Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Siska


__ADS_3

"Hai ..." sapa wanita itu dari kejauhan. Menggerakkan jemarinya dengan wajah ceria. Senyum sumringah terukir jelas di bibirnya yang merah.


Dia mendekat. Melangkah pasti menuju ke arah mereka. Wanita yang begitu cantik. Berwajah tirus, bulu mata lentik, dan bibir yang ranum. Apalagi tubuh rampingnya berbalut gaun selutut dengan mantel bulu branded. Benar-benar sempurna. Bak model profesional. Ia buka kacamata hitam yang bertengger kukuh di hidungnya yang mancung.


Irwan yang melihat sosok wanita itu langsung meradang. Tangan ia kepalkan erat. Tinju pun seakan siap melayang kapan saja. Tatapan mata Irwan benar-benar berkobar. Membuat Reka yang berada di sebelahnya, mundur dua langkah. Menjaga jarak, tak ingin terkena dampak.


"Apa kabar? Tak disangka kita bertemu di sini," ucapnya seraya mengulurkan tangan pada Irwan.


Irwan makin naik pitam. Ia tak tahan berhadapan dengan wanita tak tau malu sepertu Siska. Wanita yang menyakitinya sepuluh tahu lalu. Si ja*lang yang memanfaatkannya demi uang.


"Cih! Tak tau malu!"


Irwan benar-benar berang. Ia tak segan menepiskan tangan Siska yang hendak bersalaman padanya.


Anehnya Siska tak ketakutan. Ia semakin gencar mendekati Irwan. Ia berkeliling ke tubuh tegap Irwan seraya memainkan telunjuknya. Menekan-nekan otot bisep Irwan yang keras.


"Jangan begitu dong, Sayang. Tidakkah kau merindukanku," bisiknya ke telinga Irwan yang begitu terdengar sensual.


Reka yang berdiri di belakang Irwan sampai bergidik ngeri. Melihat tingkah wanita yang bernama Siska itu.


"Heh! Jangan kau sentuh tubuhku!" bentak Irwan seraya menepiskan tangan Siska yang terus saja menggerayangi perut dan dadanya.


"Ho ... kok aku semakin tertantang ya ...."


"Hahaha ...."


Siska tertawa gemas melihat wajah merah Irwan yang sedang marah.


"Bukankah dulu tubuhku ini adalah favoritmu?" Senyum genit masih menghiasi wajah putih Siska.


"Apalagi ini. Kau dulu selalu suka di bagian ini," ucap Siska yang tak tanggung-tanggung memegang dua bukit sintalnya. Seraya melekukkan tubuh.


Benar-benar perempuan jal*ang.


Emosi Irwan semakin tinggi. Ia tatap tajam mata Siska. menunjukkan ketidaksukaannya.


Tapi lagi-lagi Siska hanya tersenyum.


"Ya ... ku akui. Sekarang aku memang sudah menikah. Tapi suamiku jarang di rumah. Dia sering ke Kalimantan mengurus bisnis batu baranya di sana. Dan jika kamu mau, aku rela melakukannya denganmu," ucap Siska mengedipkan mata. Kembali ia mengelilingi tubuh Irwan. Menatap minat pada mantan kekasihnya itu.


"Jangan mimpi!" Nada suara Irwan begitu tinggi. Sampai beberapa orang menatap aneh pada mereka.


"Hahaha ... kenapa? Apa karena usia? Aku memang sudah tidak semuda dulu. Tapi aku jamin. Permainan ranjangku tak akan membuatmu menyesal, Irwan sayang," ucap Siska seraya menjilati telinga Irwan.


Astaghfirullah.


Reka makin tak mengerti arah pembicaraan dua orang itu. Satu yang ia tau. Siska benar-benar seperti wanita nakal.


"M-mas, a-ku duluan," ucap Reka terbata-bata. Dia merasa malu melihat tingkah Siska. Mencoreng harkat dan martabatnya sebagai wanita.

__ADS_1


Reka melangkahkan kaki, tapi Irwan cepat menangkap lengannya.


"Kita sama-sama," ujar Irwan yang terlihat jelas sedang menahan gejolak api, penuh kebencian.


Keduanya melangkah. Akan tetapi, Siska manarik lengan Irwan hingga kaki mereka kembali terhenti.


"Aku belum selesai."


Siska mendekati Irwan. Tapi kini Reka lah yang menjadi sosok yang ia pandang dengan intens.


"Ngomong-ngomong, siapa kamu?" Siska angkat dagu Reka. Reka mendongak ke atas. Mata mereka beradu pandang. Siska menyeringai. Kemudian melepaskan wajah Reka dengan kasar


"Jangan sentuh istriku!" bentak Irwan seraya menunjuk tepat di wajah Siska.


