
Satu jam berselang.
Irwan keluar kamar mandi dengan perasaan yang lumayan tenang. Ia dekati ranjang dan melihat Reka telah tertidur pulas. Irwan usap pucuk rambut Reka. Menyibak anak rambut yang berantakan dan mengecupnya perlahan.
"Selamat malam," bisiknya. Menaikkan selimut hingga ke dada Reka.
Tiba-tiba terdengar bunyi getaran di atas nakas tempat ponselnya berada. Ia raih benda pipih itu dan berjalan menjauh dari ranjang. Tertera nama Chandra di layar handphone-nya.
"Kenapa?" tanya Irwan to the point.
'Buset, galak amat bro. Santai aja ngapa?' sahut Chandra yang berada diseberang telepon. Terdengar kekehan pelan dari sana.
"Ah lamak, kalo gak ada yang penting, gue tutup nih. Gue mau tidur." Irwan mendengus kesal.
'Ya elah, sensi amat. Gue cuma mau nanyain kabarnya elo doang kok. Gimana? Udah sembuh total?'
"Hmm ... udah," jawab Irwan singkat.
'Oh ... syukurlah. Sorry ya, gue gak bisa jenguk. Ini aja gue masih di Bali. Ngurusin bisnis yang gak kelar-kelar,' terang Chandra.
'Eh kabar bini lo gimana? Sehat? Jangan kasar-kasar ama dia. Kasian. Entar ditinggalin baru nyahok.'
"Sialan lo. Dia itu bini gue. Urusan gue. Apa hubungannya ama elo." Irwan sedikit naik pitam. Kesal akan ucapa sahabatnya itu.
'Hahaha ... iya deh. Kalo gitu gue tutup. Sehat-sehat lo di sana. Entar kalo gue udah selesai, kita ke tempat biasa,' sahut Chandra.
"Eh tunggu!" cegah Irwan. Dia teringat tentang Siska tadi siang.
'Kenapa lagi?'
"Tolong lo cari tau tentang Siska. Tadi gue ketemu ama tu perempuan."
'Lha, kenapa dia ke Semarang? Bukankah selama ini dia tinggal di Jakarta?' tanya Chandra penasaran.
"Ya mana gue tau. Makanya gue minta elo buat nyelidikin Siska. Cari sampe ke hal yang terkecil sekalipun. Gue gak mau dia jadi ancaman buat keluarga gue," terang Irwan. Tangan sudah ia kepalkan dengan kuat, membentuk tinju. Geram akan kejadian tadi siang.
'Ce ila ... Keluarga? Gaya lo tuh udah kaya laki yang takut ditinggal bini aja. Haha ....' Lagi-lagi terdengar tawa yang keluar dari mulut Chandra, meremehkan. Membuat Irwan sedikit berang.
"Gue serius, Chandra!"
'Iya deh iya. Entar gue nyuruh asisten gue buat nyari tau. Tapi besok aja. Ini udah malam. Gue juga udah ngantuk.'
Irwan tutup teleponnya. Melihat arah luar jendela. Menerawang jauh melihat langit malam. Semburat kekecewaan jelas nampak di wajahnya. Irwan usap wajahnya dengan kasar. Mengusir ingatan tentang Siska yang merajai otak. Empat tahun bersama masih meninggaalkan luka. Bahkan waktu yang telah berjalan sepuluh tahun pun belum bisa menghapus semua kenangan itu.
Baiklah. Aku harus maju. Aku gak mau kehilangan lagi. Reka jelas lebih berharga daripada Siska. Irwan membatin, memantapkan hati dan pikiran. Tak ingin menjadi bodoh untuk kesekian kali.
***
__ADS_1
Azan berkumandang. Reka membuka mata, mengerjap beberapa kali, mengumpulkan tenaga yang masih melayang akibat mimpi.
Sudah subuh.
Reka regangkan otot, sedikit terperanjat ketika melihat sosok yang berbaring di sebelahnya.
Yah, dia memang suamiku. Sewajarnya dia tidur bersamaku di ranjang yang sama.
Reka perhatikan wajah Irwan yang tidur menghadapnya. Bentuk rahang Irwan yang kuat seakan mempertegas betapa keras kepala dan idealisnya dia. Dan alis yang tebal, seolah mengatakan dirinya adalah sosok orang yang posesif juga pencemburu.
Apakah aku harus mempercayainya? Tapi dia ini pinter bersandiwara.
Reka perhatikan lagi mata Irwan yang tertutup
"Ya sudahlah. Aku pasrahkan segalanya pada Allah. Dialah pemilik hati dan jiwa manusia," gumam Reka pelan. Ia pun beranjak perlahan dari kasur. Hendak melaksanakan tugasnya sebagai hamba.
Irwan tersadar dari tidurnya. Mendengar samar-samar lantunan ayat suci Al-Qur'an. Suara yang indah dari wanita yang berbalut mukena. Memberikan senyar-senyar ketenangan dalam setiap lafaz yang keluar dari bibirnya.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar orang mengaji.
Irwan tatap langit-langit kamar. Teringat kembali akan ibunya yang dulu suka mengaji dan mengajarinya tentang agama.
Mam, aku merindukanmu.
Irwan pejamkan mata. Mengenang sosok orang tersayang yang sudah lama pergi memang menyesakkan hati. Irwan hembuskan napas berat, mengalir setetes bulit air dari kedua belah ujung matanya.
