Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Luka Reka


__ADS_3

 


Dengan agak terseok Reka pun mencoba berdiri. Aku harus pakai apa? Bukankah bajuku semua sudah dia buang? Aku tak habis pikir, bagaimana psikopat itu bisa menjadi seorang dokter? Reka mengepalkan tangannya. Ya, dia hanya bisa menggeram, merutuki pria bejad yang kini sudah menjadi suaminya.


Reka berjalan menuju pintu besar yang ada di dalam kamar lalu menggesernya dengan perlahan. Lagi, Reka mengerjab takjub melihat isinya. Begitu banyak pakaian bermerek nan indah yang tertata rapi di sana.


Wahhh amazing .... Reka kembali speechless akan kekayaan Irwan. Namun ekspresi itu tak bertahan lama. Keningnya mengkerut melihat label harga dipakaian itu.


Apa maksudnya ini? Mau pamer atau bagaimana? Mau nunjukin kalau dia itu anak sultan, gitu? Cih! sampah! Reka empaskan gaun yang ia pegang dan kembali berjalan melihat meja yang ada di tengah ruangan. Mata Reka kembali berbinar setelah melihat barang berkilau di balik meja kaca itu.


"Astaga ... ini berlian?" Reka menekan suara agar tidak terdengar orang lain. Ia belai perhiasan itu dengan tangannya.


"Andai saja perilakunya itu manis. Pasti aku akan bersukur punya suami seperti dia," guman Reka lirih.


Terlintas kembali kejadian itu. Seketika dadanya terasa berat. Ada rasa sesal karena memilih setuju menikah dengan Irwan.


Ya Allah, benarkan jalan yang ku ambil ini? Inikah takdir yang harus aku lalui?


Reka embuskan napas dengan perlahan dan menata hatinya agar tidak berlarut dalam kesedihan. Ia raih jumpsuit panjang yang tergantung di sana.


"Ya, aku akan menggunakan ini. Sebagai simbol bahwa aku tidak mudah terintimidasi," ucap Reka memantapkan hati.


Sepuluh menit berselang.


Reka berjalan keluar kamar dan mencari sosok Irwan. Ia melihat seorang tamu pria yang sedang berbincang dengan suaminya. Siapa orang itu? Kenapa aku harus menyapanya? Reka berdehem, tersenyum kikuk menyapa Irwan dan sang tamu yang sedang duduk berhadapan.


Seolah tersihir, keduanya yang sempat berbincang santai spontan bungkam, terkesiap melihat penampilan Reka yang begitu mempesona. Akan tetapi Irwan yang mempunyai sifat angkuh dengan cepat mengalihkan pandangan, tidak ingin berlarut dalam tatapan yang memberikan senyar aneh di hatinya. Tapi berbeda dengan tamunya. Sang tamu tak berkedip, menatap dengan tatapan minat pada Reka yang begitu cantik. Reka terlihat bersinar apalagi dengan gaun merah menyala di tubuhnya. "Wao," ucap sang tamu bersuara pelan.


Perasaan Irwan berkecamuk, tak suka temannya memandang sang istri seperti itu. Ia lemparkan bantal sofa hingga mengenai kepala Chandra. "Udah bosen idup!"


"Eh sorry, istri lo cantik," jawab Chandra jujur.


Irwan menatap tajam pada Chandra hingga membuat Chandra menjadi canggung.

__ADS_1


"Tenang, Bro. Gue gak bakal ngerebut bini lo, kok." Chandra tersenyu, memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.


Irwan kembali memandang Reka yang masih berdiri. "Eh, kamu, sini!" Mengibas tangan sebagai kode agar Reka mendekat.


Reka melongos kesal. Irwan memanggilnya seakan memanggil seorang pelayan. Namun tetap saja ia turuti perintah itu. Menahan hati yang seakan tercabik karena tidak dihargai sebagai seorang istri.


Dengan menahan penghinaan itu, Reka melangkah, duduk tertunduk di sebelah Irwan. Sabar Reka, kamu jangan nangis. Jika kamu lemah, dia akan semakin senang menginjak-injak harga dirimu. Reka menenangkan dirinya sendiri.


"Kau sudah melihatnya, bukan? Jadi pergilah! Jangan ganggu malam pertamaku," usir Irwan tanpa basa-basi kepada temannya itu.


Reka melongo. Bagaimana mungkin dia berbicara seperti itu pada orang lain.


"Hey ... sabar, Sob. Ini masih sore. Lagian bukannya malam pertama kalian itu dua tahun yang lalu, ya? Berarti malam ini adalah malam kedua kalian. Bukankah begitu?" terang Chandra seraya mengulum senyum.