Namun Siska hanya tertawa hambar.


"What! Isrimu? Hahaha ... yang benar saja. Kenapa seleramu jadi kampungan begini," cerca Siska. Menatap penuh penghinaan pada Reka yang hanya berpenampilan biasa saja. Walaupun pakaian yang Reka kenakan juga tak kalah mahal. Tetap saja terlihat kampungan di mata Siska.


"Apa kelebihannya? Kurus begini. Ini aja gak ada isinya sama sekali," ucap Siska sambil menekan buah dada Reka. Melirik sekilas wajah marah Irwan.


Siska menarik sebelah ujung bibirnya. Mendekatkan wajahnya ke telinga Reka.


"Apa kau tau, betapa liarnya suamimu itu ketika bersenggama denganku dulu."


Reka langsung terdiam. Detak jantung menjadi tak beraturan. Mendengar bisikan dari Siska, seakan mendapat tamparan keras. Bagaimana tidak? Karena ia memang tidak pernah mau menunaikan kewajibannya yang satu itu.


"Kau gila, Siska!" ucap Irwan seraya menarik tubuh Siska. Menatap nyalang pada mantan kekasihnya itu.


Irwan tarik lengan Reka. Merangkulnya menjauhi Siska.


****


Pak Marno mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata. Sesekali ia intip majikannya yang masing-masing membuang pandangan ke luar jendela.


"Kita harus ke mana dulu, Tuan?" tanya pak Marno yang langsung membuyarkan lamunan kedua majikannya itu.


"Kita pulang saja."


Irwan kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela. Hatinya benar-benar hancur. Teringat kembali kenangan cintanya bersama Siska dulu. Ia hempaskan napas berat. Merutuki diri dalam hati.


Reka juga sama. Bergelayut dengan pikirannya sendiri. Mengingat penghinaan yang Siska katakan. Membuatnya menghembuskan napas lirih.


****


Pukul delapan malam.


Di dalam kamarnya yang besar. Reka duduk mematung menatap luar jendela. Melihat langit malam yang tak berbintang. Hanya nampak kerlap lampu taman dari kejauhan.


"Buk, pak ... Eka rindu kalian," lirih Reka seraya menyentuh layar ponselnya. Foto kebersamaan keluarganya ketika hari raya idul fitri. Nampak bulir air terbendung di ujung mata Reka. Merasakan rindu akan sosok kedua orang tuanya.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Kak, ada tamu di luar," ucap seseorang dari balik pintu.


"Sebentar," sahut Reka seraya menghapus jejak air matanya. Merapikan pakaian juga wajahnya yang berantakan.


Si**apa ya?


Reka membatin, melangkahkan kaki ke arah pintu.


"Kenapa, Ra?"


"Ada orang tua Kakak di luar," ucap Nara.


Mendengar penuturan singkat Nara, membuat mata Reka membelalak, bibir terangkat dan bulir air kembali jatuh dari pelupuk mata. Ia bahagia, orang tua yang dirindukan datang menemuinya.


"Benarkah?"


Dengan senyum yang mengembang, Reka berlari ke ruang tamu. Melewati Irwan yang baru turun dari langai atas.


Degh.


Irwan terpana. Tak mengerjap sekalipun.


Cantik ....


Baru kali ini Irwan melihat senyuman merekah Reka.


Dengan langkah lebar, Reka berlari ke arah depan. Bertemu orang tua yang ia rindukan.


"Ibuk ... Bapak," panggilnya lirih.


Ia peluk tubuh ibunya dengan erat. Menumpahkan rasa rindu yang sudah berat.


"Bapak ... Ibuk. Kapan nyampe?" tanyanya tanpa melepaskan pelukan.


"Baru saja, Kak." Dewi membelai rambut panjang Reka yang tergerai. Ia longgarkan pelukan dan menatap manik mata anaknya.


"Bagaimana keadaan kalian? Maaf, kami baru sempat menjenguk," ucap Dewi yang terdengar menyesal.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya yang seharusnya minta maaf," sela Irwan yang datang dari arah belakang. Ia raih tangan mertuanya dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


Karena kedatangan kedua orang tuanya, mau tak mau Reka harus berbagi kamar dengan Irwan. Berbagi ranjang dan berbagi perabot yang lainnya. Menghabiskan malam dalam ruangan yang sama.


"Sudah tidur?" tanya Irwan dengan mata menatap plafon kamar mereka.


Reka yang memang belum tidur, memeluk erat gulingnya. Menahan gugup dan juga takut. Walaupun Irwan sudah meminta maaf padanya, tetap saja masih membuatnya tidak nyaman bila harus tidur bersama.


****

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote nya ya kawan-kawan. Saya juga perlu krisan dari kalian. Hehehe


__ADS_2