
"Dasar anak tidak tau diri!"
Lagi, Arya menggeram. Semakin kesal akan tingkah kurang ajar Irwan. Anak yang tak pernah berperilaku sopan padanya.
"Kamu itu anak Papi, darah daging Papi." Kesal. Mendorong dada sebelah kiri Irwan dengan ujung tongkatnya. "Harusnya kamu bisa menghormati Papi melebihi orang lain" lanjut Arya. Dan lagi-lagi direspon seringaian.
Menepis tongkat kayu dari tubuhnya yang sempat terhuyung. Mengunci tajam mata sang Papi yang sudah dipenuhi aura jahat. "Andai aku bisa buang darah itu. Pasti sudah lama aku lakukan. Aku tidak bangga mempunyai darahmu di nadiku." Tanpa ekspresi. Irwan mengatakan itu penuh penekanan. Dan tentu saja kembali membuat emosi Arya naik ke ubun-ubun. Ia layangkan kembali pukulannya. Plakk! Tangan Arya panas, senada dengan rasa di dadanya. Mengepalkan tinju seraya mengetatkan rahang. Arya benar-benar murka akan perkataan Irwan.
"Beri pelajaran pada anak kurang ajar ini." Melirik beberapa anak buahnya.
Tidak perlu menunggu lama. Empat orang berbadan tambun berhasil merobohkan Irwan. Memukul dan menendang Irwan yang sudah tergeletak di lantai dengan posisi meringkuk menutupi kepala. Tak berperasaan. Algojo-algojo berbayar itu dengan segenap hati melakukan perintah dari sang pemberi gaji.
Diam, Irwan tak melawan. Mendapat penganiaayaan fisik seperti itu membuatnya tersenyum getir, kebal. Mentalnya sudah terbiasa. Dari kecil melihat ibunya yang juga diperlakukan kasar. Dipukul tanpa bisa membela diri. Irwan paham perangai ayahnya. Jadi ia memasrahkan tubuhnya babak belur. Toh ini bukan kali pertama untuknya. Irwan ingat betul, cara ini sama persis yang papinya lakukan ketika ia memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan kedokteran. Menentang keinginan Arya yang memaksanya untuk meneruskan perusahaan.
Sementara dari kejauhan Sumi berlari, ia terisak. Menghamburkan diri menerobos kaki jenjang para bodyguard Arya.
"Tolong, hentikan, Tuan ...." Suara Sumi lirih, bergetar menyatu dengan tangisan. Memeluk tubuh Irwan yang sudah lemah. Darah segar keluar dari ujung bibir, hidung dan juga lengan sang majikan yang malang.
Arya menarik napas panjanh. Mengibaskan tangan pada empat orang suruhannya. Berjongkok, memadang wajah Sumi kemudian melihat Irwan tak berdaya dalam pelukan wanita tua itu.
"Makanya jangan bandel. Ngelawan orang tua." Arya berdecak kemudian melanjutkan perkataannya. "Ini hukuman untuk anak yang tidak patuh. Mau ngelawan? Bunuh dulu Papimu ini."
Arya bergeming, sama sekali tak acuh ketika melihat sang anak tidak berdaya seperti itu. Terbuat dari apakah hati Arya Tri Widiarto? Batu. Entahlah, bahkan alam semesta tak bisa memberi penjelasan. Bagaimana bisa ayah kandung berperilaku beringas pada darah dagingnya sendiri. Kejam dan tak berperasaan.
"Kamu." Arya menoyor dahi Irwan dengan telunjuknya. "Kamu itu anak Papi. Sampai kapanpun gak akan bisa lepas dari Papi," lanjutnya. Mengacak dengan kasar rambut Irwan yang sudah bercampur dengan pasir dan debu.
__ADS_1
Irwan tak merespon, hanya erangan samar yang keluar dari bibirnya yang memar.
"Bawa ke sini." Menggerakkan empat buku jari pada salah satu anak buahnya. Arya tersenyum miring dengan posisi masih berjongkok. Tak berapa lama datanglah seseorang memberikan kertas tebal berwarna, mirip undangan.
"Ini, pertunanganmu dua minggu lagi." Melemparkan kertas tebal itu ke wajah Irwan yang sudah berjejak darah.
"Undangan?" Sumi mengulang perkataan itu, bingung.
Pelan, Irwan menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Menghadap pria tua yang sudah dipenuhi uban hampir di seluruh kepala. "Aku udah nikah." Dengan suara bergetar dan tubuh yang remuk, Irwan menentang keinginan Arya. Ingin meraih kebahagiaan sendiri dan terlepas dari bayang pria yang tak pantas disebut orang tua.
"Papi tidak peduli. Lagipula bukankah kamu sudah mengusir istrimu." Meyeringai, mencemooh Irwan dalam satu tarikan bibir. "Nikahi saja gadis ini. Dia akan membantu perusahaan kita," terang Arya, berdiri membetulkan jasnya yang sedikit kusut.
"Tidak, aku mencintai istriku."
