
"Apa!" ucap Irwan dengan nada naik satu oktaf. Ia terlihat murka. Mata memang menatap fokus pada jalanan. Tapi, lirikan sekilas netranya mampu menggiling keberanian Reka hingga menjadi butiran debu. Dengan begitu mudah lenyap terbawa angin.
Siapa laki-laki itu. Aku jadi penasaran akan tampangnya. Apa betul dia lebih oke dibanding aku. Ah sial! Aku tak bisa tenang bila begini.
Irwan menghembuskan napas dengan kasar. Memejamkan mata berkali-kali. Mengontrol emosi yang sudah terlanjur mencuat ke permukaan. Ia kepalkan tangan, memukul setir sengan kuat. Harga dirinya benar-benar terkoyak. Dengan jelas Reka memuja pria lain dibanding dirinya.
Sumpah. Demi apapun yang ada di langit dan bumi, Reka butuh pertolongan. Tubuh kurusnya benar-benar mati rasa. Ia mematung, atmosfer aneh menyelimuti pikirannya karena tak sengaja telah menyinggung hati iblis yang bersemayam dalam diri Irwan.
"B-bukan be-begitu, M-mas. Mak-maksudku ...."
Bibir Reka bergetar. Lidahnya kelu, membeku seketika. Untuk mengeluarkan beberapa kata saja sudah menguras keringat. Ia makin menggenggam kuat tas tangan berbahan kulit di pangkuannya.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan. Aku ingin mendengar kelebihannya," ucap Irwan. Suaranya terdengar datar. Namun mampu membenamkan nyali Reka makin dalam.
Kenapa dia? Apa dia tidak marah? Tapi ... kalau dilihat dari raut wajahnya, sudah dipastikan dia terlihat tidak senang. Oh Tuhan, apa ini ... apa dia sedang menjebakku atau bagaiamana?
Reka telan saliva-nya yang tertahan. Mengatur napas dan membetulkan posisi. Kembali menundukkan kepala makin dalam.
"Tidak apa. Ceritalah. Aku tidak akan marah. Semua orang punya masa lalu. Aku juga ingin mendengar kisahmu. Bukankah kita berjanji untuk saling membuka diri," tutur Irwan disela kegiatan menyetirnya. Bersikap sok keren padahal hatinya berapi-api.
Bisakah aku mempercayai pria ini?
Reka bermonolog dalam hati. Bibirnya mengeriting sejenak setelah mendengar penjelasan Irwan yang bertentangan dengan kepribadiannya.
"Hey hey ... ayolah. Jangan membatin terus. Ungkapkan. Bicaralah padaku. Aku 'kan sudah berjanji akan berlaku baik padamu. Apa kau masih tidak mempercayaiku, Reka?" tanya Irwan yang terdengar serius.
Reka masih bungkam. Ingin percaya, tapi keraguan masih mengikat erat pita suaranya.
Irwan lap mukanya dengan sebelah tangan. Memandang sejenak pada Reka yang melihat aneh kepadanya.
"Kalau kamu belum bisa menerimaku sebagai suamimu, paling tidak anggap aku temanmu," ucap Irwan, meyakinkan Reka yang meragu.
"B-benarkah begitu?" tanya Reka balik. Dia masih tak percaya akan statement yang berkali-kali Irwan katakan. Perbincangan yang sejak semalam menjadi topik pertanyaan yang berputar-putar di benaknya. Permintaan maaf, juga pinangan hubungan baik yang Reka tak tau itu nyata atau sandiwara Irwan saja.
"Hm ...." Irwan mengangguk mantap.
"Jelaskan, siapa dia," pintanya kemudian.
"Reka menatap penuh tanya pada Irwan, lalu kembali melayangkan pandangan ke arah depan. Menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
__ADS_1
"Namanya Andra. Usia kami berbeda tiga tahun. Dia tinggal tak jauh dari rumah. Aku sudah menyukainya semenjak kelas satu SMP," terang Reka, terukir seulas senyum getir di paras cantiknya. Mengingat masa lalu ketika dia sering mengamati Andra dari kejauhan.
"Wah ... aku tak menyangka, ceritamu begitu klasik. Aku yakin kau pasti menjadi penguntit. Iya, kan," terka Irwan seraya mengangkat alisnya sebelah. Mengejek Reka.
"Aku tidak seperti itu!" sahut Reka penuh penegasan.
"Hahaha ... benarkah. Kalau bukan penguntit, lalu apa? Pecundang?"
Lagi, ucapan dan tawa hambar Irwan terdengar tajam seperti silet. Mengoyak luka Reka yang sudah menganga.
Tak berperasaan. Reka mendengus, memutar tubuh memunggungi Irwan.
