Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Perubahan strategi


__ADS_3

Alaram pengingat waktu untuk salat subuh telah berbunyi. Reka perlahan mengambil kembali nyawa dari dunia mimpi. Memaksa diri membuka mata karena merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Kenapa badanku terasa berat dan hangat? Reka mengerutkan dahi dalam pejam.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Degh!


Reka membeliak, terperanjat membuang tangan yang mengalung indah di perutnya.


"Mas Irwan." Keterkejutan Reka jelas membangunkan Irwan yang sedang terlelap.


"Eugh, kenapa? Ada apa?" tanya Irwan dengan suara serak. Ia kerjapkan mata kemudian menyipitkannya. Memandang Reka yang sudah terduduk di tepi ranjang.


"K-kenapa memelukku?" Reka bertanya dengan pandangan menghujam. Seakan melihat penjahat yang diam-diam melecehkannya.


"Terus apakah ada alasan kenapa aku tidak boleh memelukmu? Kamu itu istriku, Reka. Kamu lupa?"


Dorr! Serasa ditembak mati. Reka tak bisa bergerak maupun berkata untuk beberapa detik.


"Hm itu ... itu. Tapi tetap saja, kenapa memelukku tanpa izin?" tanyanya lagi. Pertanyaan konyol yang mampu membuat rasa kantuk Irwan sirna. Irwan tergelak sesaat , bangun dari tidurannya dan menyandarkan punggung di kepala ranjang.


"Apa kamu pernah menemukan suami yang minta izin dulu sebelum memeluk istrinya?" Pertanyaan Reka diputar balik oleh Irwan. Reka makin resah, tak bisa menjawabnya.


"T-tapi 'kan, Mas bilang tidak akan menyerangku. Mas juga mengatakan tidak akan memintanya sebelum aku siap." Reka masih membela diri.


Irwan naikkan sebelah alisnya. Menatap penuh tanya pada Reka yang gelisah.


"Sebenarnya aku penasaran, apa isi kepalamu itu. Aku hanya memeluk, bukan meremas-remas, meraba atau apapun. Dan juga, aku telah berusaha bersikap baik, tapi kamu sama sekali tidak mempercayaiku. Coba jelaskan, aku harus apa biar kamu mau menerimaku sebagai suami kamu." Irwan begitu serius memandang Reka, hingga yang dipandang menjadi terdiam. Tak bisa berkata maupun membela diri.


Irwan bergeser, mendekati Reka. "Coba jelaskan, biar aku paham. Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Bukankah aku punya hak," ucap Irwan penuh penekanan dalam kata 'hak' membuat Reka meremat-remat jemarinya yang kaku.


Irwan menarik napas panjang, meredam emosi yang tak berlawan.


"Oke, di masa lalu memang akulah yang bersalah. Tapi aku 'kan sudah minta maaf. Apa kamu masih membenciku?"


Irwan seperti kehabisan kesabaran. Dia yang semenjak awal ingin pelan-pelan meraih hati Reka menjadi kalah. Kalah dengan pikirannya sendiri karena berkali-kali mendapat penolakan membuatnya kesal. Dan berakhir berendam lama di bak mandi untuk mengenyahkan libido yang meninggi.


"A-aku sudah bisa memaafkanmu, t-tapi ... tapi aku belum bisa untuk yang satu itu," jelas Reka terbata.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Irwan penasaran. Menekan kemarahan agar tak menguasai dirinya.


"Aku belum bisa mencintaimu. Bagimu mungkin tidak memerlukan cinta untuk berhubungan badan. Tapi tidak untukku," jawab Reka jujur. Ia beranikan diri menatap mata Irwan yang sudah berkabut kekesalan.


Irwan tertawa hambar. Menatap remeh Reka yang memandang fokus padanya.


"Ayolah Reka ... jangan melucu. Kamu itu bukan lagi ABG yang menjunjung tinggi kata cinta. Kita ini sudah sama-sama dewasa. Jadi pasti sudah tau cinta bukanlah segalanya," terang Irwan yang masih mengunci mata Reka. Reka mengalihkan pandangan, namun Irwan meraih pundak Reka hingga mata mereka kembali bersitatap.


"Buktinya, orang tuamu yang bertemu karena perjodohan bisa langgeng dan bahagia hingga sekarang. Bahkan mereka sampai memiliki enam anak. Itu saja sudah membuktikan bahwa cinta bukan satu-satunya hal yang mendasar dalam membina rumah tangga," tandas Irwan lagi.


Reka membisu. Tak menyanggah karena memang benar adanya. Ia gigit bibir bawahnya. Mencoba menenangkan pikirannya yang semraut.


