
Di mansion Irwan.
Cakrawala telah menampakkan warna gelap. Angin sejuk juga menyelimuti malam yang sudah terlanjur datang. Belum lagi suara petir yang bersahutan dari kejauhan samar-samar masuk ke indra pendengaran. Klop, gejala alam yang pas menengahi kesunyian di istana Irwan. Rumah mewah yang biasa sibuk akan para pelayan yang menyiapkan makan malam, kini sepi. Semuanya tak berani membuat suara. Bahkan melangkah saja, mereka berjinjit. Takut sang tuan akan kembali mengamuk.
Jedar!
Suara petir terdengar menggelegar. Dekat, begitu nyaring. Mengagetkan jiwa-jiwa manusia yang sedang kosong. Tak berapa lama, turunlah air berbulir besar. Membuat Sumi yang khawatir akan keadaan sang nyonya menjadi berkali lipat. Apalagi di luar sedang turun hujan yang sangat lebat.
Duh, Gusti ... lindungi Reka. Sumi membatin dengan perasaan was-was. Mondar-mandir di depan pintu kamar Irwan yang tertutup Rapat.
"Bagaimana?" tanya Sumi ketika melihat Chandra keluar dari kamar itu.
Chandra menggeleng pelan, mengembuskan napas panjang. "Percuma. Dia keras kepala." Kemudian meraih kunci mobilnya yang tergeletak di bufet jati tak jauh dari Sumi berdiri. "Aku pamit pulang, Bik." Berucap dengan penuh kekecewaan.
Tak berapa lama, petir kembali menunjukkan kekuatannya. Membuat Sumi berjingkat kaget dan tanpa pikir panjang langsung membuka pintu kamar itu. Di otaknya hanya dipenuhi dengan Reka. Persetan dengan Irwan yang sudah kelewatan.
"Pergi!" Suara lantang Irwan menyambut kehadiran Sumi. Tapi Sumi tak peduli. Ia tetap melangkah mantap menginjakkan kaki ke dalam kamar yang sudah berantakan. Pecahan kaca dan remehan perabot seakan menjadi karpet merah untuknya. Sumi tetap maju, menghampiri Irwan yang sedang sandaran di dinding kamar. Kaki selonjor dengan rambut yang acak-acakan. Belum lagi darah segar menetes dari kulit buku jarinya yang koyak. Mengerikan dan kacau.
"Tuan, tolong cari nyonya. Kasian dia, di luar hujan lebat," ucap Sumi, mengiba.
Akan tetapi, permintaan Sumi dibalas decihan jijik dari Irwan. Ia keluarkan sebatang rokok yang tergeletak di dekat pahanya. Menyulut api dengan tangan yang gemetar. "Tidak perlu! Ja*ang seperti dia memang seharusnya hidup di jalan." Sarkis, tanpa ekspresi, tapi jelas masih tersisa api kemarahan di bola matanya yang coklat.
"Tapi dia istrimu. Tidakkah kamu kasian?" ucap Sumi dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi sungkan dalam intonasi itu. "Dia pergi tanpa uang juga ponsel. Apa kamu setega itu. Bagaimana bila dia kecelakaan. Bagaiman jika dia pingsan. Dia itu lagi sakit."
Irwan beranjak dari duduknya. Berdiri mendekati wanita tua yang mungkin sebaya dengan ibunya jika sang ibu masih hidup. "Kenapa Bik Sum membelanya? Kenapa?!" Irwan berteriak, mengeluarkan emosinya yang belum tuntas. Ia injak rokok yang baru satu kali hisap dengan sepatunya. Kuat, mewakili harga dirinya yang juga sudah terinjak.
__ADS_1
"Karna Bibik tau kalau dia tidak seperti itu." Menatap tanpa sungkan, seolah sedang berhadapan dengan seorang anak. Anak yang harus cepat disadarkan dari kegilaan yang takutnya akan berujung penyesalan.
Irwan tertawa hambar. "Jangan mempercayai bentuk luarnya, Bik." Mengendorkan dasi yang masih melilit di leher.
"Kenapa tidak?" Nara menyela tanpa takut. Ia datang dengan kedua bahu sedikit basah terkena tempias hujan. Dirinya yang baru datang dari swalayan tak tau menau tentang permasalahan yang ada. Namun yang pasti, Reka tidak seperti yang Irwan tuduhkan. "Kak Reka bukan wanita seperti itu," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Ia peluk tubuh gemuk Sumi dari samping.
"Tau apa kau!" hardik Irwan. Menunjuk geram pada Nara seakan siap memakannya hidup-hidup.
