
Remuk. Irwan merasakan organ bagian dalam perutnya bagai diremas-remas. Sakit tak tertahankan akibat pengeroyokan itu. Belum lagi wajah yang juga berdenyut terkena tendangan dari pria-pria suruhan ayahnya. Nasib sungguh pandai memilin hidup. Irwan yang tak berperasaan dibalik menjadi korban. Ibarat langit masih ada langit. Irwan yang kejam dianiaya oleh ayahnya sendiri. Benar-benar keluarga yang rumit.
Mengistirahatkan tubuh di sofa ruang tamu. Pasrah saat Sumi memperlakukannya sebagai pasien. Menerima sentuhan tangan wanita tua yang begitu peduli padanya.
"Auw, pelan-pelan, Bik." Irwan terlonjak halus saat Sumi menempelkan kapas berbalut betadin di pelipisnya yang sedikit sobek.
Sumi tersentak sesaat, lalu tersenyum. Berusaha menetralkan emosinya. Menenangkan kesedihan yang muncul atas rasa sakit yang mendera sang majikan. "Baiklah," ucap Sumi. Kembali menempelkan cairan obat itu ke bagian wajah Irwan yang luka dengan perlahan.
Suasana senyap, para pelayan lain hanya bisa mengintip dari balik lemari. Memperhatikan tuannya yang angkuh menjadi pesakitan.
Irwan yang sedang rebahan di sofa dengan mata terpejam kembali teringat akan fatwa yang papinya ucapkan. Kenapa jadi begini? Membuka mata dan melirik sekilas kertas yang tergeletak di lantai tak jauh dari posisinya duduk. "Bik, tolong ambilkan itu."
"Baik, Tuan."
Terngaga, mata Irwan pun membeliak sempurna tatkala mengetahui namanya benar-benar tercantum di sana. Apalagi bersanding dengan nama gadis yang ia kenal. Clara Bramantyo.
"Rara." Mengernyitkan dahi, menutup kertas berwarna coklat itu kemudian membuangnya. Bagaimana bisa hidupku jadi runyam begini?
"Argh ...." Irwan tarik rambutnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lainnya memegang pergelangan Sumi yang sedang mengobati lukanya. "Cukup, Bik."
Rasa kesal, sesal dan frustrasi menyatu. Terjalin erat seakan tak ingin membiarkan Irwan tenang. Dirinya yang sedang gelisah mencari keberadaan sang istri kini bertambah. Pelik, semuanya semakin semraut. Pikiran Irwan kembali berkecamuk saat teringat akan ancaman sang ayah. Bagaimana bisa dia bertunangan dengan gadis lain sedangkan statusnya masihlah suami Reka. Apalagi calon tunangannya itu adalah Clara. Oh Tuhan. Cobaan apa ini? Mengembuskan napas kasar kemudian memejamkan mata. Memikirkan solusi tercepat untuk masalahnya.
"Ya, aku harus bicara sama Clara. Pertunangan ini tidak boleh terjadi."
__ADS_1
Meraih ponsel dari saku celana. Tapi belum sempat menekan nomor Clara, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Tulisan yang makin menguras isi kepalanya. Suatu kabar yang sudah lama ia tunggu namun tak berimbas baik pada kehidupan rumah tangganya. Dengan cepat dia menekan nomor seseorang dari layar ponselnya.
"Chan, anterin gue ke Jogja. Sekarang!"
****
Kediaman Ady Gustiawan.
Ruang tamu bercat putih telah menjadi saksi tercurahnya segala nestapa yang pendam. Meluapnya segala luka yang terkubur dalam. Mengisahkan cerita yang mati-matian Reka pegang sampai merelakan diri melompat ke lubang api yang Irwan ciptakan. Namun apalah daya, manusia hanya merencanakan dan Tuhanlah yang menjadikan. Pengorbanan Reka tak sebanding dengan hasilnya. Ia tetap terluka walaupun sempat merasa bahagia. Dengan terisak Reka ceritakan segalanya. Kisah pilu yang menjadikan tangisnya dan sang ibu menyatu, berkelindan erat membuat sayatan demi sayatan dalam kedua pasang netra Ady dan juga Eldi. Ibu dan anak itu saling berpelukan, terduduk di atas lantai. Mencurahkan kesedihan dan rasa sesal.
"Maafkan Ibu, Kak." Suara Dewi benar-benar lirih. Mengusap punggung anaknya yang bergetar. Perasaan sesal akan keputusannya di masa lalu membuncah di dadanya. Membetuk ombak yang dengan mudah memecah bebatuan di bibir pantai. Tak menyangka, Irwan si menantu idaman tega berbuat kejam pada anak sulungnya.
