
Irwan tersenyum penuh ironi. Menikmati gelagat Reka yang gemetar.
Kena kau. Bibirnya tertarik setengah. Dengan cepat, ia bidik wanitanya tanpa diketahui. Menyimpannya dalam ponsel untuk rencananya nanti.
Menggemaskan sekali wanita ini, batinnya seraya menyentuh hidung, menahan tawa agar tak menggema di ruangan terbuka restoran.
"Kau harus dihukum, Reka. Kau telah kurang ajar pada suamimu sendiri," ucap Irwan dengan memberatkan suaranya. Suara yang jelas membuat Reka semakin terasa panas dingin.
"M-maaf." Ucapan Reka samar-samar terdengar. Membuat Irwan tersenyum puas karena telah sukses menggodanya.
"Hahaha ...."
Tawa Irwan akhirnya lepas. Tak mampu menahannya lebih lama lagi. Ketakutan Reka menjadi kelucuan yang tak sebanding dengan banyolan pelawak di channel TV.
"Ayolah Reka. Jangan tegang begitu. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya bercanda. Jadi jangan takut. Tegakkan kepalamu. Hmm ..." bujuknya kemudian.
Tapi Reka tak merespon. Hanya kepalanya yang sesekali bergerak, masih dalam posisi menunduk.
Merasa tak ada jawaban, Irwan pun beranjak dari duduknya, melewati meja bulat yang membatasi tubuh mereka.
"Hey ... kamu kenapa? Aku hanya bercanda. Apa kita tidak diperbolehkan bercanda antar sesama teman?" ucap Irwan seraya memegang pundak kecil Reka. Menepuknya beberapa kali.
Reka membisu seribu hahasa. Hanya terdengar samar suara isakan yang membuat raut muka Irwan kaku sejenak. Menoleh kanan kiri dengan wajah tegang seolah sedang tertangkap melakukan kesalahan.
"Reka, kamu kenapa nangis?" tanya Irwan, sedikit panik. Irwan berjongkok dan meraih dagu kecil Reka dengan ibu jari dan telunjuknya. Nampak jelas mata bening itu mengeluarkan bongkahan air yang tak terhitung jumlahnya.
"Hey ... hey, tenanglah. Jangan begini." Irwan dengan cepat mengelap air mata Reka dengan tisu yang ada di meja.
"Jangan nangis. Malu." Irwan menekan sedikit suaranya agar tak terdengar orang lain. Tapi tetap saja, gelagat mereka yang mencurigakan memancing rasa penasaran para pengunjung
Irwan pun berdiri cepat. Menarik kepala Reka, membenamkan kedalam perutnya yang rata.
Dengan begini, aku tidak akan dianggap jahat.
Irwan usap-usap rambut Reka dengan lembut Sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar. Setelah mendapati para pengunjung restoran tak lagi memandang aneh padannya, ia lepaskan pelukan dan kembali berjongkok, menatap mata Reka yang berkabut dipenuhi kesedihan.
"Kamu jahat. Itu bukan bahan lelucon," ucap Reka setelah sedikit tenang.
Irwan tersenyum hambar. Tak bisa membela diri. Ia tidak tau reaksi Reka akan seperti itu.
Ya, akulah yang bersalah. Aku lupa tentang traumamu padaku.
__ADS_1
"Iya iya, maaf. Aku salah. Sudah hentikan tangismu. Semua orang mengira aku orang penjahat," ujar Irwan. Ia lap kulit lembut pipi Reka yang seputih susu. Tanpa sengaja tangannya menyentuh bibir Reka yang merona . Begitu menggugah gairah. Mengobrak-abrik kewarasannya. Irwan telan ludahnya dengan cepat.
Gila. Aku pasti gila. Kenapa sekarang aku tidak bisa mengendalikan diri.
Irwan tatap mata sayu Reka dengan lekat. Menenangkan hatinya yang meronta. Tapi tetap saja, dirinya makin menginginkan bibir itu.
Tapi dia istriku. Wajar 'kan kalau aku memintanya untuk memuaskan hasratku. Terlepas kami saling mencintai atau tidak. Aku punya hak penuh atas tubuhnya. Batin Irwan bergejolak.
Ah tidak tidak. Aku tidak ingin menakutinya lagi.
Irwan buyarkan fantasi liarnya. Mengalihkan pandangan ke sekeliling restoran dan matanya tertuju pada dua pelayan yang membawa meja dorong, mendekat ke arah mereka.
"Sudah jangan menangis. Makanan kita sudah tiba," hibur Irwan seraya menepuk pundak Reka.
Irwan kembali duduk di kursinya. Memasang muka datar saat dua pramusaji menata pesanan dengan mata penuh pertanyaan padanya.
"Ekhm ...."
