Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Lara Irwan


__ADS_3

Siska berdecak, kesal. Lalu berdiri kembali. "Yang salah itu kamu. Kamu yang tidak percaya istri kamu. Hanya dengan beberapa lembar foto yang aku kirim. Kamu langsung terpancing. Hah! Apakah itu yang namanya cinta." Siska mencemooh Irwan tanpa beban. Ia pun kembali berjalan. Mengelilingi tubuh Irwan dan menatapnya dengan tatapan berhasrat.


"Aku memang merencanakannya dengan Dion. Sudah lama aku mengincar kalian. Dan sepertinya Tuhan berpihak kepadaku. Kami begitu mudah membodohi istrimu hingga dia minum pil tidur dan kami melancarkan segalanya." Menyeringai, Siska kembali melanjutkan kata, "Bukankah aku pintar."


Irwan bergeming. Cara Siska benar-benar tidak pernah terbayangkan. Ia malah menuduh yang bukan-bukan pada Reka. Sial, aku memang bodoh.


"Ayolah. Jujur saja. Kamu tidak mencintainya, 'kan?" Berbisik pelan kemudian menarik sabuk celana Irwan hingga tubuh mereka menempel. "Lupakan dia, dan kembali padaku," tandasnya lagi dan langsung mendapat jambakan di rambutnya yang tergerai.


"Jangan mimpi." Mendorong Siska hingga terhuyung, membentur dinding.


"Perempuan setan sepertimu gak pantes dapat kesempatan kedua." Sarkis. Irwan menarik sebelah bibir. Mengabaikan Siska yang mengaduh karena kelakuan kasarnya.


"Hah, setan?" Siska mengulang ucapan Irwan.


"Bukankah kamu juga begitu. Kalau aku setan, lalu kamu apa? Iblis? Raja setan atau dewanya jin? Jangan melucu Irwan." Siska tergelak kemudian melanjutkan ucapan, "Kamu itu kasar, tidak berperasan dan emosional. Jadi, aku rasa kita pasangan serasi."


Irwan tak menanggapi, karena memang dirinya seperti itu. Dan sebab tebiat jelek itulah Reka meninggalkannya tanpa berniat kembali.


Siska kembali menggerayangi tubuh Irwan dari belakang. Meremas-remas otot dada Irwan yang terhalang kemeja. "Ayolah, kita mulai dari awal," bisiknya sensual. Membuka kancing kemeja dan menelusupkan jemarinya.


Gleg! Irwan menelan ludah dengan cepat. Sedikit tergoda. Namun otak masih mengingatkan hingga ia sadar dan menggenggam pergelangan tangan Siska dengan kuat. "Jangan harap!" Irwan melotot. Menarik paksa tubuh wanita itu keluar dari kamarnya. Terus saja menarik tanpa memperdulikan Siska yang menjerit kesakitan, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu rumah.


"Sekarang pergi! Atau aku---"


"Atau apa, apa?!" Siska menantang. Malu diperlakukan Irwan seperti itu.


"Atau aku akan sebarkan vidio kamu yang lagi nge-s*ks dengan pria bule itu," ancam Irwan dengan jari telunjuk sesenti dari hidung Siska.


"V-vidio?" ulang Siska dengan bibir bergetar. Nyali yang tadinya besar kini menjadi sekecil debu.

__ADS_1


"Iya, Vidio. Apa kamu tidak tau. Sebelum aku pulang ke Indonesia, aku memasang CCTV di kamar kita." Irwan berdecih. Hatinya makin menggeram mengingat kejadian lalu. "Jadi sekarang pergilah. Jangan ganggu hidupku lagi. Jangan pernah ganggu rumah tanggaku. Atau kamu gak akan bisa lagi mengangkat wajah munafikmu itu ke dunia ini. Dasar murahan!"


****


Tiga bulan kemudian.


Di kantin rumah sakit.


Irwan sedang mengaduk kopinya dengan pelan. Mengaduk terus padahal minuman berwarna hitam itu sudah kehilangan hangatnya.


"Hey, ngelamunin apa?" ucap seseorang dari arah belakang seraya menepuk pundaknya.


"Eh, elo, Ra." Tersenyum kikuk. "Ayo duduk," tawarnya pada Clara, menunjuk kursi panjang yang ada di hadapannya.


Clara duduk dan meletakkan gelas teh es yang ia bawa di atas meja. "Mikirin Reka?" tanyanya lagi.


Irwan menarik napas panjang, kemudian mengesap kopinya. "Iya, udah tiga bulan dia gak pulang."


Irwan kembali mendesah panjang. "Udah, tapi mereka sepertinya gak tau cerita ini." Mengaduk kembali kopinya. "Entah ke mana dia ...." Lirih, suara Irwan benar-benar penuh keputusasaan.


Menggenggam tangan Irwan dan berkata dengan lembut, "Tenanglah, di mana pun dia. Gue yakin dia pasti baik-baik aja." Clara menipiskan bibir. Membentuk senyuman yang meneduhkan kegalauan Irwan.


"Ekhem ekhm ekhem." Seseorang berdehem berkali-kali dari arah samping. Membuat Clara melepaskan genggaman dan merasakan pipinya menegang. "Apaan sih, Mel? Kalo lagi sakit, maskernya dipake." Clara berucap, berusaha menetralkan suasana. Apalagi melihat tatapan Melati yang seolah sedang mengintrogasinya.


