Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Pengantin baru.


__ADS_3

Enam bulan. Dengan waktu yang sesingkat itu, Irwan mampu bangkit kembali. Bermodalkan kenekatan dan darah pebisnis di nadi serta ilmu akutansi yang lumayan mumpuni, akhirnya ia berhasil membuktikan pada dewan direksi bahwa dirinya bisa mempertahankan perusahaan yang sudah turun-temurun menjadi simbol keluarga. Kinara Grup, produsen perhiasan yang sudah sampai ke mancanegara. Bersyukur dirinya mempunyai Chandra, teman yang memang berkecimpung di dunia bisnis yang senantiasa memberikan arahan untuknya . Dan jas dokternya, ia simpan sebagai kenangan.


****


Irwan mengibaskan tangan. Mengkerutkan kening tatkala melihat Reka keluar dengan gaun pengantin. "Mas gak suka. Kerahnya kebuka," ucapnya.


Reka berdecak seraya melipat tangan di dada. "Gak, kok." Reka berucap menahan kesal, sudah berkali-kali mengganti gaun tapi tetap tak sesuai dengan keinginan Irwan.


"Mas tetap gak mau kamu pake itu, titik."


"Jadi aku harus pake yang mana, Mas?" Sedikit memelas, Reka berjalan menghampiri Irwan yang sedang duduk di sofa. "Aku capek," sungutnya. Merebahkan tubuh di sebelah Irwan. Seharian di butik tak membuahkan hasil. Semua baju yang Reka taksir tak ada yang disukai Irwan.


"Ini lho, ini ni." Menunjuk geram pada leher Reka. "Terlalu kebuka. Mas gak suka. Mereka bisa ngeliat kulit kamu yang mulus ini," protes Irwan.


Reka memutar bola matanya, malas. Sifat posesif Irwan tak berubah sama sekali. Padahal baju yang Reka pakai sudah tergolong sopan. Gaun putih berlengan panjang, dengan leher yang sedikit terbuka. Itu pun tidak terlalu jelas, karena masih terlapis kain borkat menutupi setengan lehernya.


Sungguh ribet. Reka membatin. Ia lelah bergonta-ganti pakaian. Padahal sedari awal dirinya sudah mengatakan hanya ingin pernikahan biasa saja, ambil sah saja, cukup di KUA. Tapi, Irwan tetap bersikeras ingin mengadakan resepsi di salah satu hotel ternama di Semarang.


"Ya, udah. Besok aku pake mukena aja," ujar Reka, menekuk muka.


"Ha-ha-ha ...." Irwan tergelak, hingga matanya yang memang sipit menjadi hampir tertutup. Ia menjawel hidung Reka. Gemas akan wajah cemberut itu. "Iya, deh iya. Besok pake ini aja."


Beranjak dari duduknya, Reka memutar tubuh, memandang Irwan yang masih tersenyum setelah menggodanya. "Habis ini kita makan. Aku laper," ucap Reka ketus. Kesal melihat Irwan yang tertawa sementara dirinya menderita.


Mengangguk, Irwan mengiyakan permintaan Reka.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan segala urusan, mereka pun keluar dari butik. Dan Reka yang berjalan lebih dulu tak sengaja melihat sosok wanita yang dikenalnya. "Mas, itu 'kan Clara?" Menunjuk wanita yang baru keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka.


Irwan tak menjawab. Ia hanya memperhatikan Clara mengikuti seorang pria berusia empat puluhan. "Hai, Ra." Irwan menyapa, melemparkan senyum pada Clara yang sudah setengah tahun tidak ia lihat. Kemudian tak lupa pula mengulurkan tangan pada pria yang bersebelahan dengan mantan tunangannya itu. "Aku Irwan, temennya Clara." Tersenyum ramah.


Mendengkus, pria berjas abu-abu itu membalas senyuman Irwan dengan memberikan tatapan tak suka. Menepis tangan Irwan seraya berdecih. "Jadi ini yang namanya Irwan?" Pria itu melirik sekilas Clara yang tertunduk di sebelahnya. Sinis, tatapannya jelas mengintimidasi Clara.


Irwan bingung, sedikit tersinggung karena jabatan tangannya tak disambut. Tapi ia telah berjanji pada Reka akan berubah--tidak emosional. "Iya, saya Irwan," jawabnya sopan.


Pria itu melihat Irwan dari atas hingga bawah kemudian menarik sebelah bibirnya. "Masih cakepan aku ke mana-mana." Menarik tangan Clara dan menyeretnya masuk ke dalam butik. Meninggalkan Reka dan Irwan yang tercengang akibat tingkah dan ucapan dari pria yang bersama Clara.


"Mas kenal?" tanya Reka.


