Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
kemunafikan Irwan


__ADS_3

Reka tercekat. Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Mendengar ucapan Irwan membuat keberaniannya jadi menciut. Bagaimana mungkin dia bisa membuka aib yang selama ini tertutup rapat.


"Ayo, aku antar pulang!" ucapnya yang tidak terdengar ramah sama sekali.


Setiap mendengar suara rendah pria asing itu Reka teringat akan kejadian yang lalu. Lagi-lagi ia kesulitan menelan saliva. Reka mundur dan berniat untuk kabur. Akan tetapi Irwan dengan cepat menangkap lengannya. Dengan tatapan tajam dan berapi-api, dipandanginya Reka yang sudah gemetaran. "Mau ikut sendiri atau aku paksa!" Irwan mencengkram kuat pergelangan tangan Reka.


"Hey, ada apa ini? Apa ada masalah?" tanya Romi yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


Irwan membalikkan tubuh dan memasang wajah ramah pada temannya itu. "Tidak ada apa-apa, aku mau nganterin dia pulang. Sini, mana resep obatnya?" pinta Irwan. Romi pun memberikan kertas persegi empat itu kepada Irwan tanpa ada rasa curiga.


Dengan langkah yang pelan dan berjinjit, Reka ikuti langkah Irwan. Ia tidak berani melarikan diri karena takut akan ancaman pria itu.


"Masuklah! Awas kalau berani kabur!" gertak Irwan. Menutup pintu mobil lalu berjalan menuju apotek yang ada di seberang rumah sakit.


Alis Reka terangkat dan ada kerutan di dahi antara dua alisnya. Ia gelisah dan tangan mengeluarkan banyak keringat. Aku harus pergi dari sini. Tapi bagaimana aku bisa lari, batinnya ketika melihat kaki yang sudah di perban, bahkan untuk berdiri saja tersa nyeri.


Tak berapa lama, Irwan datang dengan membawa obat serta kursi roda. Ia masukkan barang bawaannya itu di bagian mobil paling belakang. Ia duduk di balik kemudi dan memandang lekat pada wanita di sebelahnya. Irwan mendekati, tapi Reka dengan cepat menghindar. "Kenapa? Masih takut?" tanyanya seraya memasangkan sabuk pengaman pada tubuh gadis itu.


Reka terdiam, mendengar deruan napas sekilas Irwan saja rasanya sudah seperti diincar malaikat maut. Ia hanya mematung, menahan napas.


Irwan kembali menyeringai. Ia tau Reka pasti ketakutan setelah apa yang dia perbuat malam itu. Ia kemudikan mobil sport mahal miliknya menembus keramaian kota dan beberapa kali melirik Reka. Sementara gadis itu tak henti-henti merapalkan doa agar si bedebah yang ada di sebelahnya tidak kembali melakukan hal yang jahat juga keji.


"Di mana rumahmu?" tanya Irwan dengan nada datar yang tentu saja membuyarkan lamunan Reka.

__ADS_1


Reka Ingin menjawab cepat, namun detak jantung yang masih tak beraturan membuatnya memerlukan waktu untuk sekedar menarik napas. Bibirnya bergetar, suara samar-samar keluar dari mulutnya.


"D-di sana b-belok kiri," jelas Reka terbata-bata. Ia menggenggam kuat ujung jaket yang ia kenakan hingga buku-buku jarinya seperti menembus, merobak baju tebal itu.


"Kamu masih ingat namaku, 'kan?" tanyanya yang masih fokos menyetir memandang jalanan. Reka hanya mengangguk dengan perlahan.


Atmosfer mendadak semakin tidak nyaman ketika Irwan membuka obrolan lainnya.


"Aku yakin kamu belum menikah," terka Irwan. Membuat gadis itu merasakan kegetiran dalam setiap tarikan napas. Tanpa terasa air mata Reka pun mengalir dengan sendirinya.


Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan hidup kalau masa depanku telah kau renggut paksa. Reka seka butir air yang membasahi pipi.


"Tanang saja, aku akan menjadikanmu milikku," tutur Irwan, membuat Reka kembali merasakan kengerian, mengingat bagaimana brutalnya Irwan menyetubuhinya kala itu.


"Cih! Aku tidak sudi!" desis Reka tanpa tau akibat dari ucapannya barusan.


Mendapat tatapan seperti elang dari Reka membuat Irwan menepikan mobil dan melepas seat belt yang melingkar di pinggangnya. Suasana terasa mencekam karena Irwan memandangnya dengan penuh kemarahan. ia dekati tubuh Reka dan mulai ingin membuka paksa jaket bersleting yang Reka kenakan.