"Karena aku selalu bersamanya. Jadi mana mungkin dia bisa selingkuh." Masih dengan tatapan berani. Membuat Irwan makin emosi. Irwan pun berjalan ke arah nakas dan meraih satu foto yang tersimpan dalam tas laptopnya. Melemparkan kertas bergambar itu ke muka Nara.
"Liatlah, dan buka mata kalian. Liat betul-betul kelakuan wanita yang kalian anggap suci itu," tandas Irwan. Memutar tubuh dan berjalan membelakangi mereka. "Aku bahkan sudah mendatangi pakar telematika untuk memastikannya. Jadi perlu bukti apa lagi?!"
Dengan gemetar Nara beranikan diri, berjongkok meraih kertas yang katanya 'bukti' itu. "I-ini ... ini 'kan, mas Dion." Berdiri dengan cepat. Penuh kebingungan dalam bola matanya yang kecil.
Jedar! Petir kembali bergema di angkasa.
"Iya, aku yakin ini mas Dion. Aku pernah sekali melihatnya buka baju dan tato ini persis sama dengan yang aku liat," jelas Nara. Perkataan yang membuat Irwan kembali murka. "Di mana si brengsek itu?"
"Tadi pagi izin keluar, tapi sampai sekarang belum pulang," jawab Sumi.
Irwan pun melangkahkan kaki lebarnya. Mencari bukti perselingkuhan Dion dan Reka. Tapi percuma, tak ada jejak. Ruangan tempat Dion tinggal sudah rapi. Tak ada pakaian ataupun lainnya. Seolah dia tidak pernah ada kehidupan di sana.
Lagi, dengan derap langkah terburu Irwan kembali berjalan. Memasuki ruang kerjanya di lantai atas dan mencari surat lamaran Dion. Sial! Beraninya, kamu. Meremas-remas dan mengepalkan kertas HVS bertuliskan data informasi Dion.
****
__ADS_1
"Bude ... Bude, Tante Reka udah bangun."
Suara samar anak kecil merasuk ke indra pendengaran Reka. Dengan perlahan Reka meraup kesadaran yang masih diawang-awang. Mengerjap berkali-kali, mengenali di mana ia kini.
"Kamu sudah bangun." Suara lembut seseorang menyadarkan lamunan Reka. Ia lihat sesosok wanita paruh baya sedang berjalan menghampirinya.
Reka perlahan bergerak dari posisinya. Duduk, mengormati wanita baik hati yang menolongnya. Wanita di masjid yang sempat berbicara dengannya sebelum berakhir pingsan. "Saya di mana?" Reka kembali mengedarkan pandangan pada ruangan yang baru kali pertama ia lihat. Bingung, mengernyitkan dahi, menyadari ada selang infus menancap di pergelangan tangan.
"Sekarang kamu ada di rumah saya." Tersenyum ramah. Memegang tangan Reka dengan hangat. "Tenanglah, kamu sekarang baik-baik saja."
"Tapi saya---"
"Ayo, Yah. Cepetan, Tante cantik udah bangun." Lagi, suara anak kecil kembali mengalihkan Reka. Ia tak sempat menyelesaikan ucapan karena terlebih dahulu penasaran akan sosok pemilik suara itu.
Reka arahkan pandangan ke arah pintu, dan dalam beberapa detik, raut muka Reka tak terbaca. Tertegun, menyadari dua sosok orang yang baru masuk. Aji ... Eldi. Reka menyebut nama itu dalam hatinya.
"Tuh 'kan, Yah. Aji gak bohong," celoteh Aji seraya melepaskan tangan Eldi dan berlari, memeluk Reka. "Tante, jangan sakit lagi, ya."
Luruh, air mata Reka jatuh tanpa pemberitahuan. Bagaimana bisa anak kecil begitu perhatian dengan dirinya. Sedangkan Irwan? Suami yang ia anggap sebagai dunianya, tega menghancurkan semuanya. Impian juga angan-angan yang selalu Irwan bisikkan. Dasar pria jahat.
Reka mengelap air mata yang membuat tiga orang di sana saling adu pandang.
"Tante kenapa nangis? Jangan sedih ...." Mengelap ulang pipi Reka yang kembali di aliri air mata. Reka menggelang cepat. Menangkup pipi gembul Aji dengan kedua belah tangannya.
"Enggak, Tante gak sedih, kok. Malah Tante senang bisa ketemu kamu." Reka menarik napas panjang. Berkilah lidah benar-benar menguras energi.
__ADS_1
"Terus kenapa nangis? Pasti ini sama ini, ya." Menunjuk bibir dan dahi Reka yang membiru. "Sini, biar Aji tiup." Meniup pelan. "Biasanya kalau Aji jatoh, Ayah sana Bude Iren suka niupin. Katanya biar cepar sembuh," lanjut Aji dengan senyum mengembang.