Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)

Bersuamikan Pria Yang Kejam (Luka Reka)
Hati ke hati


__ADS_3

Irwan betulkan posisinya. Ia duduk sandaran di kepala ranjang. Melirik sekilas Reka yang berbalut selimut. Hampir seratus persen. Hanya tinggal pucuk kepalanya saja yang terlihat.


"Kalau belum tidur, ayo kita bicara," ucap Irwan dengan suara datar. Begitu khas, membuat Reka susah payah menelan ludahnya sendiri.


Reka beranjak dari rebahannya. Duduk bersandar seraya memeluk selimut tebal. Ia lirik sebentar wajah tegas Irwan.


"Ada apa?" Suara samar keluar dari bibir Reka yang bergetar. Ia genggam kuat kain tebal yang menutup perutnya.


"Apa kau masih tidak nyaman bila berdekatan denganku?" tanya Irwan tanpa ekspresi. Sekilas, ia tatap tubuh Reka yang menundukkan pandangan. Nampak anggukan pelan dari kepala Reka.


Irwan hempaskan napas. Kembali menatap arah depan. Melihat TV besar 65 inchi yang berdiri kukuh di atas bufet jati. Tapi sebenarnya pikirannya melayang. Flashback ketika dirinya menghancurkan hidup Reka.


"Maaf, mungkin terlambat aku mengatakannya. Dan mungkin tak akan merubah apapun juga. Nasi sudah menjadi bubur," ucap Irwan yang terdengar begitu penuh penyesalan dalam setiap katanya.


Lagi, Reka menangis. Ia tak bisa menahan air mata bila mengingat masa itu. Waktu dia harus kehilangan kesucian juga masa depan. Tundukan kepala Reka makin dalam. Tak mampu bila harus mengangkat kepalanya dengan tegak. Beban batin yang berat, masih ia pikul seorang diri.


"Tapi Reka, aku benar-benar menyesal. Aku menyesal pernah menganggapmu sama seperti Siska. Kamu wanita terhormat, Reka. Wanita paling tulus juga paling baik yang pernah aku kenal. Tidak seharusnya aku menghancurkan masa depanmu," imbuh Irwan lagi, begitu lirih.


"Siska, wanita hina itu tak pantas aku kenang. Bahkan untuk aku benci saja ia tak layak." Irwan mengepalkan tangan. Menggeram dalam embusan napas. Menyesali diri karena pernah cinta mati pada Siska.


Isakan Reka mulai terdengar. Mendengar permintaan maaf Irwan yang kedua ini masih saja membuat hatinya perih. Belum bisa mengikhlaskan kejadian itu. Selimut yang tadinya dipeluk, kini berubah posisi ke bagian wajah. Reka tutup wajahnya. Mengeluarkan rasa sesal, sedih juga frustasi. Membiarkan bulir air tanpa ia tahan lagi.


"Aku menyesal, selama sepuluh tahun ini mengingatnya. Dengan membencinya saja, aku telah menghancurkan hidupku sendiri juga masa depanmu," tandas Irwan. Terdengar begitu tulus. Penjelasan yang mampu mengobrak-abrik luka Reka hingga menjadi makin hancur.


Irwan putar posisinya. Menghadap Reka yang menutup wajahnya dengan selimut. Ia raih bahu kecil Reka ke dalam dada bidangnya. Ia usap rambut panjang tergerai Reka dengan lembut.


"Maafkan aku ...." Helaan napas Irwan menerpa pucuk kepala Reka.

__ADS_1


Dengan tangisan yang terdengar jelas, Reka lepaskan pelukan Irwan. Ia pukul dada pria jahat yang telah menganiaya fisik dan batinnya. Ia layangkan tinju kuat dengan tangan yang bergetar. Berkali-kali ia lakukan itu. Penganiayaan yang biasanya hanya bisa ia lakukan dalam mimpi. Mencabik, mengoyak bahkan menusuk tubuh Irwan tanpa berkedip. Tapi tak lama. Tenaga Reka melemah dengan sendirinya.


"Kamu jahat. Kamu pria kejam. Kamu monster Irwan ...." Rintihan Reka menggetarkan hati Irwan. Reka kembali jatuh ke dada bidang Irwan. sesenggukan semakin dalam.


"Apa kamu tau ... kalau bukan karena imanku, bukan kerana karena memikirkan orang tuaku, aku pasti sudah gila sejak lama," terang Reka disela isakannya yang menjadi.


Irwan makin mengeratkan pelukannya. Sesal kumudian memang tiada berguna. Kemarahan yang menutupi hati dan pikiran bisa menjerumuskan seseorang ke jurang penderitaan tanpa dasar.


