Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Amarah Irwan.


__ADS_3

Tiba-tiba tubuh Reka mendadak beku. Seolah ada hawa dingin menyeruak dari tubuh Irwan yang sedang merangkulnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Reka disela langkahnya menaiki anak tangga. Namun, Irwan sama sekali tak menjawab pertanyaan itu. Ia masih menggandeng erat bahu Reka hingga Reka merasakan nyeri. Napas Irwan juga terdengar memburu. Membuat Reka gugup, dan seketika itu juga kesulitan menelan ludahnya sendiri.


Ya Allah, ada apa ini?


Reka benar-benar gusar, merasa hal buruk akan menimpanya.


Tibalah mereka di lantai dua mansion. Irwan memanggil salah satu petugas keamanan yang berdiri di sana.


"Berjagalah! Jangan sampai ada yang naik ke sini!" titah Irwan pada seorang pria berotot, berpakain serba hitam. Pria itu hanya mengangguk patuh dan langsung memandang ke arah teman-temannya yang sedang berjaga. Dengan satu kali kibasan tangan, semua orang langsung turun dan berdiri tegap di ujung tangga.


Dia ini dokter apa gengster?


Reka makin bergidik ngeri. Apalagi Irwan terus saja mendorong tanpa memperdulikan langkahnya yang mulai terseok.


Sementara Irwan, ia sudah tak mampu menahan gejolak dan tabuhan di dada. Mengingat betapa mesranya Eldi merengkuh pinggang Reka membuat darahnya mendidih seketika. Perasaan benci akan pengkhianatan masa lalu langsung membutakan mata dan menulikan telinganya. Ia tak menjawab pertanyaan Reka bahkan mengacuhkan rasa sakit yang diderita Reka.


Tibalah mereka di dalam sebuah kamar.


Dengan sekuat tenaga Irwan dorong tubuh Reka hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Reka meringis, lutut membentur porslen yang dingin.


"Dasar j a l a n g sialan!" desisnya geram. Irwan mengunci pintu. Satu persatu ia lepaskan pakaiannya. Dari mulai jas hingga kemeja ia lempar dengan kasar seolah mewakili kebenciannya yang benar-benar sudah menggila.


"Ada apa ini?" tanya Reka yang tak paham situasinya. Akan tetapi, setelah melihat tatapan Irwan yang berkabut api, membuat wajah Reka kehilangan warna. Hangus, nyali Reka sudah melayang bagai abu.


Irwan masih tak menjawab. Dangan mata melotot dan rahang yang mengatup, ia dekati tubuh kurus Reka yang masih terduduk. Sementara Reka yang merasa terancam, memilih beringsut mundur menjauhi pria yang sudah menatapnya dengan mata elang. Tatapan tajam yang mampu mencabiknya tanpa bantuan alat.

__ADS_1


"Apa salahku?" tanya Reka, menatap nanar manik mata Irwan. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat Irwan berjongkok, mensejajarkan tubuh mereka. Irwan pandangi dengan seksama wajah Reka yang sudah memucat.


"Tubuhmu kotor!" sergah Irwan dengan suara menggeram. Ia tarik lengan Reka dengan paksa. Gadis itu pun berdiri, beringsut mengikuti langkah lebarnya.


Mata Reka mulai berkaca-kaca, ketakutan mulai merasuki pikiran. "Tolong lepasin, sakit." Reka pukul tangan kanan Irwan yang mencengkram kuat lengannya. Reka terus saja meronta, berharap bisa melepaskan diri dari Irwan yang sudah bertelanj*ng dada.


Akan tetapi, pria itu masih tak merespon. Napasnya makin memburu dan masih menarik paksa tubuh Reka, menyeretnya menuju kamar mandi.


"Tolong jangan sakiti aku ...." Reka merintih, memohon belas kasih dari Irwan yang sudah kesetanan.


Setelah tiba di tempat tujuannya, Irwan kembali menyerang. Mendorong kuat hingga punggung Reka menempel lekat pada dinding bathroom. Manatap nyalang mata yang sudah bengkak dan merah.


"Buka bajumu! Kau kotor! Aku tak suka milikku disentuh orang lain!" terang Irwan yang masih berang. Reka yang sudah ketakutan berusaha melindungi diri. Ia pegang kuat kerah bajunya. Sedangkan Irwan yang melihat penolakan Reka semakin kalap mata. Plakkk! Tamparan panas mendarat di pipi Reka.


"Jangan melawan!" bentak Irwan lagi. Tatapannya berapi-api. Irwan raih gunting yang berada di rak gantung kamar mandi yang tak jauh dari posisinya berdiri. Tanpa aba-aba, ia pun menggunting gaun Reka yang sudah rusak dan kotor. Dalam sekejap saja Reka sudah polos, hanya underware yang masih melekat di tubuhnya yang memar.


