
"Gak, aku gak bisa."
Kata-kata penolakan Reka berputar terus di kepala. Membuat Irwan kembali berang dan menenggak habis minumannya. "Ah, sial." Mengenggam dan meremukkan kaleng bertuliskan coca-cola itu, lalu melemparnya masuk ke dalam keranjang sampah.
"Aku harus gimana lagi biar kamu percaya, Reka?" gumam Irwan pelan. Membenturkan kepala berkali-kali ke meja bar yang terbuat dari kayu jati.
Sementara dari arah pintu masuk, Chandra menggelengkan kepala. Menghampiri Irwan yang sedang menganiaya diri sendiri. "Yang salah itu bukan kepala, tapi perilaku elo," ucap Chandra. Menyusun gelas dan botol anggur yang ia bawa dari tempat penyimpanan di ruang bawah tanah rumahnya.
Menoleh, Irwan menatap tajam pada temannya yang sedang menuang air berwarna merah pekat ke dalam gelas kaca berkaki panjang. "Maksudnya?"
Menghela napas, Chandra menyodorkan gelas yang sudah terisi. "Minumlah," tawarnya. Kemudian menyesap sedikit air dalam gelas yang ada di tangan. "Semua perempuan ingin kasih sayang. Ingin dipercaya. Ingin dicintai. Lah, dia malah dikekang, dicurigai. Lebih parahnya elo main tangan. Itu gak baik, Bro. Dari dulu 'kan gue udah sering ngasih tau itu ke elo. Dia itu perempuan pinter. Orang tuanya juga masih hidup. Jadi gak ada alasan buat dia tetap sama elo yang jelas-jelas udah nyakitin dia," ucap Chandra.
"Coba elo inget-inget. Apa pernah elo memperlakukan dia dengan selayaknya. Misal, kasih bunga, makan malam romantis atau ucapan sayang. Pernah?" Chandra melirik sekilas wajah bingung Irwan. "Pasti enggak ,'kan?"
Irwan terdiam. Membuka kaleng lagi. Menegak minuman bersoda itu seolah itu adalah air putih. "Gue pulang," ucap Irwan. Beranjak cepat dari kursi dan meninggalkan Chandra yang masih menikmati anggur merah koleksinya.
Dengan langkah lelah, Irwan memasuki kediamannya. Rumah yang dua hari telah ia biarkan tak bertuan. "Reka, kenapa susah sekali membawamu kembali?" Irwan mengembuskan napas panjang. Mengedarkan pandangannya, menyapu ruangan dengan tatapan sendu. Menyeret kaki yang terasa berat seperti ditarik tangan-tangan tak kasat mata.
"Irwan!"
Seorang wanita muda berkemeja putih panjang berpadu dengan rok hitam selutut, berjalan menghampirinya. Wanita cantik nan seksi. Berbanding terbalik dengan Reka yang jarang memoles diri.
"Clara." Mematung di depan kamar. Melihat wanita itu dengan tatapan tak percaya. "Ngapain ke sini?"
Mengabaikan pertanyaan. Clara malah menyentuh pundak dan membalik tubuh Irwan dengan mata penuh kecemasan. "Kamu gak apa-apa, 'kan? Kamu dari mana aja? Kenapa HP kamu gak bisa dihubungi?" cecar Clara.
Menepis tangang lembut itu dan berjalan menuju dapur. "Lo ngapain ke sini?" Irwan mengulang pertanyaan seraya mempercepat langkah. Mengabaikan Clara yang mengikutinya dari belakang. Membuka kulkas dan meraih sebotol air mineral dari dalam sana.
"Aku nungguin kamulah. Kamu dari mana aja? Aku cemas. Kamu ngilang setelah acara tukar cincin." Menatap Irwan yang meneguk minumannya. "Dan juga ngomongnya jangan pake 'lo gue.' Kita udah resmi tunangan, Irwan," protes Clara. Menyuarakan pendapatnya karena tak dianggap sebagai kekasih.
__ADS_1
Irwan bergeming, tak merespon perkataan Clara. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah tak berjalan dengan semestinya. Sejak mengusir Reka dari rumah dirinya merasa hampa. Apapun yang dilakukan tidak ada yang berjalan baik. "Lo balik, gih. Gue capek." Kembali melangkah, melewati Clara menuju kamar.
Clara mengentak kaki, marah. Irwan selalu bersikap abai padanya. "Jawab dulu pertanyaanku, Irwan! Apa kamu dari Jogja?"
"Iya."
Tanpa perasaan bersalah Irwan menjawabnya. Membalik tubuh dan mendekati Clara. Berusaha keras agar tidak terpancing emosi. "Dari awal 'kan elo udah tau, kalau gue masih berharap sama Reka. Dan juga jangan pernah minta lebih. Hubungan kita cuma bisa sebatas temen."
Air mata Clara luruh dengan sendirinya. "Iya, aku tau itu. Aku juga sadar, kalau pertunangan ini didasari dengan kata terpaksa. Aku juga awalnya tidak setuju untuk pertunangan ini. Tapi semua keputusan orang tua kita yang pegang, Irwan. Aku bisa apa? Aku hanya anak. Anak yang harus patuh pada orang tua." Clara sesenggukan, sakit hati dan juga sedih. Mendengar ucapan Irwan yang seperti menyudutkannya. Seolah Clara yang menginginkan semua ini.