Lagi, Reka tertegun mendengar perkataan Chandra. Apa maksudnya ini? Berarti dia tau kalau ....


Reka berdiri, menatap tajam pada Chandra.


"Tunggu. Apa maksudmu barusan?" tanya Reka yang setengah paham arah pembicaraan itu. Ia ingin memastikan apa yang ada dipikirkan itu sama dengan apa yang sedang mereka bahas.


Reka masih menatap serius pada Chandra dan terlintas kembali ingatan tentang kejadian dua tahun yang lalu.


"Bukankah kamu orang yang dulu ngajakin Rania--" Belum sempat Reka menyelesaikan ucapan, Irwan lebih dahulu mencengkram kuat lengannya. Menatap tatap nanar bola mata Reka dengan deru napas yang begitu memburu. Kenapa dia? Batin Reka. Mendadak ia merasakan kengerian menjalar diseluruh tubuh. Reka menciut, perasaannya tidak enak ditatap Irwan seperti itu.


"Ayo ikut aku!" Irwan yang murka menarik paksa lengan Reka. Reka mengaduh namun tak dipedulikan oleh Irwan. Ia terus saja menyeret tubuh kurus Reka menjauhi ruang tamu dan menuju kamar mereka.


"Hey, jangan terlalu kasar padanya!" seru Chandra ketika melihat tuan rumah pergi meninggalkan dirinya yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"Ya sudahlah, ini bukan urusanku." Chandra beranjak dari duduknya dan pergi dari rumah Irwan.


Tibalah mereka di dalam kamar. Irwan membanting pintu hingga suaranya menggema memenuhi ruangan.


"Kau begitu tidak sopan!" bentak Irwan, menatap nyalang mata Reka. Ia tolak tubuh kurus Reka dengan kuat, Reka terhuyung dan membentur dinding. Mata Reka berkaca-kaca menahan sakit fisik juga hatinya.

__ADS_1


"Jangan menangis!" Irwan kunci tubuh Reka dengan kedua belah tangan. Menatap lekat air muka Reka yang sudah pucat serta bibir yang mulai bergetar.


"Aku hanya menyuruhmu keluar, bukannya ikut bicara!" imbuh Irwan yang masih dengan suara lantang. Membuat telinga Reka berdenging sesaat.


Melihat Reka yang ketakutan bukannya kasihan malah membuat emosi Irwan jadi semakin meledak. Amarahnya telah naik ke ubun-ubun. Ia pun mencengkram kuat kedua pipi tirus Reka.


"Kau ingin tau kenapa Chandra bisa tau tentang kejadian dua tahun lalu?" kata Irwan dengan nada menggeram.


"Itu karena aku! Akulah yang menyuruhnya mengajak temanmu untuk menjauh darimu!"


"Aku yang merencanakan semuanya! Aku yang memasukkan obat tidur diminumanmu. Itu aku! Akulah penjahatnya!" teriak Irwan. Matanya membelalak lebar dengan napas yang terdengar kasar.


Mendengar penjelasan dari Irwan membuat darah Reka mendesir, pembuluh darahnya seakan pecah seketika. Mengetahui kejadian yang sebenarnya membuat Reka semakin meradang. Dalam sekejap ketakutan Reka berubah jadi kebencian. Ia dorong kuat tubuh Irwan hingga Irwan terhuyung ke belakang.


Plakk!


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Irwan. Irwan memegang pipinya yang terasa panas. "Beraninya kau!"


Plakkk!


Tamparan kembali mendarat di sebelah kanannya.


"Dasar psikopat brengsek!"


Reka kunci mata Irwan dengan tatapan tak kalah garang. Kini mata mereka beradu pandang seolah siap untuk berperang.


"Kenapa? Kau ingin memukulku? Ingin menamparku juga, iya!" ucap Reka dengan nada tinggi. Ia seperti siap bertarung melawan Irwan yang tenaganya berkali-kali lipat darinya.


"Kau benar-benar penjahat. Bagaimana bisa kau merencanakan sesuatu yang keji seperti itu? Apa kau tau hidupku benar-benar hancur karenamu? Ke mana hati nuranimu!" teriak Reka. Ia tumpahkan segala kekesalannya, segala sakit hati yang ia tahan selama ini.


"Aku sangat membencimu, Irwan!" ucap Reka dengan suara yang masih terdengar menggelegar.


Reka seka air mata yang mengalir. Meluapkan sakit hati yang selama ini ia simpan sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak ingin hidup denganmu. Aku ingin pergi dari sini!"


****


__ADS_2