
Irwan merobohkan diri disebelah Reka. Mengatur napas serta degupan jantung yang masih enggan untuk tenang. "Sakit?" tanyanya. Menyibak rambut Reka yang berantakan. Mengusap dan menyeka keringat yang membasahi wajah itu. Mengabaikan tubuh mereka yang masih polos. Mata Irwan hanya tertuju pada paras cantik wanita yang sudah memaafkannya.
"E-enggak ...." Reka menjawab dengan suara terputus. Napasnya masih tersengal dan dada juga naik turun.
"Terima kasih banyak. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik." Irwan berkata seraya mengukir senyuman. Perasaannya begitu bahagia karena telah bisa memeluk hati dan tubuh Reka. Rasa syukur yang teramat banyak.
Reka memutar dirinya, menghadap Irwan yang telah lebih dulu menghadapnya. "Kenapa dari tadi cuma itu yang kamu ucapkan, Mas?" protes Reka, memandang fokus manik mata Irwan yang coklat.
Irwan terkekeh, "Iya ya, sepertinya aku memang mengidap sindrom deja vu."
Reka mengerucutkan bibir, perlahan rasa sungkan itu hilang. Apalagi sekarang sorot mata Irwan begitu menenangkan. Membuat perasaan nyaman menjalar di hatinya, sedikit menyembuhkan luka itu.
Dengan perlahan Irwan geser tubuhnya. Memeluk hangat Reka yang tanpa busana. Menenggelamkan kepala wanitanya ke dadanya yang bidang. "Ya sudah, kita tidur yuk," ajak Irwan seraya menarik selimut. Menutupi tubuh mereka yang sedang berpelukan.
*****
Pagi hari.
Sarapan pagi sedang berlangsung. Hening, atmosfernya begitu berbeda. Biasanya terasa tegang, cuma terdengar bunyi lentingan sendok dan piring yang menemani ritual sarapan Irwan. Akan tetapi hari ini sedikit lain. Suara benturan sendok hampir tak terdengar. Berganti senyuman malu-malu yang terukir jelas di wajah Irwan dan juga Reka.
Kenapa mereka? Sumi membatin seraya melemparkan pandangan pada dua teman seprofesinya yang juga terlihat kebingungan.
"Sayang, hari ini Mas pulang telat. Mas mau ketemu Chandra." Irwan berucap setelah menenggak habis air putihnya.
"I-iya, M-mas." Reka terbata. Mas? Sayang? Kenapa aku jadi merinding begini?
"Mas, boleh gak hari ini aku ikut Bik Sum ke pasar?" Reka melirik Sumi yang berdiri di belakang kursi Irwan, kemudian kembali menatap Irwan dengan penuh harap.
"Hm, boleh. Tapi jangan ke mana-mana lagi. Jangan keluyuran," ucap Irwan bernada tegas. Beranjak dari kursi dan melangkah dengan cepat mendekati Reka. Menaikkan sebelah bibirnya ketika melihat kegugupan menghiasi paras cantik itu.
"A-ada apa, M-mas?" tanya Reka, menahan napas karena hampir tak ada jarak di antara dirinya dan Irwan. Irwan memeluknya begitu erat. Tak menghiraukan tatapan para pelayan yang melihat dengan aneh ke arahnya
"Ya minta jatahlah." Irwan tersenyum miring. Merengkuh pinggang dan kepala Reka dengan agresif. Mendaratkan ciuman hangat dan lama di bibir Reka. Bibir yang seperti madu, menggairahkan dan membuatnya ketagihan.
__ADS_1
Lagi, Sumi menutup rapat mata Nara dengan cepat. Menggelengkan kepala, heran akan tingkah sang majikan yang tak tau situasi dan kondisi.
"Bik, mulai hari ini gak ada yang boleh berdiri di sini. Cukup dia saja yang menemaniku makan," ucap Irwan setelah melepas pagutan. Tersenyum senang karena Reka menyambut ciumannya.
"Baik, Tuan," jawab Sumi.
"Pergilah, Mas. Nanti macet." Reka mendorong dada bidang Irwan yang terbalut kemeja coklat. Mengalihkan pandangan dari mata Irwan yang kembali berkabut hasrat.
"Iya, tapi ini dilepas dulu." Dengan cepat Irwan menarik syal yang melingkar di leher Reka. Tersenyum puas setelah melihat apa yang ada dibaliknya. "Sayang 'kan, maha karya Mas tertutup kain," sambungnya lagi. Membuat Reka berjingkat dan langsung menutup lehernya dengan kedua belah tangan. "Mas ini apa-apan sih!" Reka melotot tajam. Malu karena ada kissmark yang begitu banyak.
"Hahaha ...." Tawa renyah terdengar keluar dari bibir Irwan. Membuat para pelayan kembali keheranan sekaligus bersyukur. Tawa yang tak pernah mereka dengar selama bekerja di rumah itu.
"Ih, Mas ini." Reka mendengkus kesal. Melongos pergi menuju kamar. Wajahnya memerah, menahan marah yang bercampur malu.
****
Sepulangnya dari rumah sakit.
Irwan tiba di kediaman Chandra. Rumah yang tak kalah mewah dengan rumahnya. "Di mana dia?" tanya Irwan. Melihat sekilas pada seorang wanita paruh baya yang ia kenal bernama Mala. Kemudian mengedarkan pandangan kedalam seisi ruang tamu.
