Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Irwan cemburu


__ADS_3

Di kamar.


"Kira-kira dia suka baju yang seperti apa, ya?" guman Reka seraya menekuk wajah, bingung dengan pakaian apa yang harus ia kenakan. Beberapa kali ia memilih, menyibak bahkan mencoba pakaian yang tergantung rapi di sana. Deretan gaun yang tentu saja berbahan lembut dan harganya lumayan bisa menguras isi dompet.


"Ya udah deh. Aku pake yang ini aja. Semoga aja dia tidak mempermasalahkannya," ucap Reka pelan seraya menarik dress Rania Agnes Long berbahan baloteli dari dalam lemari. Memakainya dengan cepat dan berdandan alakadarnya.


Dengan berjinjit, Reka melangkah menuju teras. Pertanyaan seputar pendapat Irwan terus saja berputar-putar memenuhi otak. Membuatnya beberapa kali menyeka keringat yang terus saja keluar dari pori-pori.


*Ya Allah. Kenapa aku menjadi semakin gugup? Tak bisakah dia menganggapku sebagai pembantu saja? Dia berubah seperti ini semakin membuatku ngeri.


Tenanglah Reka. Bukankah lebih bagus kalau dia bersikap manis padamu. Hidupmu akan lebih baik. Apakah kau buta? Suamimu itu sempurna. Kau akan bahagia bila dia benar-benar berubah.


Tapi, Irwan itu pandai berpura-pura. Bagaimana kalau sikap aslinya kembali? Dia akan semakin menyiksaku. Lagipula dia itu tidak sempurna. Yang sempurna hanya cangkangnya saja. Hatinya itu jahat. Penyakit posesifnya itu sudah akut.


Nah, justru dari itu. Kamu kan sudah tau titik kemarahannya. Jadi hindari saja yang sekiranya bisa membuat dia emosi*.


Batin Reka berkelahi. Antara bahagia dan takut akan perubahan sikap Irwan yang begitu drastis.


Tanpa terasa, Reka sudah tiba diambang pintu. Ia tarik napas panjang, menenangkan perasaan yang semakin bergemuruh tak karuan. Terombang ambing antara maju ataupun mundur.


"M-mas ... Irwan," panggil Reka pelan seraya memilin bagian tengah gaun panjang yang ia kenakan. Kain kecil yang membentuk lekuk pinggang hampir lepas karena terus saja disimpul olehnya.


Irwan yang sedang bersender di pilar rumah langsung memutar tubuh, melihat siapa yang memanggil dirinya.


Sepersekian detik Irwan dibuat tercenung. Penampilan Reka sungguh berbeda. Gaun panjang berwarna merah muda begitu pas di tubuh kurus wanitanya. Begitu mempesona, hingga Irwan sempat lupa bahwa Reka adalah istrinya. Ia kembali memandang intens dari kaki sampai wajah. Dan lagi-lagi, ia terpana. Sempat bersitatap sekejap, kemudian memalingkan penglihatan ke sembarang arah.


"Ekhem ...." Dengan cepat Irwan menetralisir perasaan kagum yang mendadak muncul dengan menunduk sedikit. Ia sentuh hidung dengan punggung tangannya. Berdehem mengusir rasa canggung sejauh mungkin.


"Sudah siap?" tanya Irwan tanpa ekspresi. Mendekati Reka yang mematung tak jauh darinya.


"I-iya, sudah."


Reka mengangguk perlahan. Akan tetapi kegugupannya semakin menjadi ketika Irwan terus saja berjalan mendekat dengan cepat.

__ADS_1


"K-kenapa, Mas?" tanyanya. Wajah sudah memucat. Namun, Irwan terus saja berjalan maju. Reka terpojok, tak bisa bergerak lagi karena terhalang sofa ruang tamu. Reka makin resah. Meremas-remas jemarinya, menundukkan pandangan. Tubuh pun mulai bergetar halus. Tidak berani melihat Irwan yang begitu dekat, hampir tak ada jarak.


"Nara, sini!" Irwan beberapa kali melekukkaan buku jari tangan kanannya. Memanggil Nara yang sedang membawa kantong belanjaan. Sedangkan sorot matanya yang tajam, masih setia menikmati gelagat Reka yang ketakutan.


"Ada apa, Tuan?" tanya Nara yang sedikit terengah, berlari menghampirinya.


"Ini, saya pinjem dulu," ucap Irwan sambil mengambil jepit rambut berwarna gold dari rambut Nara. Nara tentu saja tertegun, tapi tak lama terukir seulas senyuman di bibir. Jepit rambut yang baru dibelinya sudah beralih tuan.


