Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Ulang tahun Reka.


__ADS_3

Sebulan sudah semenjak insiden reuni itu. Irwan tak menggubris bahkan menyentuh Reka sama sekali. Ia terlihat lebih tenang. Tak menganggap Reka ada. Namun, tak pula melupakannya. Reka tentu saja tidak mempermasalahkan itu. Ia malah bersyukur. Dari pada disiksa, dirinya lebih memilih bersembunyi dari sepak terjang seorang Irwan. Hidup seolah mati. Bisa bicara tapi memilih diam.


Pagi ini seperti biasa Reka akan menunaikan kewajibannya sebagai istri, membuat sarapan dan menemaninya makan. Ya, semenjak memutuskan menyerah akan takdir, Reka pun menerima Irwan sebagai suaminya. Ia berusaha menjadi seorang istri. Dari menyiapkan sarapan, pakaian hingga perlengkapan kerja. Mirip seorang asisten rumah tangga ketimbang seorang nyonya.


"Apa menu sarapan kita hari ini? Lalu apa hidangan penutupnya?" tanya Irwan tanpa ekspresi. Ia tarik kursi dan menatap sekilas wajah Reka yang tertunduk, lalu mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Suasana begitu terasa tegang. Baik Reka maupun empat orang pelayan yang berdiri di sana semuanya mematung, menundukkan pandangan. Ruang makan yang lebih mirip dengan ruang introgasi. Atmosfernya begitu terasa tegang, mencekam dan menakutkan.


"Hari ini Nyonya membuat nasi goreng dengan campuran sea food. Dan untuk dessert, Beliau membuat puding lumut, Tuan."


Seorang wanita gempal berambut sebahu, berusia lima puluhan. Menjawab pertanyaan yang Irwan lontarkan.


Tanpa banyak tanya, Irwan pun segera menyantap hidangan yang Reka siapkan. Masakan yang begitu sederhana. Namun, mampu membuat lidah menari dengan sempurna. Menikmati setiap gigitan dan menelan sarinya hingga tak tersisa.


Suasana senyap dan tenang. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang membentur kerasnya piring nasi goreng itu. Sedangkan Reka, ia masih setia dengan diamnya. Ia tak makan, tak pula beranjak dari sana. Tugas Reka hanya menemani Irwan, bukan sarapan bersamanya. Kejam, itulah sosok Irwan di mata Reka maupun para pelayan di sana.


Setelah selesai dengan sarapan yang tenang. Irwan beranjak dari kursi. Mengelilingi meja besar hendak mendekati Reka yang duduk di depannya.


Ya Allah ... kenapa dia ke sini? Apakah makanannya tidak enak? Tapi, selama ini dia tidak pernah protes dengan masakanku. Reka membatin, menahan degup jantung yang berpacu dengan cepat. Keringat dingin kembali membasahi jemarinya. Dengan perasaan gusar, Reka mencoba menarik napas. Menenangkan ketakutan yang sudah merayap dipikiran. Reka tak berani mengangkat wajah. Yang ia lakukan hanya menunduk dalam, meremas-remas jemarinya yang kaku.


Dalam beberapa detik tibalah Irwan di depan Reka. Sepatu hitam nan mahal itu terlihat jelas di mata Reka.


Gleegg.


Reka telan saliva dengan susah payah. Harap-harap cemas takut Irwan menyerangnya tiba-tiba.


"Ini ambillah!" ucap Irwan seraya meletakkan amplop coklat di atas meja.


"Selamat ulang tahun. Belilah apa yang kamu mau," terangnya lagi dengan suara yang tak ramah sama sekali. Suara yang terkesan mendikte dari pada suka cita ucapan selamat.


Dia ternyata tau hari ulang tahunku? Batin Reka kembali bertanya-tanya. Sebenarnya makhluk apakah Irwan itu? Ia tak segan menyiksa Reka. Tapi masih juga perhatian padanya.


Dengan perlahan Reka ambil amplop itu. Rasa gugup masih kentara, membuat suaranya tertahan begitu dalam.


"T-terima k-kasih," sahut Reka dengan tangan yang bergetar. Kata yang singkat namun begitu sukar untuk Reka ucapkan.


"Baiklah. Hari ini kau boleh berbelanja yang kau suka. Tapi ingat! Jangan macam-macam di luaran sana. Asal kau tau saja, aku selalu mengawasimu!" terangnya penuh penekanan. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Reka.


Reka menoleh sekilas. Setelah tidak melihat punggung Irwan barulah tubuhnya melemas, bersandar tenang di sandaran kursi.


"Minum dulu, Nyonya," ucap kepala pelayan seraya mendorong gelas yang sudah ia isi dengan air putih. Wanita tua yang sebaya ibunya. Seorang pelayan yang dipercaya oleh Irwan. Dialah yang selama ini dalam diam membantu Reka beradaptasi di rumah bak istana rasa neraka.

__ADS_1


"Terima kasih, Bik Sumi," ucap Reka setelah meneguk setegah gelas air itu.


"Kalau begitu, saya pamit, Nyonya. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Sumi mundur tiga langkah, kemudian memutar tubuh dan pergi berlalu diikuti oleh pelayan lainnya. Begitu kaku, seperti kediaman seorang bangsawan. Akan tetapi Reka juga mengerti. Keotoriteran Irwan membuat mereka tak punya keberanian untuk sekedar bercanda maupun menatap Reka dengan selayaknya.


****


Setelah berputar-putar hampir sejam di dalam pusat perbelanjaan. Reka dan Nara memilih mengistirahatkan kaki di sebuah restoran di lantai atas gedung.