"Buk, tak bisakah nginep satu malam lagi," ucap Reka yang sudah berada dalam pelukan sang ibu. Ia kecewa karena orang tuanya hanya berkunjung satu hari saja.
"Enggak bisa, Kak. Kasian adik-adikmu. Di sana gak ada yang ngawasin mereka," terang Dewi. Memberi pengertian pada anak sulungnya.
"Tapi Buk, Eka masih rindu."
Dewi tepuk punggung Reka dengan pelan. Memberikan sentuhan agar anaknya tenang.
"Kak, Ibuk juga kangen. Tapi adik-adik kamu lebih memerlukan kami."
Isakan Reka mulai terdengar. Pelukan pun makin erat.
"Sudah, jangan cengeng. Kamu kan sudah menikah. Kamu akan tau perasaan Ibuk sama Bapak bila telah memiliki anak kelak," terang Dewi yang refleks membuat Irwan yang mendengarnya menjadi salah tingkah.
"Baik-baik sama Irwan. Harus nurut. Surga seorang istri itu ada di bawah telapak kaki suami," ucap Dewi seraya melonggarkan pelukan.
"Kami pulang dulu ya. Kasian supir taksinya. Bosan kelamaan nunggu," terang Dewi seraya mengukir senyuman. Terlihat jelas raut tua Dewi menunjukkan kesedihan. Namun kembali lagi ke kenyataan, bahwa sekarang anaknya sudah mempunyai keluarga sendiri.
Dengan lambaian tangan, Reka mengantar kepulangan orang tuanya.
"Sudah jangan nangis lagi," hibur Irwan seraya memegang kedua pundak Reka dari belakang. Reka langsung terdiam. Bulu kuduk langsung berdiri mendapat sentuhan langsung dari suaminya.
__ADS_1
Irwan dorong pelan tubuh kecil Reka dari belakang, kembali memasuki rumah.
"Bersiaplah," perintah Irwan dengan suara rendah. Membuat Reka mendadak memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya.
"K-ke mana?" tanya Reka. Ia tekan bibir bawahnya yang bergetar. Sedangkan kaki masih saja melangkah menuju kamar.
"Kita kencan. Kan aku sudah janji. Kita akan memulainya dari awal."
Reka hentikan langkah. Memberanikan diri memutar tubuh menghadap Irwan.
"Tet-tapi ...."
Dengan sinar mata yang mengintimidasi, Irwan menunggu kelanjutan perkataan Reka.
"T-tapi ... aku ...."
"Apa kau ingin menolak ajakanku?" Keluarlah kalimat pamungkas Irwan. Kata-kata bertanya tapi sebenarnya mendikte. Mata Irwan mulai berubah, tajam.
"Ti-tidak. B-baiklah. Aku akan bersiap," jawab Reka dengan terbata-bata. Ia berjalan menjauhi Irwan dengan degupan jantung yang mulai bertabuh overdosis setelah berbulan-bulan berhibernasi.
Watak seseorang memang tidak bisa diubah. Padahal baru semalam dia berjanji akan berperilaku baik. Reka membatin seraya melajukan langkah menuju kamar.
"Nah, gitu dong. Harus nurut." Irwan berguman. Menarik sebelah ujung bibirnya.
Sambil menunggu Reka bersiap, Irwan duduk di teras depan dengan tablet berwarna silver memenuhi tangan kiri dan tangan kanan memegang penanya.
"Tuan ...."
Ucapan seseorang mengalihkan pandangannya. Irwan menengadah ke depan. Nampak pak Marno berdiri berdampingan dengan seorang pria muda berpakaian rapi dengan kemeja dan ransel di punggungnya.
Irwan tatap tajam sekilas ke arah pria muda itu kemudian kembali menatap lekat pada Marno. "Kenapa, Pak?"
"Ini Tuan. Saya membawa pelamar yang akan menggantikan saya menjadi supir Anda. Namanya Dion. Dia dulunya seorang Driver online," terang Marno seraya menundukkan pandangan, sungkan.
Irwan meletakkan tablet pintarnya ke atas meja. Berdiri pendekati Marno. Menatap pria yang bernama Dion itu dengan tatapan penuh menyelidik. Lalu kembali memandang Marno yang tertunduk.
"Tak bisakah Bapak kerja di sini lebih lama lagi?" tanya Irwan. Tak rela bila Marno yang sudah mengabdi pada keluarganya begitu lama, berhenti bekerja.
"Maaf, Tuan. Saya sudah tua. Mata saya juga sudah tak sebaik dulu. Jadi, demi kenyamanan dan keselamatan, saya akan berhenti dan kembali ke kampung," terang Marno yang langsung disambung dengan helaan napas panjang dari Irwan.
"Baiklah, Pak. Beritahu saja apa tugasnya selama kerja di sini. Apa saja yang saya suka dan tidak suka. Tentang gaji dan peraturan lainnya," kata Irwan seraya duduk kembali ke kursi.
"Hari ini biar saya sendiri saja yang membawa mobil. Saya akan makan malam bersama nyonya," imbuh Irwan lagi dan direspon anggukan oleh Marno dan Dion. Keduanya pun pamit undur diri.
****
Hai gaes ... maaf dua hari saya gak up. Anak lagi bapil. Jadi fokus ke anak dulu. 😊
__ADS_1
Oya, jagan lupa like, komen dan vote nya ya. Itu sungguh sangat membantu saya dalam berkarya. Terima kasih.