"Apa kamu tidak penasaran kenapa ibumu terus saja melahirkan anak?" tanya Irwan memecah lamunan sesaat Reka. Ia dekatkan wajahnya pada Reka.


"Karena membuat anak itu nikmat," ucapnya disusul dengan seringaian yang khas.


Reka kembali terperanjat dan seketika itu juga langsung berdiri, menatap nyalang pada Irwan yang sudah di mode mesum.


"Bagaimana? Apa kamu tidak ingin merasakan surga dunia juga?" Irwan melirihkan suara seraya melirik yang ada di dalam celana. Lalu keluar kekehan renyah dari bibirnya, membuat Reka merinding secara keseluruhan.


Gila, batin Reka sembari melangkahkan kaki, meninggalkan Irwan yang masih tertawa di dalam kamar.


****


Seperti biasa Reka akan duduk menunggu Irwan. Menemani dan melihatnya makan ditemani dengan bik Sum, Nara dan dua asisten rumah tangga yang lain.


"Kamu tidak makan?" tanya Irwan datar setelah mengunyah dan menelan satu gigitan roti isi miliknya.


"Nanti saja," tolak Reka.


"Kanapa?" Irwan mengernyitkan dahi.


"Karena aku sudah terbiasa makan bersama dengan yang lain," jawab Reka jujur.


Irwan terdiam sejenak. Melihat sekeliling dan matanya terhenti pada empat wanita yang berdiri di belakang kursi Reka.


"Mulai sekarang kamu harus ikut makan bersamaku. Hanya denganku. Tidak diperbolehkan makan dengan yang lain maupun makan sendirian," perintah Irwan mutlak.


Reka tertegun, heran. Mencoba mencerna omongan Irwan. Kenapa lagi dia? Reka embuskan napas perlahan dan mengangguk pelan.


Setelah selesai makan, Reka berniat mengatakan keinginannya pada Irwan.

__ADS_1


"Mas, bolehkah aku berkunjung kerumah Rianti?" tanya Reka ragu-ragu ketika melihat Irwan telah memakan habis roti isi buatannya.


"Kamu tau rumahnya?" Irwan bertanya balik setelah meneguk habis air putih yang tersedia di dalam gelas.


"Aku tidak tau. Tapi aku sudah ada alamat Rianti. Aku akan minta pak Marno untuk --"


"Tidak bisa, pak Marno sudah pulang kampung," sela Irwan.


"Kapan?"


"Semalam," jawab Irwan singkat seraya menatap Reka yang duduk dihadapannya. Tidak, aku tidak bisa membiarkan dia berduaan dengan supir baru itu.


"Apa tidak ada yang menggantikan?" Reka mendelik penuh selidik pada Irwan yang sedang berpikir.


"Ada, tapi biar aku saja yang mengantar," jawab Irwan datar seraya beranjak dari kursi dan menghampiri Reka.


"K-kenapa?" Reka berdiri dan mendadak gugup melihat pandangan mata Irwan yang berubah kembali mesum.


Irwan menarik kedua belah bibirnya. Merasa lucu melihat ketakutan Reka.


"Aku hanya ingin meminta hak-ku sebagai suami."


Degh! Jantung Reka kembali bertabuh, Reka terdiam menatap mata Irwan yang begitu dekat dengannya.


Cup!


Sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Reka. Reka tercengang dengan mata membelalak lebar. Setelah beberapa detik baru dia tersadar bahwa Irwan telah mengecup keningnya. "Ken --"


Irwan tak membiarkan lisan Reka keluar karena terlalu gemas dengan bibir itu. Dirinya kecanduan dan memagutnya tanpa menghiraukan ada orang lain di sana. Bahkan bik Sum langsung menutup mata Nara. Gadis belia yang baru berusia delapan belas tahun.


Setelah selesai barulah Irwan melepaskan tangan yang menyangga kepala Reka.


"Mulai sekarang beginilah caramu mengantarku pergi bekerja," bisiknya pelan, membuat jantung Reka melemah seketika. Irwan memutar tubuh, melangkahkan kaki menjauhi Reka yang shock.


Aku harap perubahan strategi ini bisa membuatmu menerimaku, Irwan membatin dengan senyum simpul di wajah. Tenang Thomas, akan aku buat dia menerimamu tanpa paksaan, batin Irwan lagi seraya menunduk memandang sekilas area di antara kedua pahanya.


****


Nah loh ....


Kira-kira kalau kalian jadi Reka gimana keputusan kalian. Hehehehe ....

__ADS_1


Jawab ya, sekalian jangan lupa like dan komen dan vote-nya.


__ADS_2