Reka tak mampu melawan. Ia sadar, makin di lawan, makin ganas Irwan menyiksanya. Ia hanya pasrah ketika Irwan menggosok tubuhnya hingga kesela-sela. Reka gigit bibir bawahnya. Melawan sakit dan perih yang terasa. Membiarkan air mengaliri tubuh, menyatu dengan derai air matanya.


Setelah sedemikian rupa penyiksaan itu, Irwan seolah belum juga puas. Ia kembali menarik paksa tubuh Reka keluar kamar mandi dan menghempaskannya dengan kasar ke atas kasur. Reka yang tak tahan akan siksaan Irwan mencoba menjauh. Merangkak menuruni ranjang yang berukuran besar. Namun sayang, belum sempat menjauh, Reka kembali dibuat tercekat. Irwan menarik pergelangan kakinya, mengungkungnya dengan mantap.


"Tolong ... jangan lakukan ini ..." pinta Reka dengan suara yang telah bercampur isakan. Ia gosokkan kedua telapak tangan di hadapan Irwan, berharap mendapat pengampunan dari pria bringas itu. Tapi Irwan tak bergeming. Melihat air mata dan ketakutan Reka seolah semakin memacu adrenalinnya. Terlihat seulas senyum puas saat melihat penderitaan Reka.


"J a l a n g s u n d a l sepertimu memang harus di hukum!" Tatapan Irwan begitu menghujam. Membuat jantung Reka seakan berhenti berdetak seketika.


"Aku menyesal telah memperlakukanmu dengan baik. Dasar tidak tau diri! Kau itu istriku. Milikku! Bisa-bisanya kau berpelukan dengan lelaki lain!"


"Tidak, bukan seperti itu. Itu hanya kesalahpahaman, itu kecelakaan," jawab Reka membela diri, berharap dapat menghindari amukan Irwan.

__ADS_1


Mendengar perkataan memelas dari Reka membuatnya mengingat masa lalu. Siska, wanita yang ia cinta juga berkata persis dengan yang Reka ucapkan.


"Cih! Kalian sama saja. Sama-sama murahan!" tudingnya.


"Kau salah Irwan. aku bukan perempuan itu," jawab Reka disela derai air matanya.


"Dari mana kau tau?" Irwan mengernyitkan dahi. Namun tak lama kemudian senyum licik kembali terukir.


Dalam sekejap tatapan Irwan mulai berubah. Dari yang tadinya marah sekarang seperti penuh gairah. Ia tatap dengan seksama tubuh polos Reka dari bawah hingga wajah. Terukir kembali senyum devil di parasnya.


Tubuh wanita ini benar-benar indah.


Reka bergidik. Melihat tatapan birahi Irwan membuat nyalinya menciut makin kecil.


Pandangan apa itu? Apa dia akan memperkosaku lagi? Ya Tuhan ... apa yang harus kuperbuat.


Reka gemetar, kembali mengatupkan kedua belah tangan seraya menggesek-gesekkannya. Memelas dengan penuh harap. "Tolong jangan ...." Air mata semakin deras membasahi pipi.


Irwan kembali tersenyum miring. Tanpa peringatan langsung ia raup kasar bibir Reka. Mengesapnya dangan napas yang memburu. Reka mengatupkan bibir. Namun, Irwan yang kesetanan menggigit daging tak bertulang itu. Reka menggerang. Kesempatan itu tak dibiarkan Irwan begitu saja. Ia meraupnya makin dalam, seolah mampu menelan utuh bibir Reka.


Reka terus saja meronta memukul kuat dada bidang lrwan. Namun tak berhasil. Irwan semakin menindihnya. Memegang leher Reka. Reka terkunci, tak bisa bergerak.


Setelah hmpir kehabisan napas, Irwan menghentikan kegiatan gilanya. Ia kembali menatap manik mata Reka yang panik. Deru napas Reka terengah. Dada naik turun seirama dengan tabuhan di hatinya yang bertalu-talu.


"Maafkan aku. Aku salah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong lepasin aku. Aku janji akan menurut. Tolong ... kumohon ampuni aku," rintih Reka beruntun. Ia benar-benar kacau memikirkan keganasan apa yang akan Irwan lakukan selanjutnya.


Irwan tersenyum tipis. Beranjak dari posisinya. Meninggalkan tubuh Reka yang terlentang.

__ADS_1


"Bagus ... ini baru istriku," ujarnya seraya mengusap pucuk kepala Reka. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Meninggalkan Reka yang menangis sesenggukan di atas ranjang.


__ADS_2