"Ngomongin apaan?" Melati duduk tanpa dipersilakan. Menatap wajah kusut Irwan kemudian memicingkan matanya. "Pasti karena Reka," tebak Melati. Dan diamnya Iwan serta Clara seolah mengiyakan ucapannya.


"Udah, deh. Ikhlasin aja. Mungkin dia udah nemu laki baru. Laki yang penyayang, yang enggak curigaan dan tentunya mencintai dia apa adanya. Bukan ada apanya." Melati mencebik. Menyinggung telak Irwan yang mukanya sudah tersiram cuka.


Irwan tak merespon. Desahahan panjanglah yang lagi-lagi keluar dari bibirnya. Sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar menyesal. Irwan alihkan pandangan. Menatap arah pintu masuk. Memandangi orang-orang yang sibuk berlalu lalang masuk keluar kantin. "Apa mungkin dia kecelakaan, lalu lupa ingatan. Ah, gue bisa gila." Irwan mengacak rambutnya yang sudah mulai panjang.

__ADS_1


Melati berdecak heran kemudian menggeleng tak percaya. Irwan yang ia kenal sosok rasional menjadi bodoh dalam sekejap. "Itu gak mungkin. Kalau dia kecelakaan, orang tuanya pasti tau. Dan kalo dia amnesia, itu malah bagus. Jadi, dia bisa ngelupain elo dan merajut lembaran baru." Lagi, Melati menyindir. Tak habis-habisnya men-skakmatt temannya sendiri. Kesal? Ya, Melati kesal. Sebagai wanita ia serasa terpanggil untuk membela sesama. Merasakan sakit akibat tuduhan yang tak berdasar. Apalagi sampai menjatuhkan talaq. Sungguh, Melati sangat membenci Irwan. Andai bukan sahabat kecilnya. Sudah dipastikan ia akan membantu Reka menguliti Irwan, kemudian menenggelamkan bangkainya ke dasar lautan.


"Ck, ya udah deh. Gue cabut." Melati beranjak dari kursi. Berlalu meninggalkan Clara dan juga Irwan.


Hening, suasana kantin yang riuh seakan tak masuk ke panca indra Irwan dan juga Clara. Clara yang sudah lama menyukai Irwan, menatap lekat muka lelaki idamannnya dari dekat. Tak mau menyia-nyiakan waktu yang tersedia.


Sementara Irwan, masih memikirkan Reka. Di mana dia, apa kabarnya, bagaimana kesehatannya dan sebagainya. Tidak menyangka sosok Reka benar-benar mendominasi pikiran. Ia yang selama ini berpikiran cinta telah hilang dari dirinya. Sekarang mulai menyadari. Bahwa dia telah mencintai Reka. Wanita lemah namun menjadi penguatnya. Reka pulanglah.


"Kira-kira ada yang bisa gue bantu gak." Clara kembali membuka obrolan. Berharap Irwan menatapnya. Tak suka melihat wajah Irwan dari samping. Ya, walaupun tetap terlihat tampan di mata Clara.


"Makasih, Ra. Gue bisa ngurus rumah tangga gue sendiri."


Dorrr!


Jantung Clara seakan tertembak. Mematikan semangatnya untuk mendapatkan Irwan. Kecewa, Irwan masih menganggap Reka istrinya. Padahal ia sungguh berharap Irwan bisa melupakan Reka dan menyambut perasaannya.


****


Di mansion.


Irwan mengernyitkan dahi, melihat mobil begitu banyak berjejer di halaman rumahnya. Mencoba mengingat apakah dia memiliki tamu hari ini. Menggeleng pelan, kemudian memijit pelipisnya. "Mobil siapa ini? Perasaan lagi gak nunggu tamu." Irwan jalankan mobilnya masuk ke dalam garasi.


"Tuan, I-itu .. itu ada ...." Sumi terlihat kesusahan melanjutkan lisan. Meremat-remat jemarinya dengan kuat.


"Siapa, Bik?" tanya Irwan, namun belum sempat Sumi menjawab mata Irwan telah disuguhkan dengan punggung sosok manusia yang paling ia benci. Papi. Irwan mengetatkan rahang. Mendekati pria tua yang sedang berdiri memandang sebuah lukisan abstrak yang tergantung di ruang tamu. Arya Tri Widiarto, sang papi yang sudah lama tidak ia temui.


"Untuk apa Anda ke sini?" Sinis, Irwan bicara seolah pria itu adalah orang asing. Mengedarkan pandangan dan melihat begitu banyak bodyguard berstelan hitam berdiri di dalam rumahnya.


Arya memutar tubuh dan langsung melayangkan tangan panasnya ke pipi kiri Irwan. "Dasar anak tidak tau untung!" hardiknya penuh kemarahan. Menatap tajam pada Irwan yang sedang menyeringai karena terkena tamparannya. "Bisa-bisanya kamu menikah tanpa memberitahuku, Papi kamu sendiri." Lantang. Suara Arya membuat kuping Irwan berdenging sesaat.

__ADS_1


Irwan mengumpulkan ludah dan membuangnya, mengeluarkan darah yang terkumpul di mulut karena pukulan itu. "Cuih, untuk apa? Untuk apa saya memberitahu Anda, Tuan Arya Tri Widiarto yang terhormat?" Menantang dengan dada membusung.


__ADS_2