"Kakak harus beli apaan, ya?" tanya Reka pada Nara yang sedang duduk mengaduk-aduk jus apel miliknya.


Nara tersenyum kikuk. Merespon pertanyaan yang Reka lontarkan kepadanya.


"Aku gak tau, Kak."


"Kakak juga bingung, Ra. Dia nyuruh Kakak beli apapun. Sedangkan di rumah sudah tersedia segalanya. Dari baju, sepatu, tas semuanya sudah ada. Tapi, kalo Kakak gak beli sesuatu, nanti dia marah," terang Reka dengan wajah murung. Ia tau akibatnya bila tak menuruti perintah Irwan. Reka hisap teh es miliknya. Mencoba menenangkan pikiran yang sedikit kacau karena ulang tahunnya sendiri.


"Kalo boleh tau, ini ulang tahun Kakak yang kebarapa?" tanya Nara dengan nada santai. Ia sudah tidak lagi terdengar sungkan. Nara merasa Reka benar-benar seorang kakak baginya.


"Dua puluh lima, kenapa?" tanya Reka balik.


"Ahh ... enggak. Penasaran aja. Kakak masih cantik. Kaya seumuran aku," jawab Nara polos. Dan sontak saja jawaban sederhana Nara mampu mengukir senyum di wajah Reka.


"Eh, sapa bilang kamu udah tua. Kamu masih terlihat cantik,kok."


Reka tersentak, kaget setelah mendengar ucapan seorang pria yang berasal dari belakang kursinya. Dengan perasaan was-was Reka memutar tubuh. Mencari asal suara itu. Dan keterkejutannya bertambah menjadi berkali-kali lipat setelah mengetahui sosok orang yang ikut berkomentar tentang penampilannya. Reka mematung dengan posisi wajah sedikit menegadah ke atas. "K-kamu Eldi." Reka terbata-bata. Matanya membulat sempurna mengingat kekejaman yang Irwan lakukan padanya karena Eldi.


"Iya, sukurlah kalo kamu inget aku," kata Eldi santai seraya menarik kursi dan duduk di sebelah Reka. Ia sunggingkan senyuman pada Reka. Akan tetapi Reka tak membalas. Wajahnya mendadak pasi. Dengan cepat ia beranjak dari kursi.


"M-maaf, kami masih banyak urusan," ucap Reka yang masih terdengar gagap. Ia tarik lengan sweater panjang Nara sebagai kode agar gadis itu mengikutinya.


"Tapi ...."


Belum sempat Eldi menyelesaikan perkataannya, Reka dan Nara sudah berlalu pergi dengan tergesa-gesa.


Kenapa dia? Seperti orang ketakutan saja. Apa aku terlihat mengerikan? Pikir Eldi.


Setelah sedikit jauh, Reka hentikan langkahnya. Dengan napas terengah ia masuk kedalam sebuah tempat penjualan buku.


"Kak, dia siapa? Kenapa kita harus menghindarinya? Terus kenapa kita masuk ke sini?" cecar Nara yang bingung akan gelagat Reka yang sudah gemetar dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Ayo kita beli buku saja," ajak Reka seraya menarik tangan Nara.


****


RUMAH SAKIT HARAPAN.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore.


Bertanda jam praktek Irwan sudah selesai. Ia kemas beberapa berkas dan memasukkannya ke dalam tas.


"Saya duluan, ya." Tersenyum manis pada kedua wanita muda yang selalu membantunya memeriksa setiap pasien.


"Iya, Pak," jawab kedua asisten itu hampir bersamaan.


Irwan berjalan melewati lorong rumah sakit. Melangkah pasti menuju parkiran. Ia begitu ingin cepat sampai rumah dan mencicipi kudapan sore yang selalu Reka siapkan untuknya.


"Irwan!" seru seorang wanita dari arah belakang.


Irwan yang hendak membuka pintu mobil langsung membalik tubuh. Menoleh pada orang yang memanggil namanya.


"Melati, kenapa?" tanya Irwan keheranan.


"Enggak, gue cuma mau ngajakin elo makan bareng kita di resto deket sini," terang Melati setelah napasnya sudah berjalan normal.


"Kita mau bikin acara penyambutan Clara. Dia ini junior gue waktu di kampus dulu. Dan sekarang dia ditugasin jadi dokter jaga di UGD," lanjutnya lagi. Menyenggol bahu Clara, membuyarkan tatapan minat gadis itu pada Irwan.


Irwan menarik kedua ujung bibirnya, membalas senyuman dari Clara. Wanita berambut panjang dengan hidung mancung dan kulit putih bersih. Belum lagi tubuh tinggi semampainya terbalut gaun indah berwarna merah muda. Sungguh sedap dipandang mata.


"Hai ... saya Irwan," ucap Irwan. Memperkenalkan dirinya secara formal. Ia ulurkan tangan dan langsung disambut Clara dengan cepat.


"Gak usah resmi gitu. Santai saja. Panggil aja gue, Rara."


Keramah tamahan Clara menambah kecantikan dalam dirinya. Menjadi poin penting dalam profesi maupun kehidupan pribadinya.


Dert dert dert dert.


Ponsel Irwan bergetar. Ia rogoh ponsel dari dalam saku celana. Dan dalam sekejap, raut wajah Irwan berubah drastis. Mata membelalak sedangkan tangan sudah mengepal kuat.


"Eh Sorry, ya ... gue harus pulang dulu," pamit Irwan. Dengan cepat ia masuk kedalam mobil dan mengendarainya keluar parkiran dengan perlahan.

__ADS_1


__ADS_2