"Baiklah, saya akan ke sana. Dan tolong bikinkan saya minum."
"Minuman apa, Den?"
"Apa saja, yang penting dingin." Irwan berujar kemudian meninggalkan Mala yang masih berdiri di ambang pintu.
Sampailah Irwan di lantai tiga. Ia masuk dalam ruangan yang mirip bar namun minimalis. Meja tinggi serta kursi besi tertata dengan apik menghadap jendela. Memperlihatkan langit sore yang masih membiru, terang.
"Jadi apa yang mau lo omongin ke gue?" tanya Irwan to the point. Mendudukkan dirinya di sebelah Chandra. Menatap serius Chandra yang sedang menikmati minumannya yang berwarna merah pekat.
"Wei ... santai, Bro. Baru nyampe udah nge-gas aja. Minum dulu ngapa?" Chandra mendorong botol kaca beserta gelasnya. Menuangkan isi dari botol itu kedalam gelas yang sudah ia beri es batu. Senyum pun mengembang, memberi perubahan sekilas pada rahangnya yang persegi.
"Gak usah, gue udah minta bikinin minum sama bik Mala," ucap Irwan datar, mendorong kembali gelas yang sudah terisi ke arah Chandra.
__ADS_1
"Serius lo nolak ini? Ini enak loh, dikirim langsung dari Prancis," rayu Chandra, senyuman hilang berganti dengan alis yang terangkat. Kembali ia dorong botol hitam yang bertuliskan Meiomi Pinot Noir. "Minumlah, nanti gue suruh mang Limin nganterin elo. Ayolah, jangan nolak," tandasnya lagi, kemudian kembali mengesap minuman yang ada di gelasnya.
Tidak berapa lama masuklah Mala. Menyajikan teh es serta semangkuk kacang kulit di depan Irwan.
"What! Lo nolak ini demi ini," ucap Chandra tak percaya, menunjuk botol wine kemudian gelas teh es dengan mata yang sedikit membelalak. Tak berapa lama tawa Chandra pun terdengar. "Ha-ha-ha, baru tujuh bulan nikah udah berubah aja lo. Yakin mau tobat?" Chandra masih setia dengan gelak tawanya.
"Ah, sialan lo! Cepetan, mau ngomongin apa?" Irwan berdengkus, memutar bola matanya malas, kemudian menyeruput minuman yang sudah Mala buatkan.
"Oke oke." Chandra menenangkan diri dari gelitikan tak kasatmata. Melirik sekilas bola mata Irwan yang sudah berkabut penasaran.
"Ini tentang Siska. Gue udah dapat info dari orang suruhan gue. Katanya Siska itu udah lama bercerai," ucap Chandra, kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela.
"Kenapa?" Irwan menautkan alis.
"Katanya sih karena Siska itu wanita boros. Kehidupan sosialitanya itu luar biasa. Ya, siapa juga yang bisa tahan ama bini kayak gitu. Dan akhirnya suaminya selingkuh ama perempuan sederhana yang tinggal di Kalimantan," jelas Chandra, menaikkan sebelah bibirnya seolah bersyukur atas penderitaan Siska.
"Tapi saran gue, lo kudu ati-ati ama Siska. Dia udah gak punya pegangan. Dicerai, dibuang dan surat lisensinya juga dicabut karena malpraktek demi duit. Biasanya kalo udah tersudut, semua orang rela ngelakuin apapun demi bertahan hidup," tandas Chandra. Melirik wajah Irwan sekilas lalu tersenyum miring. "Gue heran, bisa-bisanya lo cinta mati ama perempuan itu." Chandra mencebik, mengejek Irwan yang sudah terlihat gusar.
"Dasar monyet lo." Irwan lemparkan kulit kacang ke wajah Chandra. Beranjak dari kursi dengan wajah tak suka. "Ya udah, gue balik."
"Tunggu!" cegah Chandra. membuat Irwan yang hendak beranjak dari kursi mengurungkan niat. Menatap Chandra yang sudah terlihat serius.
"Apaan?" Irwan bertanya dengan nada ketus.
"Gimana kabar Reka. Kalian udah baikan?" Chandra kembali mengesap minumannya.
"Kepo banget lo." Irwan menjawab singkat. Tak suka membahas Reka. Apalagi Chandra pernah menatap minat pada istrinya itu.
"Wo .... santai. Gue gak ada niat jahat. Cuma saran aja, buat dia hamil. Takutnya dia ninggalin elo karena Siska. Kita gak tau apa rencana perempuan ular itu. 'Kan yang rugi elo sendiri."
Irwan mengembuskan napas panjang. Tak rela bila Reka meninggalkannya. Membayangkannya saja sudah membuat pikirannya berkecamuk.
"Ya udah deh, gue balik dulu." Irwan berucap dengan suara pelan. Melangkah gontai meninggalkan Chandra yang masih terduduk di kursi besi.
__ADS_1
****
Di perjalanan pulang. Irwan melajukan mobil di bawah rata-rata. Perkataan Chandra berputar terus di kepala. Brengsek! Umpat Irwan. Benci keadaan yang sedang megancam kehidupannya bersama Reka. Tiba-tiba, tanpa diduga, sebuah mobil menghadang laju kendaraannya. Dangan cepat Irwan menginjak pedal rem dan membanting setir ke kiri. "Woi! Bisa nyetir gak!"