Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Irwan butuh Reka


__ADS_3

Dengan kepala berbalut perban dan paha yang terasa nyeri, Irwan mencoba beringsut menuruni ranjang.


"Hey hey hey ... mau ke mana itu?" ucap Romi yang sontak saja menghentikan niatannya untuk turun. Romi mendekat ke arah ranjang Irwan dengan diikuti oleh dua orang perawat.


Romi melihat Irwan menoleh ke arah Reka, dan Romi paham maksud tatapan itu.


"Tenang. Istri lo gak kenapa-napa. Cuma lecet di bagian pelipis. Perut sama kaki juga memar. Tapi gak ada luka yang serius. Itu benar-banar mukjizat," kata Romi seraya menyuntikkan obat penghilang rasa nyeri di selang infus Irwan.


Irwan hanya terdiam. Matanya masih tertuju pada wanita yang sedang tertidur di sana.


"Sorry ya, karena nyari alamat rumah gue, kalian jadi kecelakaan," terang Romi yang terlihat menyesal. Pasalnya, dia lah yang memaksa Irwan untuk hadir ke acara selamatan pindah rumah sekalian pindah tugasnya.


"Gak apa-apa. O iya, selamat datang di Semarang," sahut Irwan seraya menarik sedikit bibirnya yang lebam. Irwan pun perlahan mengangkat bahu hendak mengulurkan tangan.


"Udah, jangan dulu banyak gerak. Nanti makin lama sembuhnya," jelas Romi seraya melihat keseluruhan tubuh temannya itu.


Memprihatinkan, pipi memar, kepala berbalut perban, bahu kirinya pun tak luput dari cedera parah hingga harus di topang dengan penyangga.


"Ada keluhan gak?" tanya Romi lagi seraya membuka beberapa lembar kertas yang ia bawa.


"Badan gue sakit semua, Rom. Serasa remuk. Apalagi paha sama bahu gue ini. Sakit banget buat digerakin," keluh Irwan kepada Romi, dokter ortopedinya.


"Ya iya lah. Itu tu kecelakaan paling parah. Mobil kalian aja sampe hancur begitu," terang Romi seraya merogoh kocek dan memperlihatkan foto mobil Irwan yang sudah ringsek.


Irwan mengernyitkan dahi, seolah tak percaya setelah melihat mobil sport mewah miliknya hancur, menghitam bagai arang.


Terlintas kembali kejadian semalam. Bagaimana Reka mencoba terus menyelamatkannya. Rela mengorbankan nyawa demi membantunya keluar dari situasi yang mengancam nyawa.


Perempuan seperti apa dia itu? Padahal aku telah banyak menyakiti perasaan dan fisiknya.


Batin Irwan bertanya-tanya. Ia kembali menatap heran, wanita yang terbaring lelah tak jauh darinya. Hanya berjarak dua meter saja.


"O iya. Sementara ini, lo gak bisa bergerak bebas. Kaki lo harus banyak-banyak istirahat. Walaupun gak ada yang patah. Tetap saja ada cidera di otot dan ligamen," terang Romi. Mencoba mengingatkan Irwan yang jelas seorang dokter.


Irwan masih terdiam. Memikirkan apa yang harus ia lakukan mulai dari sekarang.


"Bisa kami bicara berdua saja?" kata Romi seraya menatap dua orang perawat muda yang bertugas membantunya keliling.


Kedua perawat itu pun keluar dan disusul oleh Marno dan Sumi. Hanya tinggal mereka bertiga di sana. Romi, Irwan dan Reka yang sedang tertidur.


Romi meraih kursi dan duduk di sebelah ranjang Irwan.


"Dia itu wanita yang tempo hari keserempet mobil, kan?"

__ADS_1


"Iya," jawab Irwan sekenanya.


"Gue gak nyangka hubungan kalian secepat itu. Bahkan dalam hitungan bulan aja kalian udah jadi suami istri," celetuk Romi seraya mengulum senyum.


"Eh, tapi saran gue, lo baik-baik sama dia. Kasian."


Sontak saja mata Irwan membesar. Alisnya terangkat dan pupil mata melebar. Ia tatap serius teman seangkatannya itu. Tatapan penuh tanda tanya. Menunggu penjelasan lebih lanjut dari Romi.


"Dulu itu temen gue gak sengaja ngeliat dia keluar dari UGD. Terus nanyaian kondisinya. Ya gue penasaran dong, kenapa dia bisa kenal bini lo itu. Awalnya dia gak mau cerita. Secara dia kan psikiater. Tapi gue rayu terus. Dan akhirnya dia mau juga cerita. Ternyata dua tahun yang lalu, bini lo itu pernah beberapa kali berkonsultasi. Merasa gugup bila berdekatan dengan orang asing," terang Romi yang membuat mata Irwan kembali membelalak sempurna dan hati mulai tak karuan.


Tunggu, dua tahun lalu ... apa jangan-jangan.


Pikiran Irwan kembali ke masa itu. Masa ia merenggut paksa kesucian Reka.


"Lo tau sebabnya?" tanya Irwan yang begitu penasaran akan kelanjutan cerita Romi.


"Enggak, si Elsa gak mau cerita. Elsa udah janji sama dia," jelas Romi seraya menatap kasian pada Reka yang terbaring tak jauh dari dirinya dan Irwan.


"Tapi untungnya cuma sebatas gugup. Gak yang sampe parah. Masih di skala ringan."


"Eh, gue lanjut keliling dulu ya. Lo banyak-banyak istirahat. Biar lekas sembuh," pamit Romi seraya beranjak dari kursi dan menepuk pelan bahu Irwan.


Dalam sekejap ruang kamar sepi. Irwan baringkan tubuhnya perlahan dan memiringkan dirinya menghadap ke arah Reka yang tidur pulas.


****


Seminggu kemudian.


Reka mendorong kursi roda suaminya menuju mobil keluar dari gedung rumah sakit. Ia dengan telaten merawat suami kasarnya itu dengan lembut dan sabar. Perban di kepala Irwan sudah dilepas. Namun, penyangga tangan masih setia dilengan. Sedangkan kaki harus menunggu dua minggu lagi untuk sembuh.


"Pelan-pelan, Mas."


Reka membopong tubuh kekar suaminya itu masuk ke dalam mobil dibantu oleh pak Marno.


Selama sakit, Irwan tak banyak bicara. Ia merasa harga dirinya terluka karena tidak bisa melakukan apa pun sendiri dan harus bergantung pada Reka.


"Nanti mau aku masakin apa, Mas?" tanya Reka kepada Irwan yang mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.


Setelah mengetahui kebenarannya, perasaan Irwan tak bisa dipahami. Marah, bersalah dan gengsi melebur jadi satu. Akan tetapi Ego yang besar masih menguasai diri Irwan.


"Terserah, itu kan tugasmu," jawab Irwan dengan nada datar tanpa ekspresi.


Reka memutar bola matanya malas. Kesal akan sikap angkuh Irwan yang tak berubah sama sekali.

__ADS_1


Nyebelin banget. Semua bilangnya terserah terserah terserah. Emang ada gitu makanan namanya terserah? Lama-lama aku panggil, 'tuan perintah yang terserah' juga ni orang. Kalo nyebutin nama makanan yang pasti kan, aku bisa langsung bikin. Gak capek mikirin dia suka apa enggak? Ngesellin!


Reka mengepalkan tangan dengan kuat. Sudah muak dengan sikap acuh itu.


Ingin rasanya aku nge-getok kepala psikopat ini pake sekop. Biar dia amnesia, lupa caranya bikin aku kesal.


"Kenapa? Kau ingin memukulku? Harusnya kau melenyapkanku waktu itu. Sayang sekarang kesempatanmu sudah sirna, Reka." Suara berat itu kembali keluar dari mulut Irwan. Tangan Reka yang tadinya mengepal geram kini langsung melebar, lemas. Dalam sekejap, Irwan memutar tubuh dan menatap manik matanya. Seringaian khas nya begitu terlihat nyata. Begitu mengerikan.


"Hmm, tidak ... bukan seperti itu," jawab Reka terbata-bata.


Di mansion Irwan.


Jam menunjukkan pukul satu malam.


Irwan gelisah. Keringat dingin mulai mengucur. Menahan hajat yang tak boleh di tahan. Irwan makin risau, makin di tahan serasa makin kembang kuncup yang dirasanya. Sungguh menyiksa.


Ah sial! Kenapa sekarang. Tak bisakah menunggu siang.


Irwan merutuki dirinya sendiri. Ia begitu ingin ke kamar kecil. Akan tetapi, tentunya sudah tidak ada orang di luar.


Berkali-kali ia menghubungi pak Marno tapi berkali-kali juga tak mendapat jawaban.


"Ah, aku sudah tidak tahan lagi."


Apa aku harus menghubunginya? Ah tidak ... tidak, dia pasti akan meremehkanku. Tidak! Aku tidak mau harga diriku jatuh.


Lama Irwan berpikir, dan akhirnya egonya jatuh dengan sendirinya. Ia tekan nomor seseorang di ponselnya dan dengan cepat orang itu mengangkat panggilan Irwan.


"Cepat ke sini!" perintahnya tanpa basa-basi.


Tidak berapa lama masuklah Reka dengan wajah kusut.


"Kenapa, Mas?" tanya Reka seraya menggosok mata yang masih terasa berat.


"Bantu aku. Aku mau kencing!"


Oh gila. Aku benar-benar ingin menyuntik mati diriku sendiri.


Mata Reka yang awalnya masih menyipit, ngantuk. Langsung membelalak lebar.


What! Aku gak salah dengar!


****

__ADS_1


Hayoo jangan lupa like komen dan vote nya dong gaes. Hehehe, terima kasih.


__ADS_2