Sementara Ady, tak sanggup berkata. Ia hanya terduduk lemas sandaran di sofa. Merasa ikutan bersalah karena tidak tau perangai menantunya itu. Ingin marah, Ady begitu murka ketika mengingat perlakuan manis Irwan pada Reka dan juga mereka. Tapi percuma, ia juga bertanggung jawab akan derita yang mendera anaknya.
Semuanya sudah duduk tenang di meja makan. Reka yang sudah bermata lipas tetap harus mengisi tenaga. Ya, walaupun dipandang aneh oleh kedua adiknya.
Sementara Eldi, dengan tenang menceritakan masa lalunya. Tentang dirinya yang sudah menduda setelah sang anak lahir. Bagaimana kehidupan pribadi dan keluarganya. Dan Reka terdiam. Mengiyakan cerita Eldi karena selama tiga bulan tinggal dengan Iren, dirinya ikut mengamati pergerakan Eldi ketika mendidik Aji. Pria baik, itulah julukan yang Reka sematkan pada Eldi. Sosok yang tak pernah kasar, walaupun sang anak sering menguras emosi. Eldi juga menceritakan betapa dekatnya hubungannya dengan suami Rianti.
"Ibuk gak nyangka. Nak Eldi ini temenan sama Ardi." Dewi menipiskan bibir. Begitu bersyukur ada orang yang merawat Reka. Terlebih lagi sang penolong itu berteman baik dengan menantu keduanya.
Menenggak air di dekatnya, memandang ibu Reka yang sudah menatap teduh padanya. "Iya, Tante."
"Jangan panggil Tante, panggil Ibuk saja."
__ADS_1
Tersenyum siput, Eldi mengangguk.
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam. Makan malam tenang setelah badai. Tak berapa lama, semuanya mendengar keributan di halaman.
Irwan berjalan dengan sempoyongan. Membungkuk menahan perut yang masih keram. "Om, Tante, Reka, tolong buka pintunya." Masih mengetuk dengan punggung sandaran di pintu itu. Tak bertenaga, tapi dia harus tetap berusaha agar pintu itu terbuka. Bahkan tak hanya pintu kayu itu. Ia juga harus menggetuk kembali pintu hati Reka dan keluarganya. "Sayang, bukain."
Miris, Chandra mengusap wajah dengan sebelah tangan. Membantu sahabatnya berdiri dan menolong menggedor kuat agar pintu itu terbuka.
Kreat.
Terbuka, seorang wanita berdaster ungu dengan rambut disanggul membuka daun kayu itu. Menatap tajam pada mereka. "Kamu." Menggeram. Dewi menekan suaranya agar tidak melantang. Panas, hatinya mendadak panas melihat menantu tercela sedang berdiri di depan rumahnya.
Melumpuhkan kaki. Irwan berlutut dengan memegang perut. Menegadahkan muka serta memegang tangan sang ibu mertua. "Tolong biarkan saya ketemu Reka."
Berdecak. Dewi menyiahkan tangan bergetar Irwan tanpa kasihan lalu berkacak pinggang. "Mau ngapain lagi! Belum puas kamu menyiksanya." Lantang, suara Dewi akhirnya keluar nyaring. Membuat semua penghuni rumah berbondong keluar.
Menggeleng cepat Irwan kembali meraih tangan keriput itu. "Tidak, Tante. Saya ke sini mau minta maaf. Jadi, bisakah saya ketemu Reka. Saya mau rujuk." Memelas. Pemandangan yang sungguh mengenaskan. Wajah yang membiru di tambah ada sedikit air tertahan di pelupuk mata tajam sang menantu, eh tidak, tepatnya mantan menantu.
Irwan melihat kebelakang dan mendapati Reka sudah berdiri tak jauh dari Dewi.
"Reka, Sayang." Berdiri dan berjalan cepat memasuki rumah tanpa permisi. Meraih tubuh kurus wanita yang sudah lama ia rindukan. "Maafkan Mas. Kamu tidak kenapa-napa, 'kan?" Melepaskan pelukan dan menatap wajah Reka dengan perasaan lega.
"Tidak, aku gak bisa kembali lagi. Masa idahku udah selesai. Jadi sekarang kita bukan suami istri lagi. Jadi lebih baik sekarang kamu pulang." Datar. Reka menyuarakan keputusannya tanpa terbata. Niatnya sudah bulat ingin lepas dari hidup Irwan.
__ADS_1