
Setelah kepergian Irwan, Reka langsung masuk ke dalam kamarnya. Mengunci diri takut pria jahat itu kembali lagi. Jantungnya masih berdebar dan tubuhnya mulai melemas. Ia pengang kuat dada bagian kirinya, ada yang tertahan, begitu sesak dan berat. Amarah dan kesedihannya menyatu. Menangis tersedu tanpa seorang pun tau.
Malam telah datang, bulan pun telah tepat berada di tengah-tengah. Namun Reka belum juga bisa menutup mata. Teringat kembali wajah manusia laknat yang menghancurkan hidupnya. Dan terlintas pula bayangan pria yang ia cinta.
"Bang Andra ...." Suara Reka lirih. Ia seka bulir air yang tak pernah ada habisnya.
Setelah kejadian dua tahun lalu. Pupus sudah harapan Reka untuk menjalin kasih dengan tetangganya itu. Pria baik yang selalu membuat dirinya tersenyum. Namun sayang, beribu kali sayang. Sepertinya yang Reka sayang, mencintai orang lain. Ya, Rianti, adiknya sendiri. Akan tetapi sang adik yang tidak menyadari perasaan Andra memilih orang lain untuk ia jadikan suami. Cinta sepihak memang menyakitkan. Apalagi hanya disimpan, tanpa diungkapkan.
Di sepertiga malam, Reka selalu bersimpuh pada Sang Khaliq. Berharap pengampunan dan ketenangan hatinya. Ia mengadu, menangis dalam setiap doanya.
"Ya Rabb, hanya Engkaulah Tuhanku, tempatku memohon pengampunan. Ku mohon ... ampuni segala dosaku, maafkan segala kesalahan dan khilafanku di waktu dulu. Sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha pemurah." Reka seka air matanya yang masih mengalir membasahi pipi. Mengingat bagaimana dirinya telah ternoda dan kotor membuat hatinya semakin sakit. Suaranya pun terdengar bergetar.
"Ya Rabb, ku mohon lindungilah aku, lindungilah diriku dari segala macam marabahaya baik yang nyata maupun tidak. Lindungilah aku, tuntunlah aku agar selalu berada di jalanMu. Karena hanya padaMu aku meminta pertolongan juga berserah diri."
Reka kembali mengatur napasnya.
"Ya Allah, Engkaulah pemilik hati ini, juga semua makhluk yang ada di bumi. Ku mohon jauhkanlah aku dari pria itu. Ku mohon ...." Reka tak mampu menyelesaikan doanya. Napas makin terasa sesak, bulir air terus saja mengalir dengan derasnya. Ia bersujud, menumpahkan segala beban yang begitu terasa berat. Dan akhirnya Reka tertidur, tanpa sempat menyeka air mata maupun membuka mukena.
****
Sebulan telah berlalu, dan pernikahan sang adik pun telah lama selesai. Semua kembali seperti semula. Kecuali Reka, ia semakin mengurung diri. Bahkan sekedar berdiri di teras saja dia enggan. Usai mengajar, Reka langsung pulang dan kembali mengunci dirinya di kamar.
Tok tok tok.
Terdengar bunyi ketukan dari balik pintu kamar Reka.
"Kak, ada Irwan di luar, katanya dia mau ketemu kamu," panggil sang ibu. Merasa tak direspon, Dewi kembali mengetuk pintu kamar anaknya itu. "Kak, ayo dong keluar. Kasian Irwan udah bela-belain dari Semarang buat ketemu kamu lho ...."
Reka bergeming. Semenjak tau dirinya tinggal di Jogja, Irwan terus saja datang kerumahnya. Hampir seminggu sekali ia bertandang ke kediaman Ady, bahkan tanpa segan mengatakan akan mempersunting Reka, anak mereka.
Reka yang tak menyukai Irwan tentu saja resah. Pikiran jelek terus saja berputar di kepala. Aku harus bagaimana? Reka membatin, mondar-mandir di dalam kamar. Beberapa kali ia gigit bibir bawahnya. Mencoba mencari alasan agar dirinya tidak harus keluar menghadapi Irwan.
Sementara Irwan, gelisah duduk sendirian di ruang tamu. Ia bahkan tidak sempat beristirahat di akhir minggu hanya demi untuk bertemu wanitanya. Akan tetapi sudah berkali-kali datang, Reka selalu saja mempunyai alasan untuk menolaknya.
__ADS_1
Kali ini aku harus berhasil. Mengetatkan rahang, Irwan fokus menatap pada tirai putih yang menghubungkan antara ruang tamu dan tengah rumah Reka. Berharap Reka mau menemuinya. Dan beruntung. Langit seolah mendukung niatannya, karena tanpa diduga masuklah Reza, adik Reka yang baru pulang dari sekolah.
"Dek, boleh saya pinjam HP kamu. HP saya lowbat," ucap Irwan yang tentu saja membuat Reza berhenti melangkah. Tanpa banyak tanya, Reza pun meminjamkan gawainya pada Irwan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
Terukirlah seringaian licik di wajah Irwan, dengan cepat ia menyalin nomor ponsel Reka ke ponselnya. Kena kau. Sekarang kamu gak akan bisa lari lagi dariku. Membatin dengan perasaan senang.
"Sudah, Bang?" tanya Reza yang sudah mengganti seragam SMA-nya menjadi pakaian biasa.
