Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Sah


__ADS_3

Awan terlihat kelabu menutupi langit pagi yang seharusnya cerah. Hawa dingin sisa hujan semalam masih terasa dan mampu menusuk hati seorang gadis yang menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Kesedihan masih begitu nyata terasa, namun ia mencoba menutupinya dengan polesan make-up dan mengukir senyuman di parasnya yang pucat.


Reka memutuskan menikah. Diambilnya keputusan ekstrem demi menjaga kehormatan keluarga. Pernikahan yang jauh dari kata mewah. Karena hanya dihadiri kedua belah keluarga mempelai dan beberapa saksi saja, bahkan sang adik yang baru-baru ini menikah pun tidak tau akan perihal acara sakral itu. Dengan mengenakan kebaya sederhana dan sanggul indah di kepala, ia berharap deritanya akan segera berakhir.


Ayo Reka, semangatlah.


Perlahan Reka keluar kamar dengan menahan debaran di dada. Ia yakin akan keputusannya untuk menikahi Irwan, akan tetapi tak yakin akan nasibnya setelah ini. Reka duduk mematung di sebelah Irwan, pria yang seperti serigala tapi suka berakting menjadi domba.


Suasana hening seketika, hanya terdengar suara penghulu menggema memenuhi sudut ruangan.


"Saudara Irwan Syahputra bin Arya Tri Widiarto, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Reka binti Ady Gustiawan dengan mas kawin seunit rumah seharga dua puluh miliar, tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Reka binti Ady Gustiawan dengan mas kawinnya tersebut, tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?" tanya si penghulu sembari menengok kanan kiri.


Dengan serentak para saksi menjawab.


"SAH ...."


"Alhamdulillah ...."


****


Setelah semua tamu pergi.


Reka duduk bersimpuh di kaki sang ibu. Hatinya berat, enggan meninggalkan orang tua dan adik-adiknya. Ia menunduk mencium tangan ibunya. Air mata yang begitu susah ia tahan sedari tadi, akhirnya luruh jua. Bagaimana bisa ia tidak menangis ketika berpisah dengan orang tua yang sudah membesarkan dan menyayanginya selama dua puluh lima tahun? Terlebih lagi dirinya akan masuk ke dalam dunia Irwan yang ia sendiri tidak tau seperti apa. Resah, takut dan khawatir menyatu menjadi satu.


Dewi dan Ady juga tak kalah sedih. Dalam dua bulan terakhir mereka telah melepaskan dua anak gadisnya untuk dipersunting orang. Namun begitulah nasib ketika menjadi orang tua. Dikala kecil mereka menjadi anak kita dan ketika besar mereka bukan lagi milik kita. Dewi menenangkan diri. Ia sadar dengan menangisi kepergian Reka, pasti akan memberatkan langkah sang anak menuju rumah tangganya.

__ADS_1


"Pergilah, Kak. Kami di sini akan selalu baik-baik saja dan akan terus mendokan kebahagiaan kalian," ucap Dewi yang sudah terdengar lirih.


Reka masih menumpahkan perasaannya. Sesenggukan makin dalam.


"Berbahagialah, binalah keluarga yang sakinah, mawaddah , dan warohmah," imbuh Dewi lagi. Kini suaranya terdengar samar karena beradu dengan isakan. Ia belai rambut anak gadisnya itu.


Dengan berat hati, Reka pun pergi melangkah meninggalkan kehidupan lama menuju kehidupan barunya.


Di dalam mobil.


Reka hanya diam, menyandarkan punggung di jok mobil, menatap kosong ke arah luar jendela. Beberapa kali ia embuskan napas yang terasa berat, kemudian memilih memejamkan mata yang terasa mulai mengantuk.


Sementara Irwan, entah apa yang di pikirkannya. Ia hanya berkali-kali mencuri pandang ke arah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.


Tibalah mereka mansion Irwan yang begitu besar. "Turunlah!" kata Irwan yang tentu saja langsung membangunkan tidur singkat Reka. Gadis itu mengerjapkan mata mencoba mengenali di mana dia kini.


"Kenapa? Takut aku menciummu?" tanya Irwan dengan seringaian yang seperti melekat, mendarah daging di kulit pipinya. Ia buka sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh Reka lalu menarik wajahnya. Reka menghela napas lega, untuk sementara ketakutannya belum menjadi kenyataan.