Reka meronta. Mendadak keberaniannya menguap ke udara. Yang ada hanyalah ketakutan menyelimuti hati dan pikirannya. Ia menatap nanar mata Irwan yang sudah berubah memerah, berharap dapat pengampunan dari pria itu.


"Kumohon jangan, Tuan. Lepaskan aku ...." Reka memgiba nada suara yang bergetar. Tapi Irwan bergeming, ia malah mencengkram kedua tulang pipi Reka hingga wajah gadis malang itu mendongak ke atas.


"Aku tidak suka ditolak! Mulai sekarang, detik ini juga, kau adalah milikku. Milik Irwan syahputra. Ingat itu!" terang Irwan, melepaskan tangannya dengan kasar hingga kepala Reka membentur kaca. Gadis itu meringis, ia menangis tanpa suara.

__ADS_1


Irwan menarik napas mencoba menatralisir emosinya. Setelah sedikit tenang, barulah melajukan kendaraannya menuju rumah gadis yang ia cap sebagai miliknya.


Tibalah mereka di depan rumah Reka. Dengan memasang wajah ramah, Irwan mengendong tubuh Reka dan mendudukkannya di kursi roda. Semua terkejut menadapati Reka yang terluka dan diantar oleh seorang pria asing.


"Ya Allah, Kak. Kanapa ini? Apa yang terjadi padamu, Nak?" cecar sang ibu yang sudah terlihat panik. Mata Dewi berkaca-kaca melihat anak sulungnya pulang dengan kepala dan kaki yang terbalut kain berwarna putih.


"Eka gak apa-apa, Buk. Cuma keseleo, untungnya ada Mas Irwan yang nolongin," jawab Reka sambil memaksakan senyuman. Hatinya terkoyak karena berbohong pada orang tuanya. Mengatakan Irwan adalah penyelamat padahal pria itulah sumber deritanya.


"Siang, Tante, Om. Nama saya Irwan Syahputra. Kebetulan tadi saya lewat di tempat kejadian," ucap Irwan, memeperkenalkan diri dan tentu saja dengan memasang wajah ramah dan senyum palsu.


"Terima kasih banyak, Nak Irwan. Kamu sudah jadi penolong anak kami," tutur Ady, menjabat tangan Irwan.


"Mari masuk dulu, Nak," ajak Ady yang tentu direspon anggukan dan senyuman dari Irwan. Dia juga ingin mengetahui kehidupan wanita yang akan ia jadikan istri.


Irwan pun masuk ke rumah yang bisa dibilang sederhana dengan nuansa serba putih di dalamnya. Ia perhatikan sekeliling ruang tamu dan melihat berbagai foto kebersamaan keluarga Ady. Foto keluarga bahagia dengan enam anak di dalamnya. Namun ada satu potret yang membuatnya terhenyak. Gambar Reka yang tersenyum lebar mengenakan baju toga wisuda. Satu foto yang mampu membuat Irwan merasa nyaman dan tanpa sadar tersenyum lebar.


"Silakan diminum, Nak Irwan," ucap Dewi seraya menyodorkan segelas teh di atas meja.


"Terima kasih, Tante." Irwan kembali menipiskan bibir, menatap Reka yang masih duduk di kursi roda. Sedangkan yang ditatap, langsung menundukkan kepala.


Demi mengambil hati calon mertuanya. Irwan pun menceritakan hal yang baik-baik dalam hidupnya. Mengatakan kalau dia mendapat beasiswa dan predikat dokter termuda di Inggris. Memiliki sebuah mansion mewah. Irwan juga mengatakan kalau dia sendiri adalah penerus tunggal dari perusahaan sang ayah yang berkecimpung di dunia perhiasan. Walaupun terdengar menyombongkan diri, tapi begitulah ... Irwan pandai merangkai kata agar dinilai baik oleh keluarga Reka.


Setelah banyak bercerita, Irwan pun beranjak dari tempat duduknya. Pamit undur diri untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Ia pergi meninggalkan rumah Reka dengan senyum mengembang. Setelah mendengar cerita Ady, ia jadi semakin bertekat untuk menjadikan Reka istrinya. Reka adalah wanita sempurna. Mempunyai IQ di atas rata-rata, cantik, tinggi, pintar memasak dan terlebih lagi dialah lelaki pertama dalam hidup Reka.

__ADS_1


Aku akan kembali lagi, sayang.


__ADS_2