Melongos, beranjak dari kasur.
"Mau ke mana?" tanya Reka.
"Mandi," jawab Irwan singkat cenderung ketus.
Reka mengernyitkan dahi. Merubah posisinya. Masuk ke dalam selimut, bersiap kembali menuju alam mimpi.
****
__ADS_1
Holla gaes. Jangan lupa like komen dan vote-nya ya. Dengan bermodal jempol, kalian sudah membantu author receh ini. Hehehe