"Lalu, kenapa tidak kau nyatakan perasaanmu?" tanya Irwan lagi setelah meredam tawanya. Tidak dipungkiri masih ada sisa-sisa perasaan cemas di pikirannya. Biar bagaimanapun juga, siapa yang tahan bila pasangan mengungkit masa lalu. Terlepas mereka saling mencintai atau tidak.
"Dia menyukai orang lain," jawab Reka ketus. Wajah masih ia palingkan ke arah jendela. Jengah akan ejekan Irwan yang tak ada habisnya.
"Terus, kenapa tidak kamu labrak gadis yang merebutnya?" ucap Irwan. Mengorek makin dalam.
"Bukankah sekarang jamannya emansipasi wanita." ujarnya kemudian.
"Sah-sah saja jika kamu memperjuangkannya."
"Dia adikku," terang Reka singkat.
Irwan terjengit sedikit. Dan mengulangi pernyataan Reka seolah tak percaya.
"Adikmu! Adikmu yang masih belia itu?"
Tak ada jawaban dari Reka, membuat Irwan seolah di kelitik sesuatu yang tak kasat mata.
"Haha ... Kasian kamu. Kenapa jalan cintamu begitu rumit."
Tawa Irwan kembali pecah. Jelas sedang merendahkan Reka yang sudah tak berdaya.
Reka ubah posisinya. Menatap lekat Irwan yang terbahak.
"Lebih ngenes mana. Aku yang cintanya tak berbalas. Atau kamu yang diselingkuhi pacar." Reka menyipitkan mata. Tak rela dicemooh oleh Irwan.
"Kau!" Irwan terlihat meradang. Dalam sekejap, rona mukanya berubah total. Membisu tak dapat berkata lagi. Dia telah di skakmat oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
Sial. Kenapa aku harus menawarkan diri menjadi temannya. Sekarang dia seperti tak takut lagi padaku. Malah terlihat kurang ajar.
Reka pun tak kalah sesal. Ia rutuki diri sendiri setelah melihat perubahan yang signifikan dari ekspresi Irwan.
Bodoh ... bodoh. Kenapa bisa keceplosan begini. Reka palingkan kepalanya ke arah jendela. Memukul perlahan bibirnya yang berbisa. Menyesali perkataan dari lidahnya yang tak sadar telah mengeluarkan racun.
Setelah menempuh perjalanan panjang penuh keheningan, akhirnya tibalah mereka di sebuah restoran yang bernama Hills dining. Restoran mewah yang didisain khusus, begitu terlihat romantis dengan cahaya lilin dan lampu menghiasi sudut ruangan.
"Pesan apa?" tanya Irwan kepada Reka yang masih asyik menatap keindahan di kesekeliling restoran.
Restoran yang terletak di ketinggian, menjadi daya tarik tersendiri karena bisa menikmati makan malam dengan pemandangan gemerlap lampu yang ada di bawahnya.
"Terserah Mas saja," ucap Reka kikuk menekan rasa janggal akibat perdebatan singkat mereka tadi.
"Kami pesan ini, ini dan ini," ujar Irwan pada seorang pramusaji seraya menunjuk beberapa gambar yang ada di daftar menu yang dia pegang.
Setelah pelayan restoran berlalu, keadaan kembali sunyi. Keduanya kembali bergelayut dengan pikiran masing-masing. Memandang keindahan alam senja dengan terselip kecanggungan yang luar biasa.
"M-maaf ...."
Keduanya mengatakan kata itu jelas hampir bersamaan. Mereka kembali membisu, dengan rona merah menghiasi pipi. Beberapa saat kemudian, Reka berinisiatif membuka obrolan.
"M-mas ... soal tadi ... aku ...." Reka tak mampu menyelesaikan ucapannya. Ia genggam kuat gaunnya hingga menjadi sedikit kusut. Mencoba menenangkan pikirannya yang sudah semrawut.
"Tidak Reka. Akulah yang salah. Tak seharusnya aku merendahkanmu. Padahal masalaluku lebih hina dari siapapun juga," sela Irwan, tatapannya fokus melihat Reka yang juga menatap lekat padanya.
"Tapi ya sudahlah. Dari perdebatan unfaedah tadi aku jadi menyadari sesuatu tentangmu."
Reka mengernyitkan dahi. Melihat penuh tanya mimik Irwan yang tak terbaca.
"Kau ternyata cukup emosional. Kamu bahkan sudah berani mengejek dan membantahku," ucap Irwan dengan mengetatkan rahang.
Reka langsung menundukkan pandangan. Mendapat sinyal tak baik dari tatapan mata Irwan membuat badan menggigil seketika. Ia pijit jemarinya yang mati rasa. Menyesal karena telah sempat termakan bujukan Irwan untuk menganggapnya teman.
"M-maaf ...."
****
Hayu ... jangan lupa like komen dan vote nya ya ....
__ADS_1