Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Siska lagi


__ADS_3

Maaf sodara. saya lama baru bisa up. Anak.lagi rewel-rewelnya. Jadi jan ngambek. Ni saya up 2 bab sekaligus.


Hapy reading. Jangn lupa like komen dan votenya ya


****


"Dasar brengsek!" Rahang Eldi mengetat, desiran amarah telah naik ke ubun-ubun. "Bagaimana kamu bisa merahasiakan sesuatu sebesar ini, Reka." Beranjak dari ranjang dan melangkah mondar-mandir di dalam kamar. Ia murka, tidak terima ada orang yang begitu tega menyiksa istri sendiri. Apapun kesalahannya, pemukulan bukanlah cara yang tepat. Apalagi untuk Irwan yang berpendidikan tinggi dan terkenal sebagai sosok pria yang baik. "Bedebah!" rutuknya lagi. Gigi Eldi bergemelatuk. Membayangkan betapa beringasnya Irwan menyiksa Reka, semakin tinggi kekesalannya. Ah, andai Irwan ada di situ. Sudah bisa dipastikan akan adanya pertumpahan darah.


Sementara Iren, merangkul Reka yang sedang menangis sesenggukan. "Sudah, tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Membelai rambut tergerai Reka yang panjang. Kemudian.


mengalihkan pandangan ke arah Eldi. Memberi tatapan teduh pada sang adik yang sedang naik pitam. "Dan kamu, jangan seperti itu. Semua sudah terjadi," ucap Iren menengahi. Tak ingin melanjutkan obrolan yang pastinya akan mengorek luka bernanah Reka makin dalam.


Eldi kembali duduk, dan Reka perlahan sudah mulai tenang.


"Jadi, apa rencanamu? Bagaimana dengan keluargamu?" Iren bertanya, lembut. Masih memeluk tubuh kurus Reka dengan kasih.


Reka melepaskan pelukan, memandang Iren yang sudah menatapnya. "Entahlah, Mbak. Aku masih bingung. Tapi yang jelas, aku mau merahasiakan ini dulu. Aku pasti akan memberi tahu mereka. Tapi tidak sekarang." Reka kembali menyeka air matanya. Sudah memantapkan hati akan bangkit dari keterpurukan. Percuma memikirkan Irwan yang berkali-kali menorehkan luka di tempat yang sama. Walaupun nelangsa karena cinta. Tapi Reka yakin, waktu akan menyembuhkan segalanya.


"Kalau begitu, tinggallah di sini."


"Tidak, Mbak. Aku tidak bisa tinggal di sini." Menolak dengan sopan. Melirik sekilas Eldi yang sedang duduk gelisah di sofa. "Aku wanita yang baru ditalak. Jadi rasanya gak pantes tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan mahrom," lanjutnya. Memilin ujung pakaian. Takut kalau Iren tersinggung akibat ucapannya.

__ADS_1


Iren tergelak sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Tenanglah, Eldi tidak pernah tidur di sini. Di sini hanya ada aku dan ibu kami."


****


Irwan seperti kehilangan kewarasan. Semalaman mengubek-ubek isi kota yang diguyur hujan tanpa istirahat. Pikirannya sungguh kacau, takut bila Reka benar-benar meninggalkannya. Ia bahkan meminta pertolongan pada Chandra dan menyewa beberapa jasa detektif swasta. Tapi percuma, langit seakan menentang keinginannya. Reka lenyap membawa luka.


"Ah, sial sial sial!" Memukul setir berkali-kali. Matanya yang merah masih awas melihat ke sekeliling jalan. Jalan yang entah sudah berapa kali ia lewati. Irwan begitu kesal, menyadari betapa bodohnya ia karena meragukan kesetiaan dan cinta suci yang istrinya berikan. Cinta yang sudah bertunas panjang, sekarang mati akibat ulahnya sendiri.


Pagi harinya.


Irwan memasuki kediamannya dengan langkah sempoyongan. Menyeret kaki menuju kamar yang sudah tertata rapi kembali. Ia lelah, matanya sayu, wajah juga terlihat kuyu. Tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa tertipu dengan supir yang bernama Dion? Ah, sial. Lebih tepatnya bernama Bambang, seorang penipu yang sudah masuk keluar penjara sejak remaja.


Irwan rebahkan tubuh jangkungnya di kasur big size. Ranjangnya dan juga Reka. Tempat ternyaman untuknya karena selalu ada Reka di sana. Tapi kini, sepi, hanya sesal yang tersisa. Irwan benamkan wajah dalam seprai lembut itu. Mencium dalam, berharap dapat menemukan aroma Reka yang tertinggal.