Brakh!
"Kalau kamu menolak perjodohan ini. Papi pastikan kamu akan kehilangan pekerjaan dan martabatmu sebagai dokter. Ingat itu!" tegas Arya, kemudian berlalu pergi.
****
Kediaman Iren.
Reka edarkan pandangannya ke halaman. Duduk santai di teras depan dengan netra yang disuguhkan dengan berbagai macam pohon dan juga bunga. Merasa nyaman dengan nuansa taman yang asri. Apalagi struktur bangunan yang begitu kental dengan adat orang jawa. Angin sejuk menerpa tubuh karena tidak ada dinding di sana. Rumah mewah beratap joglo. Itulah kata yang pas untuk tempat tinggal yang sudah tiga bulan ini menjadi pelindungnya. Menjadi tempat ternyaman untuk Reka.
"Hey, ngeliatain apaan?" Iren datang dengan nampan berisi dua mangkuk rujak buah dan dua gelas air putih. Tersenyum ramah ketika Reka merespon ucapannya dengan bibir yang melengkung, tertarik ke atas.
__ADS_1
"Aku mungkin akan merindukan rumah ini dan Mbak Iren," ucap Reka, menyambut semangkuk rujak yang Iren sodorkan.
Duduk, menyandarkan punggung di kursi jati. Iren pandangi wajah Reka. Tampak jejak kesedihan di sana. "Jangan begitu, kayak gak bisa ke sini aja. Jogja Semarang 'kan gak jauh." Iren tersenyum, tapi jelas menyisakan semburat kesedihan di mata teduhnya.
"Iya juga, ya, Mbak." Reka menipiskan bibir.
"Bude Ika di mana?" tanyanya kemudian. Celingak-celinguk mencari sosok ibu Iren. Wanita tua yang sudah melahirkan anak-anak hebat seperti Iren dan juga Eldi. Tapi sayang, karena usianya yang sepuh, wanita itu selalu menghabiskan waktu duduk di kursi roda. Faktor usia membuat pendengarannya berkurang dan penglihatan juga sudah mulai buram. Namun Ika, masih tetap ramah pada siapa saja. Termasuk Reka. Dan selama tinggal di sana, Reka selalu menjadi pengasuhnya. Tidak pernah dipinta, tapi Reka dengan senang hati ingin melakukannya.
"Ibuk sedang tidur," jawab Iren, mengunyah sesendok buah yang sudah bertabur sambal kacang.
Senyap, keduanya begitu khidmat menikmati buah segar yang berpadu dengan cabai. Menyisakan sensasi pedas manis di lidah.
"Bagaimana menurutmu?" Iren bertanya di sela kunyahannya. Membuat Reka yang sedang menikmati makanan segar itu langsung menghentikan gigitan, meraih gelas air putih dan meminumnya hingga setengah. "Maksudnya?"
Iren menoleh Reka, menatap manik mata Reka yang sudah bergerak liar. "Adik bungsuku, Eldi. Bagaimana menurutmu, apa dia bukan tipemu?" Astaga, penjabaran Iren membuat Reka menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bingung, bagaimana harus menjawabnya. "Hm, itu ... itu ...." Reka gugup, memegang kuat gelas yang masih berisi air.
Mengembuskan napas, kemudian memalingkan wajah ke arah depan. "Maaf, Mbak gak seharusnya ikut campur." Iren tersenyum hampa. "Cuma, Mbak pingin kita bisa jadi ipar," lanjutnya. Perkataan jujur yang menyisakan jejak ketidaknyamanan di hati Reka. "Itu, itu ... aku---"
"Jangan dipikirkan. Mbak tau kamu belum siap," potong Iren. Menarik tangan Reka dan menggenggamnya erat. "Tapi, kalau bisa pikirin, ya. Eldi sepertinya naksir kamu. Gitu-gitu tabungan dan omsetnya banyak, loh. Udah kaya tuan Takur dia, punya tanah di mana-mana." Berkata dengan nada bercanda. Iren mengukir senyum, tapi tetap bukan lega yang dirasa Reka.
Tak berapa lama, masuklahlah mobil Avanza milik Eldi. Terhenti tepat di depan teras.
"Udah siap?" tanya Eldi, berjalan mendekat ke arah Reka dan Iren berdiri.
"Iya, udah."
__ADS_1
Aji berlari kecil, melajukan langkah mendekati Reka. Memeluk pinggang Reka dengan erat. "Tante, nanti kalo udah sampe sana, jangan lupa vidio call sama Aji, ya." Berucap dengan mata berkaca, membuat Reka tak bisa menghalau rasa sedih. Ia hapus air mata pada pipi gembul Aji dan berusaha menahan air di pelupuk matanya.
"Iya, Tante janji." Reka melepaskan peluka Aji dan mulai berjongkok, memeluk tubuh berisi itu dengan hangat. "Jangan nakal. Ikuti nasehat Bude Iren." Memaksakan senyum dan menjawel pelan hidung aji.