"Iya, sudah. Terima kasih, ya." Irwan memberikan uang seratus ribu untuk calon adik iparnya itu. "Buat beli kuota," imbuhnya, tersenyum ramah.
Di depan pintu kamar Reka.
"Kak, tolong keluar," pinta Dewi yang masih setia di depan pintu.
Tiba-tiba, ponsel Reka yang berada di atas kasur bergetar.
[Keluarlah! Kita bicara.]
Reka semakin tidak tenang, keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya.
Satu notifikasi kembali masuk.
[Capat keluar! Atau aku akan buka aib yang sudah lama kamu tutupi!]
Reka semakin gemetar. Dengan langkah yang tergesa-gesa dia keluar dari kamarnya, melewati sang ibu, menuju ruang tamu. Ia duduk tepat di depan Irwan.
Irwan membetulkan posisinya. Menyilangkan kaki, memasang wajah angkuh. "Kanapa? Kamu takut?" tanyanya, terdengar seperti ejekan di telinga Reka.
Mengepalkan tangan, Reka berusaha tenang. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan!" desis Reka pelan, namun terdengar jelas kalau dia sedang menggeram.
Irwan terkekeh geli, tak menyangka mendapat pelototon dari mata bening Reka. "Kamu harus jadi istriku, Reka. Kalau tidak, aku akan beberkan tentang keadaanmu yang sudah tidak perawan lagi. Lalu apa? Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya? Tidakkah kamu kasian dengan kehormatanmu dan orang tuamu?"
Reka kesulitan menelan ludah. Shock luar biasa. Tak menyangka Irwan mengancam dengan melibatkan titik kelemahannya.
__ADS_1
Ya Allah, apa yang harus kulakukan?
Paras cantik Reka pucat seketika. Harkat dan martabat orang tua sedang dipertaruhkan.
Tapi bagaimana dengan nasibku kelak?
Reka beberapa kali menyeka keringat. Ia juga menggigit-gigit ujung kuku, memikirkan keputusan yang harus diambilnya.
Irwan berdiri, berjalan pasti menuju Reka. Ia pegang ke dua sisi sofa tempat Reka duduk dan mensejajarkan kepala mereka. "Ayolah, terima saja lamaranku. Kita bisa menutupi kejadian yang lalu. Kamu tidak akan rugi apapun juga, Reka. Atau, kamu bisa saja menolakku, tapi tanggung sendiri akibatnya," bisik Irwan, meniup pelan leher jenjang Reka. Gadis itu terkesiap, sontak berdiri dan menatap tajam pada Irwan.
"Cukup!" Mengarahkan jari telunjuk tepat ke arah hidung Irwan.
Irwan kembali tersenyum. Namun senyumnya kini terlihat meremehkan. "Jadi pilihanmu adalah opsi kedua?" Irwan mengangkat alis kirinya. Menyiahkan telunjuk Reka kemudian mencium punggung tangan mulus itu tanpa rasa malu. "Apa kamu yakin bisa menghadapi orang tuamu?"
Gleg.
Reka kembali mati rasa. Ia tarik cepat tangannya.
"Aku akan berperilaku baik sama kamu. Soal yang tempo hari ... itu semua salah paham, Sayang. Aku janji gak akan mengulanginya lagi, gimana?" rayu Irwan. Ia kembali ke sofa dan menatap serius wanita yang ada dihadapannya.
Reka terduduk. Kakinya mendadak lemas, Ia rebahkan punggungnya di sandaran sofa. Ancaman Irwan benar-benar membuatnya tak berkutik.
Tidak berapa lama keluarlah Dewi dengan membawa nampan yang berisi minuman dan juga cemilan untuk mereka. "Wah ... pada nyeritain apa ini? Kok serius banget," ucap Dewi, mengeluarkan isi nampan dan menyajikannya di atas meja. Tak luput pula senyum ramah merekah dari wajahnya yang sudah mulai menua.
"Iya, Tante. Kita lagi ngebahas pernikahan kita," ucap Irwan berbohong, yang tentu saja langsung mendapat tatapan menghujam dari Reka.
Dewi langsung tercengang. Tak menyangkan Reka akan menerima lamaran Irwan. Ia pun duduk di sebelah Reka seraya menggenggam erat tangan sang anak. "Beneran, Kak? Kamu serius?" tanya Dewi dengan senyum lebar dan mata yang berbinar, senang. Akhirnya Reka akan menikah dengan Irwan yang dianggapnya pria baik dan bertanggung jawab. Belum sempat Reka menyanggah, Dewi terlebih dahulu memeluknya dengan hangat.
"Alhamdulillah, Ibuk senang akhirnya kamu memutuskan menikah. Umurmu sudah hampir dua puluh lima, usia yang pas untuk membina rumah tangga. Ibuk yakin, rasa cinta akan perlahan tumbuh jika kalian masing-masing membuka hati," ucap Dewi sambil membelai rambut tergerai Reka. Reka membisu. Ingin menyela namun pita suaranya seolah terikat kuat.
"Oh, iya, bapakmu juga pasti bahagia mendengar berita ini," tandas Dewi. Masuk ke dalam rumah dan terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Bagaimana? Apa kamu berani menghancurkan kebahagiaan orang tuamu?"
__ADS_1
****