
Dua bulan setelah insiden penyerangan.
Irwan yang masih penasaran akan si pelaku terus saja mencari jejak. Tapi sayangnya tidak ada petunjuk sama sekali. Semua telah mereka atur, dari dashcam hingga CCTV TKP, semuanya hilang. Mereka melakukannya dengan terencana. Dikemas secara apik hingga pihak berwajib pun tak mampu mengendus keberadaan mereka. Bahkan Doni, yang Reka sebut sebagai pengagumnya pun bukanlah tersangka. Pasalnya Doni telah lama menikah dan menetap di Amerika. Lalu siapa mereka? Irwan menarik rambutnya, frustrasi. Menghempas punggung di sandaran kursi rotan, menatap kosong pada langit malam yang tak berbintang.
"Mas, ngapain di balkon sendirian?" tanya Reka yang baru datang. Membuyarkan lamunan penuh beban yang ada di pikiran Irwan.
Semenjak kejadian itu, perasaan curiga selalu saja ada. Padahal dirinya sudah berusaha memantapkan hati bahwa Reka adalah istrinya, miliknya, dan tidak akan pernah berbuat hina seperti Siska. Wanita binal yang telah menghancurkan hati nurani dan empatinya. Tapi tetap saja, Irwan selalu meragu. Cerita Siska selalu mengikuti kebaikan Reka.
"Gak kenapa-napa, Sayang." Irwan tarik Reka yang sedang berdiri di sebelahnya. Mengarahkan pinggang langsing itu duduk ke pangkuan, memeluk erat dari belakang, seakan tak mau Reka hilang.
"Apa kamu bahagia tinggal denganku?"
Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir Irwan. Perkataan yang mampu membangunkan senyar di hati Reka. Membuat lidah Reka gatal untuk berucap 'ya.'
"Kenapa nanya itu?" Reka mengalihkan pertanyaan. Gengsi untuk mengakui bahwa dirinya telah terpesona pada kebaikan Irwan. Terjerat cinta pria kejam yang dulu sangat ia benci hingga ke tulang.
"Enggak, Mas cuma takut kamu pergi."
Degh! Jantung Reka kembali bertalu. Membuat ujung bibir tak bisa untuk tidak terangkat. Wajah pucat yang dulu selalu menghiasi kulit muka Reka, kini hilang entah ke mana. Berganti warna menjadi merah, merona dan berdenyut. Irwan pandai membuat pipi mulus Reka mekar dengan lebar.
"Sebenarnya kamu kenapa, Mas?" Reka mencoba memutar diri, tapi Irwan tak memperbolehkan. Ia makin memeluk posesif pinggang Reka seraya menenggelamkan wajah. "Tetaplah seperti ini?" ujarnya dengan suara bariton yang khas. Suara rendah yang terasa seksi di indra pendengaran Reka.
"Aku gak akan ke mana-mana. Aku akan di sini sama kamu." Reka berujar penuh ketulusan. Tak ada alasan untuk meninggalkan Irwan yang sudah memperlakuaknnya dengan baik, menyayangi dirinya dan juga memanjakannya. Luka Reka yang tertanam kokoh sudah tercabut hingga ke akar. Berganti dengan bunga-bunga indan nan cantik. Bunga yang selalu Irwan sirami dengan perhatian dan juga kasih sayang. Aku tidak menyesal telah memberikan kesempatan kedua padamu, Mas Irwan. Mungkin ini cara Tuhan agar kita memperbaiki kesalahan di waktu dulu, batin Reka. Mengusap-usap penunggung tangan Irwan dengan pelan.
Hening, suasana kembali senyap. Keduanya sibuk menjelajahi pikiran masing-masing. Irwan berusaha mempercayai perkataan Reka, menampik pikiran jelek yang menghampiri.
__ADS_1
Sementara Reka, berusaha mengatur pikiran, menenangkan libido yang mendadak saja muncul, keinginan aneh semenjak seminggu belakangan. Perasaan ingin diperhatikan dan dicumbu. Ia ketagihan dengan performa Irwan yang selalu sukses membuat lututnya bergetar. Gila, kenapa aku jadi mesum begini. Sadar Reka, sadar! Reka mememejamkan mata. Menikmati sapuan angin malam yang menerpa tubuh kurusnya. Menghirup udara dingin yang dihasilkan sisa hujan tadi sore.
"Mas ..." panggil Reka.
Irwan merespon panggilan itu dengan menggerakkan kepalanya. Tanda bahwa ia mendengarkan perkataan Reka.