Lumayan lama Reka menangis. Dan lumayan lama juga Irwan menerima hinaan bahkan pukulan yang Reka layangkan. Irwan biarkan kekesalan Reka yang seperti mendarah daging, lepas begitu saja.


Setelah tenang barulah ia lepaskan dekapannnya. Irwan tangkup wajah bengkak Reka. Menatap manik mata Reka yang bergerak namun masih fokus memandangnya.


"Maafkan aku. Aku akan menebus segalanya," ucap Irwan penuh arti. Ia hapus jejek air mata Reka dengan kedua jempolnya.


Reka hanya mengerjap. Mencoba memahami perkataan Irwan.


Lagi, Reka masih membisu. Menyimak perkataan Irwan. Mata mereka masih bersitatap. Begitu intens. Membuat pikiran Reka yang tadinya bergemuruh, mulai tenang.


"Walaupun hubungan kita tidak didasari cinta, tetap saja kita sudah sepasang suami istri. Langit dan bumi sudah menjadi saksinya."


Reka tertegun. Seingatnya ia hanya seorang asisten. Tak sekalipun irwan memperlakukannya dengan lembut. Hingga Reka sempat lupa statusnya adalah seorang istri. Irwan sama sekali tak memperlakukannya dengan layak, sebagaimana mestinya seorang suami menyayangi seorang istri.


"Aku bukan tipe pria lemah lembut ataupun romantis, namun aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu," terang Irwan.


"Aku akan menjadi suami yang baik," tandasnya lagi.


Tunggu dulu. Suami? Bisakah hubungan ini berubah harmonis layaknya suami istri?

__ADS_1


Reka tercenung. Memikirkan jawaban apa yang harus ia katakan.


"Aku tau, selama ini diammu itu selalu merutukiku. Aku sadar itu. Mulai sekarang kamu tidak perlu sungkan. Jadilah diri sendiri. Apa yang ada dipikiranmu, ungkapkan saja. Aku akan menerima. Itulah cara awal agar kita semakin dekat," ucap Irwan.


Sungguh. Demi apapun, Reka sudah terlena. Perkataan Irwan yang lemah lembut dan penuh ketulusan seolah menghipnotis dirinya. Mata mereka yang saling pandang mampu meluruhkan kebencian Reka yang selama ini tertanam kokoh. Reka terdiam, mata sipit dan wajah tampan Irwan mampu meneduhkan perasaannya yang berkecamuk.


Reka palingkan wajah. Tak ingin terlena semakin lama. Akan tetapi, lagi-lagi Irwan membalik tubuh Reka. Mereka kembali saling berhadapan.


"Ayo kita buka lembaran baru," ucap Irwan penuh arti. Ia lihat wajah pucat Reka dengan seksama. Dan entah mendapat dorongan dari mana, Irwan tertarik untuk memilikinya. Mencicipi bibir mungil Reka. Juga ingin menikmati tubuh istrinya. Dadanya mulai bergemuruh, menahan gejolak akibat fantasi liar yang dia tidak tau sejak kapan memenuhi otak.


Irwan ingin meraih bibir tipis Reka. Perlahan mendekatkan diri, memiringkan kepala sedikit, semakin dekat, hingga embusan napas menerpa wajah masing-masing. Hampir tak ada jarak di antara keduanya. Tapi, Reka mendadak mengalihkan pandangan. Irwan mengerjap heran. Dalam hitungan detik, mimik mukanya berubah seketika. Irwan kesal, mendapat penolakan dari Reka.


"Apakah ada nama orang lain di hatimu?" tanya Irwan seraya melepaskan tangan dari bahu Reka. Kini matanya kembali menghadap depan. Kosong.


Reka terdiam. Dan membisunya Reka seolah memberi jawaban 'iya' padanya.


Irwan usap wajahnya dengan gusar, beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Sungguh, ingin ia menghancurkan semua isi kamar. Melampiaskan kemarahan akibat penolakan Reka. Tapi ia telah berjanji. Dan laki-laki harus menepati setiap perkataan, entah itu keseriusan atau sekedar gurauan.


"Maafkan aku. Aku butuh waktu," gumam Reka lirih. Bayangan Andra masih melekat jelas diingatan. Membuatnya enggan untuk melakukan tugasnya yang satu itu. Reka hembuskan napas berat.


Bagaimana mungkin aku melakukannya bila hati dan pikiranku masih mengingat orang lain.


Sedangkan Irwan melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul air di bak mandi. Ia berendam, meredam hasrat yang tak tersalurkan.


****


Hai kawan-kawan. Jangan lupa like, komen dan dan vote nya ya gaes. Heheh ....

__ADS_1


__ADS_2