Irwan sengaja berdehem. Kode keras untuk kedua pelayan agar cepat melakukan tugasnya dan pergi dari sana. Dan tentu saja kode itu dimengerti oleh mereka.
"Silakan dinikmati," ucap salah seorang karyawan berwajah bulat dan berambut pendek. Mereka membungkuk sedikit, membalik badan, lalu melangkah pergi.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Reka dengan mata yang mengerjap, heran.
"Ada masalah apa?" Irwan balik bertanya.
"Ini serius, Mas yang pesan?" tanya Reka lagi.
"Iya. Aku tidak tau seleramu. Jadi, aku pesan saja semua yang terlihat enak," jawabnya seraya mengurut tengkuk yang tidak nyeri.
"Apa kamu tidak suka? Kalau iya, kita bisa pesan yang lain lagi," tawar Irwan.
"Tidak, tidak perlu," cegah Reka cepat dengan mengibaskan kedua telapak tangannya. Dahinya mengerut drastis, melihat hidangan yang begitu banyak.
Ini saja belum tentu habis.
Reka menatap secara bergantian pada steak, pasta, long horn ( sosis berisi keju) dan juga lamb shank yang tersedia di atas meja. Belum lagi deretan dessert yang terlihat manis.
"Aku tidak tau seleramu. Harap maklumi kesalahanku di kencan pertama kita ini," ucapnya tanpa ekspresi. Tangannya terlihat cekatan memotong steak yang ada di hadapannya.
Ck, kencan? Apa ini yang namanya kencan. Menakutiku lalu menyogokku. Tak berperasaan!
__ADS_1
Reka raih piring steak-nya. Menekan isinya dengan garpu dan mengirisnya dengan cepat. Membuat daging yang tadinya tertata rapi menjadi acak-acakan, tak bernilai seni lagi.
"Makan yang ini saja," ucap Irwan yang entah sejak kapan berdiri di dekat Reka. Ia letakkan piring miliknya dan menarik steak milik Reka yang sudah tak berbentuk.
Reka mendongakkan kepala. Menatap sekilas wajah Irwan yang terlihat dingin. Begitu tegas tak terbantahkan. Membuat benaknya bertabur banyak pertanyaan atas perubahan sikap Irwan.
Tanpa banyak bicara, mereka pun menyantap makanan yang sudah disuguhkan. Nuansa romantis begitu kental terasa. Apalagi sinar lampu yang tamaram menjadikan segalanya terasa indah.
Sepuluh menit berlalu.
Reka teguk air putih untuk mendorong sisa makanan yang ada di dalam mulut. Sedangkan Irwan masih menyantap hidangan yang ada. Mengunyah dan menggigitnya dengan nikmat.
Nafsu makan orang ini memang luar biasa. Reka membatin disertai dengan gelengan kepalanya dua kali.
"M-mas, aku boleh nanya?" ucap Reka setelah melihat Irwan meneguk air putihnya hingga tandas.
"Hmm, apa?" Irwan balik bertanya, mengelap mulutnya dengan tissu. Ia pandang lekat mata Reka yang sendu.
"Katakanlah. Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Apapun itu, utarakanlah."
Lama Irwan menunggu. Tapi Reka tak juga membuka mulutnya.
Sebenarnya apa yang ingin dia tanyakan? Kenapa wajahnya selalu saja memucat bila berbicara denganku? Kenapa begitu susah untuk mendapatkan kepercayaanmu, Reka.
"T-tidak jadi. Ayo kita pulang saja." Reka berdiri dari kursinya. Mencoba menyembunyikan irama jantungnya yang bertabuh cepat.
Aku pasti tidak waras. Bisa-bisanya aku berpikir dia menyukaiku.
Reka makin memperlaju langkah. Meninggalkan Irwan jauh ke belakang. Tanpa diduga seseorang menabrak dari arah depan, membuat dirinya jatuh terduduk di lantai.
"Aw ...." Reka meringis. Telapak tangan bergesekan dengan pasir di porslen restoran.
"Reka!" seru seseorang yang berdiri di depannya.
Mata Reka membelalak sempurna. Melihat sosok yang membuatnua terjatuh adalah Andra.
"B-bang Aan." Reka terkesiap sekejap. Mengerjapkan mata seolah tak percaya.
"Kamu tidak apa-apa? Maaf aku tidak melihatmu," ucap Andra seraya memegang kedua bahu Reka, membantunya berdiri.
Irwan yang melihat pemandangan tak mengenakkan itu langsung merah padam. Mengepalkan tinju, mengatupkan rahang dengan kuat. Tak terima miliknya disentuh orang. Sialan! Berani-beraninya dia menyentuh tubuh istriku. Irwan bejalan cepat. Menghampiri Reka dan orang asing itu.
__ADS_1