"Aku mau tau tentang ayah kamu," ujar Reka. Perkataan yang sukses membuat Irwan menegakkan kepala dan membalik tubuh Reka, menghadapnya.
"Jangan bahas itu." Irwan berkata dengan suara tidak suka. Wajahnya pun seakan tersiram cuka. Ada aura kebencian di manik matanya yang coklat. "Paham!" lanjut Irwan. Mengalihkan pandangan sebagai kode agar Reka tidak membicarakan sosok itu.
"Baiklah," jawab Reka dengan lirih. Kecewa, padahal ia merasa hubungannya dengan Irwan sudah begitu baik. Tapi tak disangka, reaksi Irwan begitu terbalik dengan ekspektasinya.
****
Pagi harinya.
"Kamu kenapa?" tanyanya dengan lembut, menyentuh dahi Reka dengan punggung tangan. "Gak panas, kok. Apa kita perlu ke rumah sakit?" Ekspresi Irwan berubah panik. Ia lap keringat jagung yang keluar dari pori-pori kulit Reka. Merasa heran, badan Reka di suhu normal, tapi tubuhnya mengeluarkan peluh yang teramat banyak. "Kita ke rumah sakit, sekarang."
"Gak perlu, Mas." Reka berujar pelan, mengerjap berkali-kali kemudian memutar tubuhnya. Menatap penampilan suaminya. Rapi, kemeja lengan panjang yang sudah tergulung sampai siku.
"Cuma masuk angin aja, kok. Mungkin karna kelamaan di luar," tambahnya, menipiskan bibir. Bersyukur Irwan memperlakukannya dengan sangat baik.
"Tapiー"
"Udah, gak usah khawatir," potong Reka. Mengubah posisi, duduk. Mengunci mata suaminya yang sudah berkabut kegelisahan. "Aku gak pa-pa, kok."
__ADS_1
Irwan mengembuskan napas panjang. Mengacak-acak pucuk kepala Reka lalu tersenyum getir. "Baiklah, kalau ada apa-apa beri tau, Mas." Mengecup kening Reka kemudian beralih ke bibir. "Mas berangkat dulu," ucap Irwan yang langsung direspon Reka dengan senyuman. "Hati-hati di jalan."
Tak lama kemudian, masuklah Sumi dengan nampan yang berisi roti isi dan juga teh hangat. Meletakkan barang bawaannya di atas nakas dan membangunkan sang nyonya yang berbalut kain tebal.
"Nyonya, ini sarapannya," ucap Sumi.
"Emb, nanti ya, Bik. Aku mau istirahat sebentar lagi." Reka makin mengeratkan balutan. "Dan juga jangan panggil 'Nyonya,' 'kan gak ada orang lain di sini," tambah Reka.
Rasa panas dingin yang melanda tubuh membuat mata yang tadinya sudah terang, kembali redup. Mengantuk yang teramat sangat mendera nerta, mengalahkan rasa lapar, padahal surya telah menampakkan sinar terang.
Sumi menipiskan bibir, merebahkan diri di samping ranjang, menyentuh kening Reka dengan punggung tangannya. "Ndok, kapan terakhir kali kamu datang bulan?" Suara lembut nan penuh kasih ibu itu sontak saja membuat Reka membuka matanya dengan cepat. Melihat Sumi yang sudah menatapnya.
"Kenapa, Bik?" Reka bertanya balik. Membetulkan posisi dengan duduk bersandar di kepala ranjang. Mencoba memutar memori kapan tarakkhir kali ia menstruasi. "Kayaknya bulan ini belum," jawab Reka tanpa ekspresi. Namun, tidak lama kemudian wajah yang tadinya datar, berubah total, pupil mata Reka melebar, tak lama kemudian kedua ujung bibirnya tertarik ke atas. "Apa aku hamil?" tanyanya dengan antusias. Terukir senyum mengembang di bibirnya yang tak berwarna.
****
Sore hari.
Dengan wajah pucat, Reka menunggu kehadiran Irwan. Duduk sandaran di kursi depan dengan mata sayu. Menahan rasa kecewa karena janin tak kunjung ada dalam rahimnya. Aku terlalu baper. Reka membatin, mengusap pelan perutnya yang masih rata.
Tak lama, mobil Irwan pun tiba dengan disusul mobil Ferrari milik Chandra. Dengan langkah cepat Irwan dekati Reka yang sedang berdiri di teras rumahnya. Menggenggam kuat amplop berwarna coklat.
"Mas sudah pu---"
Plaakk!
__ADS_1
Tamparan keras mendarat di pipi Reka. Layangan tangan yang sudah tidak pernah Irwan lakukan hampir delapan bulan lamanya.