Irwan menggeleng, menuntun Reka untuk melangkah ke depan. "Gak, tapi Mas pernah dengar kalau Clara dijodohkan sama anak temen bisnis ayahnya. Mungkin laki-laki tadi calon suaminya."


Mengangguk, Reka memutar kepala. Masih dapat melihat Clara yang terseok karena ditarik paksa oleh calon suaminya. Semoga dia baik-baik aja, batin Reka. Dan mendadak otak flashback ke masa lalu. Ketika Irwan dengan brutal menyiksanya, menarik paksa tanpa mengindahkan penolakan. Reka bergidik mengenang itu. Ia pandang Irwan yang berjalan beriringan dengannya.


Menipiskan bibir seraya menggelengkan kepala. Reka berusaha menyembunyikan kegundahan hati. Tak ingin Irwan kembali menjadi seperti itu. Kasar, bringas dan tak berperasaan. Ia lebih nyaman dengan Irwan yang sekarang. Posesif ala bucin ( budak cinta) bukan posesif ala psikopat.


****


Pesta pernikahan pun digelar. Semua kenalan menghadiri acara itu. Dari kolega sesama dokter hingga rekan bisnis. Semuanya hadir, memberi restu pada Irwan dan juga Reka. Semua orang tertawa lepas, tampak menikmati acara yang memang terbilang mewah. Dari dekorasi hingga konsumsi Irwan persiapkan dengan sempurna. Ia ingin pernikahan ini menjadi yang terakhir dan membuat sejarah di kehidupan mereka. Akan menjadi cerita manis yang bisa diceritakan pada anak dan cucunya kelak.


Senyum keduanya mengembang, menyambut para undangan dengan suka cita. Pernikahan yang mengangkat musim gugur sebagai dekorasi utamanya. Dihiasi oleh pepohonan yang menguning dengan berpadu padan pada sofa krem dan partisi klasik, begitu terlihat hangat dan romantis.


Irwan melirik sekilas wajah wanita yang ada di sebelahnya. Tersenyum dan terkagum akan kecantikan dan keramahan Reka. "Sayang, i love you. Kamu cantik," bisiknya.

__ADS_1


Menegang, wajah lelah Reka memerah sempurna. "Apaan sih, Mas?" Menyikut pelan perut Irwan yang sedang berdiri di sebelahnya. Heran, lagi lagi kaya gini sempet-sempetnya ngegombal, batin Reka.


Terkekeh, Irwan kembali menjabat tangan para tamu yang naik ke pelaminan. Ucapan selamat pun tak lupa sang tamu ucapkan.


"Mas, itu siapa," bisik Reka. Mengarahkan mata pada sosok wanita tua berkebaya merah dengan sanggul besar di kepala.


"Oh, itu mamanya Chandra." Irwan terlihat berpikir sejenak kemudian melanjutkan kata, "Kalo gak salah namanya Lita Mahardika Sutedjo."


Manggut-manggut, Reka kembali menipiskan bibir, menyambut kedatangan Chandra dan juga ibunya.


"Selamat, ya." Wanita tua itu mengembangkan senyum, cipika-cipiki pada Reka tanpa canggung. Sungguh wanita yang ramah.


"Iya, Tante."


Lita melihat Chandra. "Kamu kapan bikin mama duduk di situ," ujar Lita. Melirik kursi duduk yang ada di sebelah Irwan.


"Yah, Mama. Itu lagi, itu lagi." Chandra berdecak, malu juga kesal disinggung seperti itu.


Irwan terkekeh, melihat Chandra bermuka masam membuatnya tak tahan untuk menambah derita temannya itu. "Iya, Chan. Kapan kawin?" godanya yang langsung dapat tatapan menghujam dari Chandra.


"Sengak banget lo!" Bergaya hendak melayangkan tinju, namun yang terjadi ia malah memeluk Irwan. Menepuk-nepuk punggung temannya. Tertawa terbahak sambil rangkulan. "Selamat, yah. Moga aja ini yang terakhir," sindir Chandra yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.


"Ya, iyalah." Irwan mendengkus.


"Udah-udah. Kami pulang dulu, ya. Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga langgeng sampe kakek nenek," lanjut Lita. Melemparkan senyuman pada Irwan dan juga Reka. Kemudian bersalaman pada Ady dan Dewi, sementara di sebelah Irwan ada Sumi dan Marno.

__ADS_1


Ya, kedua orang itulah yang mendampingi Irwan di pelaminan. Karena memang dirinya tak mempunyai siapapun lagi. Hanya Sumi dan Marno yang ia anggap sebagai keluarga. Dan sekarang dirinya bahagia telah mempunyai Reka. Keluarga satu-satunya dan berharap akan ada kedua dan ketiga serta selanjutnya--anak-anak.


__ADS_2