"Sudah," ungkap Irwan singkat. Ia betulkan rambut panjang Reka yang tergerai. Menekan pelan hiasan rambut berbentuk kupu-kupu yang baru ia sematkan di sisi kanan kepala sang istri.


Reka angkat perlahan kepalanya. Manik mata mereka tak sengaja beradu pandang, saling melemparkan sinar ketertarikan. Reka alihkan pandangan dengan cepat. Takut kalau jantungnya akan melompat keluar. Karena memang sedari tadi bertabuh bagai genderang perang.


"Kenapa? Apa kau pikir aku akan memakanmu?" ujar Irwan seraya mengangkat sebelah ujung bibirnya.


Reka tak menjawab. Ia sedang sibuk menenangkan hatinya yang bergemuruh tak karuan.


"Ayo cepat. Nanti keburu macet," titah Irwan seraya menggenggam erat jemari Reka.


"Oh iya, Ra. Jepit rambut kamu saya beli. Nanti saya ganti dengan sebulan gaji kamu," terang Irwan tanpa menoleh Nara. Ia masih menarik tangan Reka untuk mengikuti langkah lebarnya menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


****


"Dinner," jawab Irwan singkat. Matanya masih fokus memandang jalanan yang padat akan kendaraan yang berlalu lalang.


Suasana kembali hening. Hanya bunyi halus mesin mobil yang menelusup ke indera pendengaran mereka masing-masing.


Reka buang pandangannya ke arah luar jendela. Menyandarkan punggung melihat langit yang sudah berubah warna menjadi jingga. Menata perasaan disela bisingnya bunyi klakson. Kemacetan parah di persimpangan lampu merah.


"Bang Aan ...."


Suara samar keluar dari bibir Reka ketika melihat seorang pria berada di atas motor. Hatinya serasa bergetar. Mendapat sinyal tak nyaman mendapati orang yang disayang berboncengan dengan wanita lain. Ujung mata mulai berair, berkaca-kaca. Kemudian dengan cepat Reka menetralkan perasaan sedih yang sudah terlanjur merasuki hatinya.


Irwan yang mendengar nama seorang pria dari mulut Reka pun langsung memanjangkan telinga. Melirik sekilas wanitanya yang terlihat gusar melihat seseorang.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Irwan yang mulai penasaran.


Namun, Reka hanya membisu. Orang yang di sayang sudah melajukan motornya menembus keramaian pengendara di persimpangan.


"Siapa Aan?" tanya Irwan dengan nada suara sedikit meninggi, tak suka diabaikan.


"Apa dia orang yang ada dihatimu?" cecar Irwan lagi. Matanya sudah memancarkan sinar tak suka. Sesekali ia genggam kuat setir mobilnya.


Reka mendesah pelan. Sedangkan pandangan masih setia memandang ke luar jendela mobil.


"Iya ...."


Jawaban singkat Reka mampu memancing ketidaksukaan Irwan.


Lampu lalu lintas mulai menghijau, akan tatapi perasaan Irwan mulai berubah kuning. Bertanda pikiran sempitnya sedang mengintai. Irwan kemudikan kembali mobil dengan perlahan. Beberapa kali mengerling penasaran pada Reka yang setia dengan kebisuannya.


"Berapa lama kalian pacaran?" tanya Irwan yang masih dengan mode siaga.


"Kami tidak pernah berpacaran. Cintaku bertepuk sebelah tangan," jawab Reka jujur. Nampak jelas kesuraman diwajah cantiknya. Tidak lama kemudian terdengar helaan napas panjang Reka yang mampu mengukir senyum lega di bibir Irwan.


"Apa kelebihannya?" Irwan mulai penasaran.


Gila, apa kau cemburu? Agh sial. Terserahlah, yang penting Reka itu milikku. Dia tidak boleh menyimpan nama orang lain selain aku.


Namun Reka lagi-lagi tak merespon. Ia masih menata hatinya yang hancur setelah melihat ada wanita yang memeluk mesra pinggang Andra. Pria yang ia cintai dalam hati.


"Apa hebatnya pria itu dibanding aku?" Sifat congkak Irwan kembali mengudara. Membuat senyum devil kembali menghiasi paras tampannya.


"Banyak," jawab Reka tanpa ragu. Setelah sekian detik barulah ia sadar akan apa yang diucapkannya. Reka dengan cepat menutup mulut. Memiringkan tubuh memandang Irwan yang sudah terlihat tidak baik-baik saja.


****


Jeng jeng jeng.

__ADS_1


Akankah Irwan lupa akan janjinya.


Hayu jangan lupa like komen dan vote nya ya gaes.


__ADS_2