Clara hapus jejak air matanya. Mendekati Irwan yang berada dua meter di depannya. "Tapi walaupun seperti itu, apa kamu gak bisa kasih aku kesempatan buat menghapus nama Reka dari hati kamu?" Clara mengiba. Berharap dapat persetujuan dari Irwan untuk memasuki hatinya. Ia kesampingkan harga dirin yang sudah terkoyak. Karena Irwan telah berulang kali menegaskan tentang perasaannya--- masih mencintai Reka. Tapi apakah dia juga salah, memperjuangkan keinginannya untuk mengganti nama Reka menjadi Clara. Apakah tidak ada kemungkinan untuk itu?
"Sorry, Ra. Gue gak bisa. Pertunangan ini seharusnya gak pernah lo setujui," ucap irwan tanpa ekspresi. "Kalau lo mau lanjutin hubungan kayak gini, terserah. Tapi jangan harap lebih. Karna hubungan ini berawal dari kesepakatan dua keluarga. Dan kita akan selamanya jadi rekan bisnis." Irwan berkata penuh penegasan. Kembali mengabaikan perasaan Clara yang pastinya sudah terluka. Perempuan mana yang rela hatinya dianggap sebagai pertukaran untung rugi?
Kejam, Clara mengubah pandangannya pada Irwan. Ia yang dulu terpana akan ketampanan dan kebaikan Irwan kini berbalik membenci. Ia hapus air matanya. Meninggalkan Irwan dengan setengah berlari.
Malam pun tiba.
Ya, benar. Kalau dipikir-pikir, aku bukanlah suami yang baik. Bahkan foto Reka saja aku gak punya. Irwan membatin. Merutuki sikapnya selama ini. Terlalu egois dan acuh. Ingin menjaga Reka tapi dengan cara yang salah. Walaupun Reka mempunyai kesabaran seluas cakrawala. Tapi siapa yang tahan bila berhadapan dengan kekerasan.
"Tuan, ini tehnya." Sumi membuyarkan lamunan Irwan. Ia letakkan cangkir bertelinga ke meja dekat Irwan mengistirahatkan tubuhnya.
"Hm, terima kasih."
Menatap Sumi yang sedang berjongkok. Wanita tua yang sudah bekerja lebih dari tiga dekade dan mengurusnya sedari kecil hingga sekarang. "Kenapa Bibik masih setia di sini?" ucap Irwan. Menipiskan bibir, menyembunyikan kesedihannya. "Tidakkan Bibik benci padaku?" lanjutnya lagi. Irwan mengalihkan pandangan. Melihat malam yang gelap dan menikmati angin yang bertiup sedikit kencang. Memberi tanda bahwa akan turun hujan atau mungkin badai.
Sumi tersenyum hangat. Merebahkan diri duduk di sebelah Irwan. "Karna bagi Bibik kamu itu anak, Irwan. Dan seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya. Sebesar apapun kesalahan sang anak, seorang ibu tidak akan pernah menjauh," jelas Sumi. Menggenggam tangan Irwan dan menatap matanya lekat-lekat.
"Tapi aku sudah berlaku kejam, Bik. Mereka semua pergi karena tidak tahan denganku. Termasuk Reka."
__ADS_1
Menggeleng cepat. Sumi menampik perkataan Irwan. "Tidak Irwan. Reka tidak membencimu. Bibik yakin dia masih sayang sama kamu. Beri dia waktu, ya." Mengembangkan senyuman. Berharap sang majikan tenang.
Melepaskan genggaman Sumi, Irwan kembali menatap langit malam. Ada air tertahan dipelupuk matanya. "Tapi dia menggugatku, Bik. Bahkan jadwal sidangnya dua hari lagi."
Sumi menarik napas panjang. "Yakinkan dia kalau kamu mau berubah. Dan kamu juga bener-bener harus berubah."
Irwan terdiam, memikirkan perkataan Sumi yang memang sudah menjadi tujuannya. Berubah. Ya, dia ingin benar-benat berubah. Perubahan agar hidupnya menjadi lebih tenang dengan Reka di sampingnya. Tapi, entah kenapa selalu saja gagal. Emosi selalu menjadi tak terkendali bila cemburu menguasai diri.
Hening, senyap, keduanya terdiam. Berpikir seraya menikmati embusan angin malam yang memberikan efek gigil pada tubuh yang hanya terbalut selembar kain.
Tapi tak lama. Keheningan dan ketenangan itu terusik. Irwan serasa mendapat petir di tengah badai. Manakala melihat tiga buah mobil masuk ke pekarangan rumahnya. "Papi," gumamnya pelan.
Dengan cepat sosok tua bertopi bundar itu berjalan. Melangkah pasti mendekati Irwan yang sudah berdiri.
"Dasar bodoh!" Sebuah tamparan melayang dari tangan keriput itu. Memberikan sensasi panas pada pipi Irwan yang sudah sedikit tirus.
"Apa yang kamu lakukan sampai-sampai keluarga Bramantyo menarik investasinya?!"
Irwan terdiam, hanya Sumi yang pasang badan, melindungi sang tuan. "Tolong jangan begini, Tuan." Sumi mengiba.
Tapi Arya tak menggubris. Ia masih menatap nyalang pada anak semata wayangnya. Menunjuk geram wajah Irwan dengan jari telunjuk. "Apa hebatnya wanita miskin itu sampai-sampai kamu tolak Clara, hah!" Arya benar-benar berang. Menggenggam kuat tongkat kayu hingga telapak tangannya kehilangan warna.
"Baiklah, kalau kamu tidak bisa ngelepasin dia. Papi yang akan buat dia hilang dari hidupmu."
****
Jeng jeng jeng.
Kira-kira apa ya, rencananya si Arya.
__ADS_1
Oh iya. Ini udah mau end. Jadi plis dukung author dengan like dan votenya yang banyak. heheh