"Sayang, maafkan aku ...." Lirih, suara itu terdengar samar. Suara yang kemarin sore mengelegar menghina Reka, kini pelan penuh rasa bersalah.


"Reka ... pulanglah. Aku rindu kamu," ratapnya dengan pundak yang bergetar halus. Sesal kemudian memang tiada berguna. Hanya pedih yang terasa. Mempersalahkan diri akibat kebodohannya sendiri.


Irwan betulkan posisinya. Duduk di tepian ranjang. "Dasar idiot, bodoh, tidak berguna," rutuknya seraya menjambak rambut ke belakang. Kemudian menopang kepalanya yang berat dengan siku. Memikirkan cara untuk menemukan istri tercintanya.


Tanpa diduga, seseorang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. "Sayang, kamu ngapain di situ? Nunggu aku, ya?" ucapnya. Sosok wanita dengan rambut tergerai berucap dengan percaya diri. Memasang senyum bahagia ketika mendapat tatapan tajam dari Irwan. "Siska!"

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Nona ini memaksa masuk," ucap seorang pelayan yang sudah gemetaran. Takut akan terkena imbas dari tamu tak sopan itu.


"Nona?" Siska membalik tubuh, menatap kesal pada wanita paruh baya yang ada di belakangnya. "Dengerin baik-baik, ya. Aku bukan Nona, tapi Nyonya. Karena aku, Siska Wira Pratama, akan jadi istrinya dia." Tersenyum licik, menunjuk Irwan yang tak menghiraukannya. Dan kemudian berjalan tanpa ragu menghampiri pria yang ia cap sebagai calon suaminya.


"Ngapain kamu ke sini?" Tak acuh. Irwan memalingkan wajah.


"Jangan jutek gitu, ah. Harusnya kita seneng-seneng." Menjawel telinga mantan kekasihnya itu tanpa canggung.


"Pergi sana! Aku capek." Menepis tangan Siska dari kepalanya. Mendengkus kesal lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju jendela panjang. Melihat langit yang sudah berwarna putih terang.


"Jangan gitu dong, Sayaaang." Membuat-buat suara manja seraya memeluk Irwan dari belakang. Tanpa malu, tanpa ragu, ia dekap tubuh tegap Irwan dengan erat. "Aku kangen kamu." Mencium tengkuk Irwan hingga menyisakan sensasi dingin dan basah. Membangkitkan rasa benci Irwan menjadi berkali lipat dari sebelumnya.


"Sialan! Pergi sana!" Melepaskan pelukan Siska dengan kasar dan mendorong tubuh wanita tak tau malu itu tanpa berkedip. Irwan jelas sudah kembali murka. Menatap tajam pada Siska yang tak mengindahkan perkataannya. "Jangan ganggu aku," ucapnya penuh penekanan.


Siska tergelak sumbing, berjalan menjauhi Irwan dan duduk di sofa tunggal berwarna ungu di ruangan itu. "Sepertinya kamu memang senang mengusir orang. Semalam istrimu, dan sekarang aku, calon istrimu. Apa kamu mau melajang sampe tua." Siska berucap setengah mengejek. Menyilangkan tangan seraya menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Seolah dialah ratu di sana. Penguasa istana Irwan yang megah. "Tapi bagus juga, sih. Aku senang dia pergi. Jadi gak ada yang bisa ganggu kita."


Degh! Jantung Irwan terpompa cepat. Mendengar perkataan Siska membuat amarah telah mencapai pucaknya. "Setan sundal, ternyata kamu dalangnya." Berjalan lebar menghampiri Siska. Menarik pergelangan wanita itu dengan kuat hingga suara ringisan keluar dari bibir berbisa itu. "Kamu benar-benar keterlaluan." Menggeram, menatap nyalang mata Siska yang lancang. "Di mana istriku!"


"Sakit, Irwan." Memukul-mukul punggung tangan Irwan, berharap dapat lepas dari cengkraman itu. "Aku tidak tau. Bukankah kamu yang ngusir dia. Kenapa aku yang disalahin?" ucapnya, menahan sakit.


"Itu karena tipu muslihatmu!" Masih dengan nada berang. Melepaskan tangan Siska hingga wanita itu terduduk keras di lantai porslen.

__ADS_1


__ADS_2