"Ayo turun!" perintah Irwan lagi.


Setelah turun dari mobil, Reka baru menyadari ternyata dirinya sedang berada di sebuah garasi luas dan telah berderet empat mobil import di sana. Wah ... besar sekali kandang mobil ini, batin Reka seraya melihat sekeliling tanpa berkedip. Ia ikuti langkah Irwan masuk ke dalam rumah yang kembali menyilaukan mata. Rumah terbesar pertama yang ia lihat. Apalagi interiornya yang begitu indah dengan disain klasik pada fasad, pintu masuk, jendela juga atap. Membuat Reka terkagum dalam setiap sapuan matanya.


Benar-benar seperti istana, berapa tingkat rumah ini? Kira-kira berapa kamarnya? Reka masih memandang takjub rumah Irwan.


Tapi sayang. Istana ini dihuni seorang raja iblis.


Reka menyipitkan mata, menatap sinis punggung Irwan yang memang berjalan mendahuluinya. Namun tiba-tiba tatapan tajam Reka sirna ketika melihat Irwan berhenti. Irwan dihampiri oleh enam wanita berusia empat puluhan dan juga seorang pria tua.


"Anda sudah tiba, Tuan," ucap seorang wanita, menyambut jaket dari tangan Irwan.

__ADS_1


"Hmm ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Irwan. Ia pun memberikan kunci mobil kemudian kembali berjalan. Akan tetapi mendadak ia hentikan langkah, memutar tubuh dan memandang lekat mata Reka. "Bik Sum, tolong keluarkan koper yang ada di mobil dan bakar semuanya isinya," titah Irwan seraya menarik sebelah ujung bibirnya. Mata Reka membelalak sempurna karena perintah konyol itu.


"Tunggu, apa maksudnya. Kalau dibuang aku harus pakai apa?" tanya Reka dengan nada sedikit tinggi. Entah kenapa sekarang Reka merasa tak ada alasan untuk takut pada Irwan. Jika harus hidup dengan monster. Aku juga harus bisa menjadi monster. Begitulah isi pikaran Reka demi menjaga keselamatan diri.


Irwan tak merespon. Ia kembali berjalan meninggalkan Reka yang masih tertegun akibat perintahnya barusan.


"Hey tunggu!" teriak Reka karena Irwan masih mengabaikannya. Ia ikuti langkah Irwan hingga mereka masuk kedalam sebuah kamar.


"Jawab dulu!" Reka meraih tangan pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya.


Irwan menarik sebelah ujung bibir, memutar tubuh dengan cepat dan langsung mendorong Reka dengan kasar hingga punggung Reka membentur dinding. Ia tutup pintu menggunakan kaki karena tangannya sudah mencengkram kuat bahu Reka.


Reka langsung terdiam. Mendapat perlakuan mendadak cenderung kasar seperti itu membuat keberaniannya seperti menguap, hilang terbawa angin.


"Ayo kita bercinta," ucap Irwan dengan merendahkan suaranya. Ucapan yang begitu vulgar di telinga Reka. Apalagi dengan pupil mata Irwan yang membesar membuat Reka semakin gemetar.


Reka mencoba mendorong tubuh kekar itu. Tapi tak bergerak sama sekali. Irwan mencondongkan tubuh dan dengan cepat meraih bibir tipis Reka, mengesapnya dengan agresif. Reka terhenyak, ia mengerjap. Astaga, apa yang harus aku lakukan, pikir Reka disela kegilaan Irwan. Ia kembali meronta akan tatapi Irwan semakin menjadi. Ia peluk pinggang reka dengan tangan kanan dan tangan kiri merengkuh leher belakang Reka. Reka tak bisa bergerak karena benar-benar tak ada jarak di antara mereka.


Tok tok tok.


"Tuan, ada tamu di depan," ucap seorang dari balik pintu yang tentu saja menghentikan kegilaan Irwan. Ia jauhkan wajahnya dari Reka yang sudah memucat dengan napas yang terengah-engah.


Irwan pandangi paras cemas Reka dengan seksama dan tersungging kembali senyum iblis di wajahnya.


"Manis," ucap Irwan, mengelap bibir reka dengan ibu jari kanan tangannya. Lalu beberapa detik kemudian dengan kasar mendorong tubuh Reka hingga terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Cepat ganti bajumu dan segeralah keluar!" perintahnya.


